OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 132 Buah Kecerobohan


__ADS_3

Irfan segera bergegas bergerak cepat menghampiri suster yang memanggil namanya, sementara Agung tetap menjaga jarak meskipun tetap berada di dekat Irfan.


"Saya Irfan...Sus...!" Ujar Irfan segera merespon.


"Mas Irfan mohon maaf dari pemeriksaan yang telah di lakukan ada satu benjolan dalam dinding rahim Bu Sarti yang pecah dan harus di lakukan operasi segera untuk meminimalkan resiko infeksi dan peradangan pada rahimnya." Ujar Suster asisten dokter itu.


"Tentu Sus, lakukan saja yang perlu di lakukan untuk membuat Mamak saya sembuh." Ujar Irfan tegas.


"Baiklah kalo gitu mari ikut saya ke ruang admin !" Kata Suster itu sambil beranjak di ikuti Irfan yang sempat menyempatkan untuk menatap Agung sejenak.


Agung sendiri meresponnya dengan mengangguk kemudian mengikuti Irfan meski tetap menjaga jarak. Irfan kini tampak sangat percaya diri dan sangat yakin bahwa Sarti akan bisa disembuhkan dari penyakitnya.


Kemudian beberapa saat setelah suster yang membawa Irfan itu keluar dari ruang administrasi rumah sakit, Irfan langsung di panggil.


"Anda yang bernama Irfan?" Tanya seorang pria separuh baya berpakaian putih putih, setelah Irfan mendekat.


"Benar Pak, saya Irfan." Ujar Irfan sambil tersenyum.


"Anda sebelumnya telah setuju dengan tindakan medis untuk perawatan Nyonya Sarti benar begitu?" Tanya pria itu lagi seakan ingin meyakinkan Irfan.


"Benar Pak." Jawab Irfan sangat yakin.


"Baik kalo gitu tolong tanda tangan di sini dan untuk DP sebesar lima puluh persen dari biayanya tolong di bayar sekarang juga atau paling lambat nanti jam empat sore." Kata Pria petugas jaga ruang admin rumah sakit pemda itu.


Irfan tertegun sejenak, ia melihat angka nominal yang tertera untuk biaya ongkos operasi mamaknya telah membengkak dari kemarin estimasi yang hanya 23 juta kini telah membengkak menjadi 35 juta hanya untuk biaya operasinya saja. Sedangkan total uang yang di pegangnya saat ini hanyalah kurang dari 40 juta termasuk uang 25 juta yang di pinjamnya dari Agung.


Melihat Irfan tampak bengong dan tertegun, Agung segera menghampiri sahabatnya itu.


"Ada apa?" Bisiknya di dekat Irfan.


Irfan memberikan kertas yang di pegangnya pada sahabatnya itu, sementara Agung hanya tersenyum.

__ADS_1


"Sudah buruan tanda tangani saja, kamu mau Lik Sarti kesakitan terus." Kata Agung.


"Duitku kayaknya kurang Cok." Keluh Irfan gemetar.


"Kalo kurang nanti aku tambahi, dah buruan tanda tangani !" Ujar Agung sambil menepuk bahu Irfan.


Irfan menatap sahabatnya itu sebelum kemudian dengan mantab ia segera menanda tangani selembar kertas yang sempat membuat hatinya down itu.


"Terserah padamu Cok sekarang, hidupku milikmu." Kata Irfan sambil melirik pada Agung, kemudian ia membuka tas slempangnya lalu mengeluarkan duit yang tadi telah di ambilnya di bank sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Ini Pak, saya titip 30 juta dulu sisanya nanti setelah selesai perawatan." Ujar Irfan.


"Maaf Mas Irfan, untuk biaya operasi harus di lunasi setelah operasi selesai dan tindakan medis operasi itu akan di lakukan besok pagi." Kata Pria paruh baya itu sangat enteng seakan tak memahami perasaan Irfan.


"Baiklah Pak lakukan saja tindakan medis terbaik untuk Lik Sarti, kami pastikan untuk biaya tak akan jadi masalah." Ujar Agung lah yang menjawab, setelah melihat Irfan hendak naik pitam.


"Baik kalo begitu tolong serahkan rekomendasi ini pada petugas jaga di ruang ICU, selanjutnya ikuti saja prosedurnya." Kata Pria petugas tata usaha rumah sakit itu.


Dan setelah menerima kwitansi dan selembar surat rekomendasi dari pria petugas administrasi itu, Agung segera menarik lengan Irfan yang masih agak tertegun dengan bengkaknya biaya yang harus ia keluarkan untuk perawatan Sarti.


"Ini gila, Cok aku merasa ndasku di hantam dengan palu oleh pihak rumah sakit." Gumam Irfan menggerutu sambil berjalan ke ruang ICU.


"Entar dulu bro kalo mau tanya pada dokternya langsung saja, yang berkompeten kalo kamu marah pada petugas admin jelas kamu yang akan dapat masalah karena orang itu tak tahu menahu kondisi di lapangan. Dari dulu sumbumu kok masih pendek saja." Ujar Agung.


"Masalahnya itu duit Cok, duit..." Ujar Irfan agak gemas.


"Kamu percaya sama aku kan? kalo kamu nggak ada duit, aku ada." Kata Agung.


"Ya itu kan duit kamu Cok, lagipula aku kan sudah pinjam banyak trus balikinnya nanti gimana?" Ujar Irfan meradang.


"Sudahlah jangan kau pikirkan soal itu, gampang saja kalo ada ya di kembalikan kalo nggak ada ya santai saja, yang paling penting mamakmu sembuh itu saja, nanti aku transfer 25 lagi kira kira kurang nggak?" Ujar Agung.

__ADS_1


"25 juta lagi bro, janganlah 10 saja lah bro nggak kuat aku balikinnya." Kata Irfan.


"Gini gini gimana kalo 25 juta yang nanti nggak perlu kamu balikin, tapi yang 25 juta pertama saja yang kamu balikin itu juga kalo ada kalo nggak ya woles aza bro gimana? oke kan kawanmu ini." Ujar Agung.


"Aduh bro, aku benar benar nggak enak sama kamu." Kata Irfan.


"Mukamu Cok, kaya ama siapa saja kita ini bukan cuma kawan tapi lebih dari saudara jadi jangan pernah berpikir urusan hutang budi kalo itu urusan antara kita." Balas Agung.


Sesampai di ruang ICU kebetulan juga dokter yang memeriksa juga masih ada dan sedang bercakap-cakap dengan suster penjaga. Saat itulah Irfan menanyakan alasan pembengkakan biaya operasi mamaknya, setelah memberikan surat rekomendasi tindakan medis pada suster penjaga itu yang kebetulan juga langsung di baca dokter pemeriksanya langsung.


"Jadi Mas Irfan, mengenai biaya operasi yang membengkak adalah di karenakan ada sebuah benjolan kista yang pecah yang juga diperlukan tindakan lanjutan untuk pembersihan dan sterilisasi dan ini justru yang sangat vital, kalo kemarin periksa kan belum ada benjolan yang pecah." Ujar suster penjaga itu.


"Dan itu di sebabkan karena kecerobohan saat berhubungan badan." Timpal dokter pemeriksanya dengan cuek.


Saat itulah Irfan hanya terdiam meskipun raut mukanya juga tak menampakkan kesan apapun juga saat semua pasang mata memandang ke arahnya.


"Tapi masih bisa di atasi kan Dok ?" Tanya Agung untuk segera memecah kecanggungan Irfan.


"Bisa. Tapi ya itu tadi di perlukan tindakan afirmasi lanjutan selain operasinya itu sendiri." Jawab Sang dokter sangat cuek.


"Baik Dok, segala biaya anggap saja sudah siap dan akan kami patuhi semua aturannya." Kata Agung lagi.


"Sus ! tolong prosedur pra bedah untuk pasien Ibu Sarti !" Ujar Sang dokter lalu tanpa basa basi meninggalkan tempat itu.


"Bro, makasih banyak yah." Ujar Irfan lirih pada Agung.


"Sama sama, oh iya adik adikmu sama siapa di rumah?" Tanya Agung.


"Ku titipkan sama simbah, lagipula udah gede gede ini." Kata Irfan.


"Ya sudah temani mamakmu, tapi jangan sampai ceroboh lagi." Kata Agung agak menyindir.

__ADS_1


Irfan hanya nyengir kuda, ia juga sama sekali tak menduga jika akibat kenikmatan sesaat yang ia dapat semalam mesti di tebus dengan begitu mahal baginya.


__ADS_2