
"Apakah maksudmu kalian sudah bertunangan? maksudku kamu dan kekasihmu?" Tanya Ak Ahmad terlihat serius mukanya, meskipun sebenarnya aku kurang suka dengan hal ini karena sudah terlalu pribadi sifatnya.
Untuk sesaat aku diam menahan napas, berusaha menenangkan diri.
"Ak, menurut Aak gimana hubungan seseorang yang meski belum menikah resmi tapi sudah tinggal bersama, seandainya hal itu aku lakukan pada Imas apakah kira kira Ak Ahmad ataupun Pak Haji bakal setuju?" Ujarku, menyiratkan hubunganku dengan Sari memang sudah sangat serius.
Ak Ahmad terlihat diam sejenak, beberapa kali ia memperhatikan jam tangannya sementara seperti Imas yang terlihat cuek dengan pembicaraan kami dengan menatap bapaknya yang tengah mendapat perawatan terapi dari para petugas medis rumah sakit dari kaca pembatas ruangan, akupun sesekali melihat juga ke dalam kaca.
Sepertinya Pak Haji Obi sedang mendapat perawatan terapi dari dokter spesialis akupunktur.
"Teh Imas...!" Ujarku lirih sambil sedikit mendekat pada Imas.
"Iya Ak..." Jawab Imas lirih dan terdengar sendu.
"Maaf Teh, kurasa aku tak bisa menemani lebih lama disini. Tapi mungkin hari ini toko akan tutup lebih awal dan kami nanti bisa kesini bersama sama." Ujarku.
"Iya Ak gapapa, maafkan kami telah membuat Aak repot." Ujar Imas.
"Tidak sama sekali, bukankah kita keluarga? dan misal teteh butuh bantuan sesuatu jangan sungkan pada aku yah, kita semua berdoa Pak Haji tak serius sakitnya dan bisa lekas pulih bukankah kita sudah lihat beliau berada dalam perawatan yang benar." Ujarku lirih.
"Baiklah Ak...sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan Ak Agung." Jawab Imas, terlihat berkaca kaca matanya.
Setelah itu kembali aku berpamitan dengan sopan pada Ak Ahmad dan istrinya yang akhirnya tak kuasa menahan aku lebih lama lagi itu.
Beberapa saat kemudian aku benar benar meninggalkan tempat itu, namun segera transit di rumah makan minang sebelah rumah sakit yang terlihat sudah buka. Aku ingat Imas belum sarapan tadi
"Selamat pagi Uda...apakah restoran nya sudah buka?" Tanyaku ramah pada seorang pria yang menjaga rumah makan itu, sedang memasukkan beberapa menu makanan ke rak etalase.
"Oh sudah bang !" Jawabnya.
"Tolong bungkuskan nasi komplit tiga bungkus yah Uda !" Pintaku.
"Siyap bang, pake lauk apa? baru rendang sama ayam goreng saja dan lele saja yang sudah siap bang." Ujarnya.
"Pake ayam goreng saja uda !" Ujarku.
Lalu dengan cekatan pria itu membuatkan pesananku, dan tak perlu waktu lama sudah selesai saja membuat tiga bungkus porsi makanan yang aku pesan. Setelah membayar aku segera bergegas masuk lagi ke rumah sakit dengan jalan kaki.
Kulihat Ak Ahmad pun tampak sudah berkemas mau berangkat ke tempat kerjanya.
"Loh kok balik lagi ada apa Gung?" Tanya Ak Ahmad.
"Ini Ak nganterin sarapan buat Teh Imas, tadi dari rumah tampaknya belum sarapan sama sekali." Ujarku.
Mereka semua langsung tersenyum dan Imas tampak semringah menerima makanan yang ku berikan padanya.
"Maaf tadi aku lupa beli air mineral nya Teh." Ujarku.
__ADS_1
"Iya gapapa nanti aku beli di kantin saja Ak." Ujarnya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
Aku kembali menengok ke dalam ruang IGD lewat kaca dan ternyata Pak Haji Obi terlihat sudah mulai bisa menggerakkan badannya lagi.
"Pak Haji sudah sembuh Teh?" Tanyaku, Imas hanya tersenyum dan mengangguk.
"Lalu nanti jadi rawat inap nggak ?" Tanyaku lagi.
"Kalo menurut yang sudah sudah seh tetap rawat inap Ak karena terapinya harus di ulang lagi setidaknya selama tiga hari berturut-turut." Jawab Imas.
"Baiklah kalo gitu silahkan itu sarapannya di makan, maaf hanya ada itu yang tadi sudah tersedia." Ujarku.
"Aak mau ikut sarapan bareng kami ?" Tanya Imas.
"Nggak usah lah, aku langsung pamit saja nanti jangan lupa kabar kabar ya Teh !" Ujarku, Imas mengangguk lalu aku sekali lagi pamit untuk benar benar pergi.
Aku kembali melangkah keluar dari rumah sakit dan menghampiri mobilku tak lupa aku menghubungi Sari yang kebetulan baru memasak nasi goreng untuk sarapan buat dirinya sendiri.
"Sisain aku sepiring yah Yank." Ujarku.
"Memang belum sarapan di situ sama Imas ?" Balas kekasihku itu.
"Ya belum lah, ini aku sudah mau pulang kok." Ujarku.
Lama tak ada jawaban dari Sari, tiba tiba saja terdengar bunyi tut...tut..dan kemudian panggilan terputus begitu saja.
Aku lempar begitu saja hp ku di atas jok sebelah sebelum aku hidupkan mesin mobil lalu melajukannya langsung ke utara untuk lewat jalan pantura, namun kemudian aku beralih ke jalan tol untuk menyingkat waktu tempuh perjalanan.
Tepat pukul setengah delapan pagi, aku sudah sampai rumah lagi. Aceng yang sedang menikmati kopi dan sarapan paginya hanya nyengir seolah meledekku ketika melihat kedatanganku.
"Bener bener boss yang siaga !" Ujarnya sambil terkekeh, ketika aku kemudian menghampirinya.
"Sue Lu....Nona nona masih pada belum keluar Ceng ?" Tanyaku, yang kumaksudkan tentu saja Dewi dan Sari yang makin hari makin menjadi sahabat karib.
Baru saja aku mau duduk, hp yang ku pegang berdering, dan kulihat sebuah panggilan dari Anto.
"Boss ini ada Truk mau masuk katanya dari Busana Cloth apa benar?" Tanyanya.
"Oh benar benar...sepagi ini sudah datang hehe langsung saja masukkan ke gudang mas, jangan lupa minta salinan data barangnya." Ujarku.
"Okey." Kata Anto, yang lalu ku tutup panggilan itu.
"Ceng ! setelah pembukaan toko, nanti kamu urus dulu yah renovasi penggilingan, kita bikin gudang beras dan mess dengan fasilitas lengkap, seperti bulog versi gurem lah." Kataku.
"Okey, siapin saja dananya !" Ujar Aceng setelah menyeruput kopinya.
"Lalu masalah bisnis properti yang kamu usulkan aku juga tertarik, kita akan segera masuk meski kecil kecilan dulu." Ujarku.
__ADS_1
"Caranya bagaimana kalo aku nggak kamu lepas untuk cari tender proyek ?" Ujarnya.
"Gampang kita beli saja rumah rusak dan terbengkalai atau pekarangan kosong, lalu kita bangun properti yang kira kira cocok dengan kondisi lingkungannya bisa ruko atau rumah biasa lalu kita jual kembali dengan harga lipat, kurasa kebutuhan properti saat ini sedang naik di daerah ini dan kita bisa ambil peluang itu." Ujarku.
"Baiklah, kurasa otakmu memang encer bener bro." Ujar Aceng sambil tersenyum.
"Tapi tanpa kamu, aku nggak akan berarti apa apa kawan." Ujarku sambil menepuk pundaknya lalu balik ke rumahku sendiri.
Memang benar harus aku akui peran vital Aceng terhadap keseluruhan usahaku, hampir semuanya dia terlibat di dalamnya.
"Bro...bro...!" Teriak Aceng memanggilku.
"Apaan...?" Tanyaku.
"Nanti aku ke polsek pake mobilmu dulu ye..." Ujarnya.
"Terserah, mau make ini silahkan mau beli sendiri ya silahkan." Ujarku enteng.
"Uang gaji dari kamu saja belum tau juntrungannya kok main suruh beli mobil saja." Ujarnya bersungut sungut, membuatku tertawa melihatnya.
"Lah dari kemarin kan aku sudah bilang, kalo mau beli mobil sekarang silahkan kalo duitmu belum cukup duitku ada boss kurang gimana coba..." Ujarku.
"Ya kan aku tau kamu lagi banyak keluar duit buat modal bro, masa aku tega mau ngrecokin." Ujarnya.
"Sekarang gini, kamu pegang duit berapa sekarang?" Tanyaku.
"Tabunganku 30 juta trus duit dari kamu 40 juta yang kamu suruh buat beli motor itu, ya segitu.." Ujarnya.
"Memang mobil apa yang kamu inginkan trus harganya berapa?...sok aku transfer sekarang." Ujarku serius.
"Eh... apa yah...yang biasa aza seh yang irit bbm dan bisa ngangkut keluarga." Kata Aceng sambil tersenyum senyum.
"Iya silahkan saja berapa lagi kurangnya tinggal ngomong aza kan beres." Ujarku.
"Iya deh hehehe...tar aza yah klo proyek renovasi penggilingan kelar." Kata Aceng.
"Udah sekarang saja, biar klo aku tinggal pulkam kamu nggak pake motor butut kamu itu lagi, motor mogok kaya gitu masih di piara saja, di buang di jalan juga nggak ada yang ngambil." Ujarku sambil tertawa ngakak apalagi di tambah melihat roman muka Aceng yang bersungut sungut makin membuatku bertambah geli.
"Ak Aceng mau di beliin mobil Gung?" Tanya Dewi tiba tiba, ia baru saja keluar dari dalam rumahnya dengan penampilan sudah rapi dan wangi.
"Cantik banget Lu Dew hari ini." Ujarku menggodanya.
"Dari dulu keles...." Jawab Dewi dengan centilnya.
"Eh Dew, kamu sudah ada pacar belum seh? klo belum itu Trimo kayaknya mengidolakan kamu loh." Kataku.
Dewi hanya nyengir kuda seperti yang biasa di lakukan Aceng. Lagi lagi aku hanya tertawa.
__ADS_1
"Kalian ini kok masih santai santai, sudah jam delapan loh ini, jadi boss bukan ngasih contoh yang bener ?" Ujar Dewi, cerewetnya keluar.
"Waduh Ceng, buruan mandi ! daripada tar dapat santapan rohani dari nyonya nyonya juragan." Ujarku yang membuat Dewi tersenyum, sementara aku segera berlalu.