OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 121 Aku Sangat Mencintaimu Ak


__ADS_3

Tyas hampir saja membuka sekalian ****** ******** namun sebelum itu ia lakukan sebuah bunyi dering hp di atas dasboard mobil membuatnya mengurungkan niatnya.


"Ihh sebel...gangguin orang saja..." Gerutunya membuat Agung mengulum senyum sambil mengacak acak rambut kemerahan Tyas yang di biarkan terburai setelah di lepas sanggulnya.


"Sabar Sayank, nanti pasti ada waktunya kok..." Kata Agung sambil tersenyum dan beranjak bangkit untuk mengambil hp nya yang terus berdering.


Agung buru-buru membenahi penampilannya juga pakaiannya lalu keluar dari pintu kabin depan.


"Iya Sayank gimana, aku sedang di kebun ini." Ujar Agung setelah memencet tombol terima yang ternyata sebuah panggilan video itu.


"Orang lagi sibuk malah ke kebun segala seh Mas, buruan ini kamu di tungguin Pak Sanusi." Kata Sari agak cemberut karena kesal dengan sikap Agung.


"Oh kalo gitu tolong sampaikan pada Pak Rt untuk ongkoh ongkoh sebentar aku akan segera kembali." Ujar Agung sambil menutup panggilan itu.


Agung buru buru masuk kembali ke dalam mobil, sementara Tyas juga sudah duduk manis dengan wajah cemberut di sebelah kemudi dan jok kabin penumpang yang tadi rebah rata sudah ke posisi standard.


"Sayank, aku antar sekarang yah...!" Ujar Agung sambil membelai rambut kepala Tyas yang tetap menampakkan wajah yang kurang puas.


Tyas hanya diam tak menjawab karena ia tau meskipun keberatan menyudahi kebersamaan mereka yang selalu terpotong dan bikin kentang itu, Agung akan tetap menyudahinya.


"Jadi aku antar kemana Sayank, ke Babakan apa ke Rancabereum?" Tanya Agung lagi.


"Terserah !" Jawab Tyas ketus.


"Maaf Sayank, sebenarnya akupun slalu ingin bersamamu setiap saat tapi kau tau sendiri kan." Kata Agung lagi sambil tersenyum.


"Iya tau kok, Aak akan segera menikahi Sari kan?" Ujar Tyas.


"Hehehe tau darimana kamu Sayank?" Tanya Agung sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Sari sendiri yang terus berkoar koar tentang itu sampai bosan aku mendengarnya." Kata Tyas ketus.


"Biarlah Sayank.... lagipula kan urusan kita tak akan terpengaruh soal itu." Ujar Agung santai.


"Maksud Aak gimana? Aak akan membuang aku begitu saja?" Ujar Tyas sambil menatap Agung dengan sorot mata yang tak percaya.


"Bukan begitu Sayank, meskipun nanti aku menikah kita bakalan tetap berhubungan kok. Aku juga mencintaimu kenapa harus melepaskan kamu." Ujar Agung yang membuat Tyas semringah.


"Baik Ak, akan aku pegang kata katamu, aku juga rela meskipun nanti hanya akan jadi istri Aak yang ke sekian karena aku mencintai Aak dengan tulus dari segenap hatiku." Ujar Tyas.


"Trimakasih Sayank, tapi nanti setelah kita nikah kamu berhenti dari Artemis yah." Ujar Agung.


"Iya Ak bisa seh tapi dendanya mahal Ak, andai tidak memikirkan hal itu, sudah dari dulu Ak aku keluar." Kata Tyas.


Sementara mobil yang Agung kemudikan sudah memasuki desa Babakan.


"Kok ke Babakan seh Ak, orang rumahku kan di Rancabereum." Ujar Tyas.


Tyas hanya diam, sebenarnya dia ingin menahan Agung untuk lebih lama lagi menghabiskan waktu bersamanya, namun apa daya keinginan itu rasanya hanya sia sia saja karena Agung sepertinya lebih ingin segera kembali ke rumahnya.


Pada akhirnya Tyas hanya pasrah ketika Agung buru buru berpamitan, apalagi setelah melihat mobil Tyas pun sudah terparkir di pelataran depan rumah orang tuanya yang berarti juga Suci dan Izah sudah pulang.


"Ak bisakah Aak tinggal lebih lama lagi bersamaku?" Ujar Tyas dengan nada sendu dan terdengar begitu sedih.


"Sayank, kau harus lekas istirahat bukankah kau besok akan balik ke Jakarta lagi sedangkan aku juga akan pulkam pagi pagi buta, nanti setelah kembali kesini aku akan berusaha secepatnya untuk menemui kamu lagi dan saat itu kita bisa melakukan apapun yang kita mau." Ujar Agung sambil membelai rambut kepala Tyas.


Namun sepertinya Tyas benar benar sedang begitu galau sehingga hanya tersenyum bias dan datar tanpa memamerkan senyum manisnya yang biasa ia tampilkan.


Sekali lagi Tyas memeluk Agung dan mengecupi hampir seluruh bagian wajah Agung mulai dari kening hingga bibirnya tak luput dari kecupan Tyas.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Ak." Bisik Tyas kali ini sambil memamerkan senyumnya yang paling manis yang pernah di lihat Agung.


Hingga Agung sekali lagi tak mampu menahan diri untuk kemudian mencium dalam dalam bibir merekah nan sensual indah milik Tyas itu selama beberapa saat sebelum Tyas akhirnya keluar dari mobil Agung dan melambaikan tangannya sambil berkaca kaca dan lalu meneteskan butiran bening air matanya.


Malam itu setelah acara doa dan pembacaan ayat ayat suci secara bersama sama yang di pimpin seorang ustadz lingkungan setempat lalu di lanjutkan makan bersama dengan nasi kebuli dan nasi kuning lauk daging kambing tongseng, akhirnya berakhir pulalah seluruh rangkaian acara grand opening A&S COLLECTION.


Namun entah kenapa setelah itu justru Agung tak mampu istirahat dengan lelap tak seperti Sari yang langsung terlelap mendekapnya begitu mereka merebahkan badan di peraduan.


Agung merasakan ada sesuatu yang aneh yang membuatnya gelisah meskipun kemudian akal sehatnya memaksanya untuk segera tidur.


Pagi buta Sari lah yang kemudian sudah terbangun dan menyiapkan sarapan buat Agung dan dirinya sendiri kemudian sembahyang dua rokaat yang tak pernah ia tinggalkan kecuali berhalangan.


Barulah kemudian membangunkan Agung dengan pelan dan perlahan yang tumben pagi ini justru tertidur pulas tak seperti biasanya.


"Jam berapa ini Sayank ?" Tanya Agung sambil menggeliatkan badannya, ia agak terkejut karena baru saja mendapatkan mimpi yang sangat indah bersama Tyas.


"Jam lima seperempat Mas...bangun dulu gih shalat dulu !" Ujar Sari.


"Iya Sayank.." Jawab Agung sambil beranjak dari peraduan dengan badan terasa sangat letih dan pegal pegal serta tulangnya terasa seperti hendak dilolosi.


Mandi sebelum subuh dengan lebih dahulu merendam diri di bathtub yang telah menjadi kebiasaannya sejak lama hari ini ia tak lakukan karena sudah terlalu terlambat waktunya, dan seusai sembahyang pun perasaannya seolah semakin bertambah aneh.


Tyas seolah tak berhenti tersenyum di dalam benaknya dan pagi ini sosoknya benar benar sangat dominan untuk menyita seluruh perhatian pikirannya.


Seusai sembahyang subuh, Agung lagi lagi merasakan dadanya berdesir kepekaannya akan indranya seolah mengatakan akan terjadi sesuatu namun kemampuannya saat ini belum mampu untuk bisa menilai apa yang di rasakannya itu.


Segala doa ia ucapkan sebagai tanda bakti dan sikap pasrah atas segala kelemahan dan kekurangannya sebagai seorang makhluk terhadap Sang Penciptanya, barulah kemudian hatinya sedikit tenang.


Sampai kemudian mereka berpamitan kepada Aceng dan keluarganya juga empat tangan besi dan beberapa orang tetangga dekat yang rela ikut menunggui untuk melepas keberangkatan mereka.

__ADS_1


Bahkan Sari pun sebenarnya merasa berat hati meninggalkan tempat perantauan yang langsung bisa membuatnya begitu nyaman seolah berada di kampung halamannya sendiri, tak pernah ia merasakan begitu banyak cinta yang ia dapatkan di tempat lain sebelumnya.


__ADS_2