OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 84 Hal Tak Terduga


__ADS_3

"Baiklah makasih Teh..." Ujarku setelah menerima kertas yang di sodorkan oleh Imas barusan.


"Dih masih sopan santun saja segala kalian ?" Ujar Dewi menimpali.


"Yah aku mah bebas Dew" Ujarku menjawab Dewi.


"Loh Teh Imas nggak bawa motor ?" Tanya Sari.


Saat aku melihat parkiran memang semua kendaraan telah bersih hanya ada mobilku saja dan satu mobil box inventaris dari dua mobil box di parkiran depan basecamp empat tangan besi, karena satu mobil box yang lain di pakai Doni untuk mengantar Teh Yanah yang sampai sekarang belum juga kembali.


Sepertinya hubungan mereka semakin bertambah gila saja, namun aku tak memusingkannya terserah toh mereka yang bermain api.


"Iya Mbak Sari tadi pagi aku kesininya nebeng sama kakakku soalnya." Jawab Imas.


"Terus gimana ?" Timpal Dewi.


"Mas Riko...!!! Aceng di situ nggak ?" Tanyaku pada Riko yang sedang ngerokok di luar basecamp sambil bermain dengan hp pintarnya.


"Lah...Aceng sudah pulang dari tadi kayanya boss." Jawab Riko sambil menatap kami.


Aku keluarkan hp ku dan menghubungi Aceng.


"Ceng Lu kok pulang ga pamitan aza ?" Tanyaku lirih.


"Sorry bro tadi perutku mules pengen boker mau boker di toilet toko, nggak enak kamunya seh segala ceramah di teras." Jawab Aceng


"Bisa anterin Imas nggak ? Imas nggak bawa motornya soalnya." Tanyaku.


"Lah situ kan ada mobil dan kalian belum pulang juga, sekalian saja anterin dulu Imas sambil pulang kan bisa muter dikit gapapa kan ?" Ujarnya, yang segera aku putuskan sepihak.


"Ya sudah Teh, mari kita antar Teh Imas pulang ke rumah duluan. Dew gapapa yah anterin Teh Imas duluan !" Ujarku.


"Iya ayo lah aku cuma nebeng ini juga." Jawab Dewi sangat santai.


"Mbak Sari maaf yah ngrepotin !" Ujar Imas sambil tersenyum manis kepada Sari.


"Iya gapapa Teh, sekalian biar aku tau rumah Teh Imas." Balas Sari ramah.


Singkat waktu kami sudah berada di mobilku dengan Aku di depan bersama Sari sementara Imas duduk di kabin penumpang bersama Dewi.


Entah kenapa tiba tiba saja aku ingin lewat gang depan rumah yang ku fungsikan sebagai tempat akomodasi buat empat tangan besi yang memang searah dan tembus jalan utama yang menuju kampung sebelah di mana Imas dan keluarganya tinggal.


"Loh la itu bukankah mobil box yang di pakai Doni kan yah !" Ujar Sari, namun aku buru buru melajukan mobilku di jalan gang yang hanya muat untuk di lalui sebuah mobil saja sementara jika papasan dengan kendaraan lain yang satunya terpaksa harus minggir.


"Abis nganterin Teh Yanah bukannya pulang ke basecamp malah tidur di kontrakan." Gumam Sari lagi yang mungkin nggak terima mobil aset di pake semena mena.


"Barangkali dia mau mandi atau apa...Yank." Jawabku.


"Kalian salah, kurasa Doni belum nganter Bik Yanah kok, mereka masih di sana." Ujar Dewi menimpali.


Tepat seperti yang kupikirkan, tapi apakah Dewi juga sudah mengetahui affair antara Doni dan bibinya itu.


"Masa begitu sih Dew ?" Tanya Sari pada Dewi yang sekarang sudah tak pakai embel embel Teh segala.


"Sudah kalian nggak usah pura pura gitu lah semua sudah tau keles, bahkan Imas juga sudah tau gosip yang lagi hangat beredar di toko, ya kan Im ?" Ujar Dewi biasa saja sambil menatap Imas namun Imas tak bergeming.


"Brengsek Rasti di suruh merahasiakan dulu malah semua orang sudah pada tau, pantas saja si Yeyen tadi berani ledekin Teh Yanah." Ujarku dalam hati saja.

__ADS_1


Sesaat kemudian kami berdiam diri menjadikan suasana dalam mobilku menjadi senyap dan aku bisa dengan leluasa melajukan mobil dengan cepat hingga sekejap saja sudah sampai di pinggir desa sebelah yang juga melintasi penggilingan padi yang kini sudah resmi menjadi milikku.


Tak lama kemudian kami sudah sampai di depan rumah keluarga Haji Obi yang terlihat megah dan paling mewah dari sekitarnya.


"Wow ini rumah Teh Imas?" Tanya Sari ketika Imas sudah turun dari mobilku.


"Begitulah Mbak Sari, mari turun dulu barangkali bersedia ngopi dulu, bapak juga belum tidur kok wayah gini." Ujar Imas yang mungkin basa basi saja.


"Lain kali saja lah Teh, malam sudah larut ini kami belum pada mandi semua, nanti malah bikin polusi di rumah Teh Imas." Kata Sari sambil tersenyum.


"Baru juga jam delapan, ya sudah trimakasih banyak yah Mbak Sari...Ak sudah nganterin aku pulang." Ujar Imas sambil tersenyum semringah.


"Iya sama sama Teh." Jawab Sari.


"Salam saja buat Pak Haji Obi Teh, maaf kami nggak mampir kali ini." Ujarku menambahkan.


Sebelum kemudian ku putar balik mobil dan lalu melajukannya di iringi lambaian tangan Imas yang sejenak belum juga buru buru masuk ke dalam gerbang rumahnya.


"Yank itulah penggilingan padi kita !" Ujarku sambil menunjuk tempat penggilingan padi ku yang hanya di beri penerangan seadanya saja sehingga terlihat remang remang.


"Oh ini tow penggilingan padi nya kok dekat rumah Teh Imas ?" Tanya Sari.


"Ya kan tadinya itu milik bapaknya Yank." Kataku menjelaskan.


Aku kembali melajukan mobilku agak pelan karena dari depan terlihat sorot lampu mobil box ku yang baru sekarang di gunakan untuk mengantarkan Teh Yanah.


Aku memberi kode dengan dim yang membuat Doni pelan pelan kemudian berhenti di sampingku. Kulihat mereka berdua hanya nyengir cengengesan.


"Bukannya kamu nganter Teh Yanah nya dari jam tujuh kurang tadi ?" Tanyaku pura pura tak tau.


"Baiklah hati hati langsung pulang, besok kamu tugas belanja !" Ujarku.


"Iya boss siyapp...!" Jawab Doni sambil tersenyum lebar.


Aku buru buru melajukan mobilku lagi dan transit lagi di perempatan Kampung Krajan yang kalo malam jadi pusat kuliner. Sari ingin membeli martabak telor sedang Dewi membeli bubur kacang beberapa bungkus sekaligus.


Sementara aku sendiri membeli beberapa potong fried chicken yang salah satunya langsung aku makan di tempat sambil menunggui Dewi dan Sari yang sedang antri menunggu pesanan mereka di buatkan.


Beberapa orang menyapaku meski aku tidak begitu mengenal mereka, namun begitu aku tetap menanggapi mereka dengan ramah.


Sekilas aku memperhatikan seorang gadis berhijab rapi yang berdiri di seberang jalan depanku terlihat sesekali menatap dan tersenyum padaku. Entahlah tapi sepertinya gadis itu terlihat tak asing buatku meski aku lupa melihatnya dimana.


Aku kemudian melangkah menghampiri gadis itu yang kebetulan tak jauh darinya ada Sari yang sedang menunggui pesanan baklor nya di buatkan, sementara Dewi juga terlihat masih menunggu.


"Ak mau dong chicken nya..." Ujar gadis manis berhijab itu lirih saja saat aku berada di dekatnya.


Aku menatap gadis itu sejenak.


"Lupa yah Ak sama aku hihihi ?" Ujar gadis itu lagi


"Oh ya ampun kamu Eka Wulandari kan yah anak gadis calon perawat nya Pak Somad ?" Ujarku sambil tersenyum semringah setelah tau gadis ini ternyata anak gadis Pak Somad yang bertemu kami tadi siang.


"Ihh Aak jangan rempong napa !" Ujarnya gemas sambil tersenyum malu malu.


"Kamu ngapain disini ?" Tanyaku.


"Pengen beli baklor Ak tapi masih nunggu Teteh cantik yang memborong baklor itu." Ujar Eka lirih sambil menunjuk kepada Sari dengan dagunya.

__ADS_1


"Oh itu hehehe, sabar yah...!" Ujarku sambil tersenyum geli.


"Iya Ak namanya juga antri " Jawab Eka, membuatku makin tertawa geli.


"Ihhh kok Aak malah ngetawain aku seh ga jelas banget !" Ujar Eka lagi pura pura geram.


"Tunggu bentar kamu butuh baklornya berapa ?" Tanyaku.


"Satu saja kok Ak." Jawab Eka.


"Kok cuma satu ?" Tanyaku.


"Bapak sama Emih nggak suka baklor soalnya." Ujar Eka sambil tersenyum.


"Baiklah sini ayo sini ikut aku !" Ujarku pada Eka.


Aku mendekati Sari yang sejak tadi juga aku yakin mengawasi kami.


"Yank kamu pesan baklor nya berapa ?" Tanyaku pada kekasihku yang terlihat sedang mode cemberut itu.


"Tiga. kenapa ?" Jawab Sari agak ketus.


"Ini Teh martabaknya !" Ujar pedagang martabak pada Sari.


"Oh berapa Mang jadinya ?" Tanyaku.


"Martabak telor bebek spesial tiga jadi 60 ribu Ak." Jawab pedagang martabak itu.


Aku lalu memberikan selembar uang ratusan ribu.


"Mang tolong bikin satu lagi martabaknya yang sama dengan pesanan Teteh ini lalu berikan pada gadis manis teman saya ini yah." Ujarku.


"Oh begitu Ak, siyap jadi kembalinya 20 ribu yah Ak." Ujar Amang itu terlihat senang.


"Mbak Sari tukar receh ih, Amang itu nggak punya kembalian duitku cuma 50 puluh saja padahal, ini ada uang receh cuma sepuluh ribu." Ujar Dewi


"Yah duitku juga lima puluhan semua Dew." Jawab Sari


"Berapa seh butuh recehnya ?" Tanyaku, yang sedang pegang uang 20 ribuan kembalian dari tukang martabak.


"Oh itu ada hihi." Ujar Dewi sambil meraih uang di tanganku lalu ngeleyos ke tempat pedagang bubur kacang.


"Oh iya Eka pengin kenalan nggak sama Teteh cantik yang sudah bikin Eka menunggu karena borong tiga bungkus martabak ?" Ujarku pada Eka yang kemudian terlihat malu malu.


"Yank kenalin ini Eka Wulandari anak gadis Pak Somad yang bercita cita jadi seorang perawat." Ujarku pada kekasihku.


"Oh hai dek salam kenal yah nama ku Sari." Ujar Sari sambil tersenyum ramah lalu mengajak jabat tangan Eka yang kemudian Eka menyalim tangan Sari dengan sopan.


"Jadi Teteh cantik ini istri Ak Agung ?" Tanya Eka merasa terlihat surprise.


"Iya begitulah." Jawabku karena Sari hanya tersenyum saja.


"Yuk kita pulang sudah kan kalian ?" Tukas Dewi menimbrung percakapan kami.


"Nah kalo teteh cantik yang satu lagi ini Teh Dewi namanya adiknya Ak Aceng yang tadi siang godain Eka." Ujarku mengenalkan Eka dengan Dewi.


"Salam kenal Teh Dewi namaku Eka."

__ADS_1


__ADS_2