
Aku kaget mendengar penuturan dari Doni tentang masalah rumah tangga yang dialami Teh Yanah dan Mang Darom.
Di lihat dari sudut manapun semuanya seakan menjadikan diri mereka tak bersalah dan tak bisa di salahkan. Mang Darom jelas sosok yang dirugikan karena istrinya berselingkuh darinya, tapi benarkah bisa menyalahkan Teh Yanah yang merasa miskin nafkah batin dari suaminya lalu berpaling pada Doni yang dengan suka rela bahkan mau bertanggung jawab saat menanggung beban dari Mang Darom.
Doni dalam hal ini merasa menjadi pahlawan buat Mang Darom yang gagal membahagiakan istrinya dengan nafkah batin yang di rasa Teh Yanah sangat minim karena kekurangan suaminya.
Akhirnya semua menjadi ambigu tak ada yang bisa di salahkan atau di benarkan dalam hal ini. Jadi haruskah mereka menerima penghakiman ataupun respect yang berlebihan.
"Jadi Mang Darom itu tidak berfungsi ?" Tanyaku.
"Menurut Yanah begitu, tentang benar atau tidaknya aku juga kurang paham boss." Jawab Doni.
"Tapi berhati hatilah mas, masalahnya aku juga nggak tega sama Mang Darom. Selain itu kalo melakukan sebaiknya di rumah akomodasi saja, jangan di toilet toko." Ujarku.
"Jadi boss tau, aku pernah melakukan di toilet sama Yanah ?" Tanya Doni.
"Bukan tau saja tapi videomu juga sudah beredar meski aku meminta untuk di batasi di toko saja dan tak boleh bocor keluar." Ujarku.
"Gila, perasaan ga ada siapa siapa waktu itu kenapa bisa ada yang tau ? pantas saja cewek cewek jadi sinis sama aku sekarang boss." Ujar Doni begitu lirih.
"Karena itu hati hatilah dalam hal ini aku netral yang penting kalo ada apa apa sama Teh Yanah kamu beneran tanggung jawab, kalo tidak siap siap saja seluruh keluarga Aceng memusuhi kamu." Ujarku.
"Baik boss, maaf aku terlalu ceroboh soal itu." Ujar Doni.
"Tak masalah buatku mas, asalkan tak mengganggu kinerja kalian dan selama kamu hati hati aku fine aza biarlah aku membantu Darom bahagia dengan cara yang lain." Ujarku.
"Maksud boss gimana ?" Ujar Doni sambil membelokkan mobil di pertigaan arah simpang jomin.
"Mang Darom lagi antusias bekerja keras di penggilingan, aku akan membantunya menikmati pekerjaannya dengan banyak job kedepannya hingga dia punya kekuatan dan tak terpuruk jika suatu saat Teh Yanah benar benar meninggalkan dirinya." Ujarku.
"Maafkan aku boss karena aku terlalu menuruti nafsuku sendiri." Ujar Doni lirih.
"Nggak perlu menyesal yang penting silahkan berhubungan asal hati hati, aku tak ingin persoalan seperti ini jadi bom waktu yang merugikan usaha kita." Kataku.
"Eh kartu flazz kamu masih ada isinya kan ?" Tanyaku.
"Masih boss, masih banyak malah." Jawab Doni.
Begitu masuk tol, dia melajukan kendaraan seperti angin. Fokus melewati kota demi kota yang seakan terus berlomba lomba untuk menghiasi dirinya dengan bangunan bangunan megah yang tinggi menjulang.
"Apakah kau benar benar mencintainya?" Tanyaku.
"Iya kayaknya boss aku ingin menikahinya." Jawab Doni.
__ADS_1
"Pacar kamu di kampung bagaimana? bukankah kau bilang punya pacar di kampung kan?" Tanyaku.
"Aku betah di sini, jadi kurasa aku akan tetap memilih Yanah." Kata Doni.
"Bagus mas ! aku akan membantumu kalo gitu." Ujarku.
"Hehehe iya boss makasih." Ujar Doni semringah.
"Kalo yang lain memang belum ada yang bisa bikin kecantol apa ?" Tanyaku.
Doni diam sejenak.
"Oh, sepertinya hanya aku yang blak blakan mengumbar kisah cintaku hehehe, Boss tau nggak sekarang Nenih sudah jadi pacarnya Anto, mungkin juga kali ini dia ke Pekalongan ngajakin wanita itu." Ujar Doni membuatku surprise.
"Wah seharusnya tempat tempat belanja jangan sampai ada orang luar yang tau..." Ujarku bergumam.
Aku segera mengeluarkan hp ku dan menghubungi nomor Anto. Cukup lama aku menunggu panggilan di angkat.
"Hallo boss gimana ?" Tanya Anto dari seberang.
"Mas kamu sendirian kan ke Pekalongan nya." Tanyaku.
"Sendiri boss, kan tadi boss nyuruhnya sendiri." Ujarnya.
"Tunggu boss ! sebenarnya ada apa ?" Tanya Suranto mungkin menjadi jengah karena perjalanannya terganggu hanya untuk di tanyai begitu saja.
"Mas Anto nggak ngajakin Nenih kan ?" Tanyaku.
"Oh itu tow ternyata nggak kok boss Nenih kan jualan." Ujar Suranto.
"Oh iya maaf mas, silahkan lanjut hati hati di jalan." Ujarku sambil terkekeh.
"Boss ga salah nggak perlu minta maaf, ini kan pasti gara gara si brengsek Doni yang mulutnya racun itu ember." Ujar Suranto yang membuat aku tertawa terbahak bahak sementara Doni hanya nyengir ikut senyum.
"Ya sudah mas silahkan lanjut !" Ujarku.
"Iya boss...ini sudah hampir sampai Cirebon kok." Ujar Suranto sebelum panggilan di tutup.
"Kalo Trimo sama Riko gimana ?" Tanyaku.
"Kalo Riko pernah bilang pada kami kalo naksir sama Yeyen tapi kelanjutannya gimana aku kurang paham boss." Jawab Doni.
"Trimo ?" Tanyaku.
__ADS_1
"Dia paling susah ngomong soal gituan boss." Jawab Doni.
"Mungkin cocoknya sama Aliyah kali yah dia, soalnya sama sama diam." Ujarku.
"Lah nanti jadi patung mereka boss." Kata Doni membuatku tertawa lagi.
"Lalu kira kira dia naksir siapa, masa dari sekian banyak cewek cantik cantik gitu nggak ada yang membuatnya tertarik." Kataku.
"Kok boss yang jadi rempong ngurusin hal hal gituan seh boss..." Ujar Doni yang lagi lagi sukses membuatku tertawa terbahak bahak.
"Yah kita kan bukan sekedar teman lagi mas, tapi sudah saudara tersumpah kan? aku juga pengin semuanya hidup normal nggak kaya sepupuku yang sudah dapat istri cantik jelita malah nafsu sama sesama jenis." Ujarku yang sama sekali tak kaget mungkin karena telah mendengar soal Farhan yang berperilaku menyimpang.
"Kayaknya Trimo ada rasa sama Dewi boss." Ujar Doni yang membuatku kaget.
"Tapi kalo yang ini boss jangan ikut rempong yah, masalahnya Trimo itu orangnya ngambekan dan sangat tertutup soal soal pribadinya." Ujar Doni.
"Baiklah santai saja, asal tak menyimpang aku akan fine fine aza." Ujarku.
"Nggak lah boss kalo hanya untuk jadi bengkok, ngapain kita gedein properti kita susah susah sampai nyari lintah segala." Ujar Doni.
Sebelum kemudian dia fokus nyetir karena di depan sudah terbentang gerbang tol.
"Nanti kalo aku pulang kampung bisa kan kamu belanja sendiri ?" Tanyaku, setelah kami lepas kembali dan mulai memasuki tol dalam ibukota.
"Bisa boss, tapi entahlah..." Jawab Doni.
"Nanti aku kenalin sama boss boss vendor pemasok kita dan kamu ingat ingat, soalnya ke depan aku tak mungkin ikut belanja terus." Ujarku.
"Iya deh gimana kata boss saja." Balas Doni.
"Mas Doni sudah lapar belum sekarang barangkali mau ngisi perut dulu sebelum Tanah Abang?" Tanyaku.
"Nanti saja tadi sudah makan nasi uduk soalnya. Kalo boleh kita makan lagi di rumah makan yang dulu lagi itu saja boss." Jawabnya.
Aku hanya mengangguk.
"Boss maaf nanti ngangkut barangnya pake jasa sewa aza yah !" Ujar Doni membuatku tertegun.
"Maksudnya ngangkut dari pasar ke mobilnya, aku yang menata ke mobilnya gitu." Ujar Doni lagi.
"Iya, soal itu aku juga paham kok. Lagian aku juga nggak ingin menyiksamu." Ujarku.
"Hehehe iya boss." Kata Doni.
__ADS_1