
"Kamu kok bengong gitu, darimana seh Lu ?" Tanya Aceng ketika melihat aku hanya pasif dan tak seperti biasanya, dan mungkin Aceng melihatku tampak ogah ogahan.
Aku memang tak seantusias biasanya, aku lebih terlihat seperti orang kebingungan saat ini meskipun kemudian aku membuka kertas gambar denah lengkap dengan berupa gambar bentuk bangunan utuh dan potongan disertai keterangannya.
"Estimasi biaya berapa ini ? Tanyaku.
"Sekitar 800 juta sampai satu miliar mungkin." Jawab Aceng tampak serius.
"Kau yakin, ga terlalu low cost itu ?" Ujarku setelah mencoba fokus lagi.
"Tidak, sebab kita akan memakai baja ringan untuk atap bukan kayu atau bambu yang lebih boros dari segi usia serta batu putih untuk dinding jadi agak hemat modal untuk pasir dan yang penting ongkos untuk pekerja bisa di tekan sekitar 10 persen dari ongkos harian tukang pada umumnya." Ujar Aceng antusias saat memaparkan rencananya soal renovasi tempat penggilingan itu.
"Baiklah segera mulai saja, oh iya nanti jangan lupa kau minta mereka kumpulkan foto kopi identitas diri masing masing yah, lalu serahkan ke Imas minta di buatkan pembukuan baru untuk unit usaha properti." Kataku.
"Okey boss...!" Ujar Aceng tampak senang dan semringah seperti seorang yang menemukan kebebasannya kembali.
Aceng memang orang lapangan jadi aku pikir dia memang kurang merasa sreg jika harus terkungkung dalam lingkungan tak bergerak seperti ini.
"Jadi kapan bisa mulai? kalo bisa musim panen ini gudang sudah mulai bisa di gunakan." Ujarku.
"Semua tergantung aba aba darimu bro, begitu kau bilang besok mulai ya kita mulai." Jawab Aceng.
"Baiklah duitnya nanti aku transfer saja ke rekening kamu Ceng biar kamu gampang ngaturnya." Ujarku.
"Okey siyap boss...!!! Oh iya kemarin aku sudah kasih DP separuh untuk hiburan dua juta setengah boss kuambil dari duit yang kamu kasih ke aku sebagai bonus untuk beli motor dulu itu." Ujar Aceng.
"Iya nanti aku ganti lagipula bukankah kamu pengin mobil kan kamu bisa beli setelah renovasi penggilingan selesai aku akan bayar semua sisa kurangnya duit kamu." Ujarku.
"Nah itu baru bossku...!!!" Kata Aceng.
Kulihat Doni sudah mulai membagikan kotak kotak nasi buat makan siang buat karyawan non penjualan yang kebanyakan berada di luar toko, karena untuk yang bagian penjualan, Dewi sudah menetapkan aturan untuk tak boleh membawa makanan jenis apapun ke dalam toko. Jadi mereka makan langsung di pantry secara bergantian, kecuali makan malam yang bisa di bawa pulang.
"Makan Boss !! Makan Ak !!" Ujar Roni menawari aku dan Aceng untuk makan siang di ikuti Dion yang mengucapkan hal yang sama.
"Iya iya.. silahkan silahkan...!" Ujarku sementara Aceng cuma tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya Ron, titip pesan ke Teh Nenih yah, besok di minta libur dulu dagang nasi uduknya bilang padanya aku minta bantuannya untuk ikut bantu bantu di rumah Mih Onah yah." Ujarku.
"Iya Boss siyap nanti saya sampaikan." Jawab Roni.
"Ya sudah bro aku mau ke pantry dulu yah !" Ujar Aceng sambil berlalu ke atas lewat jalan layang ke gudang.
Tak lama setelah itu aku hendak ke kamar kecil ketika Imas datang menghampiriku.
"Ak, maaf bisa nggak nganter aku pulang sebentar ?" Ujar Imas lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Loh memang kenapa? Bukankah Pak Haji sedang di rumah Ak Ahmad yah ?" Kataku menanggapi.
"Ada sesuatu yang aku mau omongin ke Aak." Ujar Imas lagi.
Aku terdiam sebentar.
"Baiklah tapi jangan bareng yah kamu duluan saja nanti aku nyusul." Kataku dengan dada berdebar kencang, karena aku tau saat ini aku yakin telah bermain dengan api.
Gadis bernama lengkap Nimas Dewi Hapsari itu hanya mengangguk lalu tersenyum sangat manis padaku, kemudian dia berbalik dan berlalu lalu menyapa Sari dan bercakap-cakap sebentar sebelum Imas mengambil motor matic miliknya di parkir khusus karyawan yang di atur Roni kini di tempatkan di depan office yang berteras.
"Tadi Imas bilang apa sama mas ?" Tanya Sari dengan wajah agak cemberut.
"Cuma mau pamit sebentar buat pulang ke rumahnya sebentar katanya, kamu sudah makan Sayank ?" Tanyaku.
"Ini baru mau, karena itu aku nyariin kamu." Ujar Sari.
"Ehm, kamu duluan saja Yank bareng Dewi saja, tadi soalnya Mang Ujang ngebel aku katanya aku di tunggu Pak Somad di rumahnya sekarang." Ujarku beralibi dan mulai modus.
"Memang masih ada urusan apa lagi seh mas, kan sawahnya sudah jadi kamu gadai kan?" Ujar Sari agak protes.
"Iya seh Yank, tapi mungkin mau ngenalin aku dengan para tukang tebas teman temannya, dia kemarin memang aku minta jadi tukang tebas kita kan." Jawabku memberikan alasan yang masuk akal.
"Ya sudahlah jangan lama lama tapinya !" Ujar Sari agak cemberut.
"Nggak kok Yank, aku suka kangen kalo lama ninggalin kamu." Ujarku sambil tersenyum, sementara Sari hanya mencibirkan bibirnya, lalu berlalu ke office.
__ADS_1
Sementara aku lanjut ke kamar kecil kemudian berlalu dengan mobilku ke rumah Imas, yang kini dia tinggal sendirian di rumahnya.
Rupanya Imas sudah menungguku, terbukti ia langsung membuka lebar pintu gerbangnya dan menyuruhku untuk langsung memasukkan mobil dan kemudian di tutupnya rapat rapat setelah aku di dalam, seakan ingin mengisolasi aku di dalam rumahnya.
Justru karena pagar besi tuang berkelir merah hitam itu di tutup dengan lembar plastik carbonate yang membuat orang dari luar tak bisa melihat ke dalam rumah besar ini.
Jantungku berdegup kencang melihat Imas yang tampak menunjukkan sifat agresif nya padaku, bahkan ia sudah mengganti baju kerjanya hanya dengan dress pendek yang hanya mengcover tubuhnya sebatas hingga separuh pahanya saja hingga kakinya yang indah itu terpampang jelas.
"Sebenarnya ada apa seh ?" Ujarku basa basi.
"Kita ke dalam saja Ak." Ujarnya sambil menarik tanganku, namun kali ini aku tak sungkan lagi.
Aku justru menarik tangan Imas hingga tubuhnya terdorong dan jatuh dalam dekapanku.
"Kenapa kau tak berhenti menggodaku, jangan salahkan aku jika aku tak bisa menahan diri." Ujarku lirih.
Aku mengecup rambut kepala Imas, dia sama sekali tak menolak bahkan kemudian bibir kami segera bertemu dan Imas juga mulai berani mendekapku dan memelukku.
"Kita ke dalam saja Ak." Bisiknya.
Aku mengangguk lalu kami saling berangkulan lalu masuk ke dalam rumahnya, ternyata Imas langsung membawaku ke kamar pribadinya langsung.
"Kita mau ngapain ini ?" Tanyaku.
"Aku sudah memutuskan Ak, untuk menyerahkan segalanya yang ada di diriku pada Aak." Ujar Imas sambil melepas gaun pendek yang di pakainya.
"Jangan bodoh, aku takut kamu akan menyesalinya lagipula kali ini aku belum bisa menuruti keinginan kamu itu." Ujarku tegas meski juniorku benar benar tegang total setelah Imas mengekspos hampir seluruh tubuhnya yang sangat sempurna itu.
"Memangnya kenapa Ak, takut yah sama Mbak Sari ?" Bukan cuma itu saja alasannya tapi kali ini aku benar benar belum bisa melakukan hal hal seperti itu.
"Tapi bukankah Aak slalu tidur bersama Mbak Sari, kenapa harus jaga image segala ?" Ujar Imas.
"Iya aku memang tidur sekamar dengannya tapi perlu kamu tau selama ini kami sangat menahan diri untuk melakukan hal hal seperti yang ada di pikiranmu itu." Jawabku jujur.
"Sudahlah Ak, toh aku juga tak peduli Aak melakukan itu atau nggak tapi saat ini Aak telah melihat aku seperti ini aku harap pengertian dari Aak." Ujar Imas lirih dan mulai berkaca kaca mata indahnya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan melakukan sesuai keinginan kamu tapi beneran saat ini aku belum bisa melakukan hal hal yang lebih dalam jadi kalo kamu ingin sebatas melakukan romantisme saja oke tapi lebih dari itu untuk saat ini aku hanya bisa bilang tidak dulu." Ujarku sambil mendekap tubuh setengah topless Imas yang masih tersisa dua lingerie yang mengcover alat vitalnya.