OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 7 Air Terjun Tujuh Bidadari


__ADS_3

Kami kembali melanjutkan perjalanan lagi yang kali ini murni dengan panduan Mbak Sari yang justru terlihat semringah bahagia, meskipun mamanya sedang di rawat di rumah sakit.


Bahkan belum pernah aku melihatnya seceria saat ini wajahnya, selama di rumah.


"Mbak Sari yakin dengan ini kan...maksudku dengan tidak segera balik ke rumah sakit?" Tanyaku untuk sekedar meyakinkan.


"Tentu saja mas. Kan mumpung sekalian disini, lagipula mamah kan sudah ada yang nunggu Mbak Wati dan Bude juga Pakde jadi ga ada salahnya refreshing, tapi kalo mas keberatan ya sudah kita balik saja." Ujar Mbak Sari sedikit cemberut.


"Jujur mbak justru aku saat ini merasa sangat nyaman sekali dengan perjalanan ini, aku cuma cemas mbak nanti di cariin." Ujarku masih beralibi seperti orang munafik padahal saat ini jelas aku sangat bahagia tak terkira.


"Sudah gapapa mas mamaku sudah baikan kok, kata dokternya cuma kelelahan saja. Setelah masuk infusan nanti juga seger lagi. Justru aku yang butuh refreshing mas." Kata Mbak Sari lirih.


"Sepertinya mbak sedang menyimpan masalah, benarkan mbak?" Tanyaku.


"Begitulah mas..kurasa mas pun tau kalo aku seorang menantu yang tak di harapkan. Mas Farhan sebagai suamiku juga selalu dingin, entahlah aku akan bisa bertahan atau tidak mas." Keluh Mbak Sari, aku pun maklum dan sedikit paham akan kondisi itu setelah mendengar cerita dari Anis maupun bapakku.


"Aku slalu berdoa yang terbaik buat mbak, sebagai saudara tentu aku tak ingin kalian berpisah apalagi jika mbak harus meninggalkan kami. Aku bahkan tak ingin membayangkan jika akibat kebodohan Mas Farhan, mbak lalu di miliki oleh orang lain yang membawa Mbak Sari pergi." Ujarku jujur.


"Iya mas andai saja yang jadi mertuaku itu Paklik Marno hihihi." Kata Mbak Sari membuatku kaget.


"Apa mbak? Oh Ya Alloh amiinnn mudah mudahan." Ujarku lebay yang membuat Mbak Sari tertawa kecil.


Hanya 10 menit saja dari kediaman bude Mbak Sari, kini kami telah sampai di sebuah gerbang bertuliskan Air Terjun Tujuh Bidadari. Tempat yang menurutku nyaris sempurna, rimbun dan sejuk cenderung dingin hawanya di tunjang panorama alam dari gunung yang menjulang dengan segala keindahannya benar benar sebuah mahakarya dari Sang Maha Pencipta yang tak ada bandingannya.


Dari kejauhan sudah terlihat sebuah air terjun berbentuk seperti piramida yang begitu elok, apalagi ditemani bidadari sesungguhnya di sebelahku oh nikmat mana lagi yang akan engkau dustakan.


"Ingat ya mas kita tak boleh berpisah." Bisik Mbak Sari membuatku tertegun


"Maksudnya mbak?" Tanyaku.


"Pokoknya kita harus slalu bersama sama di tempat ini dan jangan mengucap kata yang jorok." Tutur Mbak Sari.

__ADS_1


"Oh di pahami tuan putri...kalo gitu bisakah hari ini kita sekalian pacaran saja tuan putri?" Ujarku bergurau. Namun tak ku sangka Mbak Sari malah mengangguk dan tertawa kecil.


Kami pun bergandengan tangan mendekati air terjun yang sangat indah itu, namun tak cukup dekat karena Mbak Sari lebih memilih mengajak untuk duduk di atas sebuah batu kali yang cukup besar ukurannya.


Namun saat kakinya menyentuh air kali yang dingin, ia terpeleset membuatnya langsung basah kuyup.


"Aduh ati ati mbak..." Ujarku lalu berusaha membantunya berdiri, tapi ia justru tertawa dan menyibakkan air ke arah mukaku.


"Aduh mbak ampun mbak ..basah ini .." Ujarku berusaha menghindar namun Mbak Sari terus saja menyiratkan air ke arahku, yang membuatku juga melakukan hal yang sama padanya, hingga kami tertawa tawa seperti anak kecil yang sedang bermain dan bergembira bersama.


Untung saja jaket yang kupakai waterproof jadi hp dan dompetku aman, lain dengan Mbak Sari yang basah kuyup hampir seluruh pakaiannya, membuat pakaian dalamnya terlihat siluetnya. Namun untungnya tas yang di bawanya juga tahan air karena terbuat dari kulit sintetis jadi hp dan dompetnya juga aman.


Setelah puas tertawa bersama kami saling tertegun mendapati kondisi kami yang sekarang lebih mirip dua ekor kucing yang habis tercebur kolam. Aku lalu naik ke batu besar itu untuk menjemur diri.


"Bantu aku mas!" Ujar Mbak Sari juga berusaha mengikuti ku dan duduk di depanku hingga kesannya aku sedang memangkunya.


Kurasakan Mbak Sari merapatkan badannya dan lalu bersandar padaku, membuatku dilema sesaat sebelum aku akhirnya memutuskan untuk melingkarkan kedua tanganku di perutnya. Mbak Sari tak menolak bahkan tangannya justru menggenggam tanganku yang mendekapnya seakan berkata agar jangan sampai di lepaskan.


"Mbakkk..." Bisikku lirih di telinganya.


"Bolehkah aku mencium mbak?" Tanyaku sangat lirih dengan berbisik, namun Mbak Sari tak menjawabnya.


Mbak Sari hanya semakin beringsut merapat menempel badanku hingga aku benar benar memeluknya dari belakang. Kami tak peduli beberapa pasang mata yang melihat kami karena aku yakin mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan yang kami lakukan.


Mbak Sari semakin ndusel ndusel merapatkan tubuhnya padaku membuatku semakin berani mempererat pelukanku.


"Mas..." Kata Mbak Sari sambil memutar lehernya untuk menatapku.


"Iya mbak..." Jawabku berat karena menahan gairah yang bergejolak dalam dadaku.


"Katanya mau nyium." Bisiknya lirih.

__ADS_1


"Oh tentu...mbak bidadari ku..." Jawabku lalu mengecup pipinya sekali lalu terus dan terus hingga Mbak Sari kembali beringsut memutar tubuhnya 90° hingga pahanya nempel dengan mister jagurku yang sudah tegang dari tadi.


Aku terus menciumi pipinya dengan lembut dan Mbak Sari justru mengajakku ciuman bibir sembari satu tangannya merangkul punggungku dari samping. Mbak Sari memejamkan matanya saat bibir kami saling menempel dan ******* dan sesekali kami bertaut lidah.


"Masss...." Desahnya saat ciuman kami terjeda untuk sekedar mengambil nafas.


"Trimakasih mbak...aku berharap kau selalu bahagia. Jika mbak sudah tidak nyaman dengan Mas Farhan dengan senang hati aku akan menggantikannya." Ujarku sambil memegang pipinya lalu kembali mencium bibirnya.


"Masss......" Bisiknya.


"Ya mbak....katakan yang kamu inginkan sayank." Ucapku lembut jujur saja saat ini nafsuku telah menutup nuraniku.


"Dingginnn..."Bisiknya lagi.


"Baiklah nanti kita akan beli baju untuk ganti mbak." Jawabku sambil terus mencumbuinya.


"Sekarang saja yuk..." Ucap Mbak Sari.


"Baiklah tuan putri apapun kehendakmu." Jawabku.


Aku lalu turun duluan dari batu besar yang bisa kupastikan akan ku kenang sebagai salah satu tempat terindah dalam hidupku itu, lalu membopong tubuh Mbak Sari dan baru menurunkannya di tepian kali, lalu kami saling berangkulan menuju tempat parkir di mana mobilku berada.


Sebenarnya ada juga pkl tempat itu yang menjajakan beberapa model busana khas pernak pernik, namun aku lebih memilih membawa Mbak Sari untuk membeli busananya di sebuah toko sandang yang ada di Bandungan.


"Tadi gede banget yah mas..." Bisik Mbak Sari namun aku kurang paham apa yang ia maksudkan sehingga aku hanya mengangguk mengiyakan.


Mbak Sari hanya membeli satu stel pakaian kasual dan satu stel pakaian dalam saja meski aku tak keberatan andai ia ingin membeli beberapa stel sekaligus. Aku sendiri membeli satu stel celana jeans katun asli dan kaos kerah yang Mbak Sari pilihkan serta satu ****** ***** bermerk.


"Mas aku ga mau ganti baju di sini." Ujar Mbak Sari.


"Lalu ganti di mana di mobil saja mau?" Tanyaku namun Mbak Sari langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lalu dimana mbak?" Tanyaku bingung.


"Ke hotel aza yuk gimana?"


__ADS_2