
POV 1st
Baru saja aku melajukan mobilku, hp ku berdering nada panggilan video call dari Anis.
"Tolong terima Yank! dari Anis itu." Ujarku.
Sari yang duduk di sebelahku segera meraih hp yang aku letakkan begitu saja di atas dashboard mobil, baru saja hp itu aku aktifkan lagi setelah sejak tadi siang aku matikan.
"Assalamualaikum Dik....iya kenapa ?" Ujar Sari begitu lembut, sambil mendekat padaku agar Anis paham bahwa aku sedang mengemudi.
"Mbak Sari, eh itu lagi perjalanan kemana ?" Ujar Anis sesaat setelah bisa melihat situasinya.
"Oh ini Mas kamu lagi pengin makan di luar." Jawab Sari sambil tersenyum manis sekali.
"Ini sudah jam delapan baru mau makan malam." Ujar Anis menggerutu, membuat kami hanya tertawa.
"Apaan seh bocil ada apa ?" Sahutku.
"Mas, bapak nanya terus kalian jadi pulangnya kapan?" Tanya Anis.
"Lah kan sudah di bilang kalo kita bisa pulangnya baru hari senin pagi jadi kalo lancar senin sore sudah sampai rumah, gimana seh kok nanya terus." Ujarku.
"Iya tadi aku sudah jelasin ke bapak mas, tapinya Bude Marni sakitnya kayaknya parah banget. Ini bapak bingung terus." Ujar Anis.
"Lah kan ada Pakde Joyo ngapain bapak yang bingung, memang bude sakit apa sebenarnya ?" Tanyaku.
"Jantung mas, tau nggak gara gara apa ?" Jawab Anis bikin penasaran.
"Memang karena apa nduk ?" Tanyaku.
"Tapi kalian jangan bilang siapa siapa !" Ujar Anis mencoba membuat permintaan membuat aku dan Sari serempak tertawa.
"Ih jahat banget seh malah ngetawain..." Ujar Anis sewot dan cemberut.
"Iya memang kita mau bilang sama siapa, lagian kita koar koar juga ga ada yang ngerti kok, emangnya berita apa ?" Ujarku.
__ADS_1
"Memang bude sakit gara gara apa Dik ?" Ujar Sari ikut menimpali.
"Itu mbak, gara garanya bude mergokin Mas Farhan sedang berbuat mesum sama teman lelakinya." Kata Anis sambil bergidik seolah mengatakan kalau dia sedang jijik.
Sedangkan kami yang sudah tau penyakit Farhan itu, sama sekali tak menganggap berita itu sebagai surprise karena kami tau cepat atau lambat borok Farhan itu akan segera tercium keluarganya. Hanya saja yang kurang aku mengerti kenapa Farhan bisa seceroboh itu.
"Mbak...Mas...kok diam....?" Tanya Anis lagi.
"Memang kita di suruh bilang wow gitu ?" Ujarku.
"Ih Mas Agung mah nggak asyik ah, Mbak Sari..!!" Ujar Anis.
"Iya Dik, kenapa ?" Jawab Sari lembut sangat ramah di sertai senyum manisnya.
"Maaf yah Mbak soal berita ini." Ujar Anis, sementara Sari hanya mengangguk dan tertawa kecil saja.
"Gapapa dik, lagipula itu Mas Farhan seperti itu sudah lagu lama kok." Kata Sari.
"Tapi kenapa Farhan bisa ceroboh begitu, seperti nggak punya otak saja." Gumamku.
"Iya kayaknya juga gitu seh Mas, soalnya seharian ini Pakde Joyo kelihatan galau banget sebenarnya aku juga kasihan juga." Kata Anis.
"Ya sudah ya nduk kami mau makan dulu, ini sudah sampai nih nasi goreng spesial rempeyek udang." Ujarku memprovokasi adikku itu biar iri.
"Ahhh penginnn....!!!" Ujar Anis, seperti yang kuduga.
"Hahaha makanya lekas besar biar bisa kemana mana." Ujarku terputus karena Anis keburu mematikan panggilannya.
Warung kuliner kaki lima penyedia menu nasi goreng dan aneka makanan berbahan mie itu tadinya masih sepi ketika kami datang, namun beberapa saat kemudian setelah kami, beberapa pengunjung lain mulai berdatangan.
Malam ini memang malam minggu tapi dengan kondisi tanggal yang sudah masuk tanggal tua di tunjang dengan kondisi petani yang nanggung antara musim panen yang masih cukup lama alias musim paceklik membuat iklim usaha jalanan di kampung semacam ini sebenarnya kena imbasnya juga.
"Mas...aku boleh tanya nggak ?" Ujar Sari lirih saat kami menunggu pesanan kami dibuatkan.
"Tentu saja Sayank, memang apa yang kamu ingin tanyakan ?" Jawabku.
__ADS_1
"Aceng mas." Jawab Sari
"Kenapa kau menyukainya ?" Sahutku.
"Weishh...jangan begitu mas, aku sudah berjanji bukan bahwa aku hanya milikmu saja, aku itu sebenarnya mencoba bersikap baik ke Aceng itu karena menghormati persahabatan kalian saja tidak lebih, jadi jangan di salah artikan." Ujar Sari yang kali ini sudah tidak ada emosi dalam perkataannya.
"Lalu apa yang ingin kau tanyakan ?" Tanyaku.
"Maksudku itu gini Mas, kelihatannya Aceng itu memang sudah ingin menikah juga dan kamu bilang kalau hubungannya dengan Imas tak ada masa depannya karena Imas sudah jelas jelas menolak Aceng, dan tadi tiba tiba Imas berkata padaku bahwa dia justru menyukaimu bahkan lebih dari sekedar suka dan kemarin kamu juga bilang Aceng berkata ke kamu supaya melepaskan aku saja kan, apa jangan jangan Imas meminta Aceng untuk mendapatkan kamu Mas, semacam konspirasi gitu?" Ujar Sari.
"Bisa jadi seh Yank... masuk akal juga." Jawabku.
"Lalu yang Aceng dapatkan dari itu ?" Tanya Sari.
"Kamu. Sepertinya dia memang menyukaimu. Bukankah begitu ?" Tanyaku.
"Mungkin tapi aku jelas tidak mungkin mengakomodasi hal hal semacam itu Mas, aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa kamu akan jadi orang terakhir dan selamanya dalam hidupku." Ujar Sari.
"Trimakasih Sayank, begitu pula diriku." Jawabku simpel.
"Masalahnya mas kedua orang ini, pengaruhnya cukup besar apa Mas nggak takut kalo mereka menggunakan segala cara untuk menikam kita dari belakang." Ujar Sari sungguh sungguh.
"Jangan cemas, meski peran mereka cukup vital, aku takkan segan menyingkirkan mereka jika mereka macam macam, kalo mereka bisa berkhianat, empat tangan besi takkan berkhianat, lagipula setelah aku selesai menjalani masa lelaku nanti kupastikan tak ada yang akan bisa mengganggu kita." Ujarku.
"Tapi setidaknya Mas harus selalu berhati hati dengan kemungkinan gangguan seperti itu." Kata Sari lebih lirih setelah makanan yang kami pesan telah selesai di hidangkan.
"Baiklah Sayank, kamu juga yah. Kamu kan tau titik lemahku itu justru di kamu." Ujarku sambil membelai pipi Sari dan membenahi hijabnya yang agak tergerai karena tertiup angin.
"Tapi kamu akan selalu melindungi aku kan...?" Ujar Sari sangat santai, aku hanya mengangguk.
"Ya sudah ayo kita makan dulu Sayank, nasgor ini baunya benar benar menggugah selera." Ujarku sambil menggigit rempeyek udang yang masih renyah yang di buat sebagai topping pelengkap selain telur mata sapi matang sempurna yang tadi aku pesan.
Pendapat dari Sari tentang Aceng dan Imas tadi sebenarnya cukup menggelitik pikiranku, namun mempertanyakan integritas Aceng juga rasanya absurd, karena dari sejak awal bisa di bilang dia merupakan satu satunya orang yang membantu aku membabat alas untuk usahaku dan sejauh ini tetap setia bersamaku.
Imas lah yang mungkin patut di pertanyakan komitmennya meskipun hingga saat ini kinerjanya cukup membuat kami semua puas namun motivasi utamanya bergabung itulah yang patut di pertanyakan.
__ADS_1
Apalagi tadi siang kami sudah melakukan hal yang bisa di bilang cukup jauh, meskipun belum sampai pada hubungan puncak. Bisa di bilang dalam hal ini aku sendiri lah yang jahat dan tak terkendali.