OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 69 Persiapan Terakhir


__ADS_3

Aku bergegas menghampiri Sari yang kelihatannya sangat serius memanggilku.


"Ada apa seh dandan juga belum selesai gitu kan?" Tanyaku.


Sari tak menjawab namun hanya menyodorkan hp nya padaku. Aku membaca sebuah pesan dari Farhan yang membuatku geram. Farhan dalam pesan itu menuliskan tentang sebuah ancamannya pada keluarga Mas Riyan khususnya Mbak Wati, karena ia berencana untuk menculik dan menjual Mbak Wati jika Sari tak memberinya uang 200 juta.


Tanpa basa basi aku segera memencet tombol panggilan pada kakak sepupuku itu menggunakan hp Sari, sekaligus akan merekamnya.


"Bagaimana sudah paham kan sediakan duitnya sore ini juga atau kakakmu akan jadi *****." Ujar Farhan tanpa basa basi.


"Boleh saja kalo kamu ingin Mbak Retno juga bernasib sama." Ujarku santai.


"Anjing kamu, apa yang kamu lakukan brengsek, kamu itu kok slalu ada dimana saja seperti monyet tau nggak...!!!" Kata Farhan geram, mungkin dia belum tau kalo saat ini Sari sedang bersamaku di Subang.


"Nggak usah sok marah gitu lah, percuma pengecut macam kamu marah segala nggak pantas tau nggak, asal kamu tau yah mulai sekarang jangan pernah menyinggung keluarga Sari ataupun fitnah fitnah aku di depan orang sekampung, aku punya hal yang bisa membuatmu menyesal seumur hidup kalo kau nekat melakukannya." Ujarku santai saja.


"Apa maksudmu setan ? kau ngancam aku ?" Kata Farhan dengan geram.


"Iya selain video mesum bengkok dengan pacar sesama jenismu, aku juga punya banyak barang bukti yang cukup untuk membuatmu mendekam di penjara dalam waktu lama, jadi saranku kalo kamu butuh duit bekerja lah, nggak malu apa ngemis sama perempuan apalagi yang sudah jadi mantan istri. Kamu paham kan jika aku sebar satu saja videomu sama orang kampung itu cukup untuk membuatmu di ludahi oleh orang sekampung juga." Ujarku.


"Kamu itu memang iblis nggak tau di untung, kamu itu saudara macam apa ?" Ujar Farhan sudah tak terdengar garang lagi.


"Sudah urusanmu dengan Sari sudah selesai jangan pernah mengganggunya lagi, kalo kamu butuh duit untuk membantu Mas Harno dengan cara seperti itu lupakanlah atau justru kamu sendiri yang akan celaka. Asal kamu tau kamu masih bisa bebas berkeliaran seperti itu bukan karena kamu hebat tapi karena kami kasihan untuk melaporkan perbuatan kamu tempo hari ke aparat." Ujarku.


"Tapi jika kamu lakukan ini sekali lagi maka kami sudah takkan segan lagi membuatmu mendekam di penjara." Kataku melanjutkan.


Setelah itu tanpa menunggu ucapan balasan dari sepupuku itu, kumatikan panggilan sepihak.


"Yank hubungi Mas Riyan bilang agar hati hati soal ancaman Farhan tadi." Kataku sambil menyerahkan hp itu kembali pada Sari.


Sari hanya mengangguk lalu masuk ke dalam dan melakukan apa yang ku minta.


Aku lihat ke rumah Aceng, dia sudah tak berada di tempatnya lagi. Berganti dengan Dewi yang sudah tampak cantik dan rapi dengan pakaian casual yang di pakainya.


"Dew, Aceng kemana ?" Tanyaku pada Dewi.

__ADS_1


"Loh bukannya sudah berangkat ke toko barusan." Jawab Dewi, aku hanya mengangguk.


"La kamu kok malah santai santai gitu Gung, bukannya duluan ke toko malah santai." Kata Dewi lagi.


"Bukan santai Dewiii, tapi nungguin nyonya." Jawabku.


"Dah duluan saja, biar Mbak Sari bareng sama aku saja takutnya nanti orang dari Batik Unggul keburu datang." Ujar Dewi lagi.


"Ya sudah tetap saja aku harus ganti baju dulu." Kataku lalu berlalu ke dalam rumah untuk ganti baju karena meski sudah mandi pagi aku masih memakai baju untuk sembahyang tadi.


"Yank gimana Mbak Wati sudah kamu kasih tau ?" Tanyaku pada kekasihku yang masih merias wajahnya di depan meja riasnya.


"Orang mereka malah santai santai kok justru nantangin supaya Farhan beneran nyulik Mbak Wati." Jawab Sari.


"Itu artinya mereka sudah waspada dan ada persiapan jadi nggak perlu cemas kan. Eh aku duluan yah yank kamu nyusul saja bareng Dewi." Kataku setelah aku selesai merapikan diriku dan mengganti bajuku dengan pakaian kasual.


"Ya sudah deh duluan saja mas, takutnya yang nganter barang sudah datang." Ujar Sari.


"Baiklah aku duluan yah." Ujarku sambil mengecup rambut kepala kekasihku itu sebelum aku pergi.


"Dew, duluan yah !" Ujarku pada Dewi yang sudah duduk di sofa sambil mainin hp barunya.


Aku hanya mengacungi jempol saja lalu bergegas keluar rumah dan pergi ke toko, yang tak begitu jauh dari tempatku itu.


Sampai di toko ternyata semuanya sudah datang dan berkumpul menjadi dua titik kumpul di teras toko, namun rasanya aku tak melihat Doni, mungkin dia masih berkemas pikirku.


"Mbak Sari dan Dewi mana Ak kok belum datang ?" Tanya Imas padaku begitu aku sudah mendekat.


"Biasa...masih ini itu.." Jawabku sambil bergaya orang make up an.


Imas hanya tersenyum padaku namun tatapan matanya yang tampak berbinar itu sudah cukup untuk aku bisa menilai perasaan gadis itu saat ini tengah bahagia.


Aku tak berlama lama di satu titik segera menghampiri cowok cowok.


"Ceng ini kok belum di buka ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Lah kan nungguin kamu dulu." Jawabnya.


"Doni kemana ini masih tidur apa gimana ?" Tanyaku.


"Nganter Bik Yanah belanja buat pantry." Jawabnya.


Riko yang bagian membawa kunci kunci segera paham lalu melakukan tugasnya, membuka seluruh pintu pintu yang ada di tempat itu.


Tak lama kemudian sebuah mobil truk box berukuran besar memasuki gerbang yang juga di buat cukup lebar itu oleh Aceng, sehingga memudahkan kendaraan besar mudah memasukinya meskipun jalannya sendiri tak cukup lega karena terbentur pemukiman penduduk.


Hanya dalam sekejap saja kami semua masing masing telah terlibat dalam satu kesibukan. Sementara Dewi belum datang, Imas mengambil tugas untuk mengatur anak buah Dewi itu sementara dua orang dari empat tangan besi membantu mereka membawakan barang yang sekiranya buat mereka keberatan.


Aceng sendiri bersama Riko langsung menuju gudang di lantai atas untuk mengeluarkan barang barang. Aku sendiri sibuk mengecek barang dari Batik Unggul yang datang hampir memenuhi box truk besar itu.


Dewi dan Sari yang baru datang langsung ikut bergabung terlibat dalam kesibukan yang segera memeras keringat kami semua itu. Apalagi belum juga distributor Batik Unggul menurunkan muatannya, satu buah truk box datang lagi untuk membongkar muatan berupa produk alas kaki dan segala macam pendukungnya.


Aku terpaksa meminta Aceng untuk turun dan membantuku melakukan pengecekan, meninggalkan Riko yang kemudian hilir mudik naik turun mendorong troli sendirian.


Tak lama kemudian datang lagi sebuah mobil box carry yang tentu aku tau karena itu punyaku sendiri, dengan Doni sambil tersenyum cengengesan turun dari mobil bersama Teh Yanah. Kelihatan sekali kalo mereka benar benar baru saja menikmati waktu kebersamaan mereka.


Karena mobilnya nggak bisa langsung ke atas, Doni langsung memarkirkan mobilnya di tempatnya semula kemudian membawa barang belanjaan dari pasar dengan di panggulnya, sementara Teh Yanah membantu membawa barang belanjaan yang cukup ringan buatnya.


"Pak semua sudah kami turunkan yah termasuk pernak pernik dari Batik Unggul. Kalo misalnya di temukan barang cacat atau tidak layak nanti bisa di retur di kesempatan berikutnya." Kata distributor yang sebaya dengan bapakku itu.


"Baik pak trimakasih banyak, oh iya karena bapak datangnya terlalu awal jadi pantry kami belum bisa menyediakan apapun juga buat bapak berdua jadi sebagai gantinya mohon maaf tolong diterima yang hanya sedikit buat sekedar beli minuman." Ujarku sambil memberikan selembar uang ratusan ribu pada distributor itu.


"Oh beribu terimakasih pak, kami doakan semoga usahanya lancar dan sukses." Ucapnya terlihat bahagia.


"Aminnn trimakasih banyak yah pak, kami ucapkan selamat jalan hati hati smoga lancar dan selamat di perjalanan kembali. Tapi seandainya berkenan istirahat sejenak barangkali kami juga ada sedikit tempat meskipun jauh dari kata layak." Ujarku sangat sopan justru karena dari awal distributor itu juga memperlihatkan sikap yang sopan dan ramah juga.


Namun pada akhirnya mereka tetap bersikeras langsung bergegas pulang kembali ke Pekalongan.


Hari ini meskipun kami semua telah bekerja keras seharian penuh, namun ternyata masih jauh dari kata selesai meskipun karyawan ku itu telah mencoba menambah waktu sejam lagi tambahan waktu.


Tapi rasa capek mereka seakan langsung sirna ketika aku menghadiahkan mereka satu persatu untuk mengambil satu buah barang yang mereka inginkan, yang kebanyakan dari jenis busana.

__ADS_1


"Teh Imas kemarin aku janji ingin memberikan hadiah buat Pak Haji Obi, barangkali baju batik ini berkenan buat beliau." Ujarku sambil menyerahkan baju hem panjang batik premium produksi Danar pada Imas.


Imas sendiri lebih memilih cardigan yang berlabel made in negara asia timur sebagai hadiah buat dirinya sendiri.


__ADS_2