
Keesokan paginya, aku sempatkan menemani Kang Bejo dan anak buahnya untuk sarapan bersama, sebelum aku berpamitan pada mereka karena untuk ke sekian kalinya aku tak bisa bantu bantu.
Hari ini aku berencana kembali mengunjungi padepokan Kyai Danuri untuk melaporkan apa yang terjadi kemarin. Dan setelah itu aku bermaksud menemui beberapa relasi ibuku di pasar sandang kotamadya untuk melanjutkan kerjasama.
"Kamu mau pergi lagi nak?" Tanya bapak, mungkin melihatku sudah terlihat rapi.
"Iya pak, kemarin kan aku belum sempat melaporkan kejadian kami pada Kyai Danuri, karena pulang sudah terlalu larut malam dari Ambarawa nya. Juga aku ingin kembali menawarkan kerjasama pada beberapa relasi ibuk dulu, barangkali masih bersedia." Jawabku sekalian menjelaskan rencanaku pada bapak.
"Oh ya sudah, hati hatilah !" Pesan bapak singkat saja.
"Iya pak, oh iya itu nanti atap rumah mau di kayu jati apa di cor saja pak?" Tanyaku.
"Kalo baiknya memang pakai kayu jati nak selain lebih estetika juga kalo di cor lagi atasnya itu kelihatan wagu. Tapi ya itu duitnya agak lebih." Jawab bapak.
"Duit ga masalah pak, pokoknya yang kira kira baik buat tempat tinggal kita aku setuju pak, memang kayu jati nya bapak sudah pesan?" Tanyaku.
"Gampang itu, biar di carikan Kang Bejo dari Donoloyo langsung. Kang Bejo kan asli Wonogiri." Jawab bapak.
"Iya deh pak, gimana bapak saja baiknya." Ujarku lalu berpamitan setelah menyalim tangan bapak.
Aku kembali berpamitan pada Kang Bejo dengan melambaikan tanganku, sebelum benar benar berlalu melajukan mobilku.
Melintas di pasar kecil kulon kali dengkeng, yang kebetulan hari ini hari pasaran membuat pasar kecil itu tampak penuh sesak oleh pengunjungnya. Aku sempatkan pula berhenti sejenak untuk membeli beberapa bungkus kue pukis dan beberapa jenis keripik sebagai buah tangan buat guruku.
Setengah jam kemudian aku sudah sampai di padepokan karang sejagat tempat kediaman guruku Kyai Danuri. Seperti biasa beliau tengah berada di pendopo bersama Nyai Danuri istrinya sedang menganyam bahan bahan dari bambu untuk di jadikan berbagai perkakas.
"Asalamualaikum guru...." Ujarku, di tanganku telah menjinjing buah tangan yang tadi ku beli.
"Walaikumsalam....eh sini nak kebetulan...kau datang. Itu bawa apa, kok repot repot ?" Ujar Kyai Danuri basa basi.
"Kue pukis guru...." Jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nah...pas kan...cepat kasih sama ibuk mu nak biar segera di hidangkan... hehehe..." Ujar Kyai Danuri.
"Orang sudah kenyang sama singkong goreng kok ya masih ngrekes saja perutnya seh pak..." Timpal Nyai Danuri namun beliau tetap bangkit untuk menerima pemberian dariku dan membawanya ke dalam rumah.
Kyai Danuri juga bangkit berdiri setelahnya lalu aku dengan penuh hormat menyalim tangan beliau.
"Gimana kemarin lancar kan, ketemu calon istrimu?" Ujar Kyai Danuri tampak santai.
"Alhamdulillah guru, langsung ketemu saat itu juga berkat doa restu guru." Jawabku.
"Hehehe iya aku tau kok, semalam Suranto sudah bilang sama aku." Ujarnya.
"Iya guru, maaf kemarin tak sempat sowan ke sini lagi karena sudah terlalu larut malam." Ujarku.
"Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu nak. Penting ga penting juga tergantung kamu memandang persoalannya bagaimana." Ujar Kyai Danuri.
"Maaf guru membuat aku penasaran." Ujarku menanggapi sambil menduga duga apa maksud Kyai Danuri.
"Nak mumpung kau belum memasuki masa masa tanggung jawabmu pada rumah tangga kamu nantinya, aku ingin menawarkan kamu untuk mempelajari peninggalan turun temurun dari perguruan kita ini apa kamu bersedia?" Ujar Kyai Danuri pelan.
"Maksud guru apakah mempelajari itu maksudnya mempelajari jurus baru?" Tanyaku penasaran.
"Lebih dari itu nak karena ini menyangkut ciri khas perguruan kita yang sudah di wariskan turun temurun sampai padaku. Ini tentang ilmu kejayaan yang hampir punah setelah kitab serat raja terpecah pecah jadi beberapa bagian di masa Demak kuno." Ujar Kyai Danuri.
"Ilmu khas perguruan kita ini aku takut punah di masa ku nak, karena aku sendiri kurang mampu menerimanya." Lanjut Kyai Danuri lirih.
"Sebenarnya ilmu kejayaan jenis apa guru, jika guru berkenan aku untuk mempelajari maka aku akan patuh." Ujarku yang mulai paham maksud Kyai Danuri sebenarnya.
"Ilmu kebal bumi sejati nak ilmu yang pada jamannya tak kalah pamor dengan ilmu tameng waja maupun lembu sekilan yang di miliki raja raja jawa." Ujar Kyai Danuri membuat tubuhku bergetar.
"Baiklah guru aku bersedia mempelajari ilmu itu." Ujarku pasti.
__ADS_1
"Tapi harus di ingat syarat dan resikonya cukup berat nak, apa kamu yakin akan mampu menerimanya?" Tanya Kyai Danuri seakan ingin memastikan kata kataku.
"Mudah mudahan sanggup guru." Jawabku pasti.
"Syaratnya puasa mutih 40 hari 40 malam penuh tanpa putus." Ujar Kyai Danuri.
"Berat sekali guru." Keluhku.
"Kalo bukan itu, bisa puasa pati geni 7 hari 7 malam penuh sambil berendam di sendang panguripan." Kata Kyai Danuri.
"Baik guru aku terima lelaku puasa pati geni sambil berendam selama 7 hari penuh guru." Jawabku mantab karena aku yakin mampu melakukannya.
Pertimbangan waktu jelas menjadi pilihan utamaku untuk melakukan lelaku ini.
"Ada lagi yang harus kau ketahui nak bahwa syarat puasa pati geni itu bukan satu satunya lelaku jika kamu juga sudah kehilangan perjakamu." Ujar Kyai Danuri membuatku terhenyak sesaat.
Aku diam dan termenung karena aku tak akan bisa berbohong soal ini.
"Jadi apa syarat yang lain itu guru?" Kataku yang sekaligus membuka akan aibku sendiri yang sudah kehilangan perjaka ku bahkan sejak aku masih di Jepang.
"Sebelum kau menjalani lelaku puasa pati geni itu kau harus menjalani puasa biasa selama tiga hari dengan catatan tak boleh berbuka dengan makan makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa." Ujar Kyai Danuri.
"Maksudnya bernyawa itu apakah sekedar dari golongan hewan atau termasuk tumbuhan guru?" Tanyaku karena informasi guru tadi terlalu absurd.
"Iya dari hewan, tumbuhan meski bernyawa itu pengecualian karena sifat tumbuhan itu sendiri yang netral." Jelas guruku itu.
"Baik guru aku paham, jadi kapan kira kira aku bisa melaksanakan lelaku itu guru?" Tanyaku.
"Bulan depan adalah bulan yang baik jadi kau bisa memulainya bulan depan di mulai dari hari weton lahirmu." Ujar Kyai Danuri.
"Baik guru aku akan patuh terhadap perintah guru, selama itu aku mohon bimbingan guru." Ujarku.
__ADS_1
"Baiklah nak aku percaya kamu mampu untuk menjadi penerus perguruan karang sejagat selanjutnya." Ucap Kyai Danuri membuatku tertegun sesaat meskipun kemudian aku hanya bisa tersenyum.