OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 92 Surga Yang Tertunda


__ADS_3

Aku tak menyangka jika servis dari Tyas seterusnya tak lagi memijit ku, namun lebih ke pacaran. Aku berpikir mungkin setiap klien yang memakai jasanya pasti akan mendapatkan perlakuan serupa yang kudapatkan saat ini darinya.


Kami memang tak melakukan hubungan badan, namun saat ini keintiman kami memang sudah di luar batas dari sekedar pelayanan spa.


Dering hp ku berbunyi tepat saat ciuman kami semakin panas dan intensif, hingga membuyarkan segalanya.


Tyas melonggarkan pelukannya untuk memberikan aku kesempatan untuk mengambil hp di saku jaket ku yang di letakkan di sebuah centelan hanger oleh Tyas.


"Hallo nduk, gimana tumben masih sore sudah nelpon?" Tanyaku langsung tanpa basa basi begitu aku tau bahwa Anis lah yang menelpon ku.


"Mas ada kabar membagongkan banget hari ini mau dengar nggak ?" Ujar Anis seperti biasa slalu senang menggodaku.


"Sudah bilang saja kabar apaan ?" Ujarku agak tak sabar.


"Mas Harno stroke mas, ini Bude Marni sedang di sini mau pinjam duit sama bapak untuk bayar ongkos travel." Ujar Anis.


"Hah sudah sampai kampung dia, cepat banget hehehe, memang pinjam duit berapa bude nduk..?" Tanyaku.


"Tadi aku dengarnya seh bude minta lima juta ke bapak mas, coba membagongkan nggak kalo seperti itu? kemarin aza di sini ngamuk ngamuk sekarang ngemis ngemis minta di pinjami duit." Ujar Anis lirih namun terdengar sangat kesal.


"Itu kamu ngomong gitu ada kuping dengar nggak itu? nanti malah kisruh lagi." Ujarku.


"Aman kok mas, aku sedang di istanaku di lantai atas mereka ada di teras rumah mas, lagi tangis tangisan." Ujar Anis.


"Harusnya kamu ngucapin simpati kek malah ngumpet." Ujarku.


"Males mas lihat muka Pakde Joyo rasanya jadi mules perutku, eh mas vicol yuk ! kangen aku ama Mbak Sari." Ujar Anis.


"Jangan nduk nanti malam saja, aku sekarang masih di Jakarta habis belanja." Ujarku cepat.


"Ah mas nggak asyik ah...sudah klo gitu aku tutup dulu ya mas..bye mas..." Ujar Anis seraya menutup panggilan dengan cepat tanpa memberi aku kesempatan untuk bicara apapun lagi.


Aku tertegun sejenak sebelum mataku melihat jam dinding sudah pukul empat lewat sepuluh menit artinya delapan menit lagi waktuku di sini habis.


"Siapa Ak ?" Tanya Tyas sambil membereskan peralatan yang tadi di pakai untuk memijat badanku.


"Adikku di kampung Teh." Jawabku sambil memakai kembali pakaian ku.


"Oh pantesan dari awal aku juga yakin sebenarnya kalo Aak bukan orang Subang asli, iya kan ?" Ujar Tyas yang kemudian juga memakai kimono nya.

__ADS_1


"Iya seh Teh, aku memang cuma numpang cari makan saja di Subang." Ujarku sambil tersenyum.


"Nanti kapan kapan kesini lagi yah Ak, kalo bisa sering sering hihihi." Ujar Tyas sambil memelukku erat erat, lalu meninggikan tubuhnya dan mencium ku.


"Kalo gini aku bakalan gampang kangen sama Teteh." Ujarku.


"Biarin... hihihi biar Aak lekas kesini." Ujar Tyas.


"Lihatlah Teh dompetku beneran kosong tapi deposit ku lumayan tebel, jadi tolong beri nomor rekening Teteh aku akan transfer sedikit untuk nambah nambah beli permen." Ujarku sambil membelai rambut Tyas yang masih di biarkan tergerai.


"Nggak...nanti saja yah Aak sayank, kalo datang lagi kesini Aak bisa bawa aku ke lantai tiga kita bisa quality time berdua saja." Ujar Tyas, aku hanya mengangguk sebelum kami berciuman untuk terakhir kalinya lalu kemudian keluar dari kamar yang jadi saksi bisu kenangan yang kami ciptakan bersama.


Sampai di luar ternyata Doni sudah menunggu aku dengan wajah segar namun terlihat sangat lelah.


"Boss, tolong...!" Ujar Doni tiba tiba sambil menghampiriku.


"Apaan ?" Tanyaku.


"Tadi aku ngga bisa nahan." Kata Doni, aku pun segera paham yang di maksudkan olehnya.


"Berapa tarifnya ?" Tanyaku lirih.


"Ya sudah kemana harus transfer kita ga ada cash sekarang." Ujarku.


"Ini boss nomor rekening nya." Kata Doni sambil merogoh sesuatu dari saku celana denim nya.


Aku segera mentransfer sejumlah uang yang di minta ke nomor rekening yang di berikan Doni padaku. Tak lama kemudian seorang perempuan cantik mengacungkan jempol dari balik pintu lounge yang tertutup oleh dinding kaca yang berwarna buram itu.


Setelah itu kami segera cabut dari tempat itu, meski aku tetap sempatkan untuk menyapa Alena untuk sekedar mengucap terimakasih atas servis yang baik di spa ini.


Doni yang tampak lesu juga sempat mengembalikan kartu berwarna hitam ke kantor sekuriti dimana ia terlihat berbincang cukup lama dengan seseorang berpakaian serba hitam polos model tactical.


"Kau perlu makan lagi nggak ?" Tanyaku pada Doni.


"Iya boss, cewek itu benar benar liar tadi, seluruh tenagaku habis di kurasnya." Jawab Doni yang lalu mengambil posisi di balik kemudi mobil box kami.


"Nanti komisi tetap aku bagi rata yah buat kalian berempat tapi ingat jangan sampai hal ini bocor keluar terutama Aceng dan lain lainnya apalagi Sari, ia jangan sampai tau soal ini." Ujarku.


"Baik boss siyap, lagi pula komisi ku sendiri sudah cukup banyak dari boss." Jawab Doni.

__ADS_1


Selain transit sejenak di daerah Bekasi untuk sekedar makan dan minum dan isi bbm mobil, kami tak berhenti lagi dan pulang sampai toko tepat jam tujuh malam, dimana tokoku justru sedang ramai ramainya.


Kulihat mobil box Anto juga sudah terparkir, namun orangnya mungkin tengah sibuk di dalam membantu penjualan.


"Ron !" Panggilku pada Roni yang juga sibuk dengan tugas parkiran nya bersama Dion sepupunya.


Roni bergegas berlari kecil menghampiriku.


"Iya boss !" Ujarnya setelah di dekatku.


"Kalian sudah makan belum ?" Tanyaku.


"Belum boss tapi tadi kami sudah di bagi jatah makan malam oleh Teh Yanah." Jawabnya.


"Baguslah, kalo belum mau makan tolong itu Mas Doni di bantu nurunin barang ke gudang yah, dalah satu dari kalian saja !" Pintaku.


"Baik boss siyap laksanakan." Ujar Roni dengan semringah.


Roni segera berlari naik ke atas, untuk membantu Trimo yang justru menurunkan barang belanjaan dari mobil box sementara Doni mungkin segera ngacir ke pantry.


Aku baru saja hendak ke kamar kecil untuk mandi saat Sari tiba tiba datang menghampiriku.


"Mas ! sudah datang kok nggak langsung nemuin aku seh, memang nggak kangen ?" Ujar wanitaku itu.


"Kangen banget sayank, tapi ini mau pipis dulu sudah nahan dari tadi." Ujarku.


Sari tiba tiba saja menatapku dan mengenduskan di dekat leher ku.


"Kok parfum kamu wanginya beda mas ?" Tanya Sari.


"Aduh ga tau aku yank perasaan dari tadi malah ga pake parfum aku, udah sebentar yah aku mau pipis dulu." Ujarku pura pura kebelet pipis.


"Ya sudah buruan..!" Ujar Sari sambil tersenyum aneh.


Sampai di dalam kamar kecil yang khusus hanya untuk mandi dan buang air kecil saja itu kulihat sudah lengkap body wash cair dan botol karbol pembersih dan beberapa botol shampo juga ada.


"Kerjaan Aceng kah ?" Tanyaku dalam hati.


Aku segera melepas seluruh bajuku dan segera mengguyur badanku dengan air shower, tiba tiba saja terbesit dalam benakku saat bersama Tyas tadi, meski hanya ciuman romantis biasa saja namun rasanya terlalu istimewa.

__ADS_1


Membayangkan Tyas saja bisa membuat adikku kembali tegang meronta ronta gini, entahlah tapi aku tiba tiba sangat merindukan wanita itu, meski secara umum Sari tetap lebih baik segalanya dari Tyas namun ada sesuatu yang membuatku merasa lebih bergairah dari Tyas yang tak ku dapat dari Sari.


__ADS_2