
Hari ini ternyata Tyas benar benar memenuhi ucapannya untuk datang membantu kami, dia datang bersama Suci dan Izah dengan penampilan biasa saja dengan rambut kemerahannya yang di sanggul rapi di padu riasan sederhana dan sama sekali tak menyolok namun justru menjadikan kecantikannya lebih terpancar menawan.
Sari dan Imas lah yang terlihat sewot meskipun keduanya tak menunjukkan ketidaksukaan mereka secara terang terangan dengan kehadiran Tyas, apalagi Tyas sedikit menjaga jarak denganku.
Sementara itu Aceng ternyata sudah berhasil kencan dengan Eka dan kini membawanya keluar untuk jalan jalan sambil sekalian belanja elektronik untuk keperluan giveaway.
Eka sendiri memundurkan waktu keberangkatannya ke Bandung dan memilih untuk ikut membantu kami lebih dulu, tentu saja karena janji janji manis Aceng yang bersedia mengantarkannya di lain hari.
Imas yang kali ini terlihat lebih riang dari biasanya tampaknya juga selalu berusaha untuk mencoba dekat dengan Sari, meskipun Sari sendiri memilih untuk menjaga jarak dengan mengatur ini itu dan menunjukkan sisi lain dari dirinya dan mencoba memberikan pesan pada yang lain kalau dialah boss yang sebenarnya.
Sementara Aku sendiri memilih mengawasi Mang Ujang dan kawan kawannya yang saat ini sedang mengolah seekor domba berukuran cukup besar yang telah selesai mereka sembelih, meskipun mereka terdiri dari para orang tua yang bisa di bilang lebih dari paruh baya namun selera berkelakar mereka masih tinggi dan tak segan saling ledek satu sama lainnya membuat suasana jadi meriah penuh tawa.
Hp ku berdering saat aku sedang turut menikmati canda tawa orang orang tua itu.
"Hallo Mbak Retno...!" Sapa ku setelah aku tau yang menghubungi aku ternyata Mbak Retno.
"Gung, aku sudah nggak betah di kampung. Kapan kira kira aku boleh datang ke tempatmu di situ?" Ujar Mbak Retno, sepertinya ia habis menangis karena suaranya agak serak.
"Besok aku baru pulkam mbak, setelah di rumah baru kita bicarakan soal ini." Jawabku.
"Please Dek, aku sudah nggak tahan di sini lebih baik aku segera pergi bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri." Ujarnya justru terdengar isak tangis Mbak Retno meski hanya lirih.
"Iya mbak, itu terserah mbak tapi gimana dengan Mas Harno bukankah saat ini bude sedang sakit siapa yang akan merawat Mas Harno nantinya?" Tanyaku.
Mbak Retno hanya diam sejenak namun terasa begitu lama dia tak segera menanggapi.
"Mbak nggak kenapa napa kan? Agil gimana sehat kan? kalo butuh uang biar aku transfer sekarang juga mbak." Kataku lagi.
"Aku akan ceritakan yang sebenarnya tapi tolong jangan sampai ada yang tau yah Dek !" Ujar Mbak Retno setelah sekian lama berdiam diri.
"Iya mbak, memang ada apa ?" Tanyaku menjadi penasaran.
__ADS_1
"Pak Joyo ingin melecehkan aku Dek..." Ujar Mbak Retno sangat lirih.
"Hah gila, bagaimana mungkin mbak, bandot tua itu ingin melecehkan mbak? sejak kapan itu mbak?" Tanyaku dengan serangkaian pertanyaan.
"Semalam Dek, pada awalnya dia hanya meminta untuk di bantu menggosokkan minyak gandapura di punggungnya, namun dia juga berani memegang megang tanganku lalu meminta aku untuk tidur bersamanya." Ujar Mbak Retno bercerita.
"Gila benar bandot tua itu. Gini saja, mbak minta dulu sama Anis untuk menemani atau mbak bisa tidur di rumah kami lebih dulu." Ujarku.
"Aku malu sama Anis Dek." Jawab Mbak Retno.
"Sekarang Pakde Joyo dimana mbak ?" Tanyaku.
"Lagi gantian nunggu di rumah sakit Dek, semalam Lek Sumar dan Anis yang nunggu." Jawabnya.
"Trus nanti kalo Mbak Retno kesini yang ngurusin Mas Harno siapa mbak ?" Tanyaku lagi mengulang pertanyaan sebelumnya.
"Entahlah Dek aku bingung, tapi aku sudah nggak betah tinggal di rumah ini." Ujar Mbak Retno terdengar sendu penuh kesedihan.
Jujur saja aku sedikit cemas dengan kesehatan bapak dan adikku jika ikut ikutan repot menunggui bude di rumah sakit sementara keluarga intinya justru tenang tenang saja.
"Farhan sudah ngacir entah kemana sejak di usir Pak Joyo, Dek. Aku juga nggak nyangka ternyata Farhan orangnya seperti itu, pantas saja Sari sepertinya nyaman bersamamu." Ujar Mbak Retno.
"Sebenarnya aku juga tidak mengharapkan seperti ini mbak, apalagi sampai merebut Sari tapi selain itu Mbak Retno harus tau juga bahwa Farhan pernah menculik Sari dan hendak menjualnya ke mucikari di Semarang." Ujarku, sambil mengenang peristiwa beberapa waktu yang belum lama lewat itu.
"Iya mbak percaya kok sama kamu Dek, ya sudah aku mau nyuapin Agil dulu yah Dek, itu anaknya sudah mamah mamah..." Ujar Mbak Retno.
"Oh iya mbak silahkan...nanti kalo mbak butuh uang jajan buat Agil bilang saja yah jangan sungkan !" Ujarku.
"Iya Dek... makasih banyak yah, ku tutup dulu yah Asalamualaikum...!" Kata Mbak Retno berniat mengakhiri percakapan by phone ini.
"Walaikumsalam..." Jawabku, panggilan pun berakhir.
__ADS_1
Setelah percakapan barusan, aku kembali melihat daging domba sudah berganti pengolah di iris iris kecil-kecil oleh Teh Yanah dan Teh Nenih serta beberapa perempuan yang lain termasuk Tyas dan Izah yang ternyata tak sungkan melakukan pekerjaan seperti ini.
Sementara kulihat yang lain kulihat berkumpul dan bergurau di teras pendopo rumah Aceng sambil melakukan pekerjaan yang lain, termasuk Sari, Imas dan Dewi.
Trimo dan Riko lebih memilih duduk merokok bergabung dengan para lelaki tua dari penggilingan yang kini sedang asyik membakar kaki kaki dan kepala domba.
"Mas ! Mas Anto dimana ini kok dari tadi nggak kelihatan kesini ?" Tanyaku pada dua anggota empat tangan besi itu.
"Lagi ngurusin orang orang yang bikin panggung bersama Roni dan Dion boss." Jawab Trimo.
"Oh ya sudah." Ujarku sambil duduk di dekat mereka.
"Boss tadi sudah dengar kasak kusuk yang beredar disini belum ?" Tanya Riko, tiba tiba.
"Kasak kusuk apaan...?" Tanyaku.
"Dengar dengar dari Roni, hiburan nanti akan di gunakan sebagai ajang bentrok antara Kampung Dugel dengan kampung mana gitu...lupa." Kata Riko.
Aku kembali mengeluarkan hp ku, kemudian aku hubungi Doni.
"Iya boss...!" Ujarnya setelah mengangkat panggilan dariku.
"Mas, tolong beli dua set kamera cctv lagi yah lalu pasang di depan apotik dan di sudut utara toko ! duit aku transfer ke rekeningmu sekarang." Ujarku.
"Iya boss siyap belinya di toko elektronik pwd gapapa boss? apa ngebel Aceng saja biar beli sekalian ?" Kata Doni.
"Ga usah mas beli saja sekarang lalu langsung suruh pasang !" Ujarku, lalu mematikan panggilan dan ku transfer sejumlah dana ke rekening Doni.
"Mas nanti kalo ada yang sengaja bikin rusuh dan merusak di tempat kita, langsung beri pelajaran saja nanti aku yang tanggung jawab. Tapi kalo cuma anak anak yang numpang berkelahi biarkan saja ga perlu di urusi." Ujarku pada Riko dan Trimo.
"Iya boss siyap !" Jawab mereka, sepertinya suka dengan tugas tugas seperti itu.
__ADS_1
Mereka memang telah terbiasa jadi tukang pukul jadi kalo terlalu lama tangannya hanya diam mungkin akan terasa gatal begitulah pikirku.