
"Mas, Anis pengen di bawain peyeum kering belinya dimana ?" Tanya Sari.
Agung yang sedang menyetir mobilnya sebenarnya enggan menanggapi karena pikirannya terus tertuju pada intuisinya sendiri, meskipun tetap bisa fokus untuk mengemudi.
"Mas ! beli peyeum kering dimana, pesanan dari Anis." Ujar Sari agak kesal karena Agung sepertinya hanya cuek.
"Iya nanti kita lewat kok Yank...memang oleh olehnya cukup peyeum saja gitu? Ibu dan si gembil mau kamu bawain apa?" Tanya Agung.
"Itu satu kardus itu isinya pesanan dari Mbak Wati buat Bayu." Jawab Sari.
"Mamak sama Mbak Wati aku bawain gamis dan cardigan gapapa ya Mas ?" Ujar Sari sambil tersenyum menatap Agung yang hari ini benar benar tampak dingin.
"Ya gapapa lah, memangnya kenapa lagipula kwalitas dagangan kita juga tidak jauh beda sama yang di jual di mall mall besar kan?" Ujar Agung menanggapi.
Di jalan raya penghubung Kota Subang dan Pantura, Agung membelokkan mobilnya ke arah pantura melewati Kampung Rancabereum yang membuatnya kembali teringat akan Tyas.
"Mas, kok kamu jadi aneh begini seh. Memang Mas belum ikhlas pulkamnya ?" Tanya Sari lirih.
"Tentu saja ikhlas Sayank, kan sudah waktunya juga justru inilah waktu yang aku tunggu tunggu selama ini , karena setelah ini terlewati kita juga akan segera bebas melakukan apapun kan." Ujar Agung sambil mencoba tersenyum meskipun dengan wajah tegang.
"Iya, tapi kok hari ini gimana yah. Mas itu kelihatan banget seperti orang bete gitu jutek banget tau nggak." Kata Sari lagi.
"Entahlah Yank, sejak semalam perasaanku nggak pernah nyaman." Jawab Agung jujur kali ini.
"Mas, jangan main main loh ini kita lagi di jalan, Mas nggak lupa berdoa kan tadi sebelum berangkat ?" Tanya Sari terdengar serius.
"Berdoa kok, bahkan saat ini pun aku juga tetap masih berdoa terus." Jawab Agung.
Tak lama kemudian mereka berhenti di pusat oleh oleh pinggir jalan pantura, membeli beberapa puluh kilo peuyeum kering dan beberapa aneka makanan khas Jawa barat semacam kue wajit ketan gula merah dan kue cincin yang sangat di sukai oleh Sari sendiri.
Setelah transit sejenak untuk mengisi penuh bbm di daerah Pamanukan, Agung kembali mengarahkan perjalanannya kembali melewati jalan tol trans Jawa.
"Sayank kamu ingin kita lewat jalur selatan atau utara?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Mas, bukankah aku hanya bisa ikut." Jawab Sari sambil tersenyum manis.
Ia merasa bahagia ditanyai seperti itu, dan terutama karena Agung sudah mulai kembali normal mood nya atau tidak sedingin tadi.
"Pansela yah, kamu belum pernah lewat kan ?" Tanya Agung lagi.
"Iya terserah kamu saja, pokoknya kemanapun kamu ingin berarti itulah keinginanku." Kata Sari semringah.
Jalur pantai selatan adalah jalur yang awam buat keduanya, karena seringnya mereka selalu melintasi jalur utara, mengingat rumah Sari juga lebih condong di wilayah utara meskipun bisa juga fleksibel.
"Berarti nanti kita akan ke Tawangsari duluankah Mas?" Tanya Sari.
"Tidak juga, rasanya tentu kurang elok Yank karena bagaimanapun kita belum menikah, aku sama sekali tak masalah tapi bagaimana dengan para tetangga dan orang orang dan terutama keluarga Bude Marni, ya kan?" Ujar Agung.
"Lalu kamu harus memutar gitu terus balik lagi, ribet nggak tuh ?" Tanya Sari.
"Kenapa ribet, nanti setelah sampai di Purwokerto kita akan lewat jalur Wonosobo lalu Magelang kemudian Secang terus.." Ujar Agung yang segera di potong Sari.
"Tentu saja aku akan menjawab lebih indah Gedong Songo Yank, alasannya jelas karena di situ ada kamu dan alasan lain karena akupun juga belum pernah ke Dieng. Tapi kurasa semua ada kelebihan masing masing yang seharusnya tidak perlu diperbandingkan." Jawab Agung.
"Aku bahagia banget Mas, kalo kamu kembali normal begini hihihi." Ujar Sari dengan tawa semringah yang menandakan bahagia hatinya.
"Memang sebelumnya aku nggak normal Yank ?" Tanya Agung.
"Lah tadi pagi Mas jutek banget, tegang banget wajah kamu udah gitu kamu juga dingin kaya es." Kata Sari mengutarakan isi hatinya.
"Hehehe benarkah seperti itu Yank?" Tanya Agung.
"Iya ...!" Jawab Sari dengan sangat mantab.
"Aku hampir ingin menangis tadi Mas lihat Mas kaya gitu, aku pikir salahku apa sama kamu hingga bisa sedingin itu." Kata Sari lagi menambahkan.
"Maaf Sayank sejak semalam itu perasaanku nggak enak banget Yank, kamu juga paham kan jika perasaan orang yang hendak melakukan perjalanan jarak jauh itu selalu sensitif." Ujar Agung beralibi.
__ADS_1
"Makanya kita harus selalu berdoa dan berpasrah diri Kangmasku biar pikiran slalu tenang karena diridhoi." Kata Sari.
Perjalanan pun berlanjut dengan begitu cepatnya, menjelang siang mereka sudah memasuki Kota Purwokerto di situ mereka berhenti untuk transit menikmati kuliner khas ibukota wilayah Banyumas itu, juga memborong beberapa oleh oleh khas mulai dari aneka makanan olahan dari pisang sampai rengginang dan lain lain.
Melanjutkan perjalanan lewat jalur non tol melewati daerah aliran sungai serayu yang eksotik dan indah sebelum melintasi jalanan naik turun pegunungan setelah memasuki Wonosobo, namun sayangnya kali ini Sari sudah nggak mau transit lagi untuk sekedar menikmati hawa dingin daerah ini.
Sejam kemudian mereka sudah memasuki Kota Magelang yang aktivitasnya penghuninya bergeliat ramai, dan barulah di sebuah Masjid pinggiran timur kota mereka sepakat transit untuk menunaikan kewajiban sejenak.
Setelah itu Sari yang sudah sangat kangen sama Mamahnya tak ingin membuang waktu lagi meskipun Agung selalu menawarkan untuk sedikit meluangkan waktu untuk menikmati tempat tempat menarik di hampir setiap lokasi yang mereka singgahi.
Sementara itu tepat di waktu yang sama di jalan tol Cikampek arah Jakarta sebuah mobil sedan mewah warna hitam tiba tiba mengalami pecah ban yang kemudian oling ke kiri dan menghantam mobil suv putih yang sedetik kemudian membuat mobil itu ikut terdorong ke kiri ke jalur lambat dimana sebuah truk fuso bermuatan penuh melaju dengan kencang dan langsung menabrak kedua mobil yang apes itu.
Mobil suv putih yang posisinya terhimpit menjadi pihak korban yang paling parah dengan hampir separuh bodi ringsek dan mengakibatkan pengemudinya langsung meninggal dunia seketika dengan cedera parah di bagian kepala dan kedua kakinya yang terjepit.
Tiba tiba Agung merasakan dadanya berdesir, dan wajah Tyas seakan terus saja muncul dan tersenyum di benaknya begitu cantik dan menawan parasnya laksana bidadari khayangan tak bersayap yang menemuinya.
Agung tiba tiba saja menepikan kendaraan lalu menghentikannya secara mendadak membuat Sari yang sedikit ketiduran langsung terkejut.
"Kenapa Mas ? ada apa ?" Tanya Sari sambil mengerjap kerjapkan matanya.
"Entahlah Yank, perasaanku benar benar tidak enak." Ujar Agung lirih dengan tatapan menerawang.
"Ya sudah, kalo Mas capek kita istirahat dulu saja." Ujar Sari.
Belum juga Agung menjawabnya tiba tiba dering hp Sari berbunyi. Sari melihatnya sejenak ternyata panggilan suara dari Dewi.
"Halo Dew ! iya kenapa ?" Tanya Sari ramah namun ekspresi wajahnya berubah ketika ia sayup sayup mendengar suara tangisan.
"Mbak Sari aku cuma mau memberi informasi duka cita bahwa hari ini Teh Tyas kakaknya Suci sudah di panggil menghadap Yang Kuasa karena lakalantas di jalan tol Japek. Mohon doanya yah Mbak smoga Teh Tyas bisa sahid dan Khusnul khotimah amin." Ujar Dewi.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.....!!!!" Gumam Sari.
"Sayank siapa yang meninggal ?" Tanya Agung yang kini jadi lebih tenang.
__ADS_1