OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 37 Kisah Usang Yang Terulang


__ADS_3

Suasana mendadak menjadi sangat kaku, aku masih terdiam begitu juga Yesi sekilas kulihat wajahnya tampak tegang.


"Apa kau serius dengan ucapan kamu itu Yes?" Ujarku lirih untuk memecah suasana kaku dan hening itu.


"Serius kenapa? aku tau dulu kau sangat mencintai aku kan Gung, aku ingat dulu kau pernah berkata akan mencari aku setelah kamu sukses, iya kan?" Balas Yesi.


"Iya Yes...saat itu aku berpikir tak akan pernah mengenal wanita lain selain kamu, sebelum kemudian kita lost kontak sama sekali." Ujarku bergumam dan kemudian tersenyum padanya saat kembali teringat setiap momen masa cinta monyet kami.


"Jadi mengapa kita tak merajut lagi masa masa manis itu Gung menjadi cinta yang abadi, aku tau kau masih cinta aku kan Gung." Ujar Yesi.


"Aku pikir kisah itu sudah berakhir Yes, setelah kita lulus sekolah dan melanjutkan sekolah kita masing masing, lagipula kisah yang kita rajut itu hanya kisah jaman remaja kita yang bahkan kencing saja belum lancar kan." Ujarku menyanggah perkataan Yesi.


Aku ingat setiap momen yang indah dalam hubungan kami tapi juga masih mengingat dengan jelas, saat Yesi terlihat dengan jelas merahasiakan aku dari orang tuanya karena malu dengan status sosialku yang miskin, bahkan terakhir aku juga ingat saat dia memilih berkencan dengan teman beda kelas kami yang orang tuanya lebih kaya raya.


"Kamu sudah jauh berubah Gung, aku mencari kamu karena aku berharap kamu masih ingat dengan janji janji kamu dulu padaku, ternyata...." Ujar Yesi terdengar menyakitkan.


"Iya Yes, aku akui dulu aku hanyalah sampah. Ibarat seekor pungguk yang merindukan bulan yang pasti tak akan bisa di gapai, karena aku sadar perbedaan kita terlalu jauh, karena itu lebih baik aku tak meneruskan mimpiku." Ujarku.


"Kau salah menilai aku Gung, aku rasa setiap perempuan manapun juga akan mendambakan sebuah kemapanan dalam rumah tangganya, tiap perempuan pasti tidak ingin suatu saat dirinya dan anak anaknya akan kelaparan hanya karena kemalasan suaminya. Karena itu aku mendorong kamu untuk sukses Gung." Ujar Yesi.


"Dengan meninggalkanku dan berkencan dengan Haris begitukah? Dengan tak ada koneksi sama sekali setelahnya. Aku bukan orang bodoh Yes, kamu perempuan cantik yang di dambakan setiap pria manapun yang normal, mana mungkin tak terjadi apapun setelah sepuluh tahun berlalu begitu saja tanpa aku tau kamu dimana dan sedang apa." Ujarku tegas.


Yesi terhenyak dan terdiam.


"Sebaiknya ikuti saja kehendak orang tuamu Yes, karena aku yakin itu yang terbaik buatmu. Kau akan mendapatkan kemapanan hidup yang kamu inginkan itu bukan." Ujarku lagi.


"Tapi aku sama sekali tak mencintai pria itu Gung." Sahut Yesi.


"Cinta itu akan hadir seiring kebersamaan asal kita tidak naif. Bagaimanapun tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini Yes, dan kau berhak bahagia dengan prinsip hidupmu.meski sebuah kemapanan tak selalu sinkron dengan cinta." Ujarku sok bijak.


"Maafkan aku Gung !" Ujar Yesi lirih.


"Maaf soal apa? Kau sama sekali tak bersalah soal apapun Yes...." Jawabku.

__ADS_1


Perjalanan kami sudah hampir sampai pada ujungnya ketika kami telah melintasi jembatan besar yang membentang di atas lebarnya kali bengawan solo.


"Soal kencan dengan Haris dan tak ada kabar setelah kita lulus dulu itu." Ujar Yesi.


"Kau sama sekali tak salah Yes, karena sekali lagi aku bilang kau berhak untuk bahagia.Eh omong omong aku harus beli cat dulu yah nanti tolong bantu memilih warna ya Yes." Ujarku. Yesi mengangguk.


Aku berhentikan kendaraanku tepat di depan sebuah toko khusus peralatan cat. Namun sebelumnya aku menghubungi Kang Bejo dulu untuk bertanya kebutuhan cat yang akan di gunakannya untuk memulas rumah kami.


Setelah mendapatkan informasi dari Kang Bejo tentang jumlah cat yang di butuhkan untuk rumah kami dan juga warna cat yang di pilih bapak untuk rumah Anis, aku segera mengajak Yesi turun.


"Ayo Yes ! jangan khawatir setelah ini aku akan memberikan hadiah buat kamu." Bisikku padanya.


Yesi masih tampak muram meski akhirnya menuruti kemauanku.


"Mbak saya butuh cat warna hijau tai kuda dan kuning tua untuk outdoor juga soft blue dan putih untuk indoor juga perekatnya dua kaleng mbak." Ujarku sekaligus minta cat kwalitas terbaik.


"Rol atau kuasnya ga sekalian mas?" Tanya mbak pelayan toko itu.


"Jumlah totalnya delapan juta empat ratus dua puluh ribu mas." Ujar mbak pelayan itu.


"Baik mbak pakai kartu debit bisa mbak?" Tanyaku.


"Bisa mas, oh iya ini di kirim kemana mas ?" Tanya mbak pelayan.


Aku pun menyebut alamat rumahku, yang segera di catat oleh mbak pelayan itu.


"Atas nama Bapak Sumarno yah mbak." Ujarku lagi menambahkan.


"Baik mas... trimakasih atas kunjungannya, dan ini mohon di terima notanya." Ujar mbak itu sambil memberikan aku sebuah nota dan juga kartu debit yang tadi di gunakan untuk membayar.


"Sama sama mbak kalo begitu kami permisi mbak." Ujarku, sementara Yesi hanya tersenyum saja setelah dari awal hanya menyimak.


"Ayo Yes !" Ujarku sambil menarik tangan Yesi.

__ADS_1


"Abis ini kemana lagi Gung?" Tanyanya semringah.


"Aku ingin membelikan kamu sebuah hadiah, tapi kamu pilih sendiri hadiahnya okey, setelah itu kita mencoba kuliner untuk makan siang di sekitar GOR M, kata orang orang rawon di sana rasanya mantab. Kamu mau kan mencobanya?" Ujarku sambil tersenyum.


"Iya Gung...Up to you aza." Ujar Yesi dengan senyumnya yang terkembang.


Kami pun melaju kembali untuk melanjutkan perjalanan kami yang tinggal selangkah lagi itu.


"Kamu sekarang sudah sukses yah Gung? Memang klo boleh tau kamu sekarang kerja apaan seh Gung?" Tanya Yesi yang membuatku langsung menatap matanya.


Dan aku yakin dia memang belum tau klo aku abis pulang dari Jepang.


"Kenapa apakah aku salah?" Tanyanya agak takut.


"Ah nggak kok, tadi kamu nanya apa aku sudah sukses yah, jawabnya belum Yes, aku bahkan belum tau ukuran sukses itu gimana." Kataku sambil fokus lagi ke jalan yang semakin pepat saja meski sudah hampir tengah hari.


"Sukses itu banyak uang, berlimpah materi, kecukupan segalanya." Ujar Yesi.


"Lalu bagaimana seandainya kita mati setelah berpikir telah mencapai semua itu, apakah ada artinya?" Tanyaku yang membuat Yesi terdiam.


"Apakah hidup ini sekedar untuk mencari sebuah materi yang hanya akan kita tinggalkan setelah kita tiada?" Tanyaku lagi.


"Lalu apakah kita ingin hidup biasa saja atau miskin sama sekali biar tenang karena tak meninggalkan apapun jika kita mati ?" Ujar Yesi balik bertanya.


"Bukan begitu Yes, sama seperti kamu aku juga berpikir materi itu penting tapi masih ada hal yang lebih penting lagi dari sekedar duniawi semata seh menurut aku." Ujarku sambil tersenyum karena melihat wajah cantik Yesi ketika cemberut.


"Tau ah gelap." Ujar Yesi kesal.


"Yes, sepertinya kamu memang tak akan cocok hidup denganku." Ujarku.


Yesi hanya menatapku tanpa berucap.


"Sejak awal ketemu denganku kamu lebih banyak cemberutnya daripada tertawanya, bukankah itu berarti kamu ga bahagia bersamaku." Ujarku yang membuatnya salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2