
Malam semakin larut, dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika keempat kawan itu asyik berbincang bincang, barulah Irfan mengajak dua sekawan satelitnya itu berpamitan setelah melihat beberapa kali Agung mulai menguap.
Ditambah dua orang adik Irfan yang datang dengan bersepeda berboncengan mencari Irfan karena ada dua orang yang mengaku teman kerja Irfan di proyek datang berkunjung ke rumah mereka untuk menemuinya.
"Isah...Toni...sini dulu kalian !" Ujar Agung sambil tersenyum pada dua adik Irfan yang masih duduk di sekolah dasar itu. Kedua anak itu tampak malu malu ketika menghampiri Agung.
Isah adalah kakak perempuan Toni yang kini duduk di kelas lima sementara Toni sendiri baru duduk di kelas dua karena usianya baru 8 tahun.
Rumah Irfan sendiri berada di Rt sebelah beda Rt dengan kediaman Agung meski masih dalam lingkup satu Rw.
"Siapa dek, yang nyariin Mas Irfan ?" Tanya Agung, sementara sisa pisang goreng dua potong langsung ia berikan pada kedua anak itu.
"Katanya namanya Mas Gito dari Desa Ledok Mas." Jawab Isah yang lalu mencium tangan Agung di ikuti oleh Toni adiknya.
"Oh dia bossku di proyek Gung." Timpal Irfan.
"Oh gitu." Gumam Agung.
"Baiklah kalo gitu aku pamit dulu yah, besok kita masih bisa kongkow kan ?" Ujar Irfan.
"Baiklah... Oh iya Isah dan Toni maaf yah Mas Agung pulangnya hanya kosongan jadi gantinya ini Mas beri sedikit uang jajan buat kalian yah masing masing selembar yah di bagi tiga sama Niken juga." Ujar Agung sambil memberikan tiga lembar uang ratusan ribu pada Isah.
"Makasih Mas... Makasih Mas !" Ujar kedua anak itu, Agung hanya mengangguk sambil mengusap kepala Toni.
"Waduh Gung, kebiasaan kamu tar mereka jadi tuman loh." Kata Irfan, sambil tersenyum.
"Gapapa kok kalo ada, bukankah mereka juga adik adikku." Ujar Agung.
"Nguk...Yan..kalian masih ingin disini apa pulang?" Ujar Irfan sambil menatap dua teman yang hampir selalu siyap sedia mengiringinya kemanapun kalau sedang di kampung.
"Kami mau kongkow di tempat Kang Parno dulu Fan." Jawab Dwi.
Setelah itu Irfan mengajak dua adiknya itu pulang, ia jalan kaki sementara dua adiknya membawa sepeda duluan. Tak lama setelah itu Dwi dan Yanto pun segera berpamitan juga pada Agung.
Seperti yang mereka bilang tujuan mereka selanjutnya adalah tempat Kang Parno yang juga merupakan kasino mini di kampungnya alias tempat judi.
Agung sendiri setelah memberesi cangkir dan piring yang sudah tak bersisa isinya itu segera menemui Bapaknya yang terkantuk kantuk sambil menonton tv layar lebar di ruang keluarga rumah Anis.
__ADS_1
Kepada Bapaknya ia menceritakan hampir seluruh aktivitasnya di Subang sebulan terakhir ini meskipun sebagian besar Bapaknya juga sudah mengetahuinya, namun mendengarnya sendiri langsung dari anaknya itu jelas membuatnya lebih mantab.
"Malam ini yang nungguin bude siapa pak ?" Tanya Agung setelah itu.
"Pakdemu Joyo, tadi dia nggak datang kesini gitu kok." Ujar Bapaknya.
"Memang biasanya dia kesini dulu kalo mau ke rumah sakit?" Tanya Agung.
"Iya kalo minta bapak yang nungguin budemu." Jawab Bapaknya.
"Pak menurut Bapak gimana, Mbak Retno meminta untuk ikut ke Subang ?" Tanya Agung.
"Iya, ajaklah dia, kasihan benar nasibnya, Pakdemu itu benar benar jelek perilakunya." Ujar Bapaknya yang Agung tentu saja bisa mencerna maksud dari perkataan Bapaknya itu.
"Lalu bude dan Mas Harno gimana kalo di tinggal Mbak Retno nantinya ?" Tanya Agung lagi, jujur saja untuk persoalan ini Agung benar benar butuh pertimbangan dari Bapaknya itu.
"Ya itu urusan Kang Joyo, biar dia tau rasa, Bapak juga sudah muak dengan tingkah lakunya." Ujar Bapaknya.
"Farhan nggak pernah pulang?" Tanya Agung lagi.
"Jadi semua orang sudah tau perilaku menyimpang Farhan ?" Tanya Agung.
Belum juga Bapaknya menjawab tiba tiba terdengar bunyi nada panggil di hp Agung.
"Ya Sayank...aku masih berbicara dengan Bapak." Ujar Agung.
"Oh iya Mas gapapa tadi aku juga baru saja menerima laporan dari Dewi dan Imas. Bapak dan Anis gimana kabarnya Mas?" Ujar Sari.
Agung lalu menyerahkan hp nya pada Bapaknya yang kemudian ngobrol panjang lebar dengan Sari. Bahkan Anis pun ikut keluar dan turun dari kamarnya di lantai atas begitu mendengar ada obrolan dengan Sari.
Sejak Sari nggak ada, Anis memang sangat kehilangan figur seorang sahabat sejati yang selalu ikhlas mendengar segala keluh kesahnya dengan seabrek masalah di dunia remajanya. Kehadiran Retno dan anaknya sebenarnya cukup menghibur Anis yang kesepian, namun Retno pun hadir di tempat ini dengan berbagai masalahnya sehingga sulit bagi Anis untuk memperlakukan Retno sama seperti kepada Sari.
Setelah mendapatkan kesempatan berbicara Anis benar benar seperti menumpahkan kerinduannya akan kehadiran calon kakak iparnya itu.
"Kapan Mbak Sari kesini ?" Tanya Anis dengan nada sendu.
"Kapanpun mbak siyap kok dek, tapi tentu saja harus ada yang menjemput mbak kesini kan dek." Jawab Sari.
__ADS_1
"Iya nih, Mas ini Mbak Sari nanya kapan Mas akan jemput Mbak Sari?" Ujar Anis bertanya kepada Agung yang membuat Sari tertawa kecil.
"Iya nanti setelah urusan kelar." Jawab Agung cuek sambil membolak balik majalah pelajar milik Anis.
Herannya di era digitalisasi informasi saat ini majalah pelajar yang sudah ada sejak jaman kapan itu masih eksis saja.
Cukup lama Anis ngobrol dengan Sari sebelum Anis memberikan hp pada kakaknya setelah Sari menanyakan Agung.
Agung lalu pergi ke rumahnya sendiri sambil ngobrol dengan Sari yang sehari saja mereka tak berjumpa ternyata sungguh membuat dunia Sari terasa hampa.
"Besok mulai puasa Mas ?" Tanya Sari.
"Iya Sayank, tolong doakan supaya lelaku ku nanti bisa lancar dan berhasil yah." Kata Agung.
"Sebenarnya aku lebih tenang jika menyertaimu Mas." Ujar Sari jujur mengungkapkan apa yang di rasakannya.
"Percuma sayank, lebih baik kau selalu terhubung dengan Dewi dan Imas untuk mengawasi kegiatan toko." Ujar Agung.
"Tadi mereka minta tolong untuk menyampaikan padamu bahwa mereka semua terpaksa tutup toko jam empat untuk melayat jenazah Tyas yang langsung di kebumikan Mas." Ujar Sari lirih, sebenarnya ia tak ingin menyampaikan hal ini tapi akhirnya kata kata itu terceplos begitu saja dari bibirnya.
"Iya, gapapa kita doakan saja supaya Tyas di beri tempat kembali yang baik." Jawab Agung.
Perhatian Agung untuk Tyas yang dirasakannya berlebihan itulah yang sebenarnya membuat hati Sari kurang nyaman.
Dalam pada itu Irfan yang telah selesai menerima kedua tamunya yang ternyata boss nya yang kembali menawarinya sebuah proyek untuk memasang kaca di sebuah bangunan mall di luar kota yang lagi lagi terpaksa Irfan tolak karena ingin fokus untuk perawatan Mamaknya.
Setelah mengantarkan tamunya yang sudah berpamitan sampai halaman rumahnya, Irfan kembali masuk ke dalam rumahnya dan menemukan Sarti mamaknya sedang membereskan sisa sisa gelas.
"Anak anak sudah bobok ?" Tanya Irfan sambil merengkuh dan memeluk tubuh Mamaknya itu dari belakang.
"Sudah Mas." Jawab Sarti datar saja.
"Besok kita ke rumah sakit untuk segera menanda tangani operasi Mak." Jawab Irfan sambil mencium pundak mamaknya itu.
"Agung ngasih pinjaman ?" Tanya Sarti.
"Iya 25 juta." Jawab Irfan sambil mengecupi tengkuk Sarti yang membuat wanita berumur 45 tahun itu menggeliat karena kegelian.
__ADS_1