
Suasana rumah menjadi senyap seketika setelah orang orang itu secara bersamaan meninggalkan kediaman Agung.
Namun rasa gelisah tetap juga belum sepenuhnya tersingkirkan dari benak Sari, meskipun Agung sudah mulai bersikap normal seperti biasanya.
"Apakah sebenarnya yang masih kau pikirkan Sayank? kelihatannya kau masih risau ?" Tanya Agung sambil memeluk Sari yang duduk di pangkuannya.
"Siapa lagi kalo bukan wanita nggak tau malu, sudah terang terangan ingin menjadi pelakor tapi masih bisa tersenyum." Ujar Sari lirih terdengar seperti mengeluh.
"Yang penting kan aku hanya memilih kamu Sayank, kamu tak akan pernah tergantikan oleh siapapun juga meski datang dari khayangan sekalipun, tapi tentu syaratnya kamu tau sendiri kan aku sudah terlalu banyak ngomong tadi, kalo kamu setia aku akan lebih setia lagi tapi kalo aku di khianati tentu aku pun tak segan melakukan hal yang sama bahkan kupastikan lebih parah." Kata Agung sambil menciumi pipi Sari yang merebahkan dirinya di dekapannya.
"Tapi terkadang kau begitu kejam mas, takutnya itu seperti tadi aku tak melakukan hal apapun tapi kamu artikan aku berkhianat, kan aku yang hancur kalo gitu." Ucap Sari.
"Aku hanya tidak suka kamu dekat dekat dan terlalu akrab dengan lelaki lain tanpa alasan yang bisa aku maklumi." Balas Agung cepat.
"Iya masalahnya di situ mas, kamu soalnya gampang salah paham, pokoknya kalo sampai kau meninggalkanku seperti tadi gara gara hal yang sepele seperti tadi aku lebih baik membunuh diriku saja mas." Ujar Sari mulai mengandalkan kartu ace nya.
"Apa kau pernah berpikir kalo aku akan bahagia jika kamu sampai seperti itu Yank, please itu terlalu mengerikan untukku. Aku rasa akupun juga takkan bisa hidup tanpamu." Ujar Agung yang kali ini sukses membuat hati Sari kembali melambung dan menjadikan wajahnya seketika cerah kembali.
"Kalo gitu aku ingin kamu menikahiku secepatnya mas." Ujar Sari.
"Apakah masa iddah kamu sudah selesai Yank, tentu aku mau tapi setidaknya setelah aku selesai lelaku yah." Kata Agung sambil membelai dan menciumi pipi dan leher Sari yang membuat perempuan jelita itu meliuk liuk seperti orang kepedasan.
"Mas kalo kamu giniin terus aku yang nggak kuat mas...." Ujar Sari sambil merem melek terbuai dalam kenikmatan yang membuatnya melayang.
"Sabar yah Sayank, aku juga sudah lama ingin sebenarnya tapi..." Ujar Agung sambil terus mencumbui kekasihnya itu.
"Ya kalo gitu ayoh ! ini mumpung pentungan kesayangan aku ini lagi bangun hihihi." Ujar Sari sambil mengelus buah ************ Agung yang terasa membesar panjang dan mengganjal bokongnya.
"Jangan Yank, tinggal beberapa hari lagi aku takut puasa prihatinku sekian lama ini jadi sia sia." Ujar Agung yang kemudian menjadi pasif.
"Mas...aku lapar..." Ujar Sari yang memang sejak setelah makan siang belum mengisi perutnya lagi.
Namun Sari justru malah meringkukkan tubuhnya di di dekapan Agung.
"Oh iya aku juga Sayank ayo kalo gitu, kita keluar saja cari nasi goreng sambil jalan jalan." Kata Agung.
__ADS_1
"Aku ganti baju dulu mas." Ujar Sari namun serasa enggan beringsut dari dekapan Agung.
"Begini juga sudah cantik kok kamu, ngapain harus ganti segala." Kata Agung.
"Celanaku basah mas, nggak enak kalo nggak di ganti gara gara kamu tuh nakal bener." Ujar Sari lalu mencium bibir Agung kemudian beringsut dan bangkit dan melangkah ke kamarnya.
Agung hanya tersenyum dan mengerling nakal.
"Oh iya tadi kamu kemana saja mas ?" Ujar Sari dari kamarnya.
"Kapan ?" Tanya Agung, sebenarnya ia sudah mengetahui yang di maksud Sari, namun ia pura pura tak paham.
"Tadi abis masalah Doni dan Mang Darom tadi." Kata Sari.
"Oh itu aku ke kolam renang Yank, kenapa?" Jawab Agung santai.
"Tuh kan curang ke kolam renang nggak ngajakin, emang mau ngecengin siapa? atau jangan jangan kencan sama Tyas yah ?" Ujar Sari.
"Kencan gimana, orang aku cuma latihan biasa saja kok sama anak anak sekolah." Ujar Agung sambil tertawa kecil.
"Iya...!!! Dah lah buruan !" Ujar Agung yang mulai bosan dengan pembahasan yang selalu di ulang ulang.
Belum juga Sari selesai membenahi diri, dari luar rumah Aceng sudah berteriak.
"Gung..!...Agunggg...!!!" Kata Aceng berteriak sambil membuka pintu.
"Apaan seh, malam malam teriak teriak?" Tanya Agung.
"Boss katanya mau nemenin aku ke tempat Eka, gimana jadi nggak...?" Ujar Aceng sambil senyum-senyum.
"Oh iya hadeh Ceng, ibu juragan pengin makan di luar itu gimana boss ?" Kata Agung.
"Yah gagal deh rencana..." Keluh Aceng.
"Trus gimana, besok saja yah." Kata Agung.
__ADS_1
"Besok Eka dah berangkat ke Bandung." Kata Aceng.
"Ya sudah sekalian saja kamu antar, kan sekalian belanja barang elektronik kan." Ujar Agung.
"Oh iya, tapinya kira kira mau nggak yah si Eka nya aku anterin ?" Ujar Aceng seakan kurang percaya diri.
"Makanya sekarang saja kamu samperin, yang gentle lah namanya juga pengin dapet cewek." Balas Agung sambil tersenyum meledek.
"Ah kamu mah gitu terus Gung." Ujar Aceng menggerutu.
Agung hanya tertawa kecil, apalagi melihat tampang sahabatnya yang tengah bersungut sungut itu kelihatan lucu.
"Mas ! ayo berangkat !" Ujar Sari yang sudah selesai membenahi dirinya sehingga terlihat sangat cantik mempesona.
Namun melihat di luar ada Aceng, dengan agak kesal Sari kembali duduk di sofa.
"Tuh nyonyaku sudah memanggil, jadi Ceng terserah kalo kamu ingin ngapelin Eka sekarang ajak saja Trimo atau Riko mereka bisa di percaya." Ujar Agung berbisik.
"Ya sudah kalo gitu, silahkan kalo mau bersenang senang sendiri bro." Kata Aceng sambil ngaleyos pergi.
Dalam pada itu saat ini di waktu yang sama di Kampung Tawangsari, kesibukan terjadi di kediaman Pak Sumarno setelah Sumarni yang juga kakak kandungnya di vonis menderita penyakit serangan jantung akut yang mengakibatkan sistem pada syaraf tubuhnya terganggu.
"Nduk Nis, coba kamu telpon kakakmu bisa pulang apa nggak ?" Ujar Pak Sumarno pada anak bungsunya yang menjadi sibuk di dapur untuk membuat minuman panas untuk di suguhkan pada tamu tamu yang datang ke rumah mereka.
Karena kebanyakan tamu itu masih ada hubungan saudara meskipun sudah agak jauh, dan tinggal di daerah yang lumayan jauh dari kampung mereka.
Yang sebenarnya adalah para tamu itu datang untuk bersimpatik setelah mendengar Sumarni di rawat di rumah sakit karena mengalami serangan jantung setelah mengetahui kenyataan tentang Farhan yang memiliki kesesatan dalam orientasi penyaluran nafsunya setelah memergoki perbuatan anaknya itu bersama dengan teman lelaki yang dibawanya berkunjung ke rumah mereka.
Saat itu Sumarni merasakan dadanya menjadi sangat sakit serasa dihimpit oleh sesuatu yang sangat berat dan akhirnya membuatnya langsung pingsan.
Mengetahui itu Joyo Winoto suami Sumarni yang memang memiliki temperamen keras, langsung kalap dan langsung mengusir Farhan dan kawan lelakinya itu seketika setelah menumpahkan segala macam kalimat yang menyakitkan mereka berdua.
Sejak saat itulah Farhan seolah menghilang tanpa jejak, meninggalkan kesibukan dan kepanikan dalam keluarganya yang sebenarnya sedang dalam kondisi kurang kondusif setelah Harnoyo kakaknya juga tak berdaya dengan penyakit stroke yang dialaminya.
"Bapak, Mbak Sari tadi sore bahwa mereka baru bisa pulang besok lusa karena sudah terlanjur menyebar undangan untuk grand opening tempat usaha." Ujar Anis menanggapi bapaknya.
__ADS_1