
Aku tertegun sejenak, ternyata benar dugaan perasaanku sendiri serta omongan Ak Ahmad tadi tepat, Pak Haji Obi menginginkan bicara empat mata denganku.
"Oh silahkan Pak Haji, mungkin ada yang bisa saya bantu secara pribadi ?" Ujarku sambil mengemudikan mobil suv milik Ak Ahmad yang juga putra kedua dari Pak Haji Obi sendiri itu pelan pelan saja.
"Sebelumnya bapak minta maaf yang tak terhingga pada kamu nak, karena mungkin yang bapak katakan ini nanti kurang berkenan di hatimu." Ujar Pak Haji Obi yang membuatku semakin dak dik duk tegang.
"Maaf Pak Haji sebenarnya ada masalah apa barang kali saya dan segenap teman teman bisa membantu untuk sekedar meringankan masalah itu kalo nggak justru malah membuat semakin rumit." Ujarku lirih.
"Imas nak, keadaan anak gadis bungsu bapak itu rasanya membuat bapak semakin prihatin saja." Ujar Pak Haji.
"Kalo boleh tau sebenarnya Imas ada masalah apa Pak Haji karena setau saya Teh Imas terlihat baik baik saja dan sangat ceria bersama kami." Ujarku.
"Itulah hebatnya anak itu nak, dia itu persis seperti mendiang ibunya sangat pintar menyembunyikan perasaannya sendiri." kata Pak Haji Obi seperti mengeluh.
Aku sengaja berdiam diri dulu dan tak menanggapi perkataan Pak Haji Obi itu dengan ucapan apapun.
"Kemarin tempo hari kau tau bukan kalo dia bersedia membuka hatinya untuk memberikan kesempatan pada Aceng memasukinya, tapi apakah kau tau jika Imas tak pernah benar benar melakukannya. Karena dari awal anak itu tak pernah menaruh hati sedikitpun pada Aceng." Ujar Pak Haji Obi yang terdengar apa adanya.
"Tapi Pak Haji kalo yang saya lihat mereka justru semakin akrab dan juga sering bercanda juga." Ujarku mencoba menyanggah pernyataan Pak Haji Obi.
"Itulah hebatnya anak itu, mungkin kamu kurang percaya yang bapak katakan tapi bapak lah yang paling tau kedalaman hati anak itu karena dari sejak ia lahir dan membuka matanya sampai usianya yang sekarang 23 tahun, anak itu tak pernah berpisah dari bapak bahkan sama ibunya pun tak pernah sedekat sama bapak." Ujar Pak Haji Obi terdengar tak bergurau.
"Percayalah nak bapak hanya mencoba membantumu saja dalam hal ini karena aku tau posisi kamu yang dalam hal ini di atas mereka akan membuatmu merasa rumit, tapi kalo kamu kurang bijaksana menanganinya justru akan membuatmu dalam kesulitan sendiri." Kata Pak Haji Obi lagi karena aku tak segera memberikan balasan.
"Jujur Pak Haji saya masih bingung dalam hal ini jadi saya kurang tau harus berkata gimana." Ujarku lirih, saat ini aku benar benar merasa tertekan.
"Biar bapak jujur saja nak, Imas sebenarnya menyukai kamu, atau bisa di bilang kamulah yang berhasil merebut hatinya. Selanjutnya kamu pasti paham bukan kira kira apa yang terjadi kedepannya ? Aceng sahabatmu namun wanita yang di cintainya justru mencintaimu." Ujar Pak Haji Obi benar benar memukul hatiku sampai hancur lebur.
Mobil yang aku kemudikan telah berhenti tepat di depan gerbang rumah beliau yang tampak paling besar dan megah di banding dengan bangunan di sekitarnya.
"Baiklah, terimakasih sudah mau mengantarkan bapak, dan bukan bermaksud mengusirmu sebaiknya kamu memang segera kembali karena teman temanmu pasti sudah menunggu kamu, bapak tak mau di hujat mereka gara gara terlalu lama menyamun waktumu." Ujar Pak Haji Obi.
__ADS_1
Aku pun hanya mengangguk lalu bergegas keluar dari mobil untuk membukakan pintu keluar buat beliau, dan sebelum benar benar pergi aku sempat menyalim buku tangan beliau.
"Saya mohon diri Pak Haji." Ujarku.
"Iya iya nak hati hati, tolong pikirkan yang bapak katakan tadi yah, karena bagaimanapun juga itu akan jadi semacam bom waktu untukmu yang kapanpun bisa meledak dan membuatmu kerepotan." Kata Pak Haji memberi pesan terakhir sebelum aku benar benar pergi.
"Baik Pak Haji saya akan memikirkannya." Kataku, sebelum aku melangkah masuk kembali ke mobil dan melajukannya memutar balik arah.
Kali ini aku melajukan mobil dengan cepat hingga sekejap saja aku sudah sampai kembali di Krajan, yang meskipun hanya kampung tapi tak pernah ada matinya karena ada saja aktivitas penduduknya bahkan terkadang 24 jam sehari itu masih terlalu pendek buat kampung ini.
Ketika aku sampai kembali di rumah Aceng, semua rekan rekanku sudah menunggu dan berkumpul di teras pendopo rumah.
Mereka langsung bergegas berdiri dan beraktivitas kembali begitu aku keluar dari mobil dan menghampiri mereka, meski aku yakin perubahan raut wajahku terlihat berbeda dan mungkin lebih dingin meski aku mencoba untuk senyum semringah.
"Kamu ajak Pak Haji muter muter kemana bro, lama bener ?" Ujar Aceng, yang hanya ku balas dengan senyuman getir saja.
"Ak ini kunci kontak mobilnya."Ujarku sambil menyerahkan kontak mobil itu ke tangan pemiliknya.
"Sedikit pesan pesan yang berguna untukku kedepannya Ak." Jawabku lirih.
Ak Ahmad lalu hanya mengangguk dan menepuk pelan lengan tanganku sembari tersenyum.
Sesaat kemudian kami mulai tenggelam dalam kesibukan. Empat tangan besi membuat sebuah tempat perapian dengan bata bata merah yang sudah di siapkan sebelumnya.
Namun ada sedikit yang menggelitik pikiranku saat tak sengaja mataku melihat Doni yang tampak bergurau dengan Teh Yanah bibiknya Aceng dan Dewi, di tengah kesibukan mereka. Sementara di sudut lain Mang Darom tampak asyik bercakap cakap dengan Pak Suryadi dan beberapa karyawan penggilingan yang namanya aku belum terlalu hapal.
Sari terlihat selalu bersama Dewi meskipun aku lihat dia juga sering curi curi pandang ke arahku, sementara Imas lebih sering di sibukkan dengan dua anak Ak Ahmad yang selalu menempelnya meskipun mama mereka berada di dekat mereka.
"Gung jangan melamun ! tar kesambet loh." Ujar Ak Ahmad sambil menepuk lenganku.
"Eh iya Ak maaf sebenarnya aku sedang menahan pipis." Jawabku seadanya sambil tersenyum nyengir.
__ADS_1
"Ya sudah pipis sana dulu, jangan sering sering nahan pipis kalo tak mau prostat mu bermasalah." Kata Ak Ahmad terdengar bijak.
"Iya Ak...kalo gitu aku permisi sebentar yah Ak." Kataku sambil kemudian berdiri dari dudukku dan meninggalkannya untuk menuju rumahku sendiri.
"Heii kemana itu ?" Tanya Aceng yang entah kenapa memergokiku meskipun ia tampak sibuk mengatur segalanya.
Aku hanya tersenyum sambil menunjuk bagian depan pangkal pahaku, yang membuatnya terkekeh. Jujur saja perkataan Pak Haji tadi benar benar membuatku bimbang dan dilema.
Aku mencoba menetralkan perasaan yang gundah ini dengan menyiram wajahku dengan air namun tetap saja bayangan Imas yang tersenyum padaku dan Aceng yang membenciku benar benar membuat perasaanku sama sekali tak nyaman.
Ini memang seperti bom waktu yang sewaktu waktu bisa menghancurkan aku sendiri, haruskah usahaku yang ku bangun dengan darah dan keringat ini akan hancur sia sia begitu saja. Belum lagi apa jadinya masalah ini jika di ketahui oleh Sari.
"Ahhh...." Keluhku sendiri sambil menatap dalam dalam wajahku di kaca kamar mandi.
"Mas...! Kamu dimana ?"
Terdengar suara kekasihku memanggilku.
"Di sini yank....!" Jawabku.
"Kok malah ngumpet di kamar mandi sih mas, itu kamu di cariin !" Ujar kekasihku itu dengan sedikit cemberut.
"Tadi aku pipis dulu yank hehehe, memang semuanya sudah siap gitu ?" Ujarku sambil tersenyum.
"Dari tadi atuh, kamu itu yang nggak jelas punya acara kok di tinggalin mulu." Kata Sari sambil cemberut beneran.
"Iya ini sudah kok, ayo keluar kalo gitu daripada mereka yang malah kesini." Kataku sambil ******* ***** pundaknya memijitnya, itu memang salah satu caraku untuk membuat mood kekasihku itu kembali normal.
"Iiih apaan seh pegang pegang tar bajunya kusut mas." Kata Sari sambil menepiskan tanganku dari pundaknya.
Sepertinya Sari sedang ada masalah dengan perasaannya tapi apa. Ada ada saja bikin kepala mau pecah kalo gini.
__ADS_1