OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 101 Hari Yang Aneh


__ADS_3

Dua hari berikutnya


Imas sudah mulai bergabung lagi ke toko, setelah Pak Haji Obi setuju untuk sementara tinggal bersama Ak Ahmad di rumahnya dengan alasan supaya lebih dekat untuk keperluan kontrol kesehatan beliau.


Aku sendiri telah beberapa kali menjenguk beliau bersama Sari dan Dewi saja dalam kurun waktu itu, sementara Aceng entah mengapa hubungan dengan Imas justru malah semakin renggang.


Dan Aceng sendiri justru semakin jarang ke toko karena aku memintanya untuk segera memulai proyek renovasi penggilingan dan sekaligus membuat sebuah gudang beras dengan memanfaatkan lahan yang ada dan sebelumnya hanya di manfaatkan untuk beberapa keperluan yang sama sekali tak ada hasilnya.


Dalam pada itu, sawah Pak Somad seluas 1,2 hektar juga telah selesai aku bayar gadai sesuai dengan perjanjian yang telah kami sepakati sebelumnya, bahkan kini Pak Somad juga bersedia kerja sama dengan kami untuk menjadi tukang tebas kami yang akan membeli gabah dari para petani dan menjualnya di penggilingan milikku.


Sementara hubungan Doni dan Teh Yanah semakin dalam dan menuju titik kritis dengan Teh Yanah yang mengabarkan bahwa dia kini telah hamil atas akibat dari hubungan terlarang mereka.


Namun yang bikin adem Mang Darom sama sekali tak marah akan hal itu, dan justru dengan bangganya mengakui kalo kehamilan Teh Yanah itu karena dia. Sebenarnya akupun ikut prihatin atas apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka namun aku sama sekali tak mampu berbuat apa apa.


Hari ini adalah hari terakhir masa uji coba tokoku sebelum besok rehat dua hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari pembukaan dan pasca pembukaan tempat usaha kami itu.


Bagian kasir yang sekarang sudah di pegang Dewi dan Suci yang kini membantunya setelah Sari memutuskan untuk menyerahkan meja kasirnya pada Suci, juga sudah menyebar beberapa pamflet undangan khusus berkode nomor untuk beberapa pelanggan toko kami yang belanja dalam jumlah tertentu khusus hari ini.


Undangan itu juga akan berfungsi sebagai nomor undian yang nanti akan di undi untuk mendapatkan door prize dari kami. Tentu saja ide itu datang dari Dewi dan Sari yang memang benar benar jago dalam strategi pemasaran.


Sari sendiri seharian lebih banyak menunjukkan bahwa dia adalah boss yang sesungguhnya dengan menjalankan fungsi kontrol pada semua bagian toko, bahkan terkadang kembali ikut melayani pengunjung.


Sementara aku, setelah office di kuasai Imas lagi lebih banyak berkeliaran di luar ngobrol dengan Roni dan Dion yang kini sudah menjadi karyawan tetap kami dengan tugas serabutan kadang di parkiran dan sesekali membantu Suranto bergantian naik turun mengambil barang dari gudang.


Aku menjadi tertarik dengan keuletan mereka berdua dan tak pernah membantah jika aku meminta mereka mengerjakan apapun, lagipula sepertinya mereka juga merasa betah dan nyaman bekerja di tokoku ini selain itu mereka juga sudah sangat akrab dengan empat tangan besi, karena Suranto yang sering berkunjung ke rumah Nenih yang juga kakaknya Roni.

__ADS_1


Hari ini sesekali aku ikut membantu Riko mengepak barang pembelian dalam jumlah besar yang biasanya di lakukan oleh para reseller.


Hari tampaknya akan berlangsung monoton saja seperti biasanya sampai ketika tiba tiba sebuah mobil suv berwarna putih masuk ke pelataran parkiran hingga menyibukkan Dion dan Roni sesaat sebelum kemudian keluar seorang cewek berpakaian kasual sangat cantik dari dalamnya.


"Boss pelanggan cantik datang." Bisik Riko lirih di dekat telingaku.


Aku baru saja ingin menanggapi Riko ketika tiba tiba cewek itu tersenyum manis padaku, dan kemudian langsung menghampiri meja kasir Suci.


Rasanya aku mengenal cewek super cantik ini dan itu adalah Tyas sang terapis di Artemis Spa Citizen Underground.


Suci yang sangat sibuk hanya tersenyum sesaat saja pada Tyas sebelum memohon pelanggan yang belum ia layani untuk menunggu sejenak sementara Suci keluar dari meja kasir dan menghampiri Tyas lalu mereka saling berpelukan gembira di saksikan para pengunjung dan juga Dewi yang sempat terbengong sesaat melihat hal itu sebelum kembali fokus pada kerjaannya.


Sementara Suci segera kembali ke post nya, Tyas langsung menghampiriku.


"Jadi kamu Ak, boss ganteng yang slalu di ceritakan adikku itu." Ujar Tyas lirih, aku hanya tersenyum sambil meletakkan jari telunjukku di tengah mulutku sampai ke hidungku.


"Selamat datang Teh di tempatku mengais sesuap nasi." Ujarku pada Tyas, kulihat Riko hanya terbengong meskipun kemudian segera fokus kembali setelah di tegur oleh Dewi.


"Bagus kok, keren banget pantesan dua adikku betah di sini." Ujar Tyas, mungkin yang dia maksud adalah Eka selain Suci tentunya.


"Kapan Teteh pulkam?" Tanyaku.


"Kemarin sore Ak." Jawabnya.


"Hanya sendirian ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Iya. Emang mau sama siapa lagi." Jawab Tyas, aku hanya tersenyum saja.


"Oh iya karena niatku kesini mau belanja, aku pamit ke dalam dulu yah Ak. Boleh kan ?" Ujar Tyas lagi.


"Oh silahkan silahkan Teh, tentu saja boleh apalagi kalo borong semuanya tambah boleh lagi." Ujarku bercanda, Tyas hanya tertawa kecil lalu melangkah dan tak lupa menyapa Dewi juga yang membuat Dewi langsung berdiri lalu menyalim tangan Tyas kemudian cipika cipiki seolah mereka sudah kenal lama.


Lagi lagi Riko hanya terbengong melihat pemandangan itu, mungkin Riko akan pingsan jika tau beberapa hari yang lalu aku bahkan pernah sangat intim dengan perempuan yang membuatnya takjub akan kecantikannya itu.


Setelah Tyas masuk dan tenggelam di kerumunan dalam ruang toko, aku segera bergegas pergi, menyusul Aceng yang sedang di penggilingan. Aku yakin aku akan dalam masalah jika tak melarikan diri dari toko untuk sejenak.


"Mas Riko nanti kalo ibu negara tanya aku kemana jawab saja aku ke penggilingan yah." Ujarku pada Riko, dan tanpa menunggu jawabannya aku sudah melangkah pergi.


Namun aku lupa, mobilku sedang di pakai oleh Aceng jadi terpaksa aku pulang ke rumah berjalan kaki dulu untuk mengambil motor bututnya Aceng.


Matahari begitu terik bersinar, menjelang siang ini. beberapa orang yang berjumpa denganku menyapaku dengan sangat ramah, hingga aku sampai di lorong samping rumah Aceng dan tetangga dekatnya, aku mendengar suara kasak kusuk orang berbisik bisik dari sebuah kamar berjendela kaca yang di tutup dengan kain gorden sangat rapat dan aku tau itu adalah kamar Pak Suryadi dan Mih Onah.


Namun suara pria yang tadi ku dengar bukanlah Pak Suryadi, membuat aku tergerak usil untuk mencuri dengar sesaat dan suara kasak kusuk itu kemudian berubah menjadi sebuah ******* dan erangan.


Aku lebih meningkatkan kemampuan pendengaran ku yang telah di atas rata rata kemampuan dengar orang biasa itu dan bisa segera memastikan suara yang kudengar itu adalah suara dari Mih Onah dan Mang Darom adik iparnya.


Setelah itu aku tak berminat lagi mencampuri urusan orang orang tua ini dan memilih kembali pergi namun bukan untuk pinjam motor Aceng pada Mih Onah namun kembali ke toko.


Aku mulai berpikir tentang kehidupan gila macam apa yang sedang terjadi di lingkungan dekatku ini, karena hal semacam ini seakan terus terjadi berulang ulang.


Entah apa yang akan Dewi dan Aceng lakukan jika mengetahui hal tak senonoh yang di lakukan ibu dan amangnya itu, ini memang benar benar sebuah kegilaan.

__ADS_1


Sampai di toko ternyata aku melihat mobilku justru telah terparkir di sebelah dua mobil box yang berarti Aceng telah kembali ke toko.


"Eh bro, tadi aku cari cari kirain kemana katanya kau ke penggilingan tapi aku colling Mang Ujang kamu nggak ada di sana, ini gambar awal proyeksi penggilingan nantinya kaya gini kira kira kau setuju nggak ?" Ujar Aceng sambil menyerahkan selembar kertas karton ukuran A3 yang tergulung rapi.


__ADS_2