OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 109 Mari Kita Evaluasi


__ADS_3

Untuk beberapa waktu lamanya Sari masih terlibat obrolan akrab dengan Anis, karena dari awal memang keduanya sudah dekat bahkan jauh hari sebelum Sari berjumpa dengan Agung yang kemudian dalam waktu singkat saja sudah mampu merebut segenap hatinya.


Sampai kemudian terdengar suara halus mobil yang kemudian berhenti terdengar di depan teras rumah. Sari segera melihat keluar melalui tirai kaca yang ia singkapkan dan ia melihat Agung keluar dari mobilnya dengan raut wajah yang tampak gusar.


"Baiklah Dik, nanti di sambung lagi yah, mbak masih ada sedikit urusan." Ujar Sari lirih sambil mendekatkan hp nya ke dekat bibirnya.


"Oh iya mbak, hati hati yah mbak jangan lupa slalu jaga kesehatan, nanti kalo Mas Agung sudah datang suruh segera menelpon rumah." Kata Anis.


Dan sekejap kemudian panggilan mereka di akhiri. Lalu Sari keluar dari kamarnya dan melihat Agung sudah duduk bersandar di sofa dengan kaki di letakkan lurus di atas meja.


"Akhirnya kau kembali juga mas." Ujar Sari dengan nada sendu.


"Kau abis ngajak kencan siapa lagi ? apakah Aceng tidak bisa membuatmu puas ?" Ujar Agung lirih namun terdengar sangat menusuk hati Sari, sangat menyakitkan bukan saja di telinganya tapi lebih di hatinya.


"Kamu itu bicara apa seh mas, nggak baik bersikap seperti itu terus." Ujar Sari mencoba sabar.


"Bagaimana bisa baik jika melihatmu selalu seperti itu dengan setiap laki laki." Ujar Agung sinis.


"Apa maksud kamu mas? Balas Sari mulai tegas, emosinya seketika naik. Wanita manapun juga harga dirinya akan terusik jika mendengar ucapan yang begitu merendahkan seperti itu.


"Sudahlah kepalaku sedang pening, aku tak mau berdebat lagi." Kata Agung tak menoleh sedikitpun kepada Sari yang kini emosinya telah menguasai dirinya.

__ADS_1


"Memangnya aku seperti kamu yang bisa tebar pesona pada setiap wanita yang kau sukai, kalo mau ngomong itu setidaknya memandang diri sendiri dulu apakah sudah benar apa belum." Ujar Sari gantian bersikap sinis.


"Jadi kalo kamu mau berduaan dengan lelaki lain itu aku harus memakluminya begitukah? enak bener." Balas Agung juga mulai keras.


"Baiklah mas kalo kamu memang sudah menganggap aku sehina itu dalam pandanganmu, mungkin karena aku yang terlalu cepat jatuh ke pelukanmu lalu kau anggap diriku ini perempuan sampah, lalu kau bebas berbuat semaumu sendiri." Kata Sari sambil terisak dan berlinang air mata kembali. Dadanya yang pepat sejak tadi kini telah meledak dan menghancurkan hatinya.


Sari lalu masuk kembali ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya tengkurap ke kasur dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


Untuk sesaat Agung hanya bengong dan termenung tak di sangkanya bahwa masalahnya akan menjadi serumit ini.


"Sudahlah maafkan aku." Ujar Agung masih terdengar ketus, ia kini telah duduk di ranjang di dekat Sari yang berbaring melintang tengkurap sambil menangis tersedu sedu meskipun suaranya tangis pilunya bisa tersamarkan karena teredam oleh bantal.


"Kenapa pikiranmu sejorok itu mas, sebenarnya kau menganggap aku itu apa wanita murahan begitu ? aku memang duduk dekat Aceng tadi karena aku memintanya untuk menjaga supaya Doni dan Mang Darom tak sampai berkelahi seperti yang kamu minta, lagipula Aceng itu kan telah kau angkat sebagai manajer umum di toko setidaknya itu juga wewenangnya untuk mencegah kerusuhan yang bisa merugikan usaha kita, jadi tolong singkirkan pikiran burukmu tentang aku." Ujar Sari sambil terisak memilukan.


Keterangan dari Sari ini sekaligus mengkonfirmasi keterangan Aceng yang memberikan penjelasan yang sama.


"Maaf...Yank...aku hanya takut kehilanganmu saja, lagipula pikiranku langsung buntu jika melihatmu berdekatan dengan lelaki lain karena aku sangat mencintaimu." Ujar Agung lirih.


"Kau selalu tak mempercayai aku mas...di tambah lagi kau selalu tebar pesona dan terlihat suka sekali menjadi perhatian semua wanita yang rasanya semakin lama semakin banyak yang ingin mendapatkan perhatianmu." Kata Sari serak meski sudah tak terisak menangis lagi.


"Tapi aku juga tak menginginkan hal semacam itu Yank, karena bagiku asal kau tulus mencintai aku itu sudah lebih dari segalanya bagiku." Kata Agung sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tadi Imas bilang padaku kalo dia mencintaimu mas dan aku yakin kau pun telah mengetahui hal ini kan?" Ujar Sari dengan tatapan tajam.


"Mungkin secara tidak resmi aku tau Yank, dari Pak Haji Obi yang mengatakannya namun saat itu aku sudah langsung mengatakan kalau aku sudah terikat sama kamu dan tak mungkin lepas. Aku pikir setelah itu semua telah selesai kan." Kata Agung apa adanya, ia merasa tak mungkin menyimpan hal semacam itu selamanya justru karena Imas berada di lingkaran mereka.


"Dan Imas tadi sudah mengatakannya tentang perasaannya ke kamu padaku dan aku merasa ia pun sudah mengatakannya juga ke kamu, apakah itu benar ?" Tanya Sari kini benar benar mengambil alih persoalan dan mulai terdengar mengintimidasi.


"Entahlah aku belum pernah mendengar Imas berkata suka padaku sampai saat ini, lagipula mana mungkin seorang wanita mau mengambil inisiatif duluan." Balas Agung datar.


"Benarkah? lalu tadi datang lagi Tyas yang entah darimana datangnya tiba tiba saja ngomong kenal dengan kamu dan kamunya juga dengan begitu gampangnya menanggapi tanpa mempedulikan perasaanku." Ujar Sari pedas, Agung hanya tertegun termangu mangu.


"Sekarang baru dua yang aku ketahui entahlah kalo besok bagaimana...mungkin masih akan datang lagi beberapa wanita mengaku kenal denganmu dan dengan sukarela menawarkan kamarnya untuk kamu masuki." Kata Sari sepertinya mulai bermaksud melepaskan segala rasa pepat yang menyumbat dadanya.


"Tapi aku hanya mencintaimu saja Yank, bagaimanapun juga aku takkan mampu memiliki semua wanita yang kamu sebutkan itu dan yang penting tak menginginkan juga." Ujar Agung lirih, sebenarnya lah ada dilema yang bergejolak di dalam benak pikirannya.


"Mungkin kita masih harus mengevaluasi hubungan kita lagi mas." Ujar Sari lirih.


"Maksudnya bagaimana, evaluasi? rasanya tak nyaman di hatiku untuk mendengar kata ini." Kata Agung agak berat.


"Aku akan memberimu kesempatan untukmu mencari wanita yang benar benar kamu inginkan untuk mendampingi kamu mas, bukan seperti aku yang selalu membuatmu kecewa." Kata Sari dengan kembali berkaca kaca matanya.


"Tidak perlu Yank, aku sudah memilih dan itu kamu jadi aku tak perlu yang manapun juga, tapi jika kamu memang sudah tak mencintaiku lagi silahkan bilang pada semua orang yang telah mengerti akan hubungan kita, bahwa kau ingin berpisah denganku." Ujar Agung begitu tegas.

__ADS_1


__ADS_2