OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 130 Lintang Kemukus


__ADS_3

Agung terus berteriak memanggil Tyas. Sekilas Agung masih melihat Tyas dan sebuah cahaya terang benderang di dalam suatu ruangan bersekat sementara di sekelilingnya sendiri gelap gulita.


Betapapun Agung berteriak memanggil dan ingin menghampiri Tyas, namun wanita itu sama sekali tak mempedulikannya, Agung sendiri melihat sekelilingnya yang kelam dan gelap dan tiba tiba saja ia terbangun dengan napas terengah engah.


Meskipun Agung termasuk orang dengan panggraita dan intuisi yang cukup tajam namun ia sama sekali awam dalam hal mengartikan sebuah mimpi. Dia belum bisa membedakan apakah mimpi itu adalah sebuah petunjuk ataukah bunga tidur biasa.


Untuk kali kedua Ia kemudian kembali beranjak dari kamarnya lalu turun ke bawah untuk seterusnya pergi keluar rumah dan berdiam diri dengan duduk di teras rumahnya. Suasana sangat hening dengan tanpa adanya jangkerik dan binatang malam lainnya yang sudah berhenti bersuara.


Agung baru saja hendak membaringkan dirinya di sebuah kursi kayu jati panjang ketika ia terkejut dengan suara pintu yang terbuka pelan dari rumah Anis yang ternyata Bapaknya sendiri. Agung masih terdiam sampai bapaknya menyapanya duluan.


"Kenapa nggak tidur di dalam nak, bukankah tadi kau bilang sangat lelah." Ujar Pak Sumarno.


"Lagi suntuk Pak, Bapak sendiri kok masih terjaga ?" Tanya Agung ganti balik bertanya.


"Kau sendiri yang tidak tau, Bapak selalu terjaga setiap dini hari begini, katena saat saat seperti inilah waktu yang paling mustajab untuk memanjatkan permohonan dan mengetahui kondisi sekeliling kita." Jawab Pak Sumarno yang kemudian berjalan ke tengah pelataran yang sudah semakin sempit imbas dari pembangunan dua rumah yang hampir menyita sebagian besar dari seluruh luas pekarangan milik keluarga turun temurun itu.


Agung hanya tertegun saat melihat Bapaknya kemudian berdiri menghadap ke arah barat dengan posisi tangan menengadah ke atas lalu dengan khusyuk mulai memanjatkan seluruh permohonannya.


Sejak saat itu matanya langsung terang dan tidak mengantuk lagi apalagi kemudian tiba tiba di langit yang gelap gulita meski di penuhi oleh bintang bintang yang berkerlip dari arah selatan tiba tiba seleret cahaya bintang berekor berwarna jingga kekuningan mengarah ke utara kira kira tepat di atas rumah budenya.


Sayangnya Agung tak melihat pasti ujung dari pergerakan bintang berekor yang bergerak cepat itu karena terhalang oleh rumahnya sendiri, sesaat ia begitu terpukau melihat fenomena yang begitu jelas dan sangat dekat di matanya itu namun begitu cepat dan singkat.


Agung masih tertegun seolah sedang mencerna sesuatu yang menggelitik dalam pikirannya, ia baru saja melihat lintang kemukus namun lagi lagi pikirannya buntu untuk mengartikan makna dari kehadiran dari bintang berekor yang oleh orang orang dulu selalu di artikan sebagai awal dari bencana itu.

__ADS_1


"Kau lihat apa tadi ?" Tanya Bapaknya yang ternyata sudah selesai memanjatkan doa malamnya.


"Lintang kemukus Pak...kira kira bakal ada apa yah Pak?" Tanya Agung lugu.


"Bapak sering melihat hal semacam itu nak, tapi kebanyakan gerakannya dari timur ke barat tidak seperti tadi dari selatan ke utara." Jawab Bapaknya.


Agung menjadi semakin bingung dan rasa rasanya ia menjadi sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Kyai Danuri untuk kembali menimba ilmu tentang kehidupan yang masih begitu dangkal.


"Iya tapi apakah ada sesuatu petunjuk dari hal itu Pak ?" Tanya Agung lagi, Ia masih merasa penasaran dengan hal hal semacam ini.


Bagaimanapun juga ia mempercayai hal hal fenomena semacam ini selalu mempunyai makna. Dulu saat di Jepang, tiba tiba ada seekor kupu kupu masuk entah darimana asalnya yang jelas kupu kupu itu terbang berputar putar sejenak di sekitarnya, awalnya ia tak mempedulikan sampai kemudian setelah pulang ke Indonesia ia mendapati berita Ibunya yang telah pergi selamanya tepat bersamaan dengan kejadian kupu kupu itu.


"Berdoa saja agar kita semua selalu selamat rahayu dan sentosa tidak kurang apapun, masalah kejadian tadi mempunyai makna atau tidak kita pasrah saja sama Yang Maha Pencipta." Ujar Bapaknya.


"Makanya selalu berdoa nak doa keselamatan untuk kamu sendiri dan untuk orang orang yang kamu kasihi, karena doa orang orang yang berpasrah diri mudah mudahan termasuk doa yang senantiasa diijabahi." Ujar Bapaknya.


Agung hanya mengangguk ada sedikit ketenangan dalam jiwanya meskipun firasatnya juga mengatakan akan ada hal yang buruk yang akan terjadi.


"Sudahlah nak, kau bilang hari ini kau akan mulai puasa kan, segeralah ambil makan sahur !" Kata Bapaknya lagi.


Agung hanya mengangguk mengiyakan perintah bapaknya karena di lihatnya jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah empat yang artinya ia sudah berada di luar rumah selama hampir sejam lamanya.


Saat Agung masuk ke rumah Anis, ternyata adiknya itu sudah berada di dapur.

__ADS_1


"Kamu kok sudah bangun nduk ?" Tanya Agung basa basi.


"Lah kan katanya Mas mau puasa hari ini kan, aku sengaja bangun lebih awal untuk bikin telur dadar buat makan sahur Mas." Ujar Anis terdengar ramah.


"Aduh terimakasih banyak ya nduk hehehe !" Ujar Agung terkekeh sambil duduk di depan meja makan.


"Ney ney nggak boleh hanya cukup berterimakasih saja Mas tapi, akan ada tagihan untuk layanan ini." Kata Anis sambil tersenyum licik.


"Hah....sudah kuduga kalo kamu begitu baik itu pasti ada ujung ujungnya ya kan ? Memang kurang uang yang dikirim Sari tiap minggu ?" Ujar Agung sambil tersenyum geli dengan tingkah adik tersayangnya itu.


"Nggak kurang Mas tapi kan duit kiriman Mbak Sari masuknya ke tabungan sedang aku butuh uang cash untuk beli laptop." Ujar Anis sambil menyajikan telur bebek dadar sayur garing yang baunya menggugah selera.


Agung segera menyendok nasi dalam penghangat nasi ke piringnya.


"Kamu nggak mau ikut makan sahur gitu Nis ?" Tanya Agung.


"Nggak lah yau...maunya laptop." Ujar Anis sambil memeletkan lidahnya lalu berlalu pergi ke kamarnya.


Agung segera berdoa untuk memulai niat puasanya sebelum kemudian menyantap makan sahurnya itu.


Dalam pada itu di kediamannya sendiri di Ambarawa, Sari juga melakukan hal yang sama dengan Agung yaitu makan sahur bersama Mamahnya, Sari memang tak pernah mengatakan juga akan berpuasa tapi setelah melihat kesungguhan Agung yang selalu konsisten dengan niatnya membuatnya juga tertarik untuk melakukan hal yang sama.


Sementara itu Irfan yang tengah tertidur pulas setelah menghabiskan pergumulan dua ronde yang dahsyat dengan Mamaknya, tak menyadari jika Mamaknya tengah meringis dan merintih kesakitan di kamar mandi belakang rumah mereka.

__ADS_1


Di tempat lain di sebuah kota pesisir utara pulau jawa yang terkenal dengan masjid agung yang di bangun pada masa wali songo, Farhan menemui apesnya ketika bertemu dengan Romi yang menjadi pasangan kencannya ternyata penggila bdsm yang psyco, Ia di siksa habis habisan sampai babak belur dengan mendapati anus nya luka sobek parah selain mukanya yang bonyok di pukuli.


__ADS_2