OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 134 Orang Baru


__ADS_3

Ambarawa


Pagi yang begitu cerah dengan langit yang biru bersih menandakan kalo hari ini bakalan panas dan kering meskipun hawa sejuk hampir selalu menyelimuti kota kecil yang di apit dua pegunungan itu.


Sari sedang berada di teras rumah menghadap laptopnya setelah selesai menyapu seluruh lantai di dalam rumah dan juga pelataran rumahnya, saat sebuah mobil yang tampak asing baginya datang dan memasuki pelataran rumah yang telah bersih habis di sapunya.


Dari dalam mobil itu keluar Ryan dan seorang lagi pria muda berpenampilan eksekutif muda yang rapi dan cukup tampan yang justru keluar dari pintu kemudi mobil itu.


"Sar !" Ujar Ryan memanggil adik iparnya yang hanya tertegun menatapnya.


Pria yang merupakan suami dari Ambarwati kakak dari Ambarsari itu segera mengajak partnernya yang masih asing di mata Sari itu melangkah menghampiri Sari yang masih tertegun meskipun sudah berdiri seolah menyambut mereka.


"Tumben sepagi ini mas bisa menyempatkan mampir kesini, Mbak Wati nggak ikut mas ?" Tanya Sari sopan seperti biasanya, ia memang akrab dengan kakak iparnya yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.


"Kenalkan dulu ini Pak Rahmat yang menangani perceraian kamu kemarin." Ujar Ryan, sementara ia sendiri dengan cueknya langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Sari yang tampak canggung di depan pria asing yang memberikan senyum ramah kepadanya itu.


Akhirnya Sari menyambut uluran tangan dari pria muda yang tampak seperti bos muda itu.


"Hai Sar ! panggil aku Rahmat saja." Ucap pria muda itu sambil tersenyum manis dan menatap Sari dalam dalam.


"Salam kenal mas, oh iya makasih ya mas sudah berkenan membantuku kemarin." Balas Sari juga sambil tersenyum ramah.


"Oh sama sama Sar, oh iya sekarang setelah resmi sendiri dengar dengar sudah dapat gebetan baru yah Sar ?" Ujar Rahmat apa adanya.


Sari hanya tersenyum sedikit saja untuk menanggapi kata kata Rahmat barusan.


"Jadi benar begitu yah ?" Kata Rahmat lagi.


"Iya mas, sebenarnya tepatnya bukan gebetan sih tapi kami sudah bertunangan." Ujar Sari lugas.


"Oh begitu...cepat sekali... sepertinya kamu ini lebih suka gerak cepat yah, tau tau sudah tunangan saja." Kata Rahmat sambil terkekeh.


Sari hanya tersenyum ringan.

__ADS_1


"Silahkan masuk mas, Mas Riyan ada di dalam." Kata Sari lalu duduk lagi di depan laptopnya.


Sepertinya Sari memang enggan berlama lama menanggapi Rahmat yang dirasakannya slalu menatapinya dengan pandangan penuh nafsu dan hasrat itu.


"Sepagi ini kau sibuk dengan laptop, ada sesuatu yang urgent kah ?" Tanya Rahmat lagi.


"Hanya kuli kok mas, buat nambah uang jajan." Kata Sari tanpa menoleh lagi pada Rahmat melainkan langsung sibuk dengan hp nya untuk menghubungi Imas dan Dewi.


Rahmat akhirnya hanya membiarkan Sari yang ternyata tidak seperti di bayangkan olehnya sebelumnya tentang sosok wanita muda yang baru bercerai pada umumnya. Selama ini ia banyak mendapati wanita wanita yang masih berpikir labil ketika baru bercerai namun Sari adalah pengecualian.


Sesaat ia masih sempat melirik Sari yang terlihat sudah sibuk dengan aktivitasnya sendiri sebelum kemudian ia menyusul Riyan yang sedang bercakap cakap dengan ibu mertuanya di ruang tamu rumah.


Namun hanya untuk sekedar basa basi karena sebentar kemudian Rahmat langsung mengajak Riyan untuk berpamitan, baik pada Bu Lastri maupun kepada Sari sendiri yang sampai akhir tetap bersikap dingin.


"Jadi kapan adikmu itu akan menikah, dia bilang sudah bertunangan tadi ?" Tanya Rahmat sambil menyetir mobilnya pada Riyan yang berada di sampingnya.


"Tau lah Pak...orang sebenarnya aku juga kurang begitu suka dengan lelaki yang akan jadi calon suaminya itu." Jawab Riyan.


"Nggak juga, entahlah dari awal hanya kurang suka saja, orangnya sok banget." Kata Riyan.


"Aku suka sama Sari, bisa bantu nggak dapetin dia dan sebagai imbalannya aku akan bilang bapakku untuk membantumu mendapatkan posisi di agraria." Kata Rahmat.


"Iya gampang lah kalo itu." Jawab Riyan sambil tersenyum.


"Gini saja besok kita adakan acara makan malam bersama istrimu dan usahakan kau bawa Sari selanjutnya gampang di atur." Kata Rahmat sambil tersenyum licik.


Dalam pada itu di tepian pantai di dekat pembangunan jalan tol pinggir laut Kota Demak, Farhan tengah tertatih tatih berjalan sambil merasakan nyeri remuk redam di sekujur badannya. Ia kini laksana seorang pengemis yang tak memiliki apa apa lagi karena hampir semua yang di milikinya telah raib termasuk kunci kontak truk yang di bawanya.


Sedangkan dia sendiri, ia ketahui telah jauh dari titik pangkalan di mana ia memarkirkan truknya saat transit sepulang perjalanan dari pengiriman barang ke Surabaya. Seharusnya pula saat ini ia sudah harus sampai di gudang pabrik tempatnya bekerja untuk kembali menerima job.


Pada akhirnya karena tak kuat menahan sakit yang terus menerus mendera badannya juga rasa pusing dan lelah yang membuatnya tersiksa, Farhan kembali ambruk terkapar dan kemudian tak sadarkan diri.


Bersamaan dengan itu, di RSUD di mana Sumarni di rawat, tiba tiba saja air mata wanita paruh baya itu berlinang merembes keluar sendiri tanpa sebab dan tak bisa ia tahan, sementara Joyo suaminya hanya bingung saat kemudian tiba tiba saja Sumarni menjadi histeris dan kejang kejang.

__ADS_1


Joyo hanya bisa berteriak teriak memanggil suster jaga untuk memeriksa kondisi istrinya yang tiba tiba saja menjadi tidak stabil itu.


Di sudut lain di sebuah ruangan klas 3 yang hanya tersekat oleh sebuah tirai saja sebagai pembatas antara bilik satu dengan bilik lainnya, Irfan dengan sabar dan telaten membantu membersihkan tubuh Mamaknya dengan menyibin tubuh Sarti yang semakin bertambah susut saja meskipun masih selalu terlihat menarik di matanya.


Sambil mengusap bagian tubuh Sarti, beberapa kali Irfan mendaratkan kecupan kecupan kecil baik di kening dan pipi maupun bibir Sarti yang selalu pasrah dengan apa yang dilakukan anak sulungnya itu kepadanya.


"Setelah operasi ini, aku takkan bisa memberikan anak lagi padamu." Bisik Sarti amat pelan.


"Gapapa Sayank, lagipula Niken sudah cukup untukku." Jawab Irfan sambil kembali mencium pipi Sarti.


"Buruan nanti ada yang melihat !" Kata Sarti berbisik sambil menatap anak sulung yang kini jadi pasangan hidupnya itu.


"Nggak akan...ini belum jam besuk lagipula mereka juga melakukan hal yang sama." Lagi lagi Irfan memberikan alibinya secara berbisik sebelum kemudian Irfan memaksa Sarti untuk saling beradu bibir sejenak.


Sambil menekan kepala bagian belakang Sarti, Irfan terus melumati bibir wanitanya itu untuk melampiaskan hasratnya.


"Kata dokter, setelah operasi kapan kira kira bisa melakukannya ?" Tanya Sarti lirih sesaat setelah Irfan melepaskan ciumannya.


"Sampai kau benar benar bisa dan tidak merasakan sakit lagi Sayank, aku akan sabar." Kata Irfan dan dengan penuh rasa kasih sayang ia membelai dan merapikan rambut Sarti.


"Yakin, kau kuat nahan ?" Goda Sarti.


"Tentu saja Sayank, lagipula kedepannya kita harus lebih hati hati lagi jika akan melakukannya." Kata Irfan.


"Kenapa? anak anak sudah pada tau ?" Tanya Sarti agak terkejut.


"Nggak. Bukan anak anak tapi Agung justru sudah tau hubungan kita Sayank." Ujar Irfan yang membuat Sarti terkaget setengah mati.


"Bagaimana bisa ?" Gumam Sarti.


"Sudahlah gapapa jangan terlalu di pikir dia takkan mengacaukan hubungan kita Sayank, percayalah !" Ujar Irfan menenangkan Sarti.


"Iya tapi...?" Keluh Sarti sangat lirih.

__ADS_1


__ADS_2