
Aku merasa menjadi seorang terdakwa yang harus pasrah dan bersiap menerima hukuman sekarang.
Tatapan mata yang cuek namun sinis dari Mas Toni di perkuat oleh tatapan penuh intimidasi dari wanita yang kuduga adalah istri dari Mas Toni mungkin dialah yang disebut Mbak Ndari kakak kandung Widya sendiri, dan parahnya Widya juga tampak hanya cuek dan mengacuhkan aku, tanpa ada kata tanya apapun darinya, ia lebih suka bermain dengan si kecil yang di gendongnya.
"Sekarang jelaskan sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kalian ?" Ujar Mas Toni terdengar ramah meski berbanding terbalik dengan sorot matanya yang menatap tajam padaku.
"Sebenarnya kami semua baik baik saja Mas, terutama Yesi, meski tadi sempat sedikit shock namun Yesi baik baik saja." Jawabku lirih.
"Sebenarnya apa yang terjadi...shack shock shack shock.... katakan terus terang saja jangan berbelit !" Tukas wanita dewasa yang memang ada banyak kemiripan dengan Widya itu.
"Tadi Yesi ingin berenang mbak di kolam renang GOR M namun ternyata disana ada sekelompok anak anak nakal yang ingin mencoba memaksakan kehendak mereka pada Yesi, ya sudah gitu saja semua baik baik saja." Jawabku sedikit kesal karena mereka semua sepertinya tak mempercayai aku.
"Gitu gimana maksudnya? Bisakah lebih jelas saja ngomongnya?" Timpal Mas Toni.
"Saya terpaksa menghajar anak anak nakal itu untuk membuat mereka jera." Jawabku datar.
"Ohh gitu..." Ucap Mas Toni.
"Eh Gung kirain sudah melarikan diri hihihi bentar yah aku buatkan minum dulu tunggu loh yah.." Ujar Yesi tiba tiba saja hanya sambil melongokkan kepalanya saja dari balik pintu, sementara rambutnya tergerai basah.
Aku hanya sekilas saja menatap Yesi yang kini terlihat lebih segar setelah membersihkan tubuhnya.
"Atau kamu ikut mandi dulu saja Gung disini?" Ujar Yesi lagi sambil tersenyum kecil.
"Nggak usah Yes makasih, kalo gitu aku pamit dulu yah..." Ujarku sambil beranjak berdiri dan mengulurkan tangan kepada Mas Toni.
"Tunggu tunggu memang kalian habis ngapain seh kok mandi keramas gitu..?Tanya Mas Toni entah bergurau atau serius.
"Apa yang mas pikirkan !!!" Bentak Yesi sambil cemberut menyemprot kakaknya yang hanya senyum senyum saja setelah itu.
"Mas saya pamit dulu...mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tindakan yang kami lakukan." Ujarku sambil sekali lagi mengulurkan tanganku pada Mas Toni hingga pria yang lebih dewasa dariku itu akhirnya menyambut uluran tanganku dan kami berjabat tangan.
__ADS_1
"Eh tunggu tunggu...jangan pulang dulu !!" Ujar Yesi sambil berlari menghampiriku sementara dia hanya melilitkan handuk saja untuk menutupi tubuhnya.
"Yesi pake baju dulu donk...!" Tegur Mbak Ndari kakak iparnya.
"Iya mbak maaf...Gung duduklah dulu sebentar yah, plessss...!" Ujar Yesi lirih sambil menatapku.
"Iya jangan lama lama badanku sudah gatal gatal nih aku perlu segera membersihkan diri juga." Jawabku.
"Ya ampun jadi tadi habis renang kalian tidak membilas dulu ?" Tanya Mbak Ndari yang mungkin sudah mulai paham dengan kejadiannya.
"Ya nggak mbak, Agung malah berkelahi melawan delapan orang anak anak nakal yang ingin memperkosa aku." Ujar Yesi menjawab pertanyaan kakak iparnya.
Mereka semua sempat bengong sesaat, mungkin berusaha membayangkan kejadian yang kami alami.
"Pakailah baju dulu Yes yang bener !" Ujar Mas Toni.
"Duduklah dulu dek ! biar mbak bikinin kamu minum dulu yah, maaf tadi mbak sempat salah sangka." Ujar wanita yang sudah matang usianya itu dengan nada bicara yang lemah lembut sambil tersenyum padaku.
"Ah nggak kok dek, sebentar yah, duduklah dulu bersama kakaknya Yesi !" Ujar Mbak Ndari ramah membuat aku jadi sungkan dan akhirnya hanya pasrah dan duduk kembali.
"Aku minta maaf yah tadi sempat salah sangka juga hehehe kalo boleh mas tau, Agung tinggalnya dimana?" Ujar Mas Toni juga mulai ramah.
"Gapapa kok mas, adalah hal yang wajar jika seorang kakak mengkhawatirkan adik perempuannya, karena saya pun juga akan begitu. Saya tinggal di kampung Tawangsari mas." Jawabku ramah meski kondisi tubuhku benar benar sudah tak nyaman saat ini.
"Gung hihihi maaf lama yah..." Ujar Yesi yang kini sudah menjelma menjadi sesosok bidadari.
Yesi duduk di dekatku sambil memamerkan senyumnya yang semringah, seakan sudah melupakan kejadian di kolam renang tadi yang mungkin bisa saja menimbulkan trauma sepanjang masa buat dirinya.
Tak lama kemudian Mbak Ndari sudah hadir lagi sambil membawa tepak berisi beberapa gelas minuman dan dua toples makanan ringan.
"Ayo di minum dek....maaf hanya teh hangat saja !" Ujar Mbak Ndari ramah setelah menyuguhkan minuman dan makanan itu di atas meja.
__ADS_1
"Trimakasih mbak maaf saya jadi bikin repot mbak saja." Ujarku.
"Ah nggak kok, justru kami yang harus trimakasih sudah nolongin Yesi." Jawab Mbak Ndari ramah.
"Ya sudah ayo di minum dulu apa adanya !" Timpal Mas Toni.
"Iya mas...Yes minum ! Wid...minum Wid..." Ujarku sambil mengangkat gelas ku seolah mengajak Widya bersulang. Widya hanya mengangguk sambil tersenyum saja padaku.
"Loh kamu kenal Widya juga ?" Tanya Mas Toni. Aku mengangguk.
"Kalo Yesi kami kenalnya sejak dari SMP, Widya kami kenal sejak sekolah di kotamadya mas mbak." Ujarku.
Mbak Ndari menatap Widya sejenak, namun sebentar kemudian Widya masuk ke dalam rumah sambil menggendong si kecil yang tampaknya sudah tertidur.
Tak lama setelah aku menghabiskan air minum dalam gelasku, aku berpamitan dengan alasan sudah tak tahan ingin segera membersihkan diriku, membuat mereka tak bisa menahan ku lebih lama. Meski kulihat Yesi terlihat kecewa.
"Besok atau kapan kapan bisa kan ketemu lagi." Ucap Yesi lirih.
"Mungkin kapan kapan Yes, besok aku sudah berangkat keluar kota." Jawabku ketika aku sudah di balik kemudi mobilku.
"Keluar kota kemana? Ngapain ?" Ujarnya kepo.
"Subang...aku sedang membuka usaha di sana Yes." Ujarku.
"Oh bolehkah aku ikut Gung, aku bosan di rumah ingin kerja juga..." Ujar Yesi.
"Hehehe kamu kan lulusan sarjana Yes masa mau kerjaan kuli...sudah yah sampai ketemu lagi, jaga dirimu baik baik Yes." Ujarku dan Yesi hanya mengangguk dalam dalam sambil menatapku dengan lekat.
Aku tau ada kekecewaan terlihat di pelupuk mata Yesi Yuliana, pertemuan kedua kami sudah tak lagi sama dengan pertemuan pertemuan kami dulu, namun hatiku sudah terisi oleh Sari dan akan terus begitu, karena aku akan menjaga cintaku itu.
Kulihat hp ku penuh dengan informasi panggilan tak terjawab dari Sari yang jumlahnya hampir 50 kali juga dari Aceng dan yang lainnya. Namun saat ini aku hanya ingin menyiram tubuhku dengan air bersih saja.
__ADS_1