
Kulihat kulitku sudah sangat kusam dan kering, badanku rasanya sudah mulai gatal gatal, rambutku awut awutan dan gimbal kering sudah seperti gembala kambing saja tampang ku sekarang. Namun dengan cuek aku berhenti di sebuah counter hp.
"Permisi mas saya memerlukan nomor perdana xxxx ada nggak mas ?" Ujarku.
"Oh ada mas tapi tinggal yang paket data itu mas, yang perdana biasanya kosong." Jawab penjaga counter yang sebaya denganku itu.
"Berapa mas ?" Tanyaku.
"Yang ini 20k yang ini 35k mas kalo yang 35k sudah aktif tinggal pake saja." Ujarnya.
Segera saja ku ambil uang dari saku celana, uang sisa pengeluaran tadi. Dan tanpa banyak cakap lagi segera ku bayar dengan uang pas saja sebelum kemudian bergegas lanjut pulang tak mampir mampir lagi.
Namun sampai di rumah aku terkejut ketika melihat Anis sedang duduk berdua dengan Sari, ngobrol di depan rumah darurat yang tak berteras itu. Kulihat rumahku yang hampir jadi pembangunannya pun sepi mungkin Kang Bejo dan anak buahnya sudah pada pulang.
"Halo sayank... kok nggak bilang bilang klo mau kesini." Ujarku setelah keluar dari mobilku.
Sari tampak cemberut, meski pandangannya tertuju kepadaku. Kulihat di atas meja terdapat banyak gelas dan yang hampir kosong isinya serta beberapa toples makanan ringan, yang bisa di artikan brarti Anis menjamu tamunya dengan benar.
"Mas dari mana kok kaya habis buruh di sawah gitu?" Tanya Anis sambil tertawa melihat tampangku.
"Ceritanya panjang, maaf ya nona nona aku mau mandi dulu..badanku gatel banget ini." Ujarku langsung bergegas ke dalam rumah dan ke sumur belakang lalu menyiram seluruh tubuhku.
Menghabiskan waktu hampir setengah jam lamanya untuk membersihkan tubuhku hingga segar lagi.
"Mas kok lama banget itu mandi apa ngapain? Mbak Sari sudah mau pulang..loh..." Ujar Anis berteriak saat aku sedang merapikan diri setelah berganti pakaian.
"Eh tunggu tunggu !!! Main pulang aza aku saja belum nyenggol nyenggol." Ujarku lalu buru buru keluar.
"Yank...kapan datangnya...besok aza ku jemput kok." Ujarku sambil tersenyum manis pada Sari.
Yang ditanya hanya cuek dan jutek wajahnya.Aku lalu mengambil duduk di sebelah Sari.
"Mas dari mana saja seh ?" Ujar Sari agak ketus dan jutek.
"Dari reuni yank teman teman smp ku ngajakin reuni tadi, aku nggak enak mau nolaknya." Jawabku setengah bohong.
"Pantesan ketemu ceweknya dulu...sampai di telpon nggak di jawab di wa ga di bales...enak yah mas ?" Ujar Sari mulai kelihatan ngambek.
"Maaf yank khilaf dari semalam aku ga pegang hp soalnya...kawan kawanku di sini juga ngajakin reunian jadi ga tau klo kamu nelpon, kan aku juga sudah bilang kemarin kalo berangkatnya besok dan aku jemput kamu di rumah." Jawabku.
"Belum apa apa saja sudah nyepelein apalagi nanti." Ujar Sari menggerutu.
__ADS_1
"Maaf yank...maaf banget...nanti ga akan ku ulang deh swear." Ujarku sambil mengacungkan dua jari tanganku.
"Nduk Nis tolong bikin air minum donk buat mbak ayunya !" Ujarku sambil menatap Anis yang tampak hanya menyimak kami.
Anis segera beranjak untuk melakukan apa yang kukatakan.
"Nduk tadi belum ada cat yang datang kesini yah?" Tanyaku lagi pada Anis.
"Sudah mas, di simpan Kang Bejo di dalam rumah." Jawab Anis, aku hanya mengangguk.
"Yank maaf yah aku benar benar salah tak bilang mau reuni sama teman temanku ke kamu dulu." Ujarku pada Sari.
"Gapapa mas itu kan urusan mas, aku mana penting." Jawab Sari masih ketus.
Aku hanya diam, karena hanya itu cara terbaik untuk meredam amarah dari seorang wanita, karena ngomong apapun juga akan tetap salah.
"Tadinya aku minta tolong kamu besok bawakan surat nikahku yang ketinggalan di rumah Mak Marni mas, tapi boro boro di balas, orang di telpon juga ga di angkat." Ujar Sari seperti menyindir.
"Oh ya sudah klo gitu ayo kita ambil sekarang saja yank, aku antar." Kataku sambil tersenyum, aku yakin amarah Sari sudah reda sekarang.
"Ini mas minumnya...yang ini buat Mbak Sari yah jangan di tukar." Ujar Anis sambil tersenyum senyum.
Aku langsung meminum air teh hangat yang di suguhkan adikku tersayang itu.
" Maaf mas gula buat mas habis soalnya." Ujar Anis sembari tertawa riang.
"Kenapa nggak beli berapa seh gula harganya?" Ujarku.
"Memang mas ngasih duit." Jawab Anis.
"Lah la kemarin kan mas sudah ngasih kamu duit sejuta memang sudah habis juga?" Tanyaku.
"Kan yang kemarin di tabung mas, yang hari ini kan mas belum ngasih." Jawab Anis tersenyum licik.
"Dasar bocil licik...." Ujarku menggerutu, kulihat Anis malah tertawa tawa, Sari juga kulihat mulai tersenyum.
Ah leganya duniaku sudah kembali normal. Entah kenapa hatiku sangat bahagia saat melihat wanita yang ku cintai itu tersenyum meski hanya sekilas saja.
"Coba yank itu teh kamu di minum dikit jangan jangan tawar lagi. Kalo tawar juga awas siyap siyap nerima hukuman kamu bocil." Ujarku sementara Anis hanya menjulurkan lidahnya mengejekku.
Sari menuruti permintaanku dengan meminum sedikit air tehnya.
__ADS_1
"Gimana mbak...?" Tanya Anis sambil tersenyum manis sekali.
"Oke kok dek...enak seger..." Jawab Sari sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Aku meraih gelas minuman yang baru saja di minum airnya oleh Sari, lalu aku pun meminumnya tepat di bibir gelas yang di tempel bibir Sari.
"Eh jangan begitu mas..." Ujar Sari berusaha melarang aku minum air minumnya dari bekas bibirnya.
Namun aku cuek dan justru menghabiskan air minumnya juga yang rasa manisnya pas itu. Anis dan Sari hanya memandangku saja saat itu.
"Kamu kok sampai kehausan gitu seh mas memang tadi ngapain aza reuniannya ?" Tanya Sari mulai lemah lembut.
"Tadi itu yank..."
Belum sempat ku lanjutkan bicaraku, tiba tiba dari balik rumah tetangga ku muncul Mas Riyan yang berturut-turut di ikuti Mbak Wati dan Ibu Lastri di belakangnya barulah kemudian bapakku muncul yang terakhir. Aku pun berdiri dari dudukku dan menyambut mereka.
"Mas..mbak...ibuk....!" Ujarku lalu menyalim tangan mereka satu persatu.
"Kamu sudah datang nak...?" Tanya Ibu Lastri ramah.
"Iya ibuk, tadi ketemu teman sekolah smp dulu ngajak reunian." Jawabku.
"Maruk juga kamu Gung, sekali bikin rumah dua langsung dan megah begini." Ujar Mas Riyan.
"Ah mumpung ada kesempatan mas, oh iya Bayu mana mbak..?" Ujarku.
"Tadi di bawa simbahnya ke Sumowono mas..jadi ga ikut kesini." Jawab Mbak Wati sambil tersenyum.
"Gung aku lihat ke dalam rumahmu boleh nggak..?" Tanya Mas Riyan sambil mengamati dua rumah kembar kami.
"Boleh saja mas, tapi hati hati takut masih ada paku atau besi besi yang bercecer." Jawabku.
Mas Riyan langsung melangkah menuju rumah yang belum jadi itu, bahkan Mbak Wati dan Ibu Lastri sepakat mengikuti Mas Riyan juga melihat lihat ke dalam rumah kami.
"Nduk Nis..." Ujarku sambil melambaikan tanganku pada adikku itu.
"Ada apa mas...?" Tanyanya.
"Tolong kamu beli pecel ayam dulu yah." Ujarku sambil mengeluarkan dompetku.
"Sudah nak...bapak sudah pesan ke Suminah tadi, sebentar lagi juga paling di antar kesini kok." Bapakku lah yang menjawabnya. Aku mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kalo gitu tolong kamu bereskan gelas gelas yang kotor itu nduk lalu bikin lagi air minum yang baru yah sekalian rebus air lagi untuk tambahan." Ujarku ke Anis, dan adikku itu langsung mengangguk menyanggupi.
"Mari ku bantu dek...!" Ujar Sari yang kemudian beranjak dari duduknya dan membantu Anis membawa gelas gelas bekas minum ke dalam rumah darurat.