
Langit yang tadi sempat cerah tampak menghitam dan menyembunyikan sang surya yang tadi sempat memberikan sinarnya sesaat, ketika para perempuan itu saling terisak dalam tangisan yang pecah saat aku sudah membukakan pintu mobil buat Sari.
Seperti aku, Sari juga tak banyak barang yang di bawanya selain tas travel berisi pakaian miliknya dan beberapa barang pribadinya serta satu buah kardus yang berisi beberapa barang makanan. Semua sudah kumasukkan di jok kabin belakang bersama koperku.
"Mas kami pamit yah mohon doa restunya smoga usaha kami lancar. Titip ibuk mas, kalo ada apa apa jangan sungkan menghubungi." Ujarku setelah menyalim tangan Mas Riyan yang terpaut sepuluh tahun lebih tua daripada aku usianya itu.
Mas Riyan hanya tersenyum dan mengangguk, sebelum kemudian dia mengatakan.
"Dengar dengar kamu akan membuka toko pakaian gitu kan Gung yah....?" Katanya.
"Iya begitulah mas." Jawabku singkat saja.
"Baiklah kapan kapan kami akan usahakan mengunjungi kalian." Ujar Mas Riyan lagi.
"Siyap boss kami akan menantikannya." Jawabku.
Aku menutup pintu mobil rapat rapat ketika Sari sudah naik ke dalamnya, wajahnya tampak semringah meski baru saja mengeluarkan air matanya. Beda jauh dengan Mbak Wati dan Ibu Lastri yang tampak sembab wajah mereka.
Setelah membunyikan klakson sebagai tanda pamit, aku lalu melajukan mobilku pelan pelan.
"Kita lewat Bandungan saja mas biar ga muter." Ujar Sari.
"Tunjukkan jalannya yank aku belum begitu paham " Kataku meski dari display terlihat jelas petunjuk rute yang bisa aku lalui.
"Kirain tadi empat tangan besi juga ikut kita mas." Kata Sari lagi bersamaan dengan hujan yang turun mengguyur dengan derasnya seperti saat aku berangkat dari rumahku tadi.
"Mereka akan menyusul besok yank, sudah ku transfer juga kok ongkos jalan buat mereka. Kenapa, kecewa ga ada mereka?" Jawabku.
"Iihhh bukan begitu mas, kan kalo ada mereka jadi ramai suasananya." Ujarnya, yang kuakui memang benar karena empat tangan besi itu cukup pintar ngebanyol yang lucu lucu di tunjang dengan tampang mereka yang benar benar ndeso.
"Kita harus mempersiapkan akomodasi dulu buat mereka yank." Ujarku.
"Memang nanti kita ga serumah bersama mereka mas ?" Tanyanya.
"Nggak donk, tapi semua sudah siap kok kalo kita nanti akan menempati rumah peninggalan ibuku." Ujarku.
"Hanya berdua mas... nanti kata orang orang gimana ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ya nggak gimana gimana. Atau kamu mau milih tinggal bersama empat tangan besi saja? tempatnya juga longgar ada sepuluh kamar soalnya. Ujarku agak dingin.
"Iihhh ya nggak lah mas, kamu itu kok tumben sensi gitu seh mas... cemburu yah aku ngomongin empat tangan besi mulu?" Tanyanya sambil tersenyum manis. Aku hanya diam.
Aku juga nggak tau kenapa aku merasa nggak suka, Sari berbicara tentang orang lain seolah orang itu mampu menyita segenap perhatiannya.
"Ya sudah mas maaf yah aku nggak akan ngomongin empat tangan besi lagi." Ujarnya lagi.
"Maafkan aku juga yank, kamu nggak salah kok hanya pikiran aku saja yang rasanya tegang mungkin efek ingin memulai usaha pertama kalinya." Ujarku.
"Jangan terlalu membebani pikiran kita dengan hal semacam itu mas, karena yang perlu kita lakukan hanya menjalani dan menikmatinya." Kata Sari bijak.
"Kita kanan apa kiri yank ini ?" Tanyaku setelah kami tiba di sebuah simpang tiga.
"Kiri saja mas, kita bisa lewat Temanggung nanti sebelum lanjut jalan tol apa jalan kota kota." Jawab Sari yang aku setujui.
Sari lalu membuka sebuah bungkusan anyaman bambu yang ternyata isinya kue kue.
"Mas aku suapin kue apem yah...dingin dingin gini bawaannya lapar mulu." Ujar Sari sambil menyodorkan sepotong kue yang kenyal itu ke mulutku, setelah itu ia menyuapi dirinya sendiri.
"Tadi kamu belum sempat sarapan kah yank ?" Tanyaku.
"Kan aku sudah minta maaf yank, kamu benar aku memang sedang sensitif tadi." kataku sambil tersenyum.
"Mas sebaiknya singkirkan pikiran konyol bahwa aku menyukai empat tangan besi dengan perasaan lebih. Aku memang menyukai mereka karena mereka itu temanmu tidak lebih dari itu, lagipula mereka juga perlu mendapat respek dariku karena mereka juga membantu kamu menyelamatkan aku kan mas." Ujarnya menjelaskan perasaannya.
"Iya yank aku minta maaf soal itu." Kataku lirih.
"Sejak pertama kali bertemu dengan kamu mas, aku tau kamu telah merebut seluruh hatiku, jadi jangan pernah berpikir aku bisa punya perasaan lebih terhadap orang lain." Ujar Sari menggebu gebu.
"Iya sayank iya...maafkan aku." Kataku benar benar menyesal telah bersikap cemburu tanpa alasan padanya.
"Farhan masih suka menghubungi kamu yank?" Tanyaku.
"Nggak, nomornya sudah aku blokir dan kalo bisa mas jangan ngomongin Farhan lagi aku males." Ujarnya giliran sewot.
"Ya sudah ngomongin empat tangan besi saja klo gitu yank." Kataku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mas jangan bikin jengkel gitu ah..." Ujarnya sambil cemberut.
"Maaf yank...kok sekarang aku yang salah terus jadinya, padahal aku cuma ingin tanya perkembangan perceraian kamu yank." Ujarku.
"Lancar kok, pengacara yang di tunjuk Mas Riyan sudah mengurusnya, minggu depan sidang pertamanya." Jawabnya mulai ramah lagi.
"Syukurlah, aku sudah tak sabar ingin meresmikan hubungan kita yank." Ujarku.
"Memang mas benar benar sudah yakin ?" Tanyanya.
"Maksud kamu gimana yank, bukankah itu memang keinginan kita dari awal ?" Tanyaku balik.
"Maksudnya mas memang sudah siyap mendengar omongan miring dari orang orang di Tawangsari ? apalagi mas tau kan sikap Mak Marni pada kami gimana kemarin." Ujar Sari.
"Soal itu biar aku urus yank, percayalah biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu, kalo mereka masih terus menyebar isu dan desas desus nggak benar maka terpaksa." Ujarku.
"Terpaksa gimana ?" Tanyanya.
"Bukankah kita masih ada video bengkok mesum Mas Farhan, kita akan membuka mata mereka dengan kenyataan itu." Ujarku.
"Mas tega begitu? kemarin sebenarnya Mas Riyan juga sempat ingin menunjukkan video itu pada mereka namun dilarang oleh mamah." Ujar Sari.
"Apa boleh buat jika mereka terus membuat isu isu yang menyakitkan kita semua, bagaimana juga aku harus memikirkan keluargaku yank. Kamu tau sebenarnya yang jahat di keluarga bude itu Pakde Joyo sendiri karena semua hal jahat ada dalam wataknya." Kataku.
"Tapi Mak Marni juga sama sekali tak menyukai aku mas, sikapnya padaku penuh kepalsuan dari dulu." Ujar Sari.
"Yank ini jalan ke Temanggung yah ?" Tanyaku saat sampai di sebuah persimpangan.
"Iya mas kita lewat ini saja nanti tembusnya langsung sampai Batang." Ujarnya.
"Kamu kok sepertinya paham betul daerah daerah ini memang kamu suka berkeliaran ya yank dulunya?" Tanyaku.
"Eits bahasa kamu itu loh mas, memang aku ayam apa berkeliaran. Aku tuh dari dulu memang suka traveling mas ketularan sama almarhum bapakku." Ujarnya.
"Hehehe maaf aku salah bahasa ya yank...aku juga suka kok traveling. Apalagi yang seperti saat ini traveling bersama kamu gini, oh nikmat mana yang engkau dustakan? Nothing..!" Ujarku sambil tersenyum.
"Buatku mas perjalanan kali ini penuh dengan impian impianku mas, mimpi tentang hari esok, mimpi tentang kita dan..." Ujarnya.
__ADS_1
"Tapi ini bukan mimpi sayank...ini kenyataan, ini awal bagi kita untuk membangun pondasi rumah kita nantinya." Ujarku.
"Iya mas...aku percayakan kamu untuk membawa seluruh impianku mas..."