OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 85 Bucin


__ADS_3

Seperti biasa setiap malam aku mengecek semua transaksi penjualan yang dilakukan toko, berdasar laporan data yang di buat Imas sehingga kami tau persis berapa besar keuntungan usaha yang kami dapatkan tiap harinya.


Dari data itu pula yang ku jadikan untuk berhubungan dengan para vendor pemasok kami, seperti sekarang aku lakukan melakukan repeat order untuk beberapa produk yang sangat booming penjualannya, kali ini aku melipatgandakan order untuk beberapa produk itu.


"Mas... sekarang gitu yah mulai tebar pesona ke semua gadis gadis." Kata Sari, ia baru saja selesai mandi.


"Ah masa seperti itu tebar pesona Yank? terus yang nggak tebar pesona gimana ?" Jawabku santai saja.


"Yank ini kok keuntungan kita banyak amat hampir 300 jutaan loh kamu bener kan ngasih harganya ?" Ujarku, heran aza aku ambil untung paling banyak hanya 20 persen saja itupun hanya ku terapkan di beberapa produk tertentu saja.


Misalnya busana couple premium batik danar ataupun produk jas dan blazer premium yang harga belinya juga sudah cukup tinggi, karena konsumen barang barang itu tentunya orang berduit tebal, jadi meski aku ambil untung 20 persen juga masih sangat rendah dan kompetitif apabila di banding dengan harga di pusat belanja lainnya.


"Kan ada dana masuk dari DP indent mas." Ujar Sari sambil mengenakan baju tidurnya.


"Oh iya lupa aku..." Ujarku terkekeh


"Makanya jangan suka tebar pesona dan cari muka pada setiap cewek biar nggak pelupa." Kata kekasihku itu agak pedas.


"Lah terus gimana Yank solusinya biar aku nggak cari muka, bukannya normal kalo orang ganteng itu di banyak fans ceweknya, contohnya kamu sendiri kamu juga suka karena aku ganteng kan coba kalo aku kaya gini..." Ujarku sambil menonggoskan gigi atasku sambil nyengir.


Sari yang melihatku seperti itu langsung tertawa geli membuat wajahnya yang tadi cemberut jadi semringah.


"Kalo aku seperti itu mana mungkin kamu tertarik kan." Ujarku sambil memeluknya dari belakang lalu ku cium pipinya.


"Ihhh jangan usil aku mau sisiran dulu." Ujar Sari dengan raut muka yang masih menahan tawa.


"Ini juga rambutnya tiap hari keramas klimis terus, kaya orang di apain aza, di senggol enggak di sentuh enggak tapi nya keramas mulu." Ujarku sambil membelai rambutnya yang masih setengah basah meski sudah di keringkan dengan handuk.


"Apaan seh hahahaha..." Akhirnya meledaklah tawa renyah kekasihku itu, ia tak mampu menahannya lagi.


Aku lega jika kekasihku itu tertawa karena tawanya itulah yang mampu mengalihkan duniaku dan dari setiap senyum yang tersungging di bibirnya yang sensual indah itulah duniaku jadi penuh warna.


"Sudah ah sana sana mandi !!!" Ujar Sari sambil meraih sisir di atas meja riasnya namun tak berusaha melepaskan dirinya dari aku yang masih memeluknya.


"Iya siyap Bu boss...!!!" Kataku kemudian aku melepaskan pelukanku dan berlalu ke kamar mandi di belakang.


Setelah itu aktivitas kami seperti biasa saja Sari lebih memilih langsung tidur beberapa saat setelah ia menyelesaikan makan malamnya yang tertunda karena mengantar Imas dulu tadi.


Kulihat di meja makan nasi rames dari Teh Yanah makan malamku juga telah ia siapkan bersama satu box martabak telor yang masih sisa cukup banyak karena Sari hanya memakannya beberapa potong saja.


Dari tiga kotak martabak yang di belinya tadi satu di antaranya ia kasih pada Dewi satu lagi di simpannya di lemari pendingin mungkin buat di makan sarapan besok. Memang kalo untuk urusan perut kekasihku itu sangat efisien sekali, dia paling tidak suka membuang makanan sisa.


Keesokan paginya


Seperti biasa kami sudah berkumpul di toko seluruhnya karena mulai hari ini kami sudah memutuskan untuk mengadakan diskusi singkat sebelum melakukan fungsi tugas masing masing.

__ADS_1


Aceng mulai ku berikan porsi sebagai pimpinan karena seminggu lagi aku sudah berencana pulang kampung. Dia terlihat mulai menunjukkan kecakapan nya bertugas sebagai manajer operasional yang sebenarnya.


"Ceng hari ini kamu tidak boleh kemana mana yah, aku sama Mas Anto mau ke Jakarta, dan Doni setelah ini ikut aku ke office." Ujarku sesudah Aceng selesai memimpin doa bersama.


Aku langsung menuju office diikuti Doni di belakangku.


"Mas Doni hari ini kamu ke Pekalongan ngambil barang ke batik unggul yah." Kataku tanpa basa basi.


"Sendirian boss ?" Tanyanya.


"Kita kurang orang, Mas Trimo tak bisa meninggalkan gudang sementara Riko juga sibuk bantu Dewi, kalo Teh Yanah kau ajak teman temanmu bakal kelaparan." Ujarku sedikit menyindirnya.


Doni hanya terdiam.


"Gimana kalo nggak mau sendirian kamu yang ikut aku ke Jakarta biar Mas Anto yang ke Pekalongan, terserah pilih mana ?" Ujarku.


"Aku ikut ke Jakarta saja." Ujar Doni.


"Yakin mas, kalo ikut aku kamu tak dapat jatah uang jalan loh." Ujarku.


"Ah bodo amat biar Anto saja yang ke Pekalongan, lagian sama kalo sama kamu aku tak butuh uang jalan kan." Ujarnya pintar.


"Ya sudah tolong panggilkan Mas Anto kesini dulu mas." Ujarku, Doni lalu mengeluarkan hp nya dan menghubungi Suranto.


"Di panggil boss ke office." Ujarnya lalu mematikan hp nya dan lalu mengantonginya lagi.


"Boss gimana berangkat sekarang ?" Ujar Anto tiba tiba begitu ia membuka pintu office.


"Mas Doni keberatan ke Pekalongan sendiri mas, jadi Mas Anto saja yang ke Pekalongan nya, ini cek untuk pembayaran repeat order batik unggul, nanti sebelum sampai sana hubungi dulu atas nama ini." Ujarku sambil menyerahkan selembar cek senilai delapan ratus juta lebih itu serta kertas berisi nama dan nomor telponnya pada Suranto.


"Nah ini uang jalannya buat bbm dan makan siang di jalan" Ujarku lagi sambil memberikan sepuluh lembar uang ratusan ribu ke Suranto dengan estimasi ongkos bbm jika lewat tol hanya dua ratus ribuan sementara isi kartu e toll juga segitu maka uang jajan Suranto juga sudah cukup banyak sisanya.


"Makasih banyak boss !" Ujar Suranto.


"Tapi mas ke Pekalongan nya sendirian saja gapapa kan ?" Tanyaku.


"Siap boss kalem saja." Jawabnya.


"Baiklah silahkan kalo mau berangkat sekarang tolong di cek dulu kendaraan supaya aman." Ujarku lagi.


"Sudah boss semua kendaraan siap di pakai." Ujarnya.


"Baik, selamat jalan mas hati hati di jalan kalo ngantuk sebaiknya istirahat dulu di rest area." Ujarku.


"Siyap kalo gitu saya pamit sekarang boss, Don hehe duluan yah." Ujar Suranto semringah sambil menyalami aku dan Doni yang masih ada ikatan saudara dengannya itu.

__ADS_1


"Mas tolong periksa dan panasin kendaraan dulu yah aku mau bikin beberapa dokumen dulu." Ujarku pada Doni.


"Siyap laksanakan komandan." Ujar Doni semringah lalu meninggalkan aku sendiri di office.


Sebenarnya aku tengah menyiapkan surat perjanjian jual beli sawah milik keluargaku yang kini berada di tangan Mas Harno, aku membuat surat semacam itu dengan referensi dari sebuah situs notaris berbadan hukum.


Hari ini tepat sejak aku memberi ultimatum pada Mas Harno imbas kekisruhan yang dialami keluargaku yang dia sebabkan karena menghasut keluarganya.


"Yank nanti kalo ke bank minta di antar sama Mas Riko saja yah aku pamit sekarang." Ujarku berpamitan pada Sari yang kini ikut membantu tugas Dewi jadi kasir meskipun hanya dengan modal kalkulator saja di mejanya.


Kami berciuman sejenak meskipun di saksikan banyak pasang mata yang menyaksikan aksi romantisme kami.


"Hati hati di jalan yah Yank, awas jangan mampir mampir." Bisik kekasihku itu.


"Dew, aku tinggal dulu yah, nanti tolong bilang sama Aceng untuk memesan mesin kasir satu lagi ke Eterna." Ujarku pada Dewi.


Sekejap kemudian aku dan Doni yang menjadi sopir sudah melaju meninggalkan tokoku yang mulai ramai di datangi pengunjung.


"Boss menurutku orang orang yang berbondong bondong ke toko kita itu bukan dari daerah sini loh." Ujar Doni, aku setuju perkataannya.


"Bodo amat mas yang penting mereka membeli dagangan kita sehingga memberi pekerjaan buat kita." Jawabku.


"Hehehe iya seh." Ujar Doni.


"Mas sudah berapa kali ?" Tanyaku menggodanya.


"Berapa kali apanya? hahaha..." Jawab Doni.


"Teh Yanah...?" Tanyaku.


"Maksudnya ginian ?" Kata Doni sambil menyelipkan jempolnya diantara dua jari telunjuk dan tengahnya.


"Hehehe iya dasar maniak Lu...!" Ujarku sambil tertawa.


"Berapa kali yah ada mungkin empat kali mungkin." Jawab Doni sambil tertawa ngakak.


"Gila kamu, kalo istri orang itu hamil bagaimana ?" Tanyaku.


"Ya mau gimana lagi boss, tapi aku mau kok bertanggung jawab soalnya aku juga sreg sama Teh Yanah...ulekannya bikin mau lagi mau lagi." Ujar Doni sambil tertawa.


Aku juga tertawa ngakak, baru kali ini rasanya obrolan kami selepas dan sebebas ini sama sekali tak ada kecanggungan di antara kami.


"Juga pintar masak juga kan ?" Kataku.


"Nah itu ..boss juga paham kan." Ujar Doni.

__ADS_1


"Tapi kalo ketauan suaminya bagaimana mas, apa kamu nggak kasihan sama Mang Darom ?" Tanyaku.


"Katanya suaminya sudah impoten, sudah berbulan bulan katanya nggak pernah di sentuh." Ujar Doni.


__ADS_2