
Belanja untuk kali kedua ini semuanya relatif lancar tak perlu banyak berputar putar karena tempat tempatnya sudah terpetakan dengan baik, meski ada beberapa penambahan item baru di gerai grosir yang juga baru yang berarti juga relasi pemasok baru.
Doni juga mulai memperhatikan dengan sungguh sungguh setiap transaksi yang kami lakukan, meski kemudian ia terpaksa harus mondar mandir, mengantar dan membantu petugas angkut barang untuk membawa barang belanjaan ke mobil box.
"Boss sudah penuh." Ujar Doni dengan terengah engah karena kecapekan naik turun dan berkeliling pasar busana yang luasnya setara dengan satu kampung ini.
Aku memang sudah menghabiskan hampir setengah milyar untuk stok yang kebanyakan di dominasi busana untuk wanita semua fungsi.
"Yah, sebenarnya masih banyak yang harus di beli, trus gimana donk masa cuma segini jauh jauh." Ujarku sedikit mengeluh.
"Begini saja boss, karena anda telah berbelanja di toko kami senilai lebih dari 100 juta maka kami beri penawaran fasilitas ekspedisi kami untuk mengirimkan barang ke toko anda jika anda bertransaksi 50 juta lagi, dengan biaya kirim gratis plus rabat." Ujar seorang juragan di gerai dimana aku belanja saat ini.
"Oh boleh boleh Pak boss, dengan senang hati kami akan mengambil penawaran itu." Ujarku senang.
"Baiklah silahkan di tulis saja order anda di sini, dan besok kami sudah akan mengirimkannya pada toko anda." Ujar juragan bertubuh tambun besar itu.
Aku tertarik pada model lingerie yang di tawarkan di gerai ini dengan harga yang sangat kompetitif mengingat busana seperti ini tergolong untuk wanita modern golongan menengah ke atas saja yang tertarik memakainya, namun begitu aku tetap membelinya dalam jumlah stok cukup banyak terdiri dari beberapa merk berbeda.
Selain itu pakaian kasual made in brand lokal terkemuka dan impor baik untuk pria dan wanita bahkan anak anak juga banyak aku ambil untuk order dalam jumlah besar, mengingat modelnya yang fashionable dengan harga sangat ramah intinya sangat menjual sangat di rekomendasikan Imas untuk bahan belanjaan ku.
Akhirnya bahkan aku masih menghabiskan duit 200 juta lagi untuk order barang barang itu.
Seperti sebelumnya kami baru keluar dari pasar sandang terbesar itu setelah tengah hari, transit di rumah makan yang di pilih Doni sejenak untuk mengisi bbm perut kami.
Baru saja kami hendak memasuki mobil box tiba tiba aku merasa ada orang menepuk pundakku.
"Hai bro, gimana kabarnya? masih ingat aku kan? Roni temanmu di kampung." Ujar pria berambut cepak dengan kaos warna hitam polos dan waist bag melintang di dadanya.
"Oh iya apa kabar kamu Ron, kemana saja selama ini ayo masuk..!" Ujarku sambil mendorong pria itu masuk ke kabin dimana Doni sudah ada di balik kemudinya.
Hari gini mau main hipnotis murahan kaya gini hehehe, sudah bosan hidup rupanya.
Aku tersenyum saat melihat wajah tegang dan pucat pasi, orang yang mengenalkan dirinya bernama Roni teman kampungku itu. Apalagi Doni juga terlihat cuek saja dan sesekali tersenyum menyeringai.
Doni mulai melajukan mobil keluar dari area pasar sandang yang terkenal akan preman premannya yang konon tak segan untuk menghilangkan nyawa para korban korbannya itu.
Melihat orang itu semakin pucat pasi aku sebenarnya ingin tertawa, tapi mengingat jika kelakuan orang orang semacam ini yang tak mengenal belas kasih, jadi terlintas di benakku untuk memberinya sedikit pelajaran.
"Udah dapat hasil banyak Ron ?" Tanyaku sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Eh...hasil apa? sepi bro." Ujarnya sambil tersenyum.
"Kau ingin di turunkan dimana Bang ?" Tanya Doni dingin dan ketus tanpa sekalipun menoleh.
"Disini saja gapapa Om." Jawab pria yang kelihatannya jauh lebih tua dari kami itu.
"Entar kita main ke Pancoran dulu sebentar... gapapa kan ?" Ujarku menimpali.
"Aduh kejauhan Om." Ujar pria itu semakin kusut mukanya.
"La tadi kenapa situ ikut ?" Kata Doni ketus dan kasar.
Pria itu hanya diam, mencoba tenang tapi aku yakin saat ini dia sedang panik luar biasa.
"Itu tas apaan isinya ?" Ujarku dengan tatapan mengintimidasi.
"Hanya rokok Om, juga hp..." Jawabnya.
"Coba lihat !" Ujarku.
"Ga usah Om.." Jawab orang itu.
"Kalo di suruh lihatin ya lihatin !!" Ujar Doni galak.
"Aduh kok main tangan seh Om...!" Ujar Pria itu sedikit keras, kulihat dia bersiap untuk balik memukul Doni namun aku langsung menahan tangannya dan meringkusnya.
"Udah nggak usah balas, biarin aza lah." Ujarku sambil tersenyum.
"Biarin gimana orang di pukul kok nggak boleh bales." Ujarnya membentak, pria itu meronta ingin lepas dari ringkusan ku, namun sia sia karena aku mengunci pergelangan tangannya yang jika ku pelintir sedikit saja akibatnya bisa fatal buatnya.
Doni langsung menepikan kendaraan di bawah jalan layang LRT.
"Kenapa nggak terima ? ayo kalo mau balas !" Kata Doni sambil menampar wajah pria itu dengan keras.
Pria itu menjerit kesakitan, lalu meronta ronta namun kuncian ku lebih kuat darinya hingga ia pasrah menerima tamparan keras dari Doni berkali kali.
"Ampun bang ampun !!!" Ratap pria itu.
"Salah sendiri siapa suruh jadi penyamun." Ujar Doni sambil terus memukuli orang itu dengan kasarnya sampai mukanya babak belur tak berbentuk lagi.
__ADS_1
"Ingat yah kalo kita bertemu di Tanah Abang lagi bukan hanya seperti ini yang kau terima namun dengan senang hati aku akan melemparmu ke kali ciliwung." Ujarku sambil membuka pintu lalu menarik pria itu keluar dan melemparkannya ke selokan pinggir trotoar.
Ku biarkan orang itu mengumpat sejadi jadinya sebelum kami tinggalkan begitu saja untuk melanjutkan perjalanan ke tempat Mas Harno yang tinggal beberapa jengkal lagi saja.
"Ke depan kita harus hati hati mas, orang orang semacam itu suka dendam soalnya." Ujarku.
"Iya, tapi dari pengalaman yang sudah sudah orang orang seperti mereka juga akan banyak belajar dari kesalahan salah sasaran korbannya, kebanyakan dari mereka akan kapok." Kata Doni.
"Bagaimana kalo mereka keroyokan?" Tanyaku.
"Yang keroyokan bukan preman pencoleng semacam itu boss, tapi yang suka malak dan nagih iuran iuran keamanan gitu biasanya mereka banyak anggotanya." Ujar Doni.
"Apapun itu, kalo ke Tanah Abang minimal ada temannya, jangan sendiri." Ujarku.
"Ya terserah boss saja kalo begitu hehehe." Kata Doni sambil terkekeh.
"Boss ini mau ke tempat kakak boss dulu itu kan ?" Tanya Doni kemudian.
"Yupz tepat sekali, masih ingat kan jalannya ?" Ujarku.
"Masih." Jawabnya sambil fokus ke jalanan pemukiman padat penduduk yang sempit namun sangat ramai itu.
Pada akhirnya Doni memang masih hapal jalan menuju kediaman kakak sepupuku itu.
"Boss tampaknya tak ada orangnya, pintunya tutup." Kata Doni.
Aku mulai geram dengan Mas Harno yang sepertinya menyepelekan aku.
"Tunggu saja di sini !" Ujarku sembari membuka pintu lalu keluar dan bergegas menuju rumah Mas Harno.
Ku ketuk ketuk pintu sebentar.
"Eh nyari Mas Harno yah mas ?" Tanya seorang ibu ibu tetangga yang rumahnya di sebelah rumah Mas Harno.
"Iya Buk, saya adiknya." Ucapku.
"Wah telat mas, mereka baru pulang kampung tadi pagi untuk berobat, Mas Harno nya sakit stroke." Ujar ibuk tetangga Mas Harno itu ramah.
"Oh baiklah Ibuk..makasih informasinya." Ujarku.
__ADS_1
"Sama sama mas." Balas Ibu paruh baya itu sambil tersenyum.