
"Gimana nduk Sar, kira kira bisa nggak nemenin aku dan mbak kamu, makan nanti malam? kita dapat undangan dari Pak Rahmat. Kebetulan hari ini dia sedang merayakan milad lahirnya." Ujar Riyan lewat panggilan by ponsel.
Sudah dua hari ini ia pusing membujuk baik Sari atau istrinya sendiri untuk menerima tawaran makan malam dari Rahmat.
Sari yang tengah menyelesaikan sembahyang subuhnya sebenarnya merasa enggan menanggapi panggilan dari kakak iparnya itu karena di rasanya kurang tepat waktunya yang membuatnya harus terburu buru.
Sebenarnya Ia tau bukan Agung yang menelponnya karena sejak dua hari ini nomor kekasihnya itu sudah tidak aktif lagi, dan ia tau betul apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Sepagi ini mas ngebel hanya untuk hal itu, iseng banget sih mas gangguin orang lagi shalat saja." Sahut Sari agak kesal.
"Jangan gitu lah Sar, biar gimana juga kan kita pernah di bantu sama dia, nggak enak loh kalo langsung nolak kan kesannya kita nggak tau terima kasih." Ujar Riyan meradang.
Sari semakin jengah mendengar Riyan seolah merajuk seperti anak kecil.
"Ingat mas, kita tidak minta tolong secara gratis jadi nggak ada kata hutang budi yah mas, kenapa kesannya sekarang seolah aku ada hutang budi sama Pak Rahmat, lagian Mas Riyan kan tau aku sudah bertunangan, apakah pantas seorang wanita yang sebentar lagi di pinang orang harus menerima tawaran makan malam dari pria lain." Kata Sari agak keras.
"Tapi Sar, masalahnya bukan seperti itu tapi lebih ke aku sendiri nduk, gini saja aku mau jujur sama kamu aku sebenarnya sedang mengarah suatu posisi di agraria dan kebetulan bapaknya Rahmat itu termasuk pimpinan di kantor agraria jadi jika aku berhasil mengambil hati Rahmat maka kemungkinan untuk aku mendapat posisi yang aku inginkan terbuka lebar." Ujar Riyan akhirnya jujur dengan niatnya yang sebenarnya.
"Jadi Mas Riyan bermaksud mengorbankan aku demi ambisi mas itu?" Kata Sari agak ketus.
__ADS_1
"Cuma makan malam saja kok Sar, jangan berlebihan lah lagipula apa salahnya menghormati orang lain." Kata Riyan masih gigih merayu.
"Baiklah tapi cuma makan malam saja nggak lebih dan Mbak Wati serta Bayu harus ikut. Tanpa itu terpenuhi lupakan saja." Ujar Sari sembari menutup panggilan itu.
Riyan terkejut, Sari bisa begitu kasar memperlakukannya meski begitu ia tetap tersenyum lebar penuh semangat. Ia kini tak akan susah membujuk istrinya lagi karena dari pihak Sari sendiri sudah menyanggupi.
Dalam pada itu, memasuki lelaku di hari ketiganya Agung mulai merasakan keletihan tubuh yang teramat sangat hingga terus menerus mengalami halusinasi dan berbagai godaan dari luar seperti penampakan beberapa bentuk makhluk halus yang seolah bergiliran menemuinya.
Hingga halusinasinya tentang seekor ular yang sangat besar yang mendekatinya lalu membelit tubuhnya, namun semua hal itu sama sekali tak membuatnya gentar dan ketakutan justru membuatnya semakin pasrah dan bertekad untuk menyelesaikan lelaku yang harus di jalaninya.
Namun satu hal yang tiba tiba dirasakannya kurang wajar adalah batang *********** yang seolah terasa di sedot oleh sesuatu yang semakin lama semakin kuat menghisap.
Dalam rasa letih yang amat sangat itulah tiba tiba saja Agung merasakan ada sebuah belaian lembut yang kemudian berubah menjadi pelukan yang mendekap bagian belakang tubuhnya hingga sejenak ia merasa sangat nyaman.
Rasa nyaman itu sayangnya hanya beberapa saat saja karena sesaat kemudian tubuhnya terasa ditindih sebuah beban berat yang makin lama semakin berat ia rasakan. Agung sama sekali tak menyadari bahwa kini tubuhnya terselimuti sebuah halimun berwarna biru terang kemilau yang terus berputar putar mengitari seluruh bagian tubuhnya.
Beberapa saat kemudian sebuah gambaran gambaran terpampang jelas di alam pikirannya seakan ia menonton sebuah film tentang dirinya sendiri yang terlihat sangat nyata dan begitu jelas rentetannya.
Semua peristiwa yang dialaminya seolah dihadirkan kembali untuk dilihatnya sendiri, mulai dari saat ia kecil diasuh dan di timang timang oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang sampai masa kanak kanak yang ceria dan penuh kenakalan bersama teman temannya semua rentetan peristiwa masa lalu itu tergambar dengan jelas.
__ADS_1
Hingga semua wanita yang pernah hadir di hidupnya singgah satu persatu meskipun hanya sekilas. Namun tidak begitu ketika yang hadir adalah Tyas, Imas dan Sari. Pemandangan mengerikan terpampang jelas di benaknya ketika Imas dan Sari terlibat konfrontasi sementara Tyas justru tengah tertawa tawa penuh kegembiraan melihat hal itu.
Anehnya perkelahian dua perempuan itu berubah menjadi brutal dan berdarah sama sekali tak ada yang memisahkan termasuk dirinya yang sama sekali tak mampu melerai kedua perempuan jelita itu seakan ada sekat transparan yang sangat kuat membatasi.
Agung benar benar panik dan tak sampai hati melihat kedua wanita yang dekat dengannya itu saling melukai satu sama lainnya, ia berteriak-teriak sekuatnya mencoba menghentikan konfrontasi itu, namun sama sekali tak digubris keduanya.
Pada akhirnya tiba tiba saja muncul sebuah dentuman dari arah lain yang mengalihkan perhatian Agung. Di lihatnya Sumarni budenya terlihat lebih muda dan tampak bersinar cantik dengan baju serba putih bersih. Budenya tersenyum padanya lalu hilang begitu saja bagaikan fatamorgana.
Agung tertegun lalu kembali melihat ke arah dimana tadi Imas dan Sari sedang berkelahi, namun semuanya kita telah sirna tak ada siapapun kecuali dirinya sendiri yang tiba-tiba saja berada di tengah gurun pasir sendirian tanpa ada siapapun dan apapun sejauh ia memandang.
Dalam pada itu di rumahnya Anis sangat bersedih karena sudah beberapa hari tidak berjumpa dengan kakaknya yang sangat disayanginya itu. Sementara Bapaknya juga semakin sibuk mondar mandir ke rumah sakit karena menurut kabar berita yang mampir ke telinganya, Sumarni budenya bertambah kritis kondisinya karena terus menerus ngedrop.
Yang membuat semua orang pusing karena Sumarni terus menerus mengigau dengan menyebut nama Farhan yang sudah tak kelihatan batang hidungnya semenjak peristiwa memalukan itu diketahui. Bahkan kabar beritanya pun sama sekali tak ada siapapun yang mengetahuinya.
"Lik tolong cari tau keberadaan Farhan dimana, itu mbak ayumu terus menerus mengigau anaknya itu." Ujar Joyo Sudiro yang kini sama sekali sudah tak menunjukkan wajah sinisnya namun terganti dengan wajah yang kelelahan dan semakin pucat.
"Andai aku tau Kang...kemana harus mencari Farhan? tak perlu disuruh pun anakmu itu akan ku seret kemari." Ujar Sumarno.
"Lalu gimana, kondisi mbak ayumu setelah di pindah ke ruangan VIP justru malah tambah parah." Kata Joyo dengan frustasi.
__ADS_1
Sementara Agung yang sudah kembali menemukan jati dirinya kini sudah kembali rileks dan deru napasnya telah terkendali lagi.