
Sari dan mamahnya saling tersenyum sesaat, sebelum wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu kembali mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Tapi nak...maaf ibuk mau tanya, apakah keluargamu sudah mengetahui hubunganmu dengan Sari?" Bertanya Ibu Lastri kepadaku.
"Secara tersirat sudah ibuk, terutama bapak saya sudah sedikit banyak paham hubungan kami." Jawabku singkat saja.
"Lalu bagaimana pendapat keluarganya Farhan, apakah mereka menerima hubungan kamu dengan mantan menantunya?" Tanya Ibu Lastri yang semakin lama rasanya akan semakin sulit buat aku jawab.
"Saya kurang paham akan sikap keluarga bude saya ibuk, tapi menilik kondisi Mas Farhan yang sudah tidak normal maka kemungkinan besar mereka takkan menghalangi hubungan kami kedepannya." Jawabku, dan kupikir ini jawaban yang elegan dariku.
Mana mungkin aku bilang Bude Marni bakal kumat darah tingginya jika mengetahui aku bukan saja berbuat serong dengan menantunya tapi bahkan lebih lebih akan menikahi mantan menantunya itu.
"Maksud kamu soal Farhan tidak normal bagaimana nak?" Tanya Ibu Lastri lagi.
Aku menoleh pada Sari yang langsung menatapku dan lalu mengangguk penuh arti.
"Kalian berpikir tentang apa? jangan berani coba menyembunyikan sesuatu dari ibuk yah !" Ujar Ibuk Lastri lagi setelah melihat aku dan Sari hanya saling memberi kode dengan anggukan dan gelengan kepala saja
"Begini ibuk ternyata Mas Farhan itu sudah memiliki perilaku menyimpang dalam orientasi penyaluran hasrat nafsu syahwatnya." Ujarku agak lirih.
"Maksudnya gimana nak coba lebih jelas !" Ujar Ibu Lastri belum paham juga.
"Mas Farhan itu homo mamah penyuka sesama lelaki." Sahut Sari dengan ketus.
"Astaghfirullah...yang bener kamu nduk ?" Kata Ibu Lastri tak percaya.
"Sudahlah mas keburu siang ini lihatin saja videonya sama mamah." Jawab Sari ketus dan menjadi tidak sabar.
"Tapi yank...?" Ujarku ragu.
"Mamah pengen lihat Mas Farhan main sama teman laki lakinya?" Tanya Sari pada mamahnya.
"Apaaaa!!! Ga sopan bener kamu nduk. Sudah sana kalo mau ke tempat mbak ayumu ! tar malah keburu siang." Ujar Ibu Lastri yang kali ini aku yakin beliau benar benar sudah memberikan restunya pada kami.
"Ayo mas kita going...!" Ujar Sari dengan lagak centilnya.
"Ibuk kami mohon diri dulu berkunjung ke tempat Mbak Wati." Ujarku sambil kemudian menyalim tangan beliau.
"Iya hati hati di jalan ya nak..." Ujar Ibu Lastri dengan wajah penuh senyum cerah.
Sari langsung pergi berlalu ke kamarnya setelah mencium tangan mamahnya.
"Jangan dandan ya yank kamu sudah cantik banget soalnya !" Ujarku yang membuat Ibu Lastri menjadi tersenyum.
Namun tak lama kemudian Sari telah keluar dari kamarnya sambil menenteng tas nya.
"Mas duit yang mas kasih apa di titipkan ke mamah dulu yah baiknya?" Ujar Sari sambil menatapku.
__ADS_1
"Ambil dulu yang buat di kasih ke Mas Riyan bayar pengacara, pokoknya kamu minta terima beres saja berapa biayanya nurut..." Jawabku lugas.
"Ya iya terima beres mas, Mas Farhan mintanya lima jutaan." Ujar Sari.
"Ya sudah kasih tujuh juta atuh, sisanya kasih ke ibuk." Kataku.
"Kok tujuh juta seh mas, enam juta saja yah ?" Ujar Sari menawar. Karena tak ingin ribet aku hanya mengangguk saja sebagai tanda setuju.
"Ya sudah hayo kita lets go !" Ujarnya sambil menggamit lenganku.
Tak lama kemudian di iringi lambaian tangan Ibu Lastri, kami benar benar berlalu.
"Tempat tinggal Mbak Wati dimana yank?" Tanyaku karena aku belum pernah tau tempat tinggal calon kakak iparku itu meski beberapa kali dia menawarkan aku untuk mampir ke tempatnya dalam setiap pertemuan kami.
"Di perumahan indah alami Banyumanik mas. Mas Riyan ambil KPR disana alasannya biar dekat tempat kerjaan mereka." Jawab Sari lalu dengan santainya mencondongkan badannya ke arahku lalu meletakkan kepalanya di atas bahuku.
"Mas aku boleh tau nggak gimana ceritanya kamu bisa kerja di Jepang ?" Tanya Sari kemudian.
"Lulus sekolah aku ikut ibuku ke Subang trus iseng melamar pekerjaan di Cikarang dan di terima di sebuah perusahaan permata asal Jepang, setahun berikutnya aku dan seorang kawanku di tarik untuk magang di perusahaan induk di Jepang." Ujarku.
"Bayaran di Jepang gede banget yah mas?" Tanyanya lagi.
"Yah begitulah yank, tapi selama ini aku tak mempermasalahkan pendapatan seh yank, aku selalu bersyukur atas apapun yang ku terima." Jawabku diplomatis.
"Tapi justru malah di kasih rezeki besar yah mas.." Ujarnya sambil tersenyum.
"Terserah sopir..." Jawabnya.
Perumahan indah alami lokasi tempat tinggal keluarga Mbak Wati ternyata justru lebih dekat dengan jalan tol sehingga begitu exit, tak lama kemudian kami sudah di arahkan oleh rambu rambu petunjuk ke kawasan itu.
Setelah itu praktis Sari mengambil perannya sebagai navigator yang mengarahkan kemana aku harus melajukan kendaraanku, hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup cantik design nya bertipe 70.
Mas Riyan yang kebetulan di teras rumah bersama Bayu si kecil anak semata wayangnya langsung semringah menyambut kedatangan kami.
"Asyik Bulik Sari datang..." Teriak bocil menggemaskan itu sambil berlari menghambur lalu memeluk kaki Sari.
Aku tertegun, aku lupa ga bawa oleh oleh buat bocil tampan yang pipinya gembil menggemaskan itu.
"Bulik mana oleh olehnya?" Tanya Bayu membuat apa yang aku cemaskan langsung menjadi realita.
"Aduh anak tampan tadi om khilaf karena buru buru ke rumah bayu lewat jalan tol jadi ga sempat beli oleh oleh jadi gimana kalo nanti Bayu ikut Bulik Sari jalan jalan." Ujarku untuk menutupi perasaan malu aku padanya dengan rencana dalam hati nanti akan memberikan sedikit uang jajan buatnya.
"Hore beneran ya om..." Ujar Bayu lalu berlari masuk ke dalam rumahnya sambil berteriak memanggil mamahnya.
"Wah parah kamu Gung, anak itu kalo di janjikan sesuatu pasti akan terus merengek menagihnya." Ujar Mas Riyan sambil tersenyum meledekku, aku pun hanya tersenyum keki membalasnya.
"Sudah ayo masuk dulu !" Ujar Mas Riyan lagi masih sambil tersenyum, kami pun mengikutinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian kami langsung menjelaskan alasan kami berkunjung kepadanya.
"Jadi kau akan ikut Agung ke Subang Sar ?" Tanya Mas Riyan pada Sari.
Belum sempat Sari menjawabnya tiba tiba Mbak Wati telah nongol dari dalam dengan hanya handuk yang melilit di tubuhnya yang terlihat masih lembab. Mas Riyan hanya cuek, sementara aku sempat melongo melihat sekilas keindahan itu sebelum terbentur oleh tatapan maut dari wanitaku yang seakan berkata meminta mataku untuk bersikap sopan.
Setelah beberapa saat basa basi Mbak Wati buru buru masuk ke dalam kamarnya dan beberapa saat kemudian keluar lagi menemui kami setelah memantas dirinya dengan pakaian lengkap.
"Mas itu anakmu kok tiba tiba pengen mandi siang siang gini." Ujar Mbak Wati tiba tiba.
"Hahaha noh biang keroknya !" Ujar Mas Riyan dengan tanpa sungkan menunjuk padaku dengan jempolnya.
"Maaf mbak tadi kami kesini ga sempat mampir untuk bawa oleh oleh buat anak tampan itu karena lewat tol, jadi aku mengajaknya untuk jalan jalan sebagai gantinya." Ucapku menjelaskan sementara Sari hanya senyum senyum saja.
Kedua pasutri itu akhirnya serempak tertawa. Benar saja tak lama kemudian Bayu sudah keluar menemui kami lagi dengan sudah merapikan dirinya dan lengkap dengan topi di kepalanya, membuat kami semua tertawa.
"Kamu pintar sekali anak tampan, sebagai hadiah dari om ini ada sedikit uang jajan buat Bayu dan sebentar lagi kita jalan jalan yah Bayu bersama om dan bulik, wokeyyy..." Ujarku sambil memberikan dua lembar uang ratusan ribu pada anak lucu ini.
Bayu langsung berjingkrak senang, lalu memberikan uang yang aku berikan kepada mamahnya. Kulihat Mbak Wati dan Mas Riyan hanya tertegun memandang kami, sementara Sari lagi lagi hanya senyum senyum saja.
"Mama dan papa memang ga di ajak jalan jalan om?" Tanya anak itu dengan wajah polosnya.
"Itu terserah orang tua kamu mau ikut kita apa nggak." Jawabku cuek sambil tersenyum menyeringai kepada Mas Riyan dan Mbak Wati, dan kedua orang suami istri itu hanya bengong
"Gimana pilihan hatiku sekarang nggak salah kan?" Ujar Sari sambil menatap Mbak Wati.
"Ya sudah kita bicara nanti sambil jalan saja." Uhar Mas Riyan terdengar menggerutu.
"Memang mau kemana kita?" Tanya Mbak Wati.
"Kita jalan jalan kemana boss ?" Tanyaku pada Bayu yang tiba tiba saja langsung akrab denganku.
"Ke candi gedong songo saja om trus jajan di restoran prasmanan." Jawab Bayu lugas yang membuat kami serempak tertawa.
"Siyap laksanakan boss." Ujarku masih dengan sisa tawaku.
Mas Riyan tampak cemberut ketika dia terpaksa harus ganti baju lagi sementara Mbak Wati hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Bay...kamu ikut mobil papa apa mobil om ?" Tanya Mas Riyan pada anaknya, saat kita semua sudah bersiap siap pergi.
"Loh pake dua mobil mas ?" Tanyaku.
"Iya biar kamu ga repot bolak balik nanti." Jawab Mas Riyan, aku hanya mengangguk setuju.
"Biar adil Bayu ikut om dan bulik dulu yah tapi nanti pulangnya ikut sama papa dan mama, okey..?" Tanyaku pada Bayu.
"Iya om okey..." Jawabnya.
__ADS_1