
Pagi harinya setelah sarapan nasi uduk bersama kami sudah siap untuk pergi ke blok F pusat Kampung Krajan yang meskipun hanya sebuah kampung kecil namun sudah rasa kota saja karena banyaknya investasi yang masuk meski juga hanya dalam taraf kecil kecilan.
Mulai dari kuliner kaki lima sampai kafe dan tempat hiburan malam semua ada. Yang agak besar dari mini market sampai SPBU dan Bank Himbara pun sudah masuk, menjadikan kampung ini sebagai magnet bagi kampung kampung sekitarnya.
"Ceng sudah siap ?" Tanyaku.
"Ayo ! oh iya aku ambil dulu yah kuncinya dan sekaligus aku serahkan secara simbolis kepada owner nya, hehehe...." Kata Aceng lalu beranjak masuk ke kamarnya setelah menyempatkan untuk menghirup sigaret mild nya sejenak.
"Sebentar nak sekalian bapak mau minta waktunya untuk bicara sama kamu." Ujar Pak Suryadi dari dalam rumah sambil membawa segepok uang yang di taruh dalam plastik transparan dan kertas kertas.
"Ini mau nyerahin duit hasil panen rambutan dan kacang kemarin." Ujar pria paruh baya yang sebaya dengan bapakku itu.
"Rambutannya laku 20 juta nak Alhamdulillah...mun kacang payu 6 juta setengah, di beli Haji Iyan yang bos kacang sangrai Kampung Babakan." Ujar beliau lagi terlihat bangga.
Aku hanya menatap Sari yang juga menatapku sambil tersenyum.
"Pak... biarlah bapak simpan saja dulu buat modal di sawah." Ujarku.
"Bukan begitu nak, kamu juga harus ngerasain untung punya kebun gitu, kalo mau ngasih bapak sok atuh pasti bapak terima berapa juga tapi jangan semua takutnya bapak jadi kembung nantinya hehehe." Kata Pak Suryadi terkesan apa adanya.
"Orang bapak cuma garap kebun kacangnya saja itu juga cuma modal dengkul saja kok nak." Lanjut bapak sahabatku itu lagi.
"Baiklah pak kalo gitu Agung ambil yang dari hasil rambutan saja yah pak sisanya buat bapak." Ujarku lalu mengambil duit yang 20 juta saja, namun kuambil lagi tiga puluh lima lembar dari tumpukan duit itu lalu kembali ku serahkan pada Bapak Suryadi.
"Nah kalo yang ini buat Mih ya Pak..." Kataku pada beliau.
"Ini anak, gimana seh ? memang sudah ga doyan duit apa...?" Ujar Pak Suryadi bergurau.
"Bukan begitu pak kan bapak juga capek ngurus kebunnya, lagipula kenapa mesti pake hitungan sama orang tua sendiri." Ujarku kukuh.
__ADS_1
Akhirnya sambil berkaca kaca penuh haru raut wajahnya, pria paruh baya itu menerima 10 juta pemberian dariku dan menyerahkan seluruh uang yang di tangannya pada istrinya yang juga tampak terharu bahagia. Dan seperti yang ku duga kedua pasutri paruh baya itu tak henti hentinya mendoakan kebaikan buat aku dan juga Sari.
"Trimakasih sekali lagi Bapak...Emih, apa yang aku berikan itu sebenarnya tak ada apa apanya di banding dengan semua kebaikan yang keluarga kami terima dari Bapak sareng Emih." Ujarku yang membuat mereka semakin terharu.
"Gung ini kuncinya, masih pagi melow melow an segala. Ayo kita check list dulu hasil kerjaan aku !" Seru Aceng dengan sedikit kebanggaan dalam nada bicaranya.
"Ini kuncinya banyak amat Ceng, memang kamu bikin berapa pintu ini ?" Tanyaku ketika menerima sejumlah kunci kunci berkualitas tinggi yang di tempatkan dalam satu wadah.
"Lihat dulu ! komentar kemudian..." Kata Aceng seperti orang sedang gemas.
"Hehehe iya deh, ayo yank !" Ujarku sambil menatap Sari yang slalu menyimak kami saja tanpa ikut berucap.
"Aku ikut yah...!" Kata Dewi, yang kemudian menjajari Sari berjalan di belakang aku dan Aceng.
Kami hanya berjalan saja karena lokasinya memang dekat dari kediaman kami hanya berbeda blok saja. Kami berempat lalu menyusuri gang kecil untuk tembus ke jalan raya dan di seberang jalan raya itulah gudang Haji Iim yang kini akan ku jadikan sebagai tempat usahaku berada.
Bahkan kelihatan jelas logo di puncak bangunan yang mirip dengan perkantoran itu A & S COLLECTION. Itu memang nama usaha yang ku sebutkan pada Aceng saat dia menanyakan beberapa saat yang lalu, tak di sangka semuanya begitu menakjubkan.
"Nah ini yang kata kamu mau di bikin apotek kan, hasilnya gini gimana ?" Ujar Aceng sambil menunjuk sebuah bangunan di pinggir jalan tepat yang tertutup oleh rolling door, aku tau di baliknya terdapat pintu kaca mirip dengan kantor bank.
Kulihat Sari juga tampak terpukau melihat bentuk calon tempat usaha kami. Bahkan ketika Aceng kemudian meminta kunci dariku dan lalu membuka gerbang, kami benar benar kagum dengan hasil kerjaan sahabat baikku itu.
Sari bahkan sangat antusias mendengar Aceng memaparkan beberapa bangunan penghias di sekeliling gedung itu dan aku pun puas.
"Silahkan pilih hadiah kamu Bos Aceng...aku sarankan kamu memilih motor untuk mengganti bebek butut kamu itu hehehe." Ujarku.
"Yah itu terserah kamu kalo kamu mau ngasih mah, yang jelas aku nggak minta." Jawab Aceng lalu membuka pintu bangunan utama.
"Bagaimana boss ?" Tanya Aceng sambil tersenyum menyebalkan, ketika memperlihatkan ruangan luas yang di langit langit atapnya tertempel beberapa kipas angin yang di pasang dua lajur berurutan.
__ADS_1
"Ceng kamu menjadi manajer operasional yah, tugasmu selanjutnya menyediakan pendukung untuk memajang dagangan kita, nanti di pilah pilah sesuai jenisnya distro sendiri, batik sendiri, muslim sendiri, anak anak pokoknya pisah pisah juga bikin fasilitas ruang ganti juga di tempat busana." Ujarku.
"Okey boss dananya sudah siap kan, soalnya lumayan juga untuk hanger, etalase, rak dan lain lainnya." Ujar Aceng.
"Iya hitung saja dan juga cari dua buah mobil carry box untuk distribusi pasokan dan belanja nantinya." Ujarku.
"Siyap boss gampang itu, tapi kok banyak amat mobilnya ?" Tanya Aceng.
"Kita butuh pasokan dari mana mana Ceng, nah kamu juga nanti yang nyari pasokan dari Bandung dan Tanah Abang yah produk distro dan busana yang lagi ngetrend ambil semua, kalo batik nanti aku sendiri dulu yang ngurusin. Untuk itu nanti kita di bantu empat kawanku yang akan datang dari Jawa besok." Ujarku. Aceng mengangguk angguk saja.
"Trus aku ngapain boss?" Tanya Dewi.
"Untuk Dewi posisi kamu adalah manajer penjualan tugasmu nanti mengatur segala urusan penjualan mulai dari promosi trus membuat layanan penjualan online termasuk merekrut beberapa SPG untuk membantu kamu, untuk yang ini usahakan yang benar benar di percaya yah bisa dari teman dekat dulu atau kerabat gitu yang kira kira berpotensi meringankan tugasmu. Bisa kan ?" Ujarku pada Dewi.
"Okey boss siyap laksanakan." Jawab Dewi senang.
"Ceng semua sarana dan prasarana adalah tanggung jawab kamu yah...dan soal bayaran karena ini baru mulai kalian terpaksa harus mau di bayar dua kali gaji lokal disini dulu yah di tambah bonus kinerja, dan bagian yang gaji adalah nyonya ku ini." Kataku sambil tersenyum dan melirik Sari yang sejak tadi hanya menyimak saja.
"Woww....okey bosss.... trimakasih banyak..." Ujar Dewi sementara Aceng hanya tersenyum senang.
"Gimana yank...tugasmu berat nggak kira kira ?" Ujarku pada Sari yang kemudian hanya tersenyum sedikit saja, namun aku paham kalo dia senang senang saja.
"Baiklah bisa kau beri aku dananya sekarang boss biar aku bisa mulai bekerja..." Ujar Aceng.
"Okey kira kira berapa yang kamu butuhkan untuk itu?" Tanyaku.
"Untuk etalase, rak, hanger tambah dua mobil mungkin habis 700 jutaan boss..." Ujar Aceng.
"Baiklah ini cek 800 juta kalo kurang bisa nambah lagi belilah motor baru untukmu juga dan hp yang bagus buat Dewi." Ujarku.
__ADS_1