OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 141


__ADS_3

Sore itu juga dengan diiringi upacara pemakaman sederhana dan dihadiri pelayat yang seadanya saja, jenazah Farhan yang tewas mengenaskan dikebumikan di tempat pemakaman umum yang tak terlalu jauh di bagian utara kampung.


Beberapa pelayat yang ikut mengantar justru bersimpatik kepada Anis yang wajahnya sembab karena kebanyakan menangis sambil menggendong si kecil Agil yang justru terlihat senang, sementara Harno yang berada di atas kursi roda yang di dorong Retno istrinya juga tampak tergugu menangis dengan muka menyon efek penyakit stroke yang ia derita.


Namun setelah acara pemakaman itu selesai justru kemudian timbul kasak kusuk, sesaat setelah seseorang bertanya pada Anis yang hampir saja pingsan jika tak ada yang membesarkan hatinya.


"Nis, Mas Agung dimana kok justru nggak kelihatan ?" Tanya Firman seorang kawan lelaki sebaya Anis.


"Masih di luar negeri Man...kenapa ?" Jawab Anis lirih dan ogah ogahan.


"Oh pantesan...ya sudah Nis, maaf yah." Kata Firman lirih namun Anis hanya mengangguk saja tanpa menjawab apa apa.


Sementara di rumah sakit umum daerah dimana Sumarni mendapatkan perawatan, kini kondisinya sudah berangsur stabil dan membaik secara signifikan.


Saat ini Sumarni baru saja disuapi makan sore oleh Sumarno adik lelaki sekaligus saudara kandung satu satunya yang ia miliki.


"No...kakakmu belum kesini ?" Tanya Sumarni saat adik lelakinya itu membersihkan sisa sisa makanan yang menempel di sekitar mulutnya.


"Belum Yu, mungkin masih mengurus surat surat." Jawab Sumarno beralibi.


"Surat surat apa yang diurus ?" Tanya Sumarni lagi.


"Yang jelas bukan surat tanah atau sawah jadi mbakyu nggak perlu cemas, sebentar lagi juga Kang Joyo pasti kesini." Jawab Sumarno setenang mungkin.


"Kamu pasti sudah keluar duit banyak untuk bayar rumah sakit ya No ?" Kata Sumarni lagi.


"Sudahlah Yu, nggak perlu memikirkan hal itu kita hanya dua bersaudara menghitung duit dalam persaudaraan hanya akan membuat rumit saja." Kata Sumarno.


"Ini si Anis juga belum kesini, bukankah biasanya dia jam segini sudah berkunjung ngirim makanan." Ujar Sumarni lagi mulai berkata kemana mana.

__ADS_1


"Anak itu cukup aktif dan banyak kegiatan di sekolahnya kadang maghrib baru pulang." Jawab Sumarno sambil membantu kakaknya itu merebahkan diri lalu menyelimutinya.


"Ini kok pindah di ruangan yang bagus bener ini biayanya pasti mahal." Gumam Sumarni lagi.


"Biar Agung yang ngurusi soal itu, Yu Sumarni tenang saja yang penting segera sembuh." Sahut Sumarno.


Sumarni yang masih pucat wajahnya itu hanya mengangguk perlahan lalu mencoba memejamkan matanya sementara tanpa terasa beberapa saat setelah kakaknya itu tidur mata Sumarno mulai mengeluarkan air matanya yang sudah tak dapat ia tahan lagi.


Pria setengah baya yang hampir menginjak kepala lima usianya itu benar benar prihatin dengan nasib yang dialami oleh keluarga kakak kandungnya itu.


Tak dapat ia bayangkan jika kakaknya itu mengetahui perihal kematian anak bungsu kesayangannya itu yang tragis dan mengenaskan.


Bagi Sumarno sendiri hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan lebih dari hari biasanya, bukan hanya karena hampir seharian ia bosan menunggui kakaknya tanpa bisa melakukan hal apapun karena entah kenapa Sumarni selalu terjaga.


Barulah menjelang magrib Anis datang seorang diri membawakan beberapa makanan.


"Akhirnya kamu datang juga nduk, bapakmu sudah hampir mati kebosanan menunggui budemu ini." Ujar Sumarni yang sudah bisa semringah karena kehadiran Anis.


"Kamu masih ingin makan Yu ?" Sahut Sumarno yang melihat anak bungsunya tampak berkaca kaca seakan menahan tangis sekuat hati.


"Nggak Lik, masih kenyang aku. Nduk kamu kok seperti habis nangis begitu, tadi ketemu sama pakdemu tidak? pakdemu ngapain kok nggak kesini sini ?" Ujar Sumarni yang mulai cerewet.


"Pakde malam ini belum bisa kesini bude, di rumah masih repot." Jawab Anis sambil menatap bapaknya.


"Ada apa kok repot, repot ngapain...bikin apa ?" Tanya Sumarni.


Melihat wajah budenya, Anis yang merasa kasihan kembali tak dapat menahan tangisnya lagi hingga kembali gadis remaja itu kembali menumpahkan air matanya lagi dengan menangis tersedu-sedu.


Namun begitu Sumarno mau merangkul anak gadis bungsunya itu, Anis segera berlari keluar ruangan VIP itu dengan berlinang air mata.

__ADS_1


"Anis kenapa Lik, ada apa dengannya ? apa nggak senang lihat budenya sudah sehat lagi ?" Tanya Sumarni agak bernada sensitif.


"Sudahlah Yu jangan ngawur sembarangan ! anak itu sedang bersedih, sebenarnya aku juga ingin bercerita sama mbakyu soal itu tapi dadaku sendiri rasanya sangat sumpek berat rasanya." Ujar Sumarno.


"Memang ada masalah apa ?" Tanya Sumarni.


"Sudahlah Yu, istirahatlah dulu anak itu sedang ada masalah biarlah aku menghiburnya sejenak." Ujar Sumarno dengan suara berat karena dadanya begitu pepat.


"Baiklah Lek kalo nggak mau mengatakan ada apa, sekarang tinggalkan aku sendiri...ajak anakmu pulang !" Ujar Sumarni dengan muka tegang karena menahan emosinya yang meluap.


"Ah mbakyu itu slalu begitu, sabar sedikit apa salahnya tow Yu, nunggu biar Kang Joyo sendiri yang bicara sama mbakyu." Ujar Sumarno masih berusaha keukeuh menyimpan sesuatu yang sudah seharusnya diketahui oleh kakak perempuannya itu.


"Ya sudah panggil Anis kemari biar aku tanya sendiri apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan anak itu !" Ujar Sumarni segera menyela dengan wajah sewot menunjukkan kemarahan.


Sumarno diam dan berpikir sejenak sebelum menghela napasnya dalam dalam.


"Farhan sudah tiada Mbakyu." Lanjutnya dengan suara yang teramat pelan dan seakan berat.


"Oh jadi anak itu sudah mati ?" Tanya Sumarni bikin adik lelakinya itu terlihat bingung.


Sumarno hanya mengangguk perlahan, sementara Sumarni yang terlihat galak pada awalnya hanya terdiam dengan tatapan kosong, sementara dari kelopak matanya segera mengeluarkan butir butir bening yg kemudian keluar dengan sangat derasnya.


Sebentar kemudian keheningan itu terpecah oleh suara derit pintu kamar yang terbuka dari luar, disertai dengan munculnya sosok anak gadis bertubuh bongsor yang wajahnya terlihat sembab.


Namun kemunculan Anis justru memicu Sumarni yang akhirnya tak mampu lagi menahan gejolak emosi jiwanya yang sebenarnya masih sangat labil hingga menjerit sekeras-kerasnya.


Anis yang semula hendak masuk kembali berbalik dan berlari untuk memanggil suster jaga tanpa perlu perintah dari siapapun.


Sementara itu Agung sudah hampir menyelesaikan lelaku prihatin puasa pati geninya mulai merasakan gejolak dahsyat yang mendera tubuhnya sama persis seperti saat saat awal dia menjalani lelaku itu.

__ADS_1


Tubuhnya serasa di masuki oleh hawa panas dan dingin disaat bersamaan hingga membuatnya menggigil. Energi yang dirasakan itu bahkan jauh lebih kuat seakan akan mengaduk aduk di dalam perutnya.


Ia berusaha menenangkan dirinya dengan terus mencoba fokus membaca amalan yang harus terus di ucapnya, namun rasa panas dan dingin yang seakan tanpa habisnya terus memasuki tubuhnya benar benar mendera tubuhnya.


__ADS_2