OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 52 Aceng Jatuh Cinta


__ADS_3

Pak Haji Obi terkekeh saat Aceng terang terangan menawarkan dirinya.


"Aceng...jangan bergurau loh kamu Pak Haji ga suka." Ujar Haji Obi setelah beliau berhenti tertawa.


"Siapa yang bergurau Pak Haji, lagipula aku memang sedang jomblo dan mencari istri sama seperti Nimas yang saat ini lagi membuka diri untuk mendapatkan suami." Kata Aceng yang kali ini terlihat sama sekali tak bergurau.


"Tapi kan kamu orang dekat Ceng...dan sebenarnya kamu kan sudah kenal lama kan sama Imas, tapi belum pernah sekalipun aku lihat kamu mendekati anakku." Ujar Pak Haji Obi sambil menatap tajam pada Aceng.


"Ya gimana Pak Haji, Bapak Haji kan tau sendiri saya hanya anak orang biasa, kalo nanti saya dekati Nimas di kiranya saya lancang dan tak punya adab yang baik. Secara kan Nimas dari keluarga kaya raya tar saya malah di kira ngincar harta Nimas saja." Ujar Aceng benar benar serius.


"Saya ga masalah Ceng, siapapun juga mengambil harta saya asal benar benar mencintai Nimas saya rela, tapi masalahnya sepertinya Imas pengin dapat jodoh dengan orang yang agak jauh, seperti Nak Agung misalnya.." Ujar Pak Haji Obi sambil menatap padaku, membuat aku agak gugup.


Aku menatap Aceng yang juga terlihat melirik padaku.


"Pak Haji tentu suatu kehormatan yang sungguh luar biasa tak terkira jika Pak Haji sudi menjadikan saya menantu Pak Haji, namun masalahnya saat ini saya sudah terikat janji dengan seseorang, lagipula seperti teman saya Aceng ini, saya pun sebenarnya berasal dari keluarga yang biasa saja." Ujarku.


Kulihat suasana menjadi sedikit tegang apalagi ketika aku memergoki anak perempuan Pak Haji menatapku dalam dalam meski hanya sekejap. Jujur saja hal seperti ini di luar dugaan ku.


"Neng, bagaimana? dan ini Aceng justru menyatakan ketertarikannya padamu lalu bagaimana dengan kamu sendiri ?" Ujar Pak Haji Obi pada anak perempuannya yang paling bungsu itu.


Anak perempuan Pak Haji Obi yang ternyata bernama Nimas itu hanya menundukkan kepalanya dalam dalam seolah enggan menanggapi.


"Pak Haji maaf nih kalo boleh tau, tadi kan Pak Haji bilang sedang cari menantu buat Nimas Dewi Hapsari kan yah ?" Tanya Aceng.


"Betul, kenapa memangnya?" Jawab Pak Haji Obi singkat.


"Itu Nimas nya juga beneran sudah pengin cari suami apa belum...?" Ujar Aceng lagi dengan senyum malu malu sambil menatap Nimas.

__ADS_1


"Ini anak gimana seh...kan sudah di bilangin tadi kalo Imas sedang cari suami, dia ngomongnya juga ke aku bapaknya Ceng, kalo kamu memang suka sama Imas ya sudah ngomong sendiri gimana caranya, barangkali Imas nya juga mau sama kamu." Ujar Pak Haji Obi.


"Entahlah Pak Haji, takut di tolak sama Imas Pak Haji." Kata Aceng sambil cengengesan setelahnya.


"Maaf Pak Haji, teman saya ini memang orangnya agak aneh dan pemalu tapi kalo Pak Haji tertarik menjadikan dia menantu Pak Haji saya berani jamin Pak Haji tak salah pilih." Ujarku langsung memotong perkataan terakhir Aceng yang bikin Imas terlihat jutek.


"Memang apa kelebihan kamu Ceng?" Tanya Pak Haji agak sinis pada Aceng.


"Kelebihan saya apa yah...?" Jawab Aceng kembali sambil cengengesan.


"Yang saya tau teman saya itu orangnya jujur Pak Haji, dia bahkan tidak memahami betapa cerdas otaknya sendiri, saya hanya kawannya kurang lebih saja tapi saya sadar betapa beruntungnya saya berkawan dengan teman saya ini Pak Haji." Ucapku yang membuat Pria berusia senja yang telah beberapa kali menunaikan kewajiban ke tanah suci itu manggut-manggut dan tampak berpikir.


"Ceng memang kamu serius suka sama anakku?" Tanya Pak Haji Obi serius pada Aceng.


"Ya begitulah Pak Haji tentu kalo Pak Haji mengijinkan saya untuk menyukai Nimas." Jawab Aceng terlihat tegang dan gemetar badannya.


"Ak Aceng maaf sebelumnya Imas belum bisa dikatakan menolak atau menerima Aak saat ini, tapi kalo Ak Aceng memang serius suka sama Imas, Imas akan kasih kesempatan buat Aak untuk membuktikan seberapa besar keseriusan Aak itu." Kata anak perempuan Pak Haji Obi yang cantik jelita itu juga memberi jawaban yang sangat bijak.


"Baiklah Nimas aku akan berusaha berjuang mengambil hati Nimas setidaknya sampai Imas bisa memberikan keputusan." Kata Aceng lirih.


"Maaf Pak Haji maaf Teh Imas, kalo boleh tau Teh Imas saat ini aktivitasnya apa sehari hari nya?" Akulah yang bertanya.


"Aku belum lama lulus Ak, masih cari cari kerjaan yang pas." Jawab Nimas sangat rendah hati.


"Dia nggak mau jauh jauh dari bapaknya nak, meski sebenarnya kalo dia mau, kakak kakaknya akan dengan mudah memberikan pekerjaan untuknya." Ujar Pak Haji Obi menambahkan.


"Bagaimana kalo Teh Imas bergabung dulu dengan usaha kami yang mau berjalan, kebetulan Aceng merupakan salah satu boss nya." Ujarku yang membuat perempuan berparas jelita itu langsung menatapku dengan antusias.

__ADS_1


"Boleh Ak.... apakah tempat kerjanya sama dengan tadi yang di posting Dewi?" Kata Nimas sangat antusias.


"Loh Teh Imas kenal sama Dewi juga..?" Tanyaku.


Yang aku tanya cuma tersenyum dan mengangguk manis sekali.


"Bukan kenal lagi Gung.... sahabat kental mereka." Ujar Aceng.


"Iya Ak, Dewi itu teman sekelas ku pas SMP dulu. Dan sampai sekarang kami masih sangat dekat." Kata Nimas sambil tersenyum.


"Kalo begitu jika Teh Imas berminat silahkan saja kalo mau gabung dengan kami dan jangan khawatir jika sewaktu-waktu Teh Imas ada panggilan kerja yang bagus yang di inginkan Teh Imas, boleh kok untuk cabut, intinya di bikin rileks saja." Ujarku.


"Iya Ak...aku rasanya memang sangat tertarik bergabung kok, jadi kapan bisa mulai kerjanya Ak?" Ujar Nimas bertanya dengan wajah berbinar binar.


"Mungkin dalam beberapa hari ini Teh... soalnya besok baru mulai menyiapkan semua sarana dan prasarana nya dulu, setelah itu siap tentu kita akan segera membuka usaha, pokoknya dalam minggu ini lah Teh." Jawabku ramah.


"Jadi apa syaratnya jika ingin bergabung Ak, apakah perlu bikin surat lamaran lengkap?" Tanya Imas lagi yang justru membuat aku bingung bagaimana menjawabnya.


"Syaratnya Nimas menerima aku sebagai calon suami Nimas saja." Kata Aceng tiba tiba, membuat kami semua serempak tertawa termasuk Pak Haji Obi yang juga ikut tertawa terkekeh.


Nimas malu malu sambil sesekali melirik ke arah Aceng yang tampaknya memang benar benar menginginkan Nimas untuk jadi miliknya.


"Baiklah Pak Haji, Teh Imas karena sudah terlalu lama kami mengganggu waktu istirahat Pak Haji, maka perkenankan lah kami untuk mohon diri." Ujarku berpamitan, aku ingat Sari yang tadi memintaku untuk tak berlama lama.


"Loh begitu buru buru...memang masih ada urusan?" Tanya Pak Haji Obi yang kini tampak enjoy.


"Ada yang menunggu boss muda ini Pak Haji." Ujar Aceng yang menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2