
"Hayo nelpon siapa barusan ?" Ujar Sari yang baru saja selesai mandi, saat aku baru saja mengakhiri percakapan via hp dengan bapakku.
"Abis nelpon bapak Yank." Jawabku.
"Oh ya gimana kabarnya beliau mas ?" Ujar Sari tampak antusias.
"Alhamdulillah baik seh yank, rumah sudah jadi juga tapi masih mau lanjut bikin pagar dan mlester halaman katanya." Jawabku.
"Oh, kalo rumah iya aku sudah tau dari postingan Anis di Instagram, mantab loh mas bagus banget adem dan nyaman banget sepertinya, kamu dapat model rumah seperti itu darimana seh mas ?" Tanya Sari sambil melepaskan handuk yang melilit tubuhnya.
"Hehehe dari mbah gogel....Yank...kamu suka kan? soalnya kita akan menghabiskan masa tua kita di tempat itu." Ujarku sambil tersenyum.
Namun Sari kulihat tak begitu antusias setelah aku mengatakan itu.
"Kamu yakin mas kita nanti akan tinggal disana ?" Tanya Sari sambil sibuk mengenakan busananya.
"Kenapa tanya begitu Yank...memang kamu nggak suka tempat itu ?" Tanyaku.
"Suka sayank suka banget malah hanya saja apa kamu yakin mas, kita nanti situasinya bakalan senyaman rumah itu sendiri. Bude...Pakde ..Farhan.. aku yakin sekali mereka tak akan suka aku tinggal di rumahmu." Ujar Sari ada benarnya.
Aku tertegun sesaat memikirkan kata kata Sari barusan.
"Sudah yuk sarapan mas, dah jam tujuh tuh...!" Ujar Sari setelah dia selesai mengenakan busananya.
"Empat tangan besi tumben dua pagi ini nggak sarapan disini?" Ujarku.
"Barangkali mereka jajan mas, nasi uduk kan ada yang jualan di sebelah toko." Ujar Sari.
"Oh iya yang janda muda itu yah ?" Tanyaku.
"Iyaaa... yang rambutnya merah itu orangnya gayanya seperti jablay." Jawab Sari.
"Lah kan memang janda yang wajar donk jarang di belai." Ujarku.
"Iya lalu kenapa ? kamu mau ikut membelainya ?" Kata Sari agak ketus.
"Ah nggak lah Yank...maaf yang seperti itu bukan tipe aku." Jawabku sambil tersenyum menggodanya.
Sari hanya mencibirkan bibirnya tanpa berucap apapun.
Sejenak kemudian kami mulai menyantap sarapan pagi dengan Sari lebih banyak makan awug dan beberapa potong bakwan saja tanpa nasi, sedangkan aku tetap memilih untuk makan menggunakan nasi sebagai sarapan pagiku.
__ADS_1
Selesai sarapan, sementara membereskan peralatan bekas makan kami, aku segera mengambil duit pendapatan kemarin yang sedianya akan di deposit di bank himbara kantor cabang yang kebetulan buka di kampung ini.
"Yank aku ambil 700 yah yang di deposit kan, sisanya aku simpan di lemari, buat kebutuhan sehari hari. Kalo kamu perlu apapun ya itu duitnya." Ujarku.
"Jangan nyimpen uang di rumah terlalu banyak mas ! ambil saja 50 juta lagi, atau mau mas pakai nambahin buat gadai sawah apa ?" Ujar Sari yang lalu duduk di depan meja riasnya.
Barulah jam delapan kurang lima menit kami berangkat ke tempat usaha bareng Dewi, karena Aceng telah berangkat duluan.
Sampai di toko ternyata empat tangan besi sudah membukanya bahkan sudah bersih di pel teras depannya. Kupikir mungkin Aceng telah datang, selain semua karyawan juga sudah hadir semua.
"Mas sudah pada sarapan belum tadi kok sekarang nggak ada yang ke rumah ?" Tanyaku pada Suranto yang terlihat baru saja mengepel lantai teras bersama Trimo.
"Iya nih sekarang empat tangan besi jadi sombong nggak pernah ke rumah mentang mentang sudah enak makan nasi uduk." Ujar Sari menimpali.
"Eh maaf maaf boss boss bukan apa apa tapi kami berempat sudah sepakat masak sendiri untuk sarapan kan makan siang dan malam sudah di sediain masa sarapan juga masih nebeng." Jawab Suranto sambil tersenyum.
"Ahh sampai segitunya, hihihi memang bisa masak juga mas kalian ?" Tanya Sari lagi.
"Ya sebisa bisanya bu boss hehehe." Jawab Suranto sambil terkekeh.
"Orang peralatan masak saja sudah bawa dari kampungnya kok, kompor segala macam..." Tukas aku menimpali.
"Hahh benarkah ? jos lah kalo gitu, eh permisi aku duluan yah bapak bapak...aku mau ke office dulu." Ujar Sari berlagak centil.
Belum sempat juga Dewi menjawab, kami melihat dari gerbang muncul sebuah kendaraan suv sejuta umat yang kemudian berhenti di parkiran yang memang di sediakan untuk pengunjung. Dari dalam mobil itu kemudian muncul seorang pria dan wanita dewasa mungkin seumuran 50 tahunan.
"Maaf Ak, apakah toko ini sudah buka ?" Tanya yang wanitanya padaku.
"Oh sudah kok ibu bapak, silahkan langsung masuk saja." Jawabku sopan dan ramah.
"Mari ibu mari bapak silahkan memilih barangkali ada yang sesuai dengan kebutuhan ibu bapak berdua." Ujar Dewi ramah menimpali.
Sampai di dalam kulihat Yeyen langsung tersenyum dan melayani keduanya.
Baru saja aku juga akan beranjak ke office nyusul Sari hp ku berdering. Sebuah panggilan suara via aplikasi pesan instan.
"Ya asalamualaikum ada yang bisa saya bantu ?" Tanyaku sopan.
"Maaf benarkah ini dengan Pak Agung A&S COLLECTION ?" Tanya seorang pria di seberang telepon.
"Ya benar saya sendiri pak, maaf dengan bapak siapa ini ?" Ujarku.
__ADS_1
"Kami dari batik sekar tanjung pak, mau ngirim barang pesanan bapak, saat ini kami sudah sampai di Sukamandi mohon di share lok lokasinya pak." Ujar pria itu
"Oh siap pak, saya tunggu, kalo begitu saya share lok sekarang yah pak." Ujarku sambil menutup panggilan lalu memberikan denah lokasi toko yang juga aku sertai beberapa petunjuk arah.
Baru saja aku mau mengantongi hp ku lagi, Aceng muncul dari gerbang di ikuti dua orang pria yang berboncengan menggunakan motor berbeda.
"Boss kenalin ini teman teman yang mau bikin kamar mandi. Tadi aku juga sudah belanja material nya juga sekalian ini nota nya." Ujar Aceng sambil memberikan selembar kertas kecil padaku.
Aku hanya mengacungi jempol padanya sebelum berjabat tangan dengan dua orang pria yang usianya mungkin sedikit lebih tua daripada kami, sembari saling mengenalkan diri kami masing masing.
"Sepagi ini sudah ada pengunjung ?" Bisik Aceng bertanya sambil melihat mobil milik dua orang pengunjung pertama kami tadi.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum sedikit saja.
"Mereka berdua termasuk yang ikut menjadikan gudang terbengkalai Haji Iim menjadi seperti ini hehehe." Ujar Aceng, lagi lagi aku hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Jadi di mana kamu akan bikin kamar mandinya Ceng ?" Tanyaku.
"Ayo sini ikut...!" Ujarnya yang lalu melangkah menuju samping gedung toko tepatnya lewat jalan sempit di tengah tengah antara bangunan dan jalan tanjakan yang mengarah ke lantai dua dan tiga.
Ternyata di bawah jalan tanjakan itu sampai dinding tembok pagar pembatas, masih ada ruangan yang cukup lega.
"Jalan inilah kemarin yang banyak ngabisin duit kamu." Ujar Aceng sambil menatapku, aku hanya tersenyum saja.
"Gimana Hen disini bisa kan yah di bikin tiga kamar mandi ?" Tanya Aceng kemudian kepada temannya yang tadi mengenalkan dirinya dengan nama Suhendi.
"Iya cukup lah, cuma bikin tempat mandi saja kan ?" Jawab Hendi sembari bertanya.
"Iya Mang, kamar mandi saja." Jawabku karena Aceng hanya diam saja seolah cuek.
"Nanti atapnya mau di cor apa cukup pake asbes saja Ak ?" Tanya Hendi lagi kali ini sambil menatapku.
"Bagaimana Ceng atapnya pake asbes atau cor ?" Tanyaku ke Aceng yang seolah tak fokus karena matanya terus memandang ke dalam gedung yang dinding nya di buat dari kontruksi kaca itu.
"Asbes saja cukup kan tadi aku beli material nya asbes, lagian sudah ketutup sama jalan gini kok ga usah bagus bagus yang penting rapat untuk tempat mandi." Jawab Aceng sambil matanya terus melihat ke dalam gedung toko yang kulihat juga mulai ramai pengunjung itu.
"Baiklah Mang Hendi seperti kata boss Aceng saja." Ujarku pada Hendi, yang sepertinya dialah yang akan jadi tukangnya, sementara satu temannya yang pendiam akan jadi keneknya.
"Siyap Ak !" Jawab Hendi.
"Oh iya tadi sudah pada sarapan belum ?" Tanyaku.
__ADS_1
"Sudah Ak sudah...!" Jawab mereka berdua serempak.
"Baiklah nunggu material nya datang dulu yah !" Ujarku, mereka hanya tersenyum dan mengangguk.