OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 56 Mendadak Berbeda


__ADS_3

Hari yang melelahkan telah terlewati, namun semua ternyata sepadan dengan hasil yang bisa kami lihat dan nikmati. Tempat usahaku kini sudah telah siap sepenuhnya, tinggal menunggu pasokan barang dagangan yang mungkin akan tiba paling lambat besok lusa.


Arman, adik ipar Suranto yang seharian ini membuat mood ku jadi jelek, ternyata sudah balik ke kampung halamannya tepat setelah jamuan makan siang yang ku tugaskan Aceng untuk mengurusinya sekalian melayani pegawai dari Eterna yang tengah melakukan kewajiban mereka untuk memasang peralatan kantor dan sarana prasarana lainnya.


Mengenai Arman yang mendadak pulang, aku ketahui setelah Suranto sendiri yang menghubungi aku, bahkan Arman sendiri ikut berbicara berpamitan padaku sekaligus minta maaf karena telah melakukan tindakan yang membuatku tidak senang.


Pada akhirnya aku sendiri menjadi merasa bersalah dan tak tau diri.


Aku sendiri saat itu memilih menikmati makan siang di luar bersama Sari dan Dewi sekalian berdiskusi bersama mereka tentang konsep usaha kami nantinya meski akupun sudah memiliki pakem sendiri soal ini.


Baik Sari maupun Dewi berpendapat hampir mirip mengenai konsep mereka mulai dari inventarisasi barang dan penataan ruangan yang memilih model mall juga pengoptimalan penjualan melalui online dan offline bahkan membuka kemungkinan tempat kami menjadi pusat perkulakan para pedagang reseller dan pengecer yang menjajakan dagangannya door to door.


Untuk urusan promosi sendiri kami sepakat tak terlalu memusingkan, karena kami semua berpendapat bahwa promosi terbaik adalah dari mulut ke mulut, ya target ku memang tidak terlalu muluk hanya ingin merebut pasar daerah sekitar dulu di waktu waktu awal ini.


"Jadi berapa kira kira karyawan yang kamu butuhkan untuk membantu kamu Dew ?" Tanyaku setelah mereka selesai memaparkan pendapat masing masing.


"Di awal awal ini mungkin belum terlalu banyak dulu Gung, mungkin lima sampai tujuh orang saja termasuk Imas, sudah cukup jika aku pula yang akan memegang kasir." Jawab Dewi.


"Lalu Imas kau tempatkan bersama spg spg kamu juga?" Tanyaku.


"Ya nggak lah gila apa, Dia itu orang pintar tau. Mode fashion dan trend dia oke, komputer apalagi dia jago banget, seharusnya sih dia bisa sebagai konsultan kita tapi bukankah posisi seperti itu tidak kita butuhkan." Ujar Dewi.


"Kalo pantry gimana? di lantai atas oleh Aceng di bikin dapur apa perlu kita manfaatkan?" Tanyaku beralih topik.


"Menurut Mbak Sari gimana?" Tanya Dewi pada Sari


"Sebaiknya di fungsikan jika kita tak ingin di repotkan urusan makan siang karyawan." Jawab Sari tegas.


"Betul Gung, apalagi usaha kita ini kan jenis usaha yang tak bisa di tinggal karyawannya lama lama gitu kan, misalnya kaya jika sedang ramai kan tetap harus ada yang melayani meski itu sudah waktu istirahat siang." Ujar Dewi menambahi alasan yang masuk akal.


"Baiklah kalo begitu Dew, tolong kamu cari dua orang karyawan bagian pantry yang memenuhi syarat misalnya cara masak harus bersih dan tidak jorok dan juga bisa diterima rasa masakannya." Ujarku.


"Hem...aku lagi... trus kira kira kamu punya saran nggak Gung aku harus rekrut siapa ?" Balas Dewi balik bertanya padaku.


"Ada seh tapi nya mau apa tidaknya nggak tau." Jawabku.

__ADS_1


"Memang siapa mas ?" Tanya Sari.


"Mih Onah." Jawabku singkat dan jelas.


"Ah mamaku maksud kamu Gung ?" Tanya Dewi.


"Ya iya ..memang siapa lagi." Jawabku sambil tersenyum.


"Mamah kan sudah tua kenapa pilih dia, takutnya masakan mamah nggak masuk selera rasanya nantinya." Ujar Dewi.


"Sederhana saja Dew, kita sudah biasa makan di suapi orang tua kan dan ini yang paling penting aku hanya ingin orang yang benar benar bisa dipercaya untuk nyediain kita makanan, bukan gimana gimana seh Dew, soalnya urusan perut itu suka sensitif." Ujarku.


"Iya sih aku setuju loh Teh Dewi, tentu saja jika Mih bersedia tentunya." Ujar Sari menambahi.


"Baiklah kalo Bapak dan Ibu Boss sudah berkehendak bukankah aku hanya bisa mengamini saja, tapi tetap saja aku nggak bisa janji yah mamah bakalan mau." Kata Dewi yang langsung mendapat senyuman dan anggukan dari Sari.


Aku sendiri hanya tersenyum dan mengacungkan jempol buat Dewi.


"Trus kapan barang dagangannya datang nih, soalnya semua sudah siap kan ?" Tanya Dewi.


"Apakah perlu surat lamaran lengkap buat yang ingin jadi karyawan boss ?" Tanya Dewi sambil tertawa kecil.


"Ya kalo bisa paling tidak diketahui identitas orangnya donk." Jawabku.


"Paling kebanyakan temanku seh Gung." Kata Dewi.


"Ya tapi kalo bisa usahakan yang ramah dan good looking yah Dew. Meski ga wajib juga." Ujarku menambahkan.


"Oh pastilah Gung, teman temanku itu cakep cakep semua kok." Jawab Dewi antusias.


"Memang kenapa mas kalo karyawan nya nggak good looking..?" Tanya Sari agak ketus.


"Ya gapapa seh yank tapi kalo bisa ramah gitu, kalo ramah kan konsumen juga suka nyambunginnya." Ujarku, buru buru menjawab pertanyaan Sari yang sudah menatapku dengan tatapan judesnya.


Dewi hanya tersenyum senyum melihat kami.

__ADS_1


"Kalian memang cocok kok jadi aku berharap kalian memang soulmate." Kata Dewi kemudian.


"Cocoknya gimana Dew? di lihat dari sudut pandang kamu?" Tanyaku sambil tersenyum.


"Ya kalian sama sama cemburuan, tapi bagusnya yang satu bisa menjadi penenang bagi yang lain dan yang penting kalian memang sangat serasi kok, pokoknya pas deh." Ujar Dewi terlihat jujur dilihat dari matanya.


"Tapi habis ini kamu nggak minta di beliin bakso semangkok oleh kami kan Dew ?" Ujarku bercanda sambil terkekeh, membuat kedua perempuan cantik di depanku itu juga ikut tertawa.


"Enak aza semangkok...segerobak nya sekalian lah." Ujar Dewi sambil tertawa seolah meledek kami berdua.


"Ya sudah pulang yuk sudah agak sore kan !" Ujarku, yang disetujui oleh kedua orang makhluk cantik ini.


Karena kata Aceng mereka semua masih di toko, jadi aku langsung menuju toko tanpa pulang ke rumah lebih dahulu. Tentunya sambil membawakan mereka buah tangan meskipun hanya sekedar gorengan dan beberapa banyak sop buah yang sempat kami beli di perjalanan pulang.


Ternyata Aceng dan empat tangan besi sedang memasang pepayon dari baja ringan di ruang antara jalan tanjakan yang langsung menghubungkan ke gudang di lantai tiga dengan sebuah bangunan yang kata Aceng bisa di buat menjadi warung kopi.


"Ceng kalian lagi buat apaan sih ?" Tanyaku.


"Kandang mobil box kamu dodol, memang mobilmu mau di taruh di halaman saja." Ujarnya sambil mendelik menatapku.


"Oh iya ya...kamu kok pintar juga yah ternyata mantab tapi omong omong duit untuk beli peralatan itu darimana ?" Tanyaku lagi, karena perasaan Aceng nggak minta uang apapun untuk ini.


"Ya duit motor lah, tadi kepake 8 juta semuanya." Ujar Aceng sambil melemparkan selembar kertas bon dari atas, karena memang dia sedang memasang atap bersama Riko dan Suranto, sementara Trimo dan Doni membantu mereka dari bawah.


"Ya sudah turun dulu boss boss...itu sudah di bawakan camilan dan sop buah oleh nona nona itu." Kataku, empat tangan besi hanya tersenyum sementara Aceng hanya cuek lalu sibuk memaku plat galvalum atap itu dengan alat keling nya.


Tak sampai sepuluh menit kemudian mereka sudah turun semua dan berkumpul bersama kami dan empat orang pegawai Eterna yang juga sudah hampir menyelesaikan pekerjaan mereka.


Namun ada yang aneh dengan empat tangan besi yang mendadak menjadi begitu sungkan dan segan terhadap Sari yang slalu bersikap ramah pada mereka.


Aku pun yakin Sari juga sudah paham dengan perubahan sikap dari empat tangan besi yang begitu mendadak itu, terkait dengan sikapku pada Arman.


Semula aku berpikir Sari akan sedih dengan perubahan sikap empat tangan besi itu karena bagaimanapun juga aku paham Sari sangat menghormati empat tangan besi itu setelah mereka membantu aku menyelamatkan dirinya saat di culik gerombolan Mas Farhan tempo hari.


Namun pada akhirnya aku sedikit lega karena Sari tampak tak begitu terpengaruh oleh perubahan sikap empat tangan besi itu.

__ADS_1


__ADS_2