
Acara makan malam yang sebenarnya masih terlalu awal berlangsung santai dan penuh keakraban. Anis yang memang gampang bergaul orangnya bahkan tak canggung ketika melayani Mbak Wati ataupun Mas Riyan yang mengajaknya ngobrol ringan setelah kami selesai menyelesaikan makan malam kami.
Meskipun tak berlangsung lama karena Anis segera berpamitan untuk membereskan peralatan bekas makan minum kami.
"Biar mbak bantu kamu dek..." Ujar Sari yang memang sudah akrab dengan Anis sebelumnya. Anis hanya mengangguk senang.
Kini tinggallah aku bersama para orang orang yang lebih tua dariku itu. Bapak sendiri terlihat cukup akrab dan santai full senyum ketika ngobrol sesekali dengan Ibu Lastri yang ternyata cukup easy going juga. Aku bahkan bengong melihat kedua orang paruh baya itu langsung bisa akrab satu sama lain.
"Gung....jadi berangkat besok ke Subang nya kan?" Tanya Mas Riyan menyita seluruh perhatian kami.
"Insyaallah jadi mas..." Jawabku.
"Kau jadi mengajak Sari kan ?" Ujarnya melanjutkan.
"Iya mas, aku sangat memerlukan bantuannya." Jawabku.
"Baiklah kami percaya padamu asal kamu janji akan jaga baik baik dia. Jangan khawatir adikku itu tak banyak banyak kok makannya." Ujar Mas Riyan bercanda garing sembari tertawa di ikuti istrinya yang ikut tertawa juga.
Aku yang paham gaya bicara Mas Riyan pun hanya memaklumi.
"Berapa pun banyaknya aku tak keberatan memenuhinya mas, yang penting menyehatkannya." Jawabku santai.
"Maaf Pak.. apakah Bapak juga sudah mengetahui hubungan antara anak anak kita ?" Ujar Ibu Lastri bertanya pada Bapak.
"Iya Buk sedikit banyak anak saya yang bengal ini telah bercerita bahwa dia ternyata menyimpan rasa pada istri kakaknya sendiri, yang akhirnya membuat Ibuk sekeluarga harus repot jadinya." Jawab Bapak cukup cerdas menurutku.
"Mungkin takdir kebersamaan Sari dan Farhan memang hanya cukup sampai di sini saja Pak, jadi bukan semata mata karena sedikit kekhilafan dari Dek Agung ataupun Sari sendiri, tapi memang banyak hal yang membuat rumah tangga Sari dan Farhan sebaiknya harus berpisah." Kata Mas Riyan terdengar bijaksana. Bapak hanya tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Tumben." Pikirku.
"Mohon maaf Pak, jadi kira kira bagaimana pendapat bapak dengan hubungan yang terjalin antara Agung dengan bekas istri kakaknya?" Tanya Ibu Lastri kembali.
__ADS_1
"Buat saya pribadi Buk, apa yang anak saya suka itulah yang saya suka pula, apalagi kami semua sudah sedikit banyak mengenal genduk Sari dengan segala hal yang lebih banyak baiknya daripada buruknya." Ujar Bapak.
"Trimakasih Pak, kalo begitu saya sekarang sudah lega, karena artinya kami takkan kehilangan keluarga di Kampung Tawangsari sini." Ujar Ibu Lastri sembari tersenyum semringah.
"Tentu Buk, begitu juga kami pun sangat senang dan berterima kasih yang tak terhingga bahwa ternyata anak saya yang bengal ini dapat di terima di keluarga besar Ibu Lastri." kata Bapak tak kalah semringah.
"Begitu juga sebaliknya Pak, kami juga menghaturkan banyak terimakasih mudah mudahan ke depan ikatan keluarga ini lebih langgeng dari sebelumnya dan kalo bisa selamanya." Ujar Ibu Lastri dengan full senyumnya yang masih terlihat menawan.
"Aminnnnnn......!!!!" Ujar kami semua serempak.
"Kalo begitu karena sudah cukup lama kami mengganggu waktu Bapak Marno sekeluarga dan juga tujuan kami datang silaturahmi kesini sudah terlaksana, ijinkan kami mohon diri Pak, mohon doanya biar kami kembali dengan selamat sampai tujuan lagi." Ujar Ibu Lastri lagi.
"Tentu Ibuk, kami semua senantiasa berdoa semoga kita semua di berikan keselamatan dan keberkahan dalam setiap kondisi apapun, tapi apa tidak lebih baik jika pulangnya setelah maghrib saja, maaf bukan bermaksud menghambat." Ujar Bapak menanggapi.
Ibu Lastri menatap Mbak Wati dan Mas Riyan sejenak sebelum akhirnya mereka semua sepakat menyetujui usul dari bapak.
Tak lama setelah itu adzan maghrib memang berkumandang, membuat kami segera beranjak dari tempat duduk kami yang hanya beralaskan tikar pandan saja di pelataran, untuk kemudian kami bersama sama menuju mushola yang dekat dengan rumah kami.
Di mushola itu ada sedikit hal yang menjadi perhatianku, Bude Marni ternyata masih terlihat bermuka masam saat ketemu Ibu Lastri dan anak anaknya, meski masih mau menyalami mereka.
Setelah acara sembahyang bersama itu selesai, Ibu Lastri benar benar kembali mengutarakan niatnya untuk segera mohon diri, yang akhirnya di setujui oleh Bapak yang tak henti hentinya mendoakan keselamatan buat mereka semua.
"Mbak Sari kenapa nggak nginap di sini saja bukankah besok akan berangkat ke Subang bareng Mas Agung..?" Bisik Anis di dekat telinga Sari.
"Belum waktunya buat mbak nginap di tempatmu dek." Jawab Sari sambil tersenyum.
"Lalu kapan mbak bisa kesini lagi?" Tanya Anis lagi.
"Soal itu kamu bisa tanyakan pada mas kamu saja." Jawab Sari tersenyum sambil melirik padaku.
"Yah kalo nanya Mas Agung pasti jawabannya ingin mbak nginap disini sekarang." Ujar Anis yang membuat Sari tertawa. Aku pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Mas aku pamit dulu yah, besok jangan lupa jemput yah..." Ujar Sari kemudian meraih dan mencium tanganku. Aku pun mengecup keningnya dalam dalam.
"Besok berangkat agak pagi saja yank biar bisa menikmati suasana perjalanan." Ujarku, Sari hanya mengangguk. lalu melangkah menghampiri keluarganya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Sari masih menyempatkan untuk berpamitan dan menyalim tangan Bapak, sebelum masuk ke dalam mobil Mas Riyan.
Suasana lengang langsung menyelimuti setelah kepergian keluarga dari Ambarawa itu. Bapak bahkan masih berdiri di depan gerbang pagar untuk beberapa saat lamanya sebelum kembali menghampiri aku dan Anis.
Bapak kembali ke mode raut wajah melow nya meski tadi terlihat banyak semringah dan cerah.
"Kurasa Bapak sangat kehilangan Ibu Lastri, Nis." Ujarku pada adikku.
"Iya nih, kenapa tadi Bapak nggak sekalian nembak mamahnya Mbak Sari saja yah mas." Ujar Anis menimpali, kami berdua pun segera tertawa tawa.
"Itu bakul dan perkakas milik Suminah itu segera kembalikan dari pada bicara omong kosong." Ujar Bapak membuat kami bertambah ngakak tertawanya.
"Ah bapak padahal pintar sekali ramah tamahnya tadi sayang sekali tak ada upaya penembakan, sekarang giliran di tinggal langsung kehilangan." Ujarku menggoda Bapak yang kemudian memilih bergegas masuk ke dalam rumah darurat tanpa berucap apapun lagi.
"Mas bantuin mengembalikan perkakas Yu Suminah." Ujar Anis.
"Okeyyy...siapa takut..."
Baru saja kami melangkah keluar dari gerbang pagar, datanglah Sriyanto yang sebenarnya usianya jauh lebih senior dari pada aku itu menghampiri kami.
"Gung...memang benar kamu merebut istrinya Farhan ?" Tanyanya tiba tiba.
"Berita dari mana itu yang benar adalah Mas Farhan yang membuang istrinya. Emang ada apa seh apakah menjadi masalah ?" Ujarku santai.
"Ya nggak juga, cuma kan desas desusnya begitu Gung, oh ya jangan lupa nanti kamu di tunggu di tempat biasa yah. Jangan nggak datang loh yah..!" Ujarnya seolah mengancam ku sambil ngeloyor pergi dengan motor gedenya.
"Gimana nanti lah mas..." Jawabku.
__ADS_1