OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 58 Coffee Time


__ADS_3

Empat tangan besi, menepati janjinya untuk makan malam bersama kami. Dan sikap mereka terhadap Sari pun sudah kembali seperti sedia kala. Mereka tak segan berceloteh konyol yang bahkan membuat Dewi dan Sari tertawa terbahak bahak, bahkan Nimas yang untuk pertama kalinya berkumpul bersama kami juga tak segan ikut tertawa.


Sayangnya Mih Onah dan Pak Suryadi tidak bersedia menemani kami makan malam dengan alasan mereka sudah terlalu tua untuk berkumpul dengan anak anak muda seperti kami.


"Kalo gini caranya mendingan tadi kita bawa makan malamnya ke gudang saja, sambil bakar bakar ikan." Ujar Aceng yang malam ini, berhasil membawa Nimas untuk makan malam bersama kami semua sekaligus membuat kencan pertama mereka terjadi.


"Tenang Ceng, nanti kita adain kok sebelum toko di buka kita adakan ramah tamah dengan semua anggota dengan pesta bakar bakar." Ujarku yang langsung mereka sepakati.


"Oh iya Gung untuk pantry rencananya jadi kan ?" Tanya Dewi.


"Jadilah kenapa nggak..oh iya gimana Emih bersedia tidak ?" Ujarku.


"Itulah Gung kan aku tadi sudah bilang ke mamah soal rencana itu, sayangnya mamah tidak bersedia Gung, soalnya mau bantuin Bapak garap sawah dan kebun kamu aza." Kata Dewi.


"Yah...trus gimana ?" Keluhku.


"Jangan cemas Gung, mamah mengusulkan kita untuk merekrut Bik Emay untuk bagian pantry, Bik Emay adalah bibiku Gung adiknya mamah, dan masakannya juga sangat enak kok." Ujar Dewi.


"Ya sudah tanggung jawab kamu Dew, untuk merekrut beliaunya okey...?" Ujarku.


"Okey, tapi soal gajinya gimana nanti kalo dia tanya?" Tanya Dewi lagi.


"5 juta untuk kepala pantry dan 4 juta sebulan untuk satu asisten yang bantuin beliau, yang penting syarat utamanya harus suka kebersihan dan tidak jorok loh yah." Ujarku.


"Okey, bibiku orangnya bersih kok Gung jangan cemas." Kata Dewi, aku mengangguk.


"Kalo Teh Imas maaf besok bisa nggak nemenin Aceng ke Bandung buat cari dagangan ?" Tanyaku ke Nimas Dewi Hapsari yang malam ini penampilannya begitu cantik elegan satu level dengan Sari.


"Bisa kok Ak." Jawab Imas singkat sambil menatapku dan Sari yang duduk di sebelahku bergantian.


"Justru dia Gung yang akan nunjukin ke pusat pusat produksinya langsung sekaligus menjajaki kerja sama untuk memasok produk ke kita secara rutin dan tentunya dengan harga miring." Tukas Aceng.


"okey...besok kamu bawa satu miliar dulu yah nanti kalo kurang kamu bisa calling aku apa nyonya ku ini." Ujarku.

__ADS_1


"Oke boss !!!" Jawab Aceng.


Anggaran ku untuk investasi ini adalah 10 miliar yang baru terserap tiga puluh persen saja sampai detik ini. Namun mengingat obsesi ku yang ingin menjadi pemain utama di wilayah ini dalam bisnis ini aku yakin modal 10 miliar itu akan segera terserap sepenuhnya.


"Oh iya Teh Imas nanti tolong saya minta nomor rekening bank nya yah nanti bisa di kasih sama Aceng apa Dewi juga gapapa." Ujarku pada Imas.


"Iya Ak, siyap kalo itu mah." Jawabnya sambil tersenyum sangat manis sekali.


Hari semakin larut ketika pada akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi acara kumpul bersama ini, tepat saat Aceng berpamitan dengan alasan akan mengantar Nimas pulang ke rumahnya. Setelah itu semuanya ikut berpamitan.


"Boss malam ini aku dan Mas Anto akan giliran nginap di toko, jadi besok kalo boss jadi ngajak kami ke Tanah Abang langsung saja ke toko." Ujar Doni.


"Iya sip deh, besok kita berangkat agak pagi saja yah, takut kesiangan soalnya." Ujarku pada mereka.


"Gung aku balik ke rumah ku yah. Selamat malam mas mas semua...!" Ujar Dewi sangat ramah, dia baru saja selesai bantuin Sari membereskan peralatan bekas makan minum kami.


"Selamat malam Mbak Dewi...!!!" Jawab empat tangan besi serempak dan kompak.


Dewi hanya tersenyum menatap mereka sebelum berlalu ke rumahnya yang hanya beberapa jengkal saja di sebelah rumahku.


"Aku ikut ya mas..." Ujarnya.


"Sebaiknya tidak yank...selain aku telah mengajak Suranto dan Doni bersamaku, aku juga ingin nagih uang ke Mas Harno juga." Ujarku.


"Lalu aku ngapain di rumah, Dewi besok sibuk ke rumah teman temannya." Kata Sari sambil memiringkan tubuhnya menghadap ku.


"Tugasmu vital yank, besok kamu bikin tabel daftar harga saja dulu per piece nya dengan menambahkan sepuluh sampai lima belas persen dari daftar harga beli kita, laporannya bisa kau dapat di email." Ujarku.


"Iya deh kalo gitu." Tuturnya.


"Tapi ingat yah soal harga harga ini tolong di rahasiakan dari siapapun juga." Ujarku.


"Ya iya mas, soal itu aku paham. Tapi memang Dewi ga boleh tau soal itu gitu mas ?" Tanyanya.

__ADS_1


"Kalo ga tanya ga perlu di kasih tau lah yank." Jawabku.


"Mas, Nimas itu apakah calon istri Aceng yang kamu ceritakan kemaren itu ?" Tanyanya.


"Iya yank mudah mudahan saja mereka memang berjodoh." Jawabku.


"Tapi Imas itu cantik banget mas, memang kamu nggak tertarik padanya? tadi kulihat dia mandangin kamu terus loh mas." Ujar Sari


"Apa maksudmu yank ?" Tanyaku sambil merengkuh tubuhnya.


"Kelihatannya justru kamu mas yang menarik perhatian Imas, apalagi kulihat Imas hanya bersikap biasa saja ke Aceng." Ujar Sari sambil menatap mataku dalam dalam.


"Berarti ceritanya kebalikannya dari tadi pagi yah hehehe, soalnya hampir saja tadi pagi aku pengin congkel mata Arman yang tak punya sopan santun itu." Ujarku.


"Hihihi segitunya mas, lalu haruskah aku juga mencolok mata Imas yang suka curi curi pandang padamu ?" Tanya Sari.


"Ya nggak lah yank, Imas kan ada gunanya buat kita nanti kalo Arman apa gunanya ?" Ujarku.


"Oh jadi seperti itu ?" Kata Sari terlihat cemberut.


"Lah memang kamu maunya gimana yank ?" Kataku sambil tertawa geli, karena ternyata Sari bisa cemburu juga.


"Au ah nyebelin banget... maksudku itu jika benar Nimas beneran suka sama mas, apa yang akan mas lakukan ?" Tanya Sari dengan raut muka serius.


"Ya nggak ngapa ngapain lah, emang mau apa? aku sudah punya kamu dan Imas sudah di klaim Aceng yang lebih dari sekedar sahabat buatku dan itu sudah adil, lagipula aku juga nggak ingin memikirkan hal apapun selain kamu yank." Ujarku sungguh sungguh.


"Berani sumpah !!?" Tanyanya sangat tegas.


"Berani." Jawabku sambil mengacungkan dua jariku di depan muka kekasihku itu lalu ku gunakan untuk menowel hidung bangir mancungnya.


"Iihhh apaan seh." Ujar Sari ga suka kuperlakukan begitu meski dia juga tak menepis jari tanganku yang mempermainkan hidungnya.


"Aku hanya mencintaimu seorang sayank, dan aku yakin kamu memang di takdirkan untukku, meski jalannya harus memutar mutar seperti ini." Ujarku sambil mengecup kening kekasihku itu dalam dalam.

__ADS_1


"Baiklah mas ayo kita tidur, bukankah mas besok akan ke Jakarta." Kata Sari sambil memelukku.


__ADS_2