OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 45 Habis Gelap Pasti Terang


__ADS_3

Aku terbengong dan terkejut karena tiba tiba saja wanita itu sudah berada di belakangku sambil tersenyum dengan senyuman aneh dan sedikit menyeringai. Wanita itu bahkan terlihat sehat dan baik baik saja, meski mata batinku mengatakan sebaliknya.


"Mbak sudah baikan ?" Tanyaku sambil meletakkan lagi tas miliknya yang tadi sudah aku siapkan buatnya.


Wanita itu sama sekali tak menjawab justru menatapku lekat dan tak berkedip, bahkan sama sekali tak ada pergerakan apapun dari tubuhnya selain berdiri sambil menatap lekat padaku.


Aku paham sekarang, kondisi wanita itu bukan sakit biasa, ada kekuatan tak kasat mata yang kini tengah menyelubungi dirinya atau setidaknya menguasai tempat ini.


Aku segera mengambil garam dalam wadah toples terbuka tanpa tutupnya itu, ku baca beberapa ayat ayat suci dan ku sebut asma Allah yang pernah diajarkan Kyai Danuri beberapa kali sebelum kutiupkan ke dalam toples berisi yg garam itu, lalu ku sebar merata di beberapa sudut sebelum aku melemparkan segenggam garam ke arah tubuh wanita itu.


Wanita itu menjerit sesaat seolah kesakitan, sebelum tubuhnya terkulai lemah dan jatuh ke lantai, dari ubun ubun kepalanya keluar sebuah asap tipis yang bergerak sangat cepat menuju jendela dapur itu, namun aku lebih sigap melemparkan garam ke arah asap itu yang tiba tiba saja berubah menjadi halimun pepat.


Namun halimun itu juga segera berpendar menghilang berganti dengan seutas tali putih perca yang sudah usang yang segera ku ambil dan ku lempar ke tungku perapian yang masih ada sisa bara apinya.


Sesaat kemudian wanita yang masih ku biarkan tergeletak itu sadar dengan sendirinya dan mulai berkejap kejap membuka matanya. Dia tampak bingung dengan kondisi dirinya hingga terbengong sesaat.


"Mari mbak bangun dulu, ternyata aku hampir keliru tadi, mbak sudah merasa nggak sakit lagi kan ?" Tanyaku sambil mengulurkan tanganku kepadanya.


"Saya memang kenapa tadi mas ?" Ujarnya masih terlihat bingung lalu meraih tanganku untuk membantunya berdiri.


"Mbak nggak kenapa kenapa tapi ada seseorang yang mempunyai niat jahat pada mbak, mungkin iri dan dengki dengan mbak, atau mbak memiliki salah yang tidak termaafkan olehnya aku kurang paham, yang jelas mulai sekarang mbak harus lebih mawas diri lagi dan kalo bisa mulai mendekatkan diri pada Tuhan." Ujarku sambil memapahnya untuk duduk di atas amben tempat ia menaruh bumbu bumbu dapurnya.


"Pantas saja seminggu ini warungku sangat sepi mas dan membuat aku rugi besar." Tuturnya lirih.


"Tapi insyaallah sudah aman kok mbak, hanya saja mbak tetap harus lebih mawas lagi mulai sekarang, itu nanti sisa garam itu mbak tebarkan saja berkeliling di luar rumah ini, dan besok kalo mau menanak nasi air bekas cucian berasnya mbak siramkan di empat sudut rumah ini juga di depan pintu sambil di bacakan ayat kursi dan surat qulhu sebelumnya. Bisa kan mbak ?" Ujarku.

__ADS_1


"Bisa mas bisa banget... Trimakasih banyak ya mas atas pertolongan mas, kalo tidak entah apa jadinya." Ujar wanita itu.


"Aku hanya lantaran saja mbak, maaf kalo boleh tau kira kira mbak sudah paham belum siapa yang mbak curigai ingin berbuat jahat kepada mbak ?" Tanyaku.


"Iya mas, kemungkinan besar itu mantan suamiku." Jawabnya lugas.


"Baiklah mbak karena mbak sudah baikan aku ingin kembali meneruskan perjalanan lagi, aku tadi sempat makan soto dan setusuk telur puyuh berapa harganya mbak ? juga minuman teh jeruk gula batu." Ujarku.


Wanita itu hanya tersenyum lalu berdiri tepat di depanku dan tiba tiba saja langsung memelukku dengan eratnya, aku bingung mau menolak takut ia tersinggung dan sakit hati, akhirnya aku hanya diam saja, bahkan ketika kemudian menempelkan bibirnya pada bibirku saat aku sedang tertegun.


"Mbak.....sudah yah....ga perlu berlebihan." Ucapku lirih sambil melepaskan pelukannya pelan pelan.


"Soto...soto !! Dah matang belum nih...?" Ujar seseorang yang kami longok sudah duduk di dalam warung bersama pasangannya.


Wanita itu mulai terlihat kembali bersemangat lalu melangkah ringan keluar dari ruang dapur untuk menemui pelanggannya.


Aku rogoh dompetku dan meninggalkan selembar uang ratusan ribu yang ku tindih separuhnya dengan toples garam, lalu pergi.


"Mbak aku pamit yah !!!" Ujarku sambil dengan cueknya melangkahkan kakiku meski ada pandangan heran dari kedua orang pelanggan wanita itu.


"Iya mas terimakasih banyak ya mas...!!" Jawab wanita itu sedikit berteriak sambil sibuk membuatkan pesanan pelanggannya.


Aku kembali melajukan mobilku di jalanan yang masih basah meski matahari sudah mulai bersinar. Sejam lamanya waktuku yang tersamun di warung tadi, jadi belum begitu kesiangan.


Aku kembali menghentikan mobil tepat di samping pasar besar kabupaten ketika aku melihat ada yang menjual beraneka kue jajanan pasar, sekaligus membeli buah tangan yang rencananya akan ku bagikan dengan para tetangga di Krajan.

__ADS_1


Bagasi mobil kini telah penuh dengan kardus kardus berisi oleh oleh, setelah itu aku kembali melanjutkan perjalanan menuju Ambarawa untuk menjemput kekasihku.


Entah kenapa perjalananku jadi begitu mulus dan sangat lancar bahkan ketika melintas di jalanan protokol kotamadya yang biasanya selalu penuh dan sedikit tersendat.


Bahkan saat aku telah sampai di Ambarawa, Sari juga belum selesai bersiap sepenuhnya. Dia masih sibuk dengan seabrek aktivitas mendadani tubuhnya. Aktivitas klasik yang entah kenapa sangat di sukai oleh kaum hawa yaitu berlama lama di depan meja riasnya.


Aku hanya harus ikhlas menunggu kekasihku itu dengan ngobrol sejenak dengan Ibu Lastri yang menyuguhi aku kopi jahe racikan beliau sendiri, yang untungnya tak lama setelah itu Mbak Wati dan Mas Riyan suaminya juga datang berkunjung dengan memakai seragam dinas mereka.


"Sudah lama mas..?" Tanya Mbak Wati ketika kami bersalaman yang entah kenapa dia juga mengajak aku cipika cipiki meski dengan tatapan nyalang Mas Riyan yang hanya bisa diam saja melihat istrinya dengan cueknya menempelkan pipinya dengan pipiku.


"Barusan kok mbak....Mbak Wati dan Mas Riyan sudah mau berangkat dinas juga ?" Tanyaku begitu karena kulihat jam dinding baru pukul setengah delapan.


Sebelum aku kemudian menyalim tangan suaminya yang terlihat menjadi jutek itu.


"Iya ini sekalian mau ke kantor." Jawab Mbak Wati.


"Eh ada kue klepon yah..." Ujar Mbak Wati lagi sambil mencomot sebutir kue basah berlapis parutan kelapa itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya yang sensual dan cipokable sekali itu.


"Iya tadi yang bawa Agung." Kata Ibu Lastri.


"Gung...nanti kamu harus jaga bener bener Sari yah." Ujar Mas Riyan begitu kaku.


"Siyap Ndan...kalo perlu tak akan ku biarkan seekor lalat pun bisa menyentuhnya." Ujarku bergurau sambil terkekeh.


Mbak Wati dan Ibu Lastri juga ikut tertawa sementara Mas Riyan hanya tersenyum bias.

__ADS_1


__ADS_2