OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 126 Cerita Berkawan


__ADS_3

"Ini semua yang masak kamu Nis ?" Tanya Agung setelah duduk menghadap meja makan.


"Jelaslah memang siapa lagi ?" Jawab Anis bangga.


"Pintar juga kamu, tau kesukaanku tempe goreng dan oseng lombok ijo." Ujar Agung lalu ikut menyendok makanan ke piringnya setelah Bapaknya selesai mengambil, setelah itu barulah Anis yang terakhir mengambil seporsi makanan buatnya sendiri.


"Mas kapan Mbak Sari kesini ?" Tanya Anis.


"Ya nanti kalo sudah resmi, gosip yang beredar gimana sekarang?" Ganti Agung yang bertanya pada adiknya itu.


"Sekarang Mas sudah aman, giliran Mas Farhan yang jadi berita, lalu Mbak Yesi yang sering kesini nyariin Mas sambil bawain oleh oleh buah buahan." Ujar Anis sambil mengunyah.


"Ceritanya nanti saja kalau makan sebaiknya makan dulu." Ujar bapaknya menasehati kedua adik kakak yang kalau bertemu langsung bikin ramai suasana.


"Bukankah aturan seperti itu hanya berlaku kalau ada tamu yang ikut makan bersama kita Pak ?" Sanggah Anis.


"Iya tapi kalo kamu makan sambil ngobrol gitu makannya nggak akan selesai selesai." Tukas Bapaknya.


"Iya iya..." Jawab Anis meradang, Agung hanya tertawa kecil sementara Anis membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.


Namun begitu suasana makan yang hening itu ternyata tidak mengenakkan buat gadis anak bungsu yang sudah terbiasa di manja sejak bahkan sebelum ia lahir ke dunia itu.


Tak lama kemudian Anis kembali bicara dan bertanya pada Agung.


"Mas besok temani aku ke Solo yah." Pinta Anis dalam nada lirih.


Agung hanya mengangguk namun tak berkata apapun.


"Kalo bisa sama Mbak Sari tapinya." Ujar Anis lagi.


"Nggak bisa. Meskipun di rumah Sari tetap kerja ngurusin toko." Jawab Agung.


"Lah trus pulang kampung ngapain kalo masih tetap ngurus kerjaan juga ?" Tanya Anis nggak mau kalah.


"Ada urusan yang harus Mas, kerjakan dalam minggu ini, oh iya besok tiga hari ke depan Mas mulai puasa tolong nasi sisa ini nanti jangan di buang yah nduk !" Ujar Agung.

__ADS_1


"Nanti biar aku masakin lagi lah, ribet amat, makanya punya calon istri itu di bawa pulang biar bisa ngurusin." Ujar Anis.


"Ya entar donk, cerainya juga baru kemarin masak sudah mau di nikahin lagi." Kata Agung.


"Trus Mbak Yesi nanti gimana Mas kalo ngambek?" Tanya Anis menggelitik pikiran Agung.


"Yah apa hubungannya denganku, dia kan cuma teman saja nggak mungkin lah dia ngambek." Kata Agung sambil menyuap nasi dan lauk terakhir di piring ke mulutnya.


"Tapi kayaknya nggak sesimpel itu deh Mas, kalo cuma teman nggak mungkin Mbak Yesi sampai segitunya nanyain Mas, kalo nggak percaya coba nanya Bapak." Ujar Anis.


Agung hanya menatap bapaknya sekilas namun melihat bapaknya hanya cuek, Agung pun mengurungkan niatnya untuk berucap sesuatu.


Setelah makan malam selesai ternyata Agung sudah di tunggu oleh beberapa sahabatnya lagi yang sengaja datang mencarinya, dan diantaranya adalah Irfan sahabatnya sejak dari masa kanak kanak saat bersekolah di taman kanak-kanak sampai lulus SMP kemudian berpisah karena Irfan memilih putus sekolah demi menjadi tulang punggung keluarganya setelah ayahnya meninggal dunia mendadak dalam usia yang masih cukup muda.


"Irfan !! Kaukah itu kawan ?"Ujar Agung senang sambil menghampiri kawan karibnya yang lama tak berjumpa itu sambil berjabat tangan dengan hangat.


"Iya Gung ini aku, tadi kudengar kamu pulang, jadi aku mengajak Yanto dan Dwi kesini." Balas Irfan semringah.


Agung bukannya pilih pilih teman tapi dia tentu jelas mendahulukan Irfan dari teman teman yang lain karena Irfan lah yang selalu menemaninya dalam susah dan senang semasa mereka menjalani masa kanak kanak sampai remaja yang penuh dengan dinamika lika liku kehidupan.


"Ini bukannya rumah adikmu Gung ?" Ujar Dwi.


"Iya seh Wi, cuma kalo di sini masih ada makanan di meja makan tapi kalo yang di sebelah kering cuma ada mejanya doank." Ujar Agung sambil tersenyum.


"Ya sudah biarin aza, orang kita semua juga baru saja makan kok. Kita ngobrol aza lah di teras sini." Tukas Yanto.


"Baiklah, terserah kalian. Silahkan kalo gitu, sebentar yah, sambil ngobrol kita ngopi bareng ya nggak." Kata Agung ramah lalu kembali ke dalam rumah lalu menemui Anis yang sedang sibuk mencuci peralatan bekas makan.


"Nduk bikinin kopi empat cangkir yah antar ke teras bawa juga camilan !" Kata Agung.


"Iya...." Jawab Anis menyaguhi permintaan kakaknya.


Agung lalu kembali ke depan menemui para sahabatnya lalu mengobrol akrab terutama mengenang masa kecil mereka yang penuh kenakalan anak anak, hingga kadang mereka tertawa terbahak bahak.


Sebelum kehadiran Anis yang membawa suguhan buat mereka menghentikan canda tawa mereka sejenak.

__ADS_1


"Makasih ya nduk Nis....!" Ujar Irfan.


"Sama sama Mas...silahkan di nikmati apa adanya yah Mas, maaf !" Jawab Anis sopan.


"Kamu sudah punya pacar belum Nis ?" Tukas Yanto.


Sementara Anis hanya menanggapi dengan senyuman manis saja malu malu tanpa berucap sesuatu.


"Masih kecil ga pake pacar pacaran dulu, sekolah aja belum kelar." Agung lah yang berkata.


Anis segera berpamitan untuk masuk ke dalam rumah begitu ia selesai menyajikan semua suguhannya.


"Jadi sebenarnya Farhan itu bagaimana ceritanya sih Gung ?" Tanya Dwi sesaat setelah mereka menyeruput kopi creamer yang di suguhkan Anis.


"Maaf Wi, sebenarnya aku juga kurang begitu paham masalah Mas Farhan spesifiknya gimana yang jelas hubungan nya dengan Sari memang telah berakhir." Jawab Agung apa adanya.


"Dan dengar dengar kau yang akan gantian menikahi Mbak Sari yah Gung ?" Timpal Yanto ikut bertanya.


"Rencananya begitu Yan." Jawab Agung datar.


Sebenarnya buat Agung pertanyaan seperti itu sangatlah sensitif buatnya namun demi menghargai seorang teman yang kini bertamu kepadanya Ia tetap menahan dirinya.


"Kamu sendiri gimana Fan, gimana kabar usahamu di Surabaya?" Tanya Agung, karena memang mengetahui informasi bahwa sahabat karibnya itu punya usaha angkringan di kota pahlawan itu.


"Aku sudah lama tidak di Surabaya Gung, kemarin baru pulang dari Flores." Jawab Irfan.


"Widih kok jauh amat Fan, emang sekarang dagang juga di sana ?" Tanya Agung lagi.


"Nggak Gung, sekarang aku kerja di proyek." Jawab Irfan santai sambil menghisap rokok kretek 234 nya.


"Oh, keliling Indonesia berarti, baguslah tapi memang Mamakmu ngijinin kamu kerja jauh jauh gitu?" Tanya Agung lagi.


"Ya mau gimana lagi Gung, namanya harus memberi makan empat mulut selain mulutku sendiri." Kata Irfan santai.


Jika berbicara dengan Irfan berkaitan dengan Mamaknya Irfan tentu Agung akan selalu ingat kejadian 7 tahun yang lalu, tepatnya saat mereka baru kelar sekolah menengah kejuruan, dan Irfan baru saja kehilangan Bapaknya yang meninggal dunia secara mendadak karena angin duduk sebulan sebelumnya.

__ADS_1


Saat itu Agung bermaksud menemui Irfan di rumahnya pada sore hari untuk mengajaknya menemui Yesi, namun tak pernah ia duga bakal menemukan adegan yang membuatnya miris yaitu ketika mengetahui dengan mata kepalanya sendiri bahwa sahabatnya itu tengah berasyik masyuk berhubungan badan dengan Mamaknya sendiri di kamar sementara dua adiknya tidur lelap di lantai ruang dalam rumah.


__ADS_2