
Hari sudah mulai senja ketika kami tiba kembali di rumah, Aceng dan kedua ortunya sedang berada di teras rumah yang modelnya seperti pendopo itu. Sepertinya mereka memang tengah menunggu kami.
"Bukannya kerja malah pelesiran...." Ujar Aceng menggerutu sambil menghampiri kami.
Dewi dan Sari hanya tersenyum nyengir menggoda, apalagi ketika melihat muka Aceng yang terlihat kusut kecapekan.
"Ceng gimana tadi sudah ada yang nganter kasur dan lemari kemari kan ?" Tanyaku sambil tersenyum licik.
Tadi aku memang berpesan pada bos toko furniture untuk mengirimkan barang yang ku beli pada Aceng.
"Kalo ingin aku jawab sogok dulu mulutku dengan oleh oleh...tanpa itu tak ada info." Jawab Aceng membalas sembari tersenyum licik juga.
"Nih... sebenarnya ini buat bapak sareng Emih tapi kalo kamu tega ya sudah ambil saja." Ujarku sambil menyerahkan sebungkus plastik berisi aneka gorengan.
"Wah asyik eui...cireng 99...yah....?" Ujar Aceng dan tanpa basa basi langsung mencomot sepotong aci goreng yang ku beli di Pwd tadi.
"Tunggu ! jawab dulu kasurnya sudah di antar belum?" Ujarku sambil menarik tangan Aceng yang ingin ngeloyor saja setelah menggigit cireng di tangannya.
"Oh itu...tentu saja sudah di taruh sekalian di kontrakan dodol." Jawab Aceng sambil nyengir kuda hidungnya dengan maksud menggodaku.
Membuat Sari dan Dewi yang ikut melihatnya jadi tertawa geli.
"Trus gimana penggilingan padi dapat kan...?" Tanyaku karena sejak tadi Aceng sama sekali ga kasih info apapun.
"Tar donk ..sabar....aku kan lagi makan cireng kalo kesedak gimana ?" Kata Aceng bergurau sangat menyebalkan.
"Ihh...lama lama tak cekik sekalian...." Ujarku pura pura sebal, sambil mencengkram leher belakang Aceng.
__ADS_1
"Dih ngambekan...Mbak Sari ini loh calon suaminya kok ngambekan gini,...awas loh mbak... hehehe.." Ujar Aceng sambil pura batuk batuk lalu tertawa tawa.
Sari yang di goda Aceng hanya tersenyum saja tanpa sedikitpun menanggapi, justru melangkah bergabung dengan Dewi yang telah duduk manis bersama kedua orang tuanya.
"Makanya buruan cari awewe biar nggak slalu kumat usilnya." Ujarku lalu melangkah menyusul Sari.
"Bapak...Emih..." Sapa ku kemudian menyalim tangan kedua orang tua yang sangat aku hormati di tempat ini itu.
Aku lalu meletakkan satu bungkusan plastik berisi tiga kotak yang ku bawa di meja yang ada di depan kami. Dewi dengan sigap membuka bungkusan yang kubawa itu sebelum orang tuanya bertanya.
"Dari mana saja nak tadi banyak yang nyariin kamu?" Ujar Pak Suryadi.
"Iya pak, tadi aku sudah minta Aceng untuk mewakili kok pak." Ujarku menjawab beliau.
"Lah tapinya Haji Obi nya kukuh ingin bertemu dengan kamu saja kok nak." Ujar Mih Onah menambahi.
"Ceng sini ih...kamu itu cuma gorengan gitu saja mesti misah, ga ada yang minta." Ujarku pada sahabat terbaikku yang kadang suka konyol kalo lagi kumat usilnya.
"Tapi kan tadi Haji Obi juga bilang mau nawarin lagi sawah miliknya yang seberang kali cijengkol itu ?" Protes Mih Onah pada anak sulungnya itu.
"Oh iya Gung, kamu masih ada duit nggak...satu hektar lebih sepuluh are Haji Obi hanya minta 800 juta saja tapi harus kontan bayarnya, kalo minat dia ingin kau bayarin sekarang mumpung belum di tanami." Ujar Aceng.
Aku diam sejenak, posisi duitku yang bisa di cairkan tinggal sekitar 16 milyaran saja saat ini, karena kebanyakan aku simpan dalam bentuk deposito.
Aku menatap Sari sejenak sebelum menatap kedua orang tua Aceng dan Dewi bergantian. Beliau berdua pun tak mengucap sepatah katapun sepertinya juga sedang menunggu keputusanku.
"Kalo duitnya sudah minim, mending janganlah Gung kan untuk modal usaha utama juga belum keluar loh ini, belum lagi katamu ingin bikin apotek juga kan." Ujar Aceng memberikan sarannya.
__ADS_1
"Yank gimana ambil nggak ?" Tanyaku pada Sari sambil tersenyum semringah.
"Terserah kamu mas, duitnya gimana cukup apa nggak..?" Jawab kekasih hatiku itu kurang lebih sama isinya dengan saran dari Aceng.
Aku menghitung hitung sejenak, jelas kalo beli sawah itu investasi yang baik untuk jangka panjang, namun kebutuhan usaha pokok yang sedang ku bangun ini juga pasti tak akan sedikit. Aku hanya perlu fokus, toh kebutuhan akan sawah belum begitu mendesak.
Aku keluarkan buku cek dan menulis angka 750 juta di dalamnya.
"Ini Ceng, kita nawar 750 di kasih apa nggak kalo nggak di kasih nggak apa apa." Ujarku sambil ngasih selembar cek itu pada Aceng.
"Kamu pintar sekali Gung kamu layak jadi boss, sawah itu setidaknya akan laku lebih dari satu miliar, kalo ini juga gol, kamu benar benar sedang menemukan harta karun." Ujar Aceng.
"Tapi nanti yang garap sawahnya siapa Ceng, aku nggak tega pada Bapak jika harus kembali membebani beliau." Kataku pada Aceng yang tentu saja semuanya juga mendengarnya.
"Ya kalo kamu percaya bapak, insyaallah nak pasti bapak akan di beri kekuatan untuk menggarap sawah sawah dan kebun kamu dengan baik, karena itu memang sudah kerjaan bapak dari dulu jaman kalian belum lahir hehehe." Ujar Pak Suryadi.
"Omong omong Ceng, kamu sudah beli motor belum?" Tanyaku pada Aceng.
"Hp ku mana kak? tadi kayaknya aku dengar boss juga minta kakak beliin aku hp loh." Sahut Dewi juga.
"Agung dulu yah yang ku jawab gini tadi kan kamu nyuruh aku beli motor kan dan hp untuk Dewi, nah dari 800 juta uang yang kamu kasih tadi 400 juta untuk dua kendaraan box yang akan di kirim nanti malam, trus sisanya untuk pengadaan sarana pendukung komplit untuk dua lantai berikut semua perlengkapan kantor satu paket dan mesin kasir satu paket harganya 425 juta dan di diskon 20 juta plus gratis pemasangan dan jaminan perawatan selama satu tahun." Ujar Aceng.
"Jadi duitnya kurang yah Ceng?" Tanyaku.
Sejujurnya aku sangat senang karena duit yang ku kasih ke Aceng sudah mencukupi untuk semua kebutuhan meski rencananya ada anggaran sendiri dariku buat alat alat kantor dan pengolah data.
"Pas. karena aku dapat di kasih 5 juta tadi sama Haji Obi ongkos makelar hahahaha." Kata Aceng sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya sudah selesai dapat sawah Haji Obi kita akan beli motor dan hp buat kalian." Ujarku sambil tersenyum.
Ah setidaknya aku di kelilingi oleh orang orang yang tepat buatku, dan aku optimis usaha ini akan berjalan dengan lancar kedepannya.