
Adzan subuh baru selesai berkumandang, ketika pintu rumah keluarga Pak Sumarno di ketuk dengan suara seperti di gedor.
Pak Sumarno sendiri yang baru saja akan keluar rumah untuk pergi ke mushola sedang berada di kamar kecil dalam rumahnya.
Meskipun di dalam rumahnya sendiri sudah di lengkapi ruang khusus mushola kecil untuk keperluan sembahyang keluarga namun begitu karena kebiasaannya yang selalu melakukan shalat dua rakaat itu di mushola lingkungan tetap ia lakukan.
"Mar ! Marnoooo !!!" Sebuah teriakan kencang penuh dengan kepiluan terdengar sangat jelas dari luar pintu rumah.
Teriakan yang terdengar parau dan memendam kesedihan itu terucap dari kakak ipar Pak Sumarno sendiri yang bernama Joyo Sudiro.
Anis yang juga sudah bangun dan sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan sarapan yang sebagian juga hendak di kirim ke rumah sakit seperti biasanya langsung menghambur berlari membukakan pintu.
"Pakde ada apa ?" Tanya Anis panik begitu ia membuka pintu rumahnya.
"Nduk...mana bapakmu ?" Tanya pria sepuh itu.
"Ada pakde, pakde silahkan masuk dulu !" Ujar Anis.
"Ada apa kang, mbakyu bukannya semalam sudah pulih dari masa kritis." Kata Sumarno dengan wajah dan beberapa bagian tubuh yang masih lembab oleh air.
"Farhan, Mar...Farhan....hi..ii...ii.." Ujar Joyo Sudiro seraya langsung menangis tersedu-sedu.
"Mas Farhan kenapa pakde ?" Tanya Anis yang ikut tenggelam dalam kepanikan.
Namun lelaki yang telah berusia lebih dari setengah abad itu memilih untuk menumpahkan segenap kesedihan yang menggumpal di dadanya dengan menangis pilu yang membuat Anis ikut menangis sementara Pak Sumarno hanya bengong.
"Mas Farhan kenapa pakde ?" Tanya Anis tak kalah pilu, bagaimana pun juga betapapun kerasnya keluarga pakdenya itu, Anis justru menjadi orang yang slalu dimanjakan mereka.
__ADS_1
Bahkan ia bisa mengendarai motor juga berkat andil besar Farhan yang mengajarinya.
"Kang Farhan kenapa ? jangan bikin jantungan !" Ujar Sumarno menambahkan karena kakak iparnya itu seperti tenggelam dalam kesedihan yang begitu dalam.
"Farhan sudah nggak ada lagi Lik...." Ujar Joyo Sudiro meratap lalu kembali menangis tersedu.
"Bentar bentar maksudnya itu gimana tow Kang, tolong bicaranya yang jelas !" Kata Sumarno dengan hati berdebar-debar, ia sebenarnya paham betul maksud kata kata kakak iparnya itu namun ingin mendengar lebih jelas lagi.
"Farhan sudah mati, sekarang ada di rumah sakit Demak." Kata Joyo Sudiro sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di ruang tamu itu.
Sementara Anis yang mendengar itu menjerit dan menangis tersedu sedu menyayat hati. Pak Sumarno pun hanya bisa merenung seakan sedang mencerna sebuah kenyataan yang sulit ia mengerti.
"Kang Joyo dengar kabar itu darimana ?" Tanya Sumarno lirih.
"Baru saja dari kepolisian, sebenarnya Farhan diketahui sudah mati kemarin tapi karena tak ada keterangan diri yang diketahui, baru tadi kemungkinan polisi mendapatkan informasi tentang anak itu." Jawab Joyo Sudiro lemah.
"Tapi bagaimana bisa Farhan mati, sebaiknya di cek dulu saja kebenarannya barangkali salah orang." Ujar Sumarno lagi mencoba membesarkan hatinya sekaligus saudara iparnya.
"Kenapa nggak kita saja berdua Kang ?" Ujar Sumarno.
"Lalu mbakyu kamu gimana ? ini Agung kemana sih, orang rumah lagi repot gini loh." Kata Joyo Sudiro kembali agak keras.
"Agung lagi dapat tugas dari gurunya Kang, harusnya besok sudah selesai." Jawab Sumarno akhirnya bersikap terbuka.
"La trus gimana ini, aku sudah nggak pegang uang sama sekali." Ujar Joyo Sudiro mengeluh.
"Kalo uang itu sama sekali nggak masalah Kang, kalo Kang Joyo nggak ada, aku ada lima juta cukup nggak buat jemput Farhan, Kang Joyo minta saja Lik Manto menemani ke Demak pake angkutan umum saja biar nanti bisa sekalian pulang bareng ambulan, nanti kalo duit itu kurang telpon saja kurangnya berapa aku transfer." Ujar Sumarno.
__ADS_1
"Ya sudahlah begitu juga gapapa. Mana duitnya !" Ujar Joyo Sudiro sambil sekilas menatap Anis yang masih meringkuk di sofa sambil menangis tersedu.
"Sudahlah nduk, ikhlaskan saja kepergian kakakmu." Lanjut Joyo Sudiro, sementara Sumarno pergi ke kamarnya lalu keluar lagi dengan membawa sejumlah uang yang segera di berikan pada kakak iparnya itu.
Anis sama sekali tak menghiraukan himbauan itu bagaimanapun ia sangat dekat dengan Farhan terutama sejak kepergian Agung ke Jepang, meskipun sempat beberapa saat pikirannya tentang Farhan berubah terutama sejak masalahnya dengan Agung yang berhubungan dengan Sari, namun bagi Anis Farhan tetap saja orang yang disayanginya.
"Hati hati Kang ! bersabarlah dengan keadaan ini, jangan khawatir urusan di rumah sakit serahkan padaku." Kata Sumarno setelah menyerahkan sejumlah uang itu.
"Ya sudah aku mau ke rumah Sumanto dulu minta dia menemaniku, tolong nanti sekalian laporkan ke Gondo dulu mengenai berita ini !" Ujar Joyo Sudiro lirih, meminta Sumarno melaporkan berita kematian anak bungsunya pada kepala dusun yang berwenang.
Sumarno hanya mengangguk menyanggupi, ia pun mengerti langkah apa yang harus dilakukan karena ia sendiri kebetulan adalah ketua Rt di lingkungannya.
Beberapa saat setelah kepergian Joyo Sudiro, Sumarno segera menghampiri Anis yang masih tampak sangat terpukul.
"Sudahlah nduk doakan saja kakakmu Farhan semoga bisa diterima di tempatkan di tempat kembali yang baik. Sekarang kembalilah pada kewajiban kamu di dapur atau kalo kamu sudah nggak berminat masak beli saja sarapan di tempat Tumini." Ujar Sumarno sambil mengelus rambut anak bungsunya yang masih di biarkan terburai itu.
Sementara itu Agung yang tengah menjalani fase terakhir dari lelaku yang dijalaninya justru merasakan kenyamanan dengan tubuhnya, dengan kekuatan yang dirasakannya menjadi berlipat lipat ganda hingga suhu panas membakar dan dingin menusuk yang sempat menyiksanya sebelumnya kini tak dirasakannya lagi.
Rasa letih teramat sangat yang sempat ia rasakan bahkan juga sirna berganti dengan limpahan tenaga yang hadir entah darimana datangnya.
Bagian alat vitalnya sebenarnya juga mengalami pengerasan dan pembesaran yang signifikan namun sama sekali tak ia hiraukan kondisinya, karena Agung terus fokus dengan ucapan yang harus diamalkan secara terus menerus.
Berbanding terbalik dengan Agung yang merasakan kenyamanan di fase akhir lelakunya, di luar langit tampak mendung bergulung gulung disertai hujan dan angin kencang yang menerpa meskipun hari belum lepas dari fajar.
Beberapa kali gemuruh suara petir menggelegar dengan dahsyatnya membuat orang orang lebih memilih terus meringkuk di kamarnya.
Begitu juga Anis yang memutuskan untuk izin tak masuk sekolah karena suasana hatinya yang masih terasa remuk redam. Apalagi melihat keadaan Harno kakak sepupunya yang lain semakin terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Sementara itu dengan hanya perlindungan alat mantel hujan seadanya Joyo Sudiro dan Sumanto adiknya menerjang hujan dengan kendaraan bermotor roda dua keluaran tahun 90 an yang masih terawat dengan baik.
Mereka berencana menempuh perjalanan ke Demak dengan naik kendaraan umum dari terminal di pinggir kota kabupaten.