OBSESI SEPUPU

OBSESI SEPUPU
Bab 103 Mencari Celah


__ADS_3

Setengah jam hampir berlalu, ketika kami sibuk bercumbu dan bermesraan, Imas terlihat kesal ketika aku menghentikannya.


"Ak aku sungguh mencintaimu." Ujarnya sambil memelukku dan meletakkan kepalanya di dadaku.


"Iya aku sudah tau." Jawabku singkat.


"Darimana Aak tau soal itu, perasaan aku baru ngomong sekarang kan sama Aak." Kata Imas.


"Iya tapi jauh sebelum ini Pak Haji Obi telah mengatakan perasaanmu yang beliau telah pahami sebelumnya padaku, dan kemarin Aceng juga mengatakan kau menyukaiku." Ujarku, Imas menatapku lekat.


"Lalu gimana dengan Aak sendiri ?" Tanyanya.


"Aku sudah bilang selalu dan berulang ulang kan bahwa siapapun tak akan ada yang mampu menolak kamu, tapi dalam masalahku adalah aku sudah ada ikatan lebih dulu dengan Sari dan kau pun sudah tau soal itu kan, aku hanya tak ingin kamu berbuat bodoh dan efeknya jadi merusak segalanya. Kamu paham kan maksudku ?" Ujarku.


"Iya Ak tapi terlalu sulit untuk melepaskan perasaan ini pada Aak, karena aku belum pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya." Ujar Imas terdengar jujur.


"Baiklah tapi aku minta kamu bersabar sejenak yah, karena seperti pada kamu aku pun juga tak ingin menyakiti Sari dan sebaiknya kamu pun begitu, mungkin kita bisa pertimbangkan sebuah hubungan tapi aku harap kamu sadar posisi kamu masih di belakang Sari dan jangan berbuat gegabah seperti tadi, apalagi mengirim pesan pesan vulgar ke hp. Kalo kamu inginkan hubungan denganku turuti semua aturan ku... bisa mengerti aku kan ?" Ujarku.


"Iya Ak pasti, tapi tolong sesekali luangkan waktu untuk aku yah Ak, biar rasa kangenku ke Aak sedikit terobati." Ujar Imas tampak bahagia.


Kami kembali saling berciuman sejenak sebelum aku benar benar menyudahi acara pacaran kami.


"Sudah hampir jam satu kita harus kembali ke toko." Ujarku, sambil berusaha membenahi ritsleting celanaku yang tadi di buka paksa oleh Imas yang untungnya tidak merusak.


"Iya Ak. Sebentar Ak...!" Ujar Imas lalu jongkok dan menciumi gundukan celana boxerku dari luar.


"Ini gede banget Ak," Ujar Imas lirih sambil tersenyum dan membelai dan mengusap gundukan itu yang sudah membesar dan tegang dari tadi.


"Sudahlah entar malah jadi kemana mana, kalo mau mandi silahkan mandi dulu tuh celana kamu banjir begitu." Ujarku sambil menunjuk bagian pusat celdam Imas yang tampak lembab dan basah.

__ADS_1


"Iih nakal bener Sayankq ini." Ujar Imas mulai berani manja padaku.


Aku tak menghiraukannya lagi dan setelah membenahi dan merapikan pakaianku aku segera berlalu dari kamar yang tak pernah aku sangka aku bakal memiliki kenangan seindah ini di dalamnya.


Jujur aku benar benar merasa bersalah dan berdosa pada Sari, namun aku juga tak mampu melepaskan begitu saja kecantikan Imas yang justru sengaja di hidangkan padaku.


Tak mau mengulangi kesalahan yang sama saat aku juga melakukan hal yang sama pada Tyas, aku mampir ke penggilingan yang ternyata di jaga sendiri oleh Mang Darom.


Seperti biasa ia selalu bersikap sopan dan ramah menampilkan wajah lugunya, namun masalahnya rasa simpatik ku juga telah jauh berkurang saat tadi menemukan dirinya juga berkhianat pada Pak Suryadi.


"Sudah makan siang belum Mang ?" Tanyaku setelah menjawab sapaan dari Mang Darom.


"Sudah boss tadi di rumah Kang Suryadi." Jawab pria paruh baya itu.


Aku hanya mengangguk lalu memeriksa pembukuan sejenak kemudian bergegas ke belakang ke sumur untuk sekedar cuci muka dan menghilangkan bau parfum dan bagian dari Imas yang mungkin menempel di beberapa bagian tubuhku.


"Mang Darom ini sekedar buat beli rokok." Ujarku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan pada pria paruh baya yang statusnya adalah suami sah Teh Yanah itu.


Sebenarnya aku sempat ingin bertanya tentang hubungannya dengan Mih Onah namun aku urung mengatakannya takut menyinggung perasaannya.


"Baiklah Mang aku pamit dulu !" Ujarku kemudian.


"Iya boss hati hati !" Kata Mang Darom sopan.


Beberapa saat kemudian aku sudah melaju di jalan untuk kembali ke toko dan yang kemudian membuatku begitu surprise adalah ketika melihat Sari tengah bercakap cakap dengan Imas dan Tyas di depan office.


Mereka bertiga adalah wanita dengan kecantikan di atas rata rata dan semuanya pernah berkaitan denganku, namun kini mereka tengah berkumpul dan tampak akrab satu sama lain.


Aku semula pura pura cuek dengan mereka dan berencana langsung masuk ke dalam toko, namun baru saja aku hendak melangkah masuk ke toko.

__ADS_1


"Mas sini dulu !!...nggak sopan banget main selonong saja..." Ujar Sari sambil tersenyum dan melambaikan tangan padaku.


Akhirnya aku pun hanya bisa tersenyum bias seperti seorang maling yang kepergok sedang mencuri.


"Maaf Sayank tadi aku pikir kalian sedang asyik rapat membahas apa gitu, jadinya aku nggak ingin mengganggu hehehe." Ujarku sambil tertawa kecil lalu memberi ciuman sekedarnya pada Sari yang tangannya memberikan kode ingin memelukku.


Imas dan Tyas tentu saja mereka hanya memandangi kami dengan tatapan yang kurang suka meski bibir manis mereka tetap tersenyum.


"Oh iya mas tebak ini siapa ?" Ujar Sari dengan wajah semringah dan menunjukkan aku pada Tyas.


"Teh Tyas kan kami sudah sempat bertemu tadi kok justru saat Teh Tyas baru tiba di sini, oh iya Teteh sudah maksi belum?" Ujarku ramah dan mencoba senatural mungkin.


"Belum seh Ak...tapi belum lapar juga seh." Ujar Tyas sambil tersenyum manis.


"Oh gitu...tapi sepertinya Teh Tyas telah mengenal akrab kamu loh mas, padahal Teh Tyas kerja di Jakarta kan, lantas kalian bisa akrab bagaimana prosesnya ada yang bisa menjelaskan ?" Ujar Sari telah memulai intimidasi nya pada aku.


"Loh Yank, Teh Tyas ini kan kakaknya Suci yah wajar donk kalo mengenal kita semua apalagi Suci kan sangat aktif dengan instagramnya kamu juga tau kan Yank ?" Ujarku mencoba beralibi yang masuk akal.


"Iya betul, seperti Teh Imas dia juga mengenal Teh Tyas karena dulu satu almamater di SMP mereka lah kamu kenal Teh Tyas di mana coba ?" Ujar Sari tetap kekeuh.


"Kalo di bilang akrab juga nggak kok Mbak Sari kan aku juga tau sosok Ak Agung ini dari postingan Suci atau cerita cerita dia kalo kami telponan gitu." Ujar Tyas mencoba bersikap wajar.


Sari hanya menghela napas panjang sejenak.


"Maaf ya Teh bukan bermaksud bikin Teh Tyas jadi kurang nyaman tapi calon suamiku ini beberapa hari ini sikapnya sangat aneh dan mencurigakan, takutnya dia juga slimpat slimpit banyak tingkah gitu seperti beberapa temannya." Ujar Sari tanpa tedeng aling aling.


"Hihihi wajar seh mbak namanya juga lagi banyak duit kan." Ujar Tyas sambil tersenyum manis, benar benar mempesona.


"Ya nggak wajar juga seh Teh menurutku, mungkin lelaki semacam itu belum pernah merasakan di sunat dua kali." Kata Sari mulai terasa agak pedas.

__ADS_1


"Oh ngomong apaan ini hehehe dah ah aku mau ke pantry dulu, silahkan kalo mau lanjut rapat lagi atau barangkali pada mau ikut ke pantry nemanin aku makan siang ?" Ujarku mencoba bersikap oon.


"Oh silahkan Ak, kebetulan aku juga sudah mau pulang kok, tadi pamitnya cuma sebentar sama anakku." Kata Tyas yang kemudian langsung berpamitan dengan sopan pada Sari dan Imas cipika cipiki biasa lalu pergi setelah bersalaman denganku dengan senyum yang aneh.


__ADS_2