
Laporan dari adikku tadi jujur saja langsung membuat mood ku yang sempat melambung menjadi lenyap seketika berganti rasa emosi dan penat yang menyesakkan dadaku.
Bagaimanapun juga aku merasa tak terima jika keluargaku menerima perlakuan tidak menyenangkan gara gara aku, meski sebenarnya dalam urusan dengan keluarga sepupuku aku tak bisa di salahkan sepenuhnya.
Aku mencoba menekan emosi namun semakin lama bukannya mereda namun justru membuat perasaanku semakin muak terhadap keluarga budeku itu.
Tuttt....tutt...tuttt...tuttt...
Aku menunggu sejenak panggilanku ke nomor hp Mas Harno yang tersambung hingga ia mengangkatnya.
"Apa lagi maumu? masih belum puas bikin kepalaku mau pecah kamu ?" Ujar Mas Harno langsung ketika panggilanku sudah di angkatnya.
"Justru aku yang harus bertanya, mas menghasut apa pada bude hingga ngamuk bapakku? memang bapakku salah apa pada kalian semua? kalian itu seperti monyet tau nggak, sekarang aku cabut waktu sepuluh hari untukmu menyiapkan duit untuk mengganti uangku yang kamu korup mas. Dengar ya camkan ini lima hari lagi kalo duit itu tidak kamu ganti, kita langsung transaksi jual beli sawah itu lagi." Ujarku geram.
"Dasar orang stres kamu, bagaimana mungkin kamu sekejam itu padaku anak tolol...!!! kamu pikir cari duit 185 juta itu gampang apa?" Balas Mas Harno juga tak kalah sengitnya.
"Yang tolol itu kamu sendiri, otakmu kamu kemana kan saat bapakku pontang panting kekurangan duit untuk berobat ibuku gara gara duitnya kamu curi, masih mending aku nggak mencekik lehermu sebagai balasannya." Kataku tajam.
"Mulai sekarang jangan sebut aku saudaramu lagi, aku tak punya saudara seperti mukamu itu !!!" Ujar Mas Harno terdengar berteriak.
"Baik...kalo itu maumu lima hari lagi sediakan duitku atau sawah itu ku ambil lagi." Ujarku pelan dengan seluruh tubuhku terasa gemetar.
"Bagaimana kalo aku tidak mau ganti duit itu dan juga tak mau jual sawah itu padamu anak tolol." Ujar Mas Harno memprovokasi aku.
"Kalo begitu akan kupastikan kamu membusuk di penjara." Kataku santai.
"Kamu memang anak setan....dasar tolol..anjing kamu !!!!" Ujar Mas Harno berteriak.
"Satu lagi, terpaksa aku akan sebar video bengkok Farhan sama orang orang kampung untuk menutup mulut keluargamu agar tak memfitnah aku lagi." Kataku, lalu ku tutup panggilan itu sepihak tanpa ucapan apapun lagi.
"Mas kamu telpon sama siapa lagi ?" Tanya Sari yang baru selesai mandinya.
__ADS_1
"Mas Harno." Jawabku datar.
"Oh. Lalu gimana Mas Harno mau balikan uangnya ?" Tanya Sari sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Boro boro yank...dia gablek duit saja nggak..." Jawabku.
"Trus gimana mas ?" Tanya Sari yang entah kenapa malah jadi semakin kepo.
"Ya terpaksa buyback lagi sawahnya yank." Jawabku sambil ku dekap tubuh kekasihku itu karena ia dengan nakalnya duduk di pangkuanku.
"Baguslah kalo begitu, bukankah itu sawah warisan buat bapak yang seharusnya memang tak boleh di jual." Kata Sari lagi.
"Bapak saat itu terpaksa yank, untuk biaya berobat ibuk yang di rawat di rumah sakit. Andai saja Mas Harno tidak korup duitku mungkin ibuku juga tak perlu menderita karena kekurangan uang." Ujarku yang menyesali keadaan.
"Sudahlah mas, bagaimanapun juga sudah takdirnya begitu, kita doakan saja semoga ibuk yang sudah tenang di terima amal ibadahnya sehingga khusnul khotimah." Kata kekasihku itu sambil tangannya mengusap pipiku.
"Aminnn... trimakasih sayank...aku merasa sangat nyaman ada kamu di sisiku." Ujarku lirih.
"Ya sudah mandi dulu gih, kita sudah maghrib nih. Sebentar lagi kita harus bantu bantu Mih Onah mempersiapkan acaranya." Kata Sari.
"Kita mas, tadi aku dan Dewi sebenarnya juga cuma ingin adain makan malam bersama saja dengan karyawan baru kita, tapi kata Mih Onah sekalian saja syukuran ngaji bersama dan mengundang tetangga tetangga dekat. Apalagi beliau juga mau masaknya, ya udah jadi." Ujar kekasihku itu yang kemudian tersenyum sangat manis.
"Lah trus Mih Onah kamu kasih uang nggak yank?" Tanyaku lagi.
"Aku kasih lima juta tapi di balikin lagi yang dua juta nya, tapi aku tolak dan kuberikan pada beliau lagi, gapapa kan mas ? Kata Sari.
"Gapapa sayank, justru harus seperti itu. Kita tak perlu terlalu berhitung pada mereka sayank, karena mereka pun tak akan sungkan sungkan untuk mengembalikan dengan lebih banyak kebaikan pada kita." Ujarku.
"Ya sudah buruan mandi sana...!" Ujar Sari sambil beranjak dari pangkuanku lalu menuju meja riasnya.
Aku bergegas menuruti kemauan wanita yang kurasa semakin lama semakin terlihat mempesona itu, membersihkan tubuh ala kadarnya. Lalu setelah itu ku lakukan kewajiban sembahyang bersama dengan kekasihku itu yang ternyata juga sangat pintar melantunkan ayat ayat suci itu.
__ADS_1
Aku merasa saat ini duniaku di penuhi dengan segala macam keberuntungan dan kebaikan hanya dengan melihat dan mendengar lantunan suara merdunya saat membacakan ayat ayat suci yang aku sendiri tidak begitu fasih.
"Oh iya mas masih ada satu kabar baik kamu mau dengar atau tidak ?" Ujar Sari sambil tersenyum manis setelah ia selesai mengaji kitab sucinya.
"Bah tawaran macam mana pula itu...tentu saja aku mau mendengarkannya sayank..." Kataku.
"Tadi dapat kabar dari Mas Riyan bahwa permohonan cerai ku sudah di kabulkan tanpa eksepsi apapun lagi, jadi hari ini aku sudah resmi berstatus janda mas." Ujar Sari sambil tersenyum.
"Selamat sayank... akhirnya selangkah lagi hubungi kita akan segera halal. Btw surat cerai nya sudah ada belum katanya?" Tanyaku setelah beberapa kali aku menciumi pipi Sari.
"Sudah donk, sudah di kasih dan di simpan sama mamah." Jawab Sari yang lalu membuka mukena yang di pakainya, aku pun sama melepas sarung yang ku pakai untuk sembahyang tadi.
"Berarti kita langsung nikah saja yank setelah kita pulang nanti gimana ?" Ujarku.
"Memang kita kapan pulang kampungnya mas ?" Tanyanya.
"Dua mingguan lagi lah gimana yank ?" Jawabku.
"Katanya mas mau jalanin lelaku dulu tugas dari guru kamu yang benar yang mana ?" Ujar Sari.
"Iya setelah lelaku sayank kan cuma seminggu saja." Kataku.
"Mas yakin kuat tapa pati geni? itu sangat berat loh, di rawa sebelah hulu sering banget ada yang mencoba tapa dan berendam di sendang sendang juga tapi banyaknya gagal mas dan kamu tau apa yang terjadi pada mereka selanjutnya?" Ujar Sari terdengar serius.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja.
"Kebanyakan dari mereka menjadi gila mas alias kurang waras alias amleng." Jawab Sari seolah ingin menakutiku.
Aku diam sejenak mencerna pemahaman yang di katakan kekasihku itu barusan.
"Doakan saja aku yank semoga aku bisa menjalankan tugas dari guruku dengan baik, lagipula jika aku berhasil nanti kamu juga akan di untungkan kok." Ujarku santai, aku pun bukannya tidak tau tentang imbas kegagalan dari orang yang bertapa namun aku yakin Kyai Danuri akan membimbing aku sehingga kemungkinan aku berhasil juga lebih besar.
__ADS_1
Tok...tokkk...tokkk !!! terdengar suara pintu depan rumah di ketuk. Akupun segera membukakan pintu.
"Wah sudah klimis saja rambutnya...sudah di tunggu makan malam tuh." Ujar Aceng jahil sambil cengar-cengir memamerkan senyumnya yang bisa bikin orang ilfil itu pada kami.