
Di rumah Arya begitu cemasnya memikirkan Rania,namun Rania justru berbeda.
Ia sudah mulai merasa lega bisa mengeluarkan kekesalannya pada Arya lewat Intan.
Setelah puas ngobrol di cafe Intan mengajak Rania belanja perlengkapan bayi.
Mereka belanja di toko terdekat dari cafe tadi.
"Ihhh...gemes banget sih Tan..."Rania membolak balik sambil mengusap kaos kaki bayi yang di gantung di rak khusus perlengkapan bayi.
Tak henti-hentinya Rania memegang satu persatu pakaian bayi.
"Makanya cepetan nyusul...apa gak pengen liat yang lucu-lucu begini."Intan sengaja mengompori Rania.
"Lucu...."Rania mengelus perutnya,membayangkan perutnya yang mulai membuncit karna hamil.
"Makanya...cepetan hamil..."Intan menunjukkan perutnya di balik dress hamil yang dipakainya.
"Ishh...kamu ini ya Tan,mau hamil sama siapa coba."Rania manyun.
"Ya kan sudah punya suami.Masak iya mau hamil sama suami orang."Intan menaik turunkan alis matanya.
"Jangankan hamil.Deketan aja gak pernah.Paling-paling kalau lagi gak sadar pas tidur gak sengaja peluk.Kan dia dingin baget.Datar,cuek lagi."Rania tak hentinya mengatai sikap Arya.
"Tapi dia suami kamu lho...cakep lagi.Masak iya mau di anggurin."Kembali Intan memanasi Rania.
"Apaan sih Tan..."Rania menyenggol bahu Intan.
"Anak kamu cowok apa cewek sih Tan?"Masih sibuk menyatukan antara baju dan kaos kaki supaya matching.
"Di USG sih dokter bilangnya cowok."
"Eh,tapi kok kamu belanja sendirian.Perlengkapan buat bayi lho.Kenapa gak sama Dery?"Rania baru sadar jika Intan menyiapkan peralatan bayi tanpa ditemani Dery.Ayah dari bayi yang dikandung Intan.
Intan terdiam sesaat,raut wajahnya terlihat sedih untuk beberapa saat.
Dengan segera ia menutupi sedihnya sambil tersenyum.
"Mas Dery lagi sibuk Ran..."
"Sibuk?Malem-malem gini?Kamu gak bohong kan?Awas kalau ada yang kamu sembunyikan dari aku.Dia masih cuek aja sama kamu?"
"Enggak kok..."
"Enggak apaan?Cerita atau enggak!"
"Ya...dia beneran lagi sibuk Rania...Kami sering kok jalan berdua."Intan menunjukkan senyum bahagianya mengingat waktu itu.Boncengan berdua dengan Dery mencari gado-gado.
Ia sengaja mengatakan itu sering pada Rania supaya Rania percaya,padahal baru sekali itu mereka jalan berdua.
"Cie cie...yang lagi jatuh cinta..."Rania menyatukan jempol dan jari telunjuknya sebagai simbol cinta.
"Kamu kayak ngerti aja sih Ran,kamu kan masih bocah,cinta aja gak paham.Suami cemburu aja gak ngerti."Balas Intan.
"Hahahaha..."Mereka tertawa barengan.
Tak lama kemudian hp Rania berbunyi.
Dilihatnya nama asisten Roy yang sedang memanggilnya.
"Bentar ya Tan,pak Roy telphon."
__ADS_1
"Angkat aja gakpapa."Rania mengangguk lalu mengangkatnya.
"Assalamualaikum,ada apa pak Roy?"Rania mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam,Nia kamu lagi di mana?"Bukanya suara Roy yang menjawab,tapi ternyata suara Arya.
"Pa-pak Arya."Diam karna terkejut.
"Katakan sekarang lagi di mana,sama siapa?"
"La-lagi di mol sa-ma Intan."
"Di mol mana,segera kirim lokasinya."
"I-iya."
"Dan ingat,tunggu di situ,jangan kemana-mana.Saya akan segera menjemput kesitu."
"Ta-tapi pak."
"Tut Tut Tut..."Sambungan terputus begitu saja.
"Tuh kan Tan,dia yang telpon,dia juga yang tiba-tiba matiin.Nyebelin banget kan.Padahal aku cuma mau bilang kalau aku bisa pulang sendiri."Marah-marah di depan Intan sambil mengembalikan hp nya ke dalam tas.
"Dia kayak khawatir banget sama kamu Ran."
"Jangan sok tau Intan..."Rania menggelengkan kepala.
"Kelihatan banget dari nada bicaranya Rania...kamunya aja yang gak nyadar."
Ya,Intan ikut mendengar suara Arya lewat telphon yang di loudspeaker.
Intan senang mendengar Arya sekhawatir itu pada Rania.
"Capek nih dari tadi jalan terus,duduk dulu yuk."Intan menunjuk kursi di dekat kasir.
"Kamu duduk aja dulu biar aku yang antri di kasir."
"Ok!"Intan segera duduk,dan Rania mengantri.
Sambil mengantri Rania memikirkan telphon dari Arya barusan.
"Bagaimana bisa ya,kok hp asisten Roy tapi yang bicara dia?Emang pak Roy masih jagain pak Arya?"Apa belum sembuh?"Banyak pertanyaan dalam benak Rania.
Iapun mulai khawatir dengan keadaan Arya.
Selangkah demi selangkah ia maju,dan sampailah di depan kasir.
Di keluarkan seluruh isi belanjaan yang di masukkan ke dalam troli.
Kasir yang bertugas segera menghitung jumlah belanjaan.
Tiba-tiba Arya datang dan menarik tangan Rania.
"Ayo pulang."
"Ta-tapi mau bayar dulu."Rania mengambil dompetnya di tas.
Terlalu lama menunggu Rania,Arya jadi tidak sabar.
Dikeluarkan kartu dari dalam dompetnya lalu diserahkan pada petugas kasir.
__ADS_1
"Pakai ini saja mbak."Menyodorkan kartu miliknya.
"Baik pak."Petugas di kasir mengambilnya lalu segera menggunakannya untuk transaksi.
Selesai membayar Rania mengambil belanjaannya.
Arya kembali menarik tangan Rania supaya berjalan lebih cepat.
"Mau ngasih ke Intan dulu,ini belanjaannya."Rania menunjukkan kantong besar milik Intan dan kantong kecil miliknya.
Arya melepaskan pegangannya dan berjalan mengikuti Rania.
Intan yang melihat itu segera berdiri.
"Intan,ini punyamu."Menyerahkan belanjaan Intan.
Arya hanya melihatnya sekilas.Ia tak menyangka ternyata Rania hanya belanja sedikit di kantong kecil,sedangkan Intan yang justru belanja banyak.
"Kita pulang sekarang."
"Tapi Intan."Rania tak tega kalau harus membiarkan Intan yang sedang hamil besar pulang sendirian di malam hari.
"Gak papa kok,aku bisa pesan taksi online.Kamu pulang aja."Intan mengerti kekhawatiran Rania.
"Tapi..."
"Kita antar dia pulang dulu.Sudah malam."
Rania tersenyum sambil mengangguk setuju dengan keputusan Arya.
Mereka pulang bertiga.Intan duduk sendirian di belakang.
"Rania...ini uang belanjaanku tadi."Intan menyodorkan uang setelah melihat struk di dalam kantong belanjaan.
"Ta-tapi."
"Ambil saja,anggap saja hadiah dari kami untuk calon anak kamu."Arya menjawab kegundahan Rania.
"Tapi pak Arya,ini kan banyak sekali."
Ya,Intan saja harus menabung dulu untuk membeli perlengkapan yang dia pilih tadi.
"Ah iya Intan.Anggap saja hadiah buat si dedek.Semoga lancar ya prosesnya nanti.Gak sabar liat dia lahir,pasti lucu.Jadi gemes deh."
Arya kaget melihat ekspresi Rania yang terlihat begitu bersemangat dan lancar panjang kali lebar membicarakan soal bayi.Tidak gugup seperti biasa dia berbicara dengannya.
Arya pun ikut membayangkan tentang bayi mungil yang baru lahir dari rahim Rania.
Kalau cewek pasti secantik ibunya.
Senyum Arya melebar seiring perjalanan menuju rumah Intan.
Arya mengantar Intan tepat di depan rumahnya.
"Makasih ya pak,Rania."Intan menunduk hormat setelah keluar dari mobil Arya.
"Sama-sama,kita pulang dulu ya."Pamit Rania.
Intan melambaikan tangan dan di balas balik oleh Rania.
Arya kembali melajukan mobilnya pulang.
__ADS_1
Senyumnya pun masih terus terpancar di wajah tampannya.