Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Harapan sepasang suami istri


__ADS_3

Kebahagian terpancar dari sepasang suami istri yang sedang hangat-hangatnya.


Mereka banyak menghabiskan waktu berdua.


Sejak bangun tidur,berangkat kerja,makan siang,pulang kerja dan sampai mereka tidur kembali keduanya bersama.


Menikmati waktu indah mereka menjadi sepasang suami istri yang mulai bucin.


Meskipun ruang kerja Rania berbeda namun jika Arya sudah begitu kangen dengan istrinya maka ia akan menyuruh Rania datang ke ruangannya,atau terkadang Arya sendiri yang akan berjalan mendatangi tempat kerja Rania.


Rania menceritakan sedikit tentang bagaimana ia bisa jadi istri Arya kepada teman-teman satu ruang dengannya.Yang awalnya hanya menggantikan calon pengantin wanita yang saat itu tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar.


Sejak saat itu keempat temannya mengerti kenapa Rania sempat merahasiakan hal itu.


Dan mereka pun memahami posisi Rania pada saat itu.


Beruntung Rania sekarang begitu di cintai oleh bos mereka yang dulu begitu dingin.


Namun hal itu sudah tidak lagi.Semenjak Rania menjadi istri Arya,bos yang tadinya begitu cuek dan dingin bisa berubah seketika.


Ia tanggalkan semua itu saat bersama Rania.


Yang ada justru seperti seorang suami yang romantis,humoris dan terkesan bucin.


Terkadang mereka semua di buat geleng-geleng kepala oleh sikap bos nya itu.


Karna Arya tak segan memperlihatkan kemesraan mereka didepan teman-temannya.


Meski mereka sudah berkeluarga semua,tapi mereka sering di buat meleleh akan sikap Arya yang begitu romantis.


Bukan romantis soal uang,bunga ataupun emas,melainkan romantis dengan tindakan yang seolah Arya cinta buta dengan Rania.


Karna cinta buta sampai tak perduli jika sikapnya dilihat oleh orang lain.


Rania awalnya risih dan malu dengan Arya yang selalu menempel padanya.Ia malu jika di katakan sok romantis.


Tapi seiring berjalannya waktu Rania jadi terbiasa dengan sikap Arya yang terkadang kelewat manja itu.


Enam bulan lebih acara resepsi itu berlalu.Itu artinya sudah hampir satu tahun Rania sah menjadi istrinya Arya.

__ADS_1


Namun hingga saat ini Rania belum juga hamil.


Mereka sudah memeriksakan diri berdua ke dokter spesial yang ternama,namun mereka berdua dinyatakan sehat dan subur.Tak ada masalah dengan kesehatan reproduksi mereka.


Dokter hanya berkata untuk mereka yang sabar untuk terus berusaha dan berdoa.


Hingga di suatu saat,saat mereka pergi ke sebuah mall besar,Arya melihat seorang anak kecil yang tampan sedang bermain dengan senangnya di area permainan anak-anak.


Mata Arya tak lepas memperhatikan hal tersebut.


Hingga malam hari Arya masih terus saja terbayang wajah anak kecil yang lucu tadi.


Ia termenung di balkon samping kamarnya.


Melihat bintang namun pikirannya masih menerawang mengingat anak kecil tadi.


Orangtua dan nenek pun sebenarnya sangat menginginkan cucu.Tapi mereka tak berani jika harus menekan Rania.Karna mereka sudah berusaha dan memang belum dipercaya Tuhan saja.


"Mas,kok disini,apa gak dingin?"Tanya Rania.


Ia bingung mencari suaminya yang katanya ingin istirahat tapi begitu di cari di ranjang ia tak menemukannya disana.


Rania melihat pintu mengarah ke balkon sedikit terbuka.Itu tandanya Arya sedang berada di sana.


"Sayang,aku lagi pengen cari udara sejuk saja."Kilah Arya.Ia tak ingin jika istrinya tau apa yang sedang ia pikirkan.Karna sejatinya istrinya tak salah.Ia takut jika Rania bersedih jika tau Arya menginginkan keturunan.


"Ada yang mas Arya pikirkan?"Rania memeluk Arya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Arya,meski tak sampai,karna tinggi Arya jauh di atas Rania.


"Enggak sayang..."Arya membalikkan badan lalu membawa istri tercintanya ke dalam dekapannya.


"Mas...maafin aku ya mas."Mata Rania mulai berkaca-kaca.


"Maaf untuk apa sayang...?"Arya menarik dagu Rania sedikit mendongak,dan Arya melihatnya dengan tatapan penuh cinta.


"Maaf,karna sampai sekarang aku belum bisa memberikan keturunan untuk mas Arya."Rania mulai terisak.


Arya tak tega melihat istrinya begitu sedih dan merasa bersalah.


"Ssttt..."Arya meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Rania.

__ADS_1


"Sayang,kamu gak salah.Kenapa harus minta maaf...heemm...?"Arya mencium kening sang istri.Berharap mengurangi kesedihan Rania.


"Aku tau,mas Arya,papa,mama,nenek.Kalian sudah sangat mengharapkan keturunan dari putra Adiyasa satu-satunya."Air mata Rania sudah tak bisa di bendung lagi.Membuat hati Arya serasa teriris.


Arya merutuki kebodohannya.


Untuk apa dia memikirkan sesuatu yang belum jadi rejekinya.Semua itu hanya akan menyakiti hati istrinya.


"Sayang,kamu ingat bukan kata dokter waktu itu?Kita sehat dan kamu pun subur.Hanya saja Allah belum memberikan kepercayaan untuk kita.Mungkin Allah masih ingin kita pacaran dulu,kamu tau bukan awal pernikahan kita.Kita memang menikah sudah hampir satu tahun,tapi kita menyatu baru sekitar enam bulan yang lalu.Kita hanya perlu bersabar,berusaha dan berdoa."Arya berharap Rania tidak bersedih lagi memikirkan soal keturunan.


"Tapi mas...aku merasa bersalah...papa,mama,dan nenek pun sebenarnya sudah sangat menginginkan cucu,tapi tak pernah sekalipun mereka menyinggung masalah itu,apalagi menekan Nia.Mereka terlalu sayang sama Nia mas,hingga mereka memilih memendam keinginan mereka hanya karna tak ingin menyakitiku."


"Kamu tidak perlu merasa bersalah sayang..."Arya menghapus air mata yang jatuh di pipi mulus sang istri.


"Apa kamu merasa tidak nyaman disini sayang?Apa perlu kita beli rumah sendiri supaya kamu tidak terbebani dengan keinginan mereka?"Usul Arya.


"Kenapa mas bilang begitu,mereka begitu menyayangiku mas,dan mereka juga sangat menjaga perasaanku.Aku sangat beruntung bisa hadir di hidup mereka yang begitu tulus menyayangiku.Tentunya aku ingin berbakti pada beliau-beliau."Begitulah kenyataannya,mereka para orangtua begitu menyayangi Rania dengan tulus.Tak pernah mereka ikut campur urusan pribadi Arya dan Rania,sekalipun mereka orang tuanya.Tapi mereka tau batasan dalam mencampuri urusan rumah tangga anaknya.


"Jika begitu,kamu tidak boleh bersedih dan memikirkan hal itu terus.Kita nikmati saja waktu berdua kita."Arya mencoba tersenyum agar Rania tak terus-terusan menangis.


"Tapi...bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa hamil mas?"


Arya menutup mulut Rania dengan lembut.


"Sayang,jaga ucapan kamu,karna bisa jadi ucapan adalah doa.Aku yakin cepat atau lambat kamu akan hamil."


"Bagaimana kalau besok kita ke dokter lagi mas?"


"Untuk?"Arya balik bertanya.


"Kemarin kan kita cuma periksa,bagaimana kalau besok kita program hamil?"


"Ide bagus,kamu gak keberatan bukan?"Tanya Arya pelan.


"Ya enggak dong mas...Nia kan juga pengen di dalam rahim Nia segera hadir benih kamu."Harapan Rania begitu besar.


"Aamiin..."Keduanya lantas kembali berpelukan.Seolah mendapatkan secerca harapan dari doa-doanya.


Mama Anita ikut mengaminkan doa kedua anaknya.

__ADS_1


Rencananya tadi mama Anita ingin ngobrol dengan Rania tapi ia urungkan niatnya saat mendengar perbincangan mereka.


"Kamu gadis yang baik Rania,mama akan selalu berdoa untuk kalian."Ucap mama Anita dalam hati lalu segera pergi dari samping pintu.Tempat ia berdiri mendengarkan obrolan anaknya


__ADS_2