
Sore ini Rania memutuskan untuk pulang naik ojek.
Entah kenapa sejak Arya pulang tadi tak ada kabar sama sekali dari asisten Roy.
Biasanya Roy atau paling tidak ada supir yang di utus untuk menjemputnya.
Rania berjalan di antara kerumunan para karyawan yang juga sedang pulang kerja.
Dia berencana akan mencari ojek di ujung jalan di dekat jalan raya.
Tempat biasa Rania mulai naik mobil Arya.
"Rania,kamu lagi nungguin pak Arya?"
Rania menoleh,melihat seseorang yang sedang bertanya padanya.
Dan ternyata orang itu adalah Intan.
"Intan,kok di sini?"Rania bertanya balik.
"Iya,mau ke minimarket.Kamu lagi nunggu pak Arya?"Intan mengulangi pertanyaannya.
"Emm...enggak,ini lagi nunggu ojek.Tumben ojeknya pada gak ada ya."Menoleh kesana kemari mencari tukang ojek yang biasa mangkal.
"Kok naik ojek,emang pak Arya kemana?Bukannya biasanya kamu pulang bareng pak Arya?"
"Emm...itu,tadi pak Arya pulang duluan soalnya lagi gak enak badan."
Intan bertanya-tanya tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
"Kita ngobrol di cafe situ dulu yuk."Intan menunjuk cafe dekat minimarket.
Intan menarik tangan Rania menuju cafe tersebut.Rania pun pasrah dan ikut berjalan mengikuti Intan.
Karna sebenarnya ia pun sedang males ketemu Arya.Males menghadapi sikapnya yang sulit dimengerti.
Setelah duduk sebentar minuman yang mereka pesan datang.
Mereka menikmati sore hari sambil minum dan ngobrol santai.
"Rania,kamu lagi ada masalah?"Intan melihat Rania yang sepertinya sedang gelisah memikirkan sesuatu.
"Intan,aku bingung deh sama sikapnya pak Arya."Akhirnya Rania menceritakan masalahnya.
"Emang kenapa sikapnya pak Arya?Eh,tunggu dulu deh,kamu panggil suami kamu pak?"Intan menghentikan Rania yang sudah ingin cerita.
"Iya,emang kenapa?"
"Ya ampun Ran....romantis dikit kenapa?Ingat,dia itu suami kamu."
"Ya...gakpapa sih.Kan udah biasa panggil gitu.Kecuali kalau lagi di depan nenek sama mama papa."
__ADS_1
"Kalau lagi berdua?"
"Ya pak lah....apalagi...?"
"Duh nih anak ya..."Intan gemas dan mencubit pipi Rania.
"Eh,terus tadi mau cerita apa?"Intan kembali fokus ingin mendengar cerita Rania.
"Iya,apa ya?"
"Rania..."
"Aku tuh lagi males banget mau pulang.Ketemu sama dia lagi.Masak tadi dia marahin aku cuma gara-gara aku makan di kantin.Dikiranya aku berduaan sama pak Anton.Padahal kan sama kamu juga."Rania bicara panjang lebar meluapkan rasa kesalnya.
"Teruuusss?"
"Ya gitu,kata asisten Roy tadi maag nya pak Arya kambuh gara-gara nungguin aku gak datang terus dia jadi melewatkan makan siangnya.Salahnya siapa juga.Kan asisten Roy gak kasih pesan apa-apa.Aku kira dia lagi gak mau di ganggu,makanya seneng banget tadi terus nyamperin kamu makan di kantin."Rania terus saja bicara.
"Emang biasanya asisten Roy yang selalu kirim pesan buat kamu temenin pak Arya makan siang?"
"Iya,biasanya asisten Roy selalu menyuruh aku supaya secepatnya datang ke ruangan pak Arya saat jam makan siang datang."
"Ow...jadi itu alasannya,pantes aja sekarang gak pernah ke kantin.Ternyata makan siang berdua sama suaminya..."Intan meledek Rania.
"Kok malah di ledek sih...aku kan lagi bete banget.Sebenarnya apa sih maunya.Aku sudah berusaha jadi istri yang baik,selalu mengutamakan dia,selalu nyiapin baju kerjanya.Berangkat maupun pulang selalu sama dia.Sekali makan di kantin aja di bilangnya aku lebih suka berduaan sama laki-laki lain di bandingkan dengan suaminya sendiri.Dikira cewek apaan coba aku Tan...sebel banget tau gak."Rania geram dan serasa ingin mencakar wajah tampan Arya.
Intan mendengarkan semua keluh kesah dari Rania tanpa berniat memotongnya.
Intan tersenyum geli melihat tingkah laku pasangan pengantin baru itu.
"Maksud kamu Tan?"Rania tak terima karna justru Intan mengatainya bodoh.
"Hahahaha....lucu kamu Ran.Udah nikah tapi masih aja sikapnya kayak bocah."
"Apaan sih Intan...?"
"Pak Arya itu cemburu sama kamu."
Rania terdiam memikirkan ucapan Intan.
"Gak mungkin lah Tan.Dia tuh dingin banget."
"Apa namanya coba,dia marah-marah saat tau kamu bersama lelaki lain."
"Pasti dia marah karna dikira aku wanita gampangan yang suka nemplok sama setiap cowok.Ah,entahlah,mikirin itu bikin aku pusing."
Rania meminum minuman yang sudah dipesannya.
Mereka ngobrol berdua sampai petang.
Sementara itu Arya terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Sepulang dari kantor tanpa mandi dia langsung tidur.Mungkin efek dari minum obat membuatnya tidur dengan pulas.
"Huuh...sudah petang ternyata.Kemana Nia ya.Kok lampunya belum dinyalakan."Arya berdiri menutup korden yang mengarah ke balkon lalu menyalakan lampu kamar.
Setelah dirasa cukup lebih baik Arya pun bergegas mandi.
Selesai mandi dia masih tak mendapati Rania di kamar.
"Apa dia marah ya karna tadi aku sudah marah-marah dan menuduhnya yang bukan-bukan.Apa aku terlalu kasar sama dia?Ah tidak,pasti dia sedang di bawah menyiapkan makan malam dan sengaja tak membangunkan ku karna tak ingin mengganggu istirahatku."
Selesai sholat magrib Arya pun turun menuju ruang makan.
"Eh Arya,baru aja mama mau panggil buat makan malam.Gimana,udah enakan belum?Kata mbok Jum kamu pulang duluan karna maag kamu kambuh."Tanya mama Anita.
"Iya ma,udah baikan kok."Arya duduk di samping papa Jaya.
"Arya,Rania mana?"Nenek tak melihat Rania bersama Arya.
Arya yang sedang minum mencari-cari Rania,melihat ke arah dapur.Karna biasanya Rania ikut menyiapkan makanan.
"Lhoh...bukanya ikut nyiapin makan?"
"Enggak mas Arya,dari tadi belum kelihatan.Mbok pikir sedang nungguin mas Arya yang lagi sakit."Jawab mbok Jum sambil menaruh sayuran yang baru matang.
"Enggak kok."Arya terdiam,kembali mengingat kejadia sore tadi.
Dia langsung pulang selesai marah sama Rania.Lewat asisten Roy dia berpesan supaya Rania kembali bekerja.Sedangkan Roy mengantarnya pulang.
"Astagfirullah..."Arya baru sadar jika sudah meninggalkan Rania di kantor.
Dan dia tak menyuruh Roy ataupun pak sopir untuk menjemput Rania pulang.
"Kenapa Arya?"Papa Jaya melihat Arya yang mulai panik.
"Pa...apa mungkin Nia belum pulang?"
"Lhoh...memangnya dia gak pulang bareng kamu?"Mama Anita pun kaget.
"Enggak ma,tadi Arya pulang diantar Roy,sedangkan Nia kembali bekerja."
Dengan buru-buru Arya menelphon satpam yang berjaga di pintu gerbang.
Arya menanyakan Rania lewat pak satpam.
Dan benar saja,pak satpam belum melihat Rania pulang.
"Gimana Arya?"Tanya papa Jaya.
"Nia belum pulang pa."Arya semakin panik.
Tidak biasanya Rania pulang sendiri.
__ADS_1
Arya menyesali perbuatannya yang sudah marah-marah tak jelas pada Rania.
Ia takut terjadi sesuatu dengan Rania.