
Pagi ini mentari bersinar dengan cerah.Secerah wajah Arya yang terpancar sambil menghirup udara segar di pegunungan.Udara yang masih segar tanpa banyaknya polusi udara seperti yang ia temui setiap harinya di kota.
Matahari mulai terbit menghangatkan daerah perbukitan yang sangat dingin.
Pagi ini Arya jalan-jalan di sekitar daerah dengan di temani sang istri.
Kini Arya tak lagi berniat untuk menyembunyikan statusnya dengan Rania.
Seolah ingin mengumumkan pada semua warga jika mereka adalah suami istri yang sah,Arya menggandeng tangan Rania di sepanjang perjalanan.
Meskipun banyak pasang mata melihat mereka namun Arya tak ingin memusingkannya.
Menyapa sopan setiap berpapasan dengan warga sekitar yang sedang memulai aktifitas pagi mereka.
"Eh,Rania kan ini?Sekarang cantik banget.Denger-denger sudah nikah,ini ya suaminya?"Tanya seorang warga.
"Iya budhe..."Rania berhenti sebentar menjawab pertanyaan wanita tadi.
"Wah...tampan sekali suami kamu.Kamu pintar cari suami."Pujinya melihat Arya.
"Terimakasih Bu."Arya mengangguk hormat.
Rania hanya tersenyum lalu pamit untuk kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah merasa cukup berkeringat mereka memutuskan untuk kembali pulang.
Di depan rumah Rania sudah ramai dengan para ibu-ibu yang berkumpul berbelanja pada tukang sayur.Biasanya mereka masak hanya mengandalkan tukang sayur lewat.
Rania tersenyum saat seseorang menyapanya.
"Rania,itu ya suami kamu?Cakep banget..."Ternyata teman Rania waktu SD yang sedang menyapanya.
"Eh,iya Tina.Apa kabarnya?"Rania mendekat lalu bersalaman dengan Tina.
"Baik..."Jawabnya tapi matanya terus melihat Arya yang berdiri di samping Rania.
"Kamu dapat cowok cakep banget di mana sih?Kenalin yang beginian dong buat aku..."Mendekat dan berbisik di telinga Rania.
"Lho...bukannya kamu sudah nikah?"Setau Rania waktu di kota ia di beri kabar jika temannya satu SD tersebut sudah menikah satu tahun yang lalu.
"Sudah cerai."
__ADS_1
"Oh,maaf aku gak tau."Rania merasa tak enak sudah bertanya tentang pernikahan temannya.
"Gakpapa.Soalnya dia gak mau kerja,sudah gitu kasar lagi sama aku.Cariin dong yang kayak suami kamu."Kembali melihat Arya dari bawah sampai atas.
"Sayang,beli itu dong."Arya menunjuk aneka jajanan pasar.
"Mas mau?"Tanya Rania.
"Kayaknya enak."Arya tertarik melihat aneka jajanan pasar tempo dulu.Terlihat jadul namun menarik,dilihat dari bungkusnya yang masih alami.
Akhirnya Rania memilih beberapa makan yang di inginkan Arya.
Di sampingnya mulai ada beberapa orang yang membicarakan Rania.
Ada yang bicara setengah berbisik,ada juga yang bicara dengan nada terang-terangan.
"Anak sekarang pintar ya,bekerja di kota,pulang-pulang bawa suami."Kata seorang ibu pada seorang di sebelahnya.
"Iya,eh,tapi yang di bawa pulang yang dulu bukan yang ini kan?"Jawab seorang yang di sebelah ibu tadi.
"Masak sih,jadi bukan yang ini?"Tanyanya lagi.
"Bukan,itu beda lagi.Yang dulu mobilnya bukan ini kok."Jawabnya.
"Ya...kan pintar itu tadi.Mungkin lebih kaya yang ini.Di lihat dari mobilnya saja jauh lebih bagus yang ini."
"Aduh ibu ibu...ya begitulah kalau anak gadis di biarkan hidup di kota sendirian...jadi liar gaya hidupnya."Imbuh satu ibu lagi yang ikut menyahut obrolan dua ibu tadi.
"Sudah-sudah,mau belanja apa mau ngobrol ini ibu-ibu..."Tukang sayur membubarkan obrolan ibu-ibu tadi.
Rania segera membayar belanjaannya lalu mengejar Arya yang ternyata sudah melangkah pergi.
Sesampainya di rumah Rania segera meletakkan jajanan yang sudah di belinya tadi di dapur.
Setelahnya pergi mencari Arya yang sepertinya sudah masuk ke kamar.
Membuka pintu kamar,melihat Arya yang sedang membuka kaos kaki yang di pakainya.
Meski ragu Rania memberanikan diri mendekati Arya.
Tak berani menyentuh suaminya,Rania hanya duduk agak berjarak untuk bicara pada Arya.
__ADS_1
"Mas...maafkan aku."Hanya kata itu yang mampu Rania ucapkan tanpa berani memandang wajah Arya.
Arya masih tak bergeming.Mata Rania mulai berkaca-kaca melihat kediaman suaminya.
Ia yakin jika Arya sedang marah padanya.
Marah karna ucapan ibu-ibu tadi soal lelaki yang pernah di ajak ke rumah ini dan mungkin juga tentang penilaian orang-orang tentang dirinya.
"Mas..."Mulai terdengar isak tangis yang tertahan.
"Kamu sudah ajak siapa saja ke rumah ini?"Tanya Arya tanpa melihat Rania.
"Dulu...Dery pernah main kesini."Pengakuan Rania.
"Sejauh itu?Dan dia juga menginap disini?"Dengan nada sedikit emosi juga tak rela.
"Enggak mas,dia disini hanya sekitar dua jam.Dulu mengantar aku pulang.Habis magrib pulang."Menjelaskan meskipun mungkin Arya tak percaya.
"Sejauh itukah?"Kembali mengulang pertanyaannya.Meskipun sebenarnya ia takut dengan jawaban yang akan Rania jelaskan.
"Dulu dia sudah bicara serius sama bapak.Dan kami juga punya rencana-rencana masa depan."
"Kamu menyesal tidak jadi istrinya karna tidak dapat restu dari orang tuanya?"
"Mas,bagiku dia masalalu mas.Kalau memang tidak berjodoh mau apa lagi.Bukankah aku sudah pernah menceritakan sedikit hubunganku dengannya pada mas Arya?"
"Kamu masih mencintainya?"Memejamkan mata,tak siap akan jawaban Rania.
"Mas,jauh sebelum aku punya suami,aku sudah menutup hatiku untuknya."
"Tapi dia masih mencintai kamu,dan dia pernah bilang mau menceraikan istrinya demi bisa kembali sama kamu."Baru Arya sadari jika ia sudah mulai cemburu.
"Aku tidak seliar yang orang katakan mas.Sekalipun aku belum menikah,tak ada sedikitpun niatku untuk jadi seorang pelakor."Mengusap air matanya yang jatuh di pipi.Mungkin Arya berpikir jika penilaian orang itu benar adanya.
"Aku minta maaf,bukan maksudku untuk memilih mas Arya yang jauh lebih kaya dari mantanku.Aku..."Tak kuasa Rania melanjutkan ucapannya tiba-tiba Arya sudah menggeser tubuhnya.Mendekat pada Rania dan memeluknya.
"Sayang,maafkan aku.Jangan pernah bicara seperti itu lagi.Jika saja tadi bukan ibu-ibu,ingin rasanya aku memukul wajahnya."Mengingat ucapan warga yang sangat merendahkan Rania tadi.
"Mas,jika mas tidak yakin,mas bisa tinggalkan aku.Aku terima apapun keputusan mas Arya.Memang beginilah kehidupan kami,hanya seseorang yang terlahir di keluarga biasa."Rania kembali menunduk dan mengusap air matanya yang semakin deras mengalir.
"Sayang,maafkan aku.Aku percaya sama kamu.
__ADS_1
Jangan ulangi lagi kata-kata tadi.Karna selamanya aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."Arya menggenggam erat tangan Rania dan mengusap air matanya.
Menciumi seluruh wajah Rania.Menghapus jejak kesedihan yang sudah tercipta di pagi ini.