
Rania berjalan cepat menuju tempat kost.
Disepanjang jalan ia tak berhenti menangis.
Ia tak pernah menyangka jika hubungannya dengan Dery akan berujung perpisahan.
Ia bingung,apa yang mesti ia jelaskan nanti kepada kedua orangtuanya dirumah.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana respon para tetangga terhadap kedua orangtuanya.
Pasti akan banyak yang menghina dan merendahkan keluarga mereka.
Tak terasa Rania berjalan sudah sampai di depan kost.
Masih dengan keadaan menangis Rania langsung masuk ke kamar Intan.
Ingin menceritakan semua yang baru saja terjadi pada sahabat satu-satunya yang paling mengerti dengan keadaan Rania.
Melihat pintu tak di kunci sudah pasti Intan sedang di tempat.
Rania membuka pintu lalu masuk kamar Intan.
Melihat ke seluruh ruangan tapi tak menemukan keberadaan Intan.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
Tak sengaja Rania melihat buku yang terbuka dengan bolpoin yang masih terbuka di atasnya.
Iseng Rania mengambilnya.
Tadinya ia tak niat untuk membacanya.
Namun melihat ada tulisan yang menunjukkan kata "Dery",Raniapun penasaran.
Dibacanya halaman yang terbuka.
Dear diary....
*Hari ini sahabat baikku akan membahas soal pernikahan
Dengan dia*....
Meski sakit,tapi aku bahagia melihatnya bahagia.
Meski kebahagiaannya bukan bersamaku.
Aku rela.
Cintaku akan kubawa seiring luka yang kurasa.
Cintaku yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Karena aku tau,hanya dialah satu-satunya yang kamu cinta.
Selamanya rasa ini kan ku pendam.
Semoga kau selalu bahagia bersamanya.
#Teruntuk cintaku dalam diam.#
@Dery.
Rania semakin bingung.
Ia buka kembali halaman sebelumnya.
Masih terasa kurang yakin,ia pun membuka halaman lain,lagi,lagi,dan lagi.
Hingga usai di halaman yang semakin membuatnya menangis.
Hari ini adalah hari yang tak kan terlupakan olehku.
Aku baru tau jika selama ini,orang yang ku cinta dalam diam,
Ia sudah bersama sahabat baikku.
Mereka sudah menjalin hubungan.
__ADS_1
*Sakit bukan hanya karna mereka sudah jadian aja.
Tapi juga sakit karna setelah satu bulan mereka bersama,aku baru tau hal itu.
Tidak kah mereka menganggap ku?
Namun itu semua memang bukan salah mereka.
Karna cintaku,hanya cinta dalam diam.
Terukir doa meski penuh luka.
Semoga langgeng hingga pernikahan*.
Tak kuasa menahan segala yang ia rasa,Rania berlari ke dalam kamarnya.
Ia mengambil tas selempang dan berjalan keluar sambil terus menangis.
Saat keluar kamar ia melihat Intan yang ternyata baru selesai mandi.
Intan pun heran ketika melihat Rania yang berjalan tergesa-gesa sambil menangis.
"Rania,kamu kenapa,kok nangis?"Tanya Intan.
Bukannya menjawab justru Rania berlari keluar.
Intan ingin mengejarnya,namun saat ini ia belum pakai baju.Ia hanya memakai handuk kimono dan handuk rambut saja.
Sudah jadi kebiasaan Intan selalu lupa membawa baju ganti ke kamar mandi.
Mau tak mau Intan masuk kamar dan harus segera ganti baju supaya bisa mengejar Rania.
Begitu selesai memakai baju,Intan berniat akan menyisir rambutnya yang masih basah.
Saat menyisir rambutnya,ia melihat dari pantulan cermin kecil di meja riasnya.
Nampak buku diary nya yang masih tergeletak di kasur tanpa di tutup.
Ia ambil buku tersebut untuk di simpan.
Ada tetesan air yang masih basah di atas buku tersebut.
Tadinya ia berfikir mungkin itu adalah tetesan air dari rambutnya yang habis keramas.
Namun saat ia membuka halaman yang lainnya pun sama,ada beberapa tetesan air disana.
Intan semakin panik.
"Oh tuhan,mungkinkah ini air mata Rania?Berarti dia sudah membaca buku ini?"Guman Intan yang merutuki keteledorannya.
Sifatnya yang cuek membuatnya jadi berantakan dan tidak disiplin.
Tak heran jika ia sering mengabaikan hal-hal yang ia anggap sepele.
Intan segera mengambil tas dan kunci kamar.
Berjalan cepat,mengunci pintu kamar lalu segera menyusul Rania.
🌼🌼🌼
Rania masih saja terus berjalan setengah berlari.
Ia tak siap jika harus bertemu dengan Intan sekarang.
Namun ia juga bingung harus pergi kemana.
Tidak mungkin jika dalam keadaan sekacau ini ia akan pulang kerumah.
Pasti akan menggemparkan seluruh keluarga di rumah.
Rania terus melanjutkan jalannya meski terlihat tanpa arah.
Hingga tak terasa ia sampai ke taman yang biasa ia kunjungi.
Rania duduk di salah satu kursi yang ada di taman.
Lama ia menangis di sana hingga akhirnya ia merasakan kepalanya pusing.
__ADS_1
Mencoba berdiri dan ingin membeli obat untuk mengurangi rasa pusingnya.
Saat akan berdiri ia merasa semakin pusing.
Seakan semua terasa berputar-putar.
Namun ia tetap paksakan untuk kembali berdiri.
Berjalan meski tertatih.
Ia pergi ke pinggir jalan raya untuk mencari apotek.
Sesampainya di depan apotek ia kembali duduk sebentar.
Usai duduk ia mencoba kembali berdiri dan melangkah ke dalam apotek.
Baru beberapa langkah,ia merasa sudah tak lagi kuat.
Ia berjalan sambil memegangi kepalanya.
Hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang yang baru keluar dari apotek.
"Ssshhh...ma-maaf."Mengucap kata maaf dengan bibir gemetar.
Tak kuat lagi ia pun terjatuh di depan orang yang di tabraknya.
"Nia,bangun."Lamat-lamat ia mendengar seseorang menyebut namanya.
Mencoba melihat siapa orang tersebut namun matanya sulit untuk di buka.
Hingga tak lama setelahnya ia sudah tak bisa merasakan apapun lagi.Ia pingsan.
Sedang orang yang melihat itu,ia sudah sangat panik melihat Rania dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Suhu badannya panas tinggi,matanya yang terlihat bengkak serta tubuhnya yang lemas tak berdaya.
Secepat kilat ia menggendong tubuh Rania dan di bawa masuk ke dalam mobil.
Ia dudukkan Rania di jok depan sebelah sopir.
Mengatur tempat duduk agar menjadi rendah dan sejajar.Supaya Rania bisa tiduran dengan posisi nyaman.
Ditatapnya wajah tersebut.Lalu ia pun sedikit tersenyum meski dalam keadaan khawatir.
"Dasar anak kecil ceroboh.Dia tak pernah memikirkan dirinya yang lemah."Arya bergumam sendiri.
Ya,seseorang itu adalah Arya.
Ia yang barusan pergi ke apotek untuk membelikan obat pesanan nenek.
Asam urat sang nenek kembali kambuh.
Lalu Arya segera menelpon dokter pribadinya untuk datang ke rumah.
Setelah itu ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Berjalan dengan kecepatan rendah supaya Rania tetap nyaman.
Sambil satu tangannya memegang stir mobil,tangan satunya meraba dahi Rania.
Panasnya terasa semakin tinggi.
Di tambahnya kecepatan mobilnya,supaya segera sampai rumah.
Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Rania.
Di tengah pingsannya Rania bergumam.
"Bapak...ibuk...ma-afin ni-a..."Ia bicara dengan nada putus-putus.
Namun begitu matanya masih terpejam erat.
Arya semakin khawatir.
Di genggamnya tangan Rania erat,seolah menyalurkan kekuatan dalam tubuhnya.
Agar Rania kuat dan bertahan dengan apapun yang sedang terjadi padanya.
__ADS_1