Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Ijab Qabul


__ADS_3

Acara ijab Qabul di undur satu jam dari jam yang sudah disusun sebelumnya.


Dengan alasan menunggu keluarga dari pengantin perempuan.


Pengunduran waktu tersebut di gunakan untuk melengkapi surat milik Rania.


Orang kepercayaan pak Jaya bekerja keras untuk melengkapi berkas yang diperlukan.


Setelah di rubah sedikit make up dan juga gaun Rania,ia menunggu acara di mulai.


Rania di jemput oleh nenek dan mama Anita.


Di bawa keluar dari ruang make up menuju tempat ijab Qabul akan di langsungkan.


Rania hanya bisa terdiam dengan segala rasa gundahnya.


Sebentar lagi ia akan menikah.


Sungguh sebuah impian setiap wanita.


Menikah,memiliki keluarga yang harmonis,mempunyai keturunan yang kelak akan menjadi pelengkap rumah tangganya.


Namun lain dengan apa yang di rasakan Rania kali ini.


Ia akan menikah dengan bos di tempatnya bekerja.


Dengan status yang sangat berbeda jauh.


Dan lebih parahnya,tanpa cinta di antara mereka.


Membayangkan saja sudah membuatnya takut.


"Ehm.Bagaimana,apakah semuanya sudah siap?"Tanya pak penghulu yang sudah duduk di depan Rania.


"Tunggu papa sebentar lagi pak."Rania menoleh,dilihatnya Arya sudah duduk disebelahnya.


Mungkin karna Rania sedang sibuk melamun sampai ia tak menyadari kedatangan Arya.


Rania kembali menunduk ketika melihat Arya sedang menatapnya datar.


Sedang Arya dalam hati terpesona melihat kecantikan Rania.


Namun ia tak ingin menampakannya.


Untuk itu ia pun segera meluruskan pandangannya melihat pak penghulu yang sebentar lagi akan menikahkannya dengan Rania.


Tak lama kemudian pak Jaya datang bersama beberapa orang.


Rania masih menunduk tak berani melihat ke arah lain.


"Nia..."Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tak asing lagi bagi Rania.


Orang tersebut mendekat lalu mengusap kepala Rania dan kemudian memeluknya.


Beliau adalah Bapak Rania.


"Bapak,Ibu..."Rania bergantian di peluk oleh ibunya.

__ADS_1


Airmata nya jatuh begitu saja.


Menetes di atas pipi yang sudah di make up sedemikian cantik oleh MUA kepercayaan keluarga Adiyasa.


"Sudah,jangan menangis.Nanti luntur dandanan kamu nduk..."Ibu mengusap pipi Rania dengan sangat hati-hati.


"Nia..."Ingin bicara sesuatu namun di hentikan oleh Bapak.


"Sudah nduk...tenang saja,pak Jaya sudah menjelaskan semua pada Bapak."Bapak berusaha bicara seolah semua tak ada yang aneh.


Meski sebenarnya Bapak sangat khawatir dengan masa depan anaknya,namun ia yakin jika Pak Jaya tak akan main-main dengan janjinya.


"Bagiamana,apa acara sudah bisa kita mulai?"Pak penghulu mengulang pertanyaannya.


"Sudah pak."Jawab pak Jaya.


"Sebentar lagi acara akan dimulai.Rania...kenapa kamu bodoh sekali.Kenapa tadi langsung bilang setuju ketika mendengar ancaman pak Arya.Kalau kamu di pecat kan kamu bisa cari kerja di tempat lain..."Rania terus merutuki kebodohannya.


Kenapa mulutnya langsung memutuskan menyetujui pernikahan ini.


Hanya karna ia tak ingin melihat adiknya putus sekolah.


Rania memejamkan mata ketika Arya sedang mengucapkan ikrar ijab Qabul.


Airmata nya kembali menetes ketika terdengar suara "Sah"terucap dari para saksi yang hadir.


Selesai ijab Qabul di lanjutkan dengan doa yang di panjatkan dari ustad yang sudah di tunjuk dan di Amin kan oleh seluruh keluarga yang hadir.


Lalu setelahnya acara pun kembali di lanjutkan dengan menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Karna hanya keluarga terdekat saja,maka acara di buat santai.


Semua menikmati jamuan makan di meja-meja yang sudah di sediakan.


Kedua pengantin duduk di meja khusus yang hanya ada dua kursi dan satu meja kecil yang romantis.


Keluarga Adiyasa duduk dengan keluarga besannya.


Keluarga Rania yang sudah di jemput dengan mendadak.


Beruntung keluarga Adiyasa adalah keluarga yang sangat kaya raya.


Maka tak sulit baginya untuk membuat acara dadakan sekalipun.


Sedang keluarga besar Adiyasa yang lainnya,mereka duduk di meja lain yang sudah di persiapkan oleh wo pilihan keluarga Adiyasa.


Kedua adik Rania pun ikut hadir di acara tersebut.


Mereka makan dengan lahap sambil kedua matanya terus melihat sekeliling.


Mengagumi setiap sudut ruangan yang terlihat begitu mewah bagi mereka.


Mereka tak menyangka kakaknya bisa menikah dengan bos pemilik pabrik tempatnya bekerja.


Tomi sebagai adik laki-laki untuk Rania sangat berharap semoga saja pak Arya bisa menyayangi kakaknya.


Dan membuat kakaknya bahagia.

__ADS_1


Tak terasa acara sederhana itu sudah selesai.


Satu persatu dari saudara Adiyasa mulai berpamitan pulang.


Keluarga Rania juga berniat ingin segera pulang,namun ternyata pak Jaya masih menahan mereka untuk menginap walau hanya semalam.


Keluarga Adiyasa menjamu besannya dengan tangan terbuka.


Bapak dan ibu Rania sedikit lega melihat mereka yang terlihat sudah dekat dengan Rania dan menyayanginya.


Terutama nenek dan Bu Anita yang sangat akrab dengan Rania.


"Arya,ajak istri kamu ke kamar.Pasti capek."Mama Anita menyenggol bahu Arya.


"Iya,kita istirahat dulu.Pasti kalian capek.Pak Hartono sekeluarga biar di antar ke kamar tamu sama mbok Jum."Pak Jaya menambahkan.


"Ah iya.Mbok Jum..."Mama Anita memanggil Art di rumahnya.


"Iya buk..."Mbok Jum menjawab setengah berteriak dari arah dapur,lalu segera mendekat mama Anita.


"Iya buk..."Mbok Jum berdiri setengah menunduk.


"Tolong antarkan pak Hartono sekeluarga ke kamar tamu ya mbok.Biar istirahat dulu."Perintah mama Anita.


"Baik buk...ayo pak,buk...mari..."Mbok Jum mengajak orang tua Rania serta adik-adiknya.


"Pak,Bu...kami permisi dulu.Terimakasih untuk semuanya.Maaf kami merepotkan."Ucap pak Hartono.Ayah Rania.


"Tidak perlu sungkan pak...Sekarang kita sudah jadi keluarga.Rumah Arya juga rumah Rania."Tutur Pak Jaya.


"Iya pak...Nak Rania sudah saya anggap cucu saya sendiri.Jadi keluarganya juga keluarga Adiyasa."Imbuh nenek.


"Silahkan istirahat dulu,nanti berkumpul lagi waktu makan malam tiba."Pak Jaya kembali menyuruh besannya untuk istirahat.


"Baik.Kami permisi dulu."Pak Hartono sekeluarga mengikuti arahan mbok Jum menuju kamar tamu.


"Kalian gak mau istirahat?"Tanya mama Anita menggoda kedua pengantin baru.


"Iya ma.."


"Iya Tante."


Jawab Arya dan Rania secara bersamaan.


"Rania,kok panggilnya Tante.Mulai sekarang panggil mama,papa dong."Mama Anita melihat Rania sambil tersenyum.


"I-iya Tan eh ma-ma."Rania terlihat masih canggung.


"Mama."Mama Anita seperti sedang mengajari anak kecil yang sedang belajar bicara.


"Ya sudah yuk ma,kita juga istirahat dulu.ayo nek."Ajak pak Jaya pada mama Anita dan nenek.


Satu persatu mulai masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak.


Sedang Arya dan Rania masih sama-sama canggung.


Mereka berjalan pelan menuju kamar Arya yang sebentar lagi akan menjadi kamar Rania juga.

__ADS_1


__ADS_2