Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Kerumah Dery


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah Dery...


"Mas,aku takut..."Rania memilin ujung bajunya.


"Santai aja.ok!"Dery menggandeng tangan Rania.


"Masuk yuk."Menuntun Rania masuk rumah.


"Assalamualaikum..."Keduanya serempak mengucap salam.


"Waalaikumsalam...Ayo masuk saja."Pak Herman yang menyambut mereka dari ruang tamu.


Kemudian mereka duduk di ruang tamu.


Beberapa menit mereka ngobrol,tak terlihat Bu Herman dan mbak Desy.


"Em...Ibu sama mbak Desy kemana pak?"Rania memberanikan diri bertanya pada pak Herman.


"Ada kok,mungkin masih sibuk."Pak Herman melirik Dery.


"Buk...sini buk..ini nak Rania sudah datang lho ini...!"Panggil Bapak agak keras namun bernada lembut.


Tak lama datanglah Bu Herman dan mbak Desy.


"Buk...kenalin,ini Rania pacarnya Dery yang sering Dery ceritain itu."Dery memegang pundak Rania.


Lalu Rania mengulurkan tangan.


"Rania buk...mbak..."Ucapnya.


"Ya."Jawab Bu Herman singkat sambil membalas uluran tangan Rania.

__ADS_1


Sedang mbak Desy...


"Desy."Menempelkan sedikit tangannya lalu segera di tarik kembali.


Dalam hati Rania merasa terkejut dengan sambutan dari Bu Herman dan Desy.


Terkesan acuh dan tak senang akan kehadiran Rania.


Namun ia tak mau berprasangka buruk terlebih dahulu.


Mungkin mereka sedang ada masalah,atau memang sudah karakter orangnya seperti itu.


"Maaf buk...ini ada sedikit kue...maaf Rania cuma bawa ini."Rania memberikan plastik berisi kue yang tadi sengaja ia beli siang hari sebelum ke rumah Dery.


"Nak Rania...kenapa mesti repot...kalo mau kesini ya kesini aja...gak usah bawa apa-apa...tapi terimakasih banyak...iya kan buk..."Pak Herman menyenggol bahu istrinya.


"Iya,gak perlu repot.Kue di toko kami juga banyak kok yang enak-enak dan mahal."Berkata tanpa melihat Rania,dan hanya memandang sekilas pada kue yang di bawa Rania.


"Maksud ibu...kalo Rania mau kapan-kapan bisa ke toko mencoba kue yang ada di sana.Begitu kan buk maksudnya..."Pak Herman segera menyela ucapan sang istri sambil meliriknya.


Tak lama datang minuman yang di antar oleh Art dirumah pak Herman.


Dalam percakapan lebih banyak pak Herman yang bicara.Sedang Bu Herman dan mbak Desy terlihat sibuk dengan hp nya.


Seolah kehadiran Rania tak dianggap.


"Bapak setuju kan Dery sama Rania segera menikah?"


Deg!


Rania kaget dengan ucapan Dery yang tiba-tiba menyinggung soal menikah.

__ADS_1


Dalam kesepakatan mereka sebelum kerumah Dery tadi tak seperti itu.


Mereka sepakat untuk menjalani proses pengenalan dulu dengan keluarga masing-masing.


"Uhuk uhuk."Bu Herman tersedak.


Ya,mereka sekarang sedang berada di ruang makan untuk menikmati makan bersama.


"Kalau itu sudah jadi keputusan kalian,kita hanya bisa merestui.Bukan begitu buk...?"Pak Herman menyodorkan minum untuk istrinya.


"Kenapa harus terburu-buru.Kamu masih muda,nikmati dulu masa muda kamu dengan puas."Ucap Bu Herman ketus.


"Niat baik harus di segerakan buk...yang menjalani kan mereka,kalo mereka merasa sudah cocok gak baik di tunda-tunda."Tutur pak Herman.


"Iya,mbak kira juga gak perlu buru-buru.Harus dipikirkan dulu matang-matang."Mbak Desy ikut menasehati.


"Iya mbak...kita juga gak buru-buru kok.Mas Dery bercanda kan mas?"Rania menatap Dery.


"Siapa bilang kita buru-buru.Kita dah pacaran setahun lho.Bukankah itu sudah cukup buat saling mengenal dan berpikir matang?"Dery menyodorkan lauk untuk Rania.


"Sudah mas,Rania sudah kenyang."Rania mengembalikan lauk yang Dery ambilkan ke piring Dery.


"Kamu makannya baru sedikit lho sayang...mau di suapin...?"Mengangkat sendok dan di tarik ke depan mulut Rania.


"Enggak deh mas...Rania beneran udah kenyang..."Menutup mulut dengan kedua tangannya.


Melihat kemesraan mereka berdua membuat Bu Herman dan Desy jadi semakin geram.


Mereka makan sambil meletakkan sendok ke piring dengan asal.Sengaja membuat dentingan keras.


Sedang pak Herman tetap makan dengan tenang.

__ADS_1


Membiarkan anak dan istrinya protes dengan bahasa isyarat mereka.


Yang terpenting masih dalam batas wajar dan tidak keterlaluan,maka pak Herman masih membiarkan mereka.


__ADS_2