
"A-aku.."Rania masih bingung mau menjawab apa pada Arya.
Apa Arya percaya jika antara dia dan Dery belum pernah berciuman?
"Jawab saja sejujurnya."Arya benar-benar penasaran.
"Apa kamu percaya kalau aku bilang belum?"Rania justru bertanya balik pada Arya.
"Benarkah?Padahal kalian pacaran cukup lama."
"Aku bukan wanita seperti itu.Tapi mungkin kamu tidak akan percaya,apalagi mendengar ucapannya waktu itu."Rania kembali mengingat ucapan Dery yang sangat mempermalukannya.
"Ucapan yang mana?"Arya sendiri tak lagi mengingatnya.
Yang dia ingat adalah ucapan Dery yang berkata bahwa Arya tak mengerti semua tentang Rania.
Itulah yang membuatnya merasa sedih beberapa hari ini.Ia merasa tak berguna menjadi seorang suami.
"Iya...tentang aku yang dia sebut wanita murahan bahkan sengaja menikah dengan kamu yang kaya raya."Rania meneteskan air matanya.Ucapan Dery waktu itu benar-benar melukai hatinya.Padahal mereka bersama cukup lama,tapi nyatanya Dery bisa berkata seperti itu.
"Lupakan soal itu.Aku tau kamu bukan wanita seperti itu."Arya mengusap airmata Rania.
Ia pun kembali geram mengingat ucapan Dery waktu itu.
"Kami memang pacaran,tapi kami jarang bertemu.Aku sering lembur,dan dia juga seorang dosen,dia banyak kegiatan.Kita bertemu hanya malam minggu,itupun kumpul bareng temen-temen."Jelasnya.
"Kalian sudah berencana menikah?"Tanya Arya.
"Iya,tapi ibunya melarang."Jawabnya lesu mengingat penolakan ibunya Dery.
"Kenapa?"
"Karna aku tak sederajat dengannya."
"Benarkah begitu?"
Rania hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Keluarga yang sombong.Baru jadi dosen saja sudah banyak tingkah.Dia anak dari perangkat desa di daerah sana bukan?"
"Iya,dan orang tuanya orang terkaya di desa itu."Terang Rania.
Arya hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Rania.
Arya kembali mengingat cerita Rania saat dulu di tolong nenek sewaktu Rania pingsan.
"Berarti dia yang di ceritakan waktu itu,yang membuat Nia sampai pingsang dan sakit."
"Mas Arya dengan mbak Sesil gimana?"Rania merutuki dirinya yang berani bertanya hal itu pada Arya.Ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sama,waktu pacaran juga aku jarang bertemu dia.Karna aku disini dan dia disana.Dia juga sibuk dengan dunia keartisannya."Tak di sangka Arya menjawab pertanyaan Rania dan tidak marah sama sekali.
"Lalu...bagaimana kalau...dia kembali?"Dengan hati-hati Rania memberanikan bertanya.
__ADS_1
"Aku sudah punya kamu.Antara aku dan dia sudah selesai waktu itu."Jawaban Arya membuat pipi Rania kembali bersemu merah.
"Benarkah itu?"
"Ya!"Jawab Arya yakin.
"Tapi kalian bersama sudah lama,pasti sulit untuk melupakan."Tebak Rania.
"Apanya yang sulit,nyatanya sekarang aku sudah tak mengingatnya,dan pikiranku sudah penuh hanya memikirkan kamu."Arya memandang lekat wajah Rania dari samping.
"Sudahlah,sekarang yang ada hanya kita,aku dan kamu.Mereka hanya mantan.Cukup hari ini saja kita membahas mereka.Untuk selanjutnya aku tidak mau dengar lagi nama mereka kita bicarakan."
Bagi Rania jawaban Arya memiliki banyak kemungkinan.Mungkin Arya ingin benar-benar memulai yang baru dengannya,atau mungkin juga bisa kalau Arya belum bisa melupakan mantannya.
Namun Rania hanya bisa pasrah tentang apapun yang akan terjadi selanjutnya.
Nyatanya melupakan mantan yang sudah lama menjalin hubungan memang tak semudah itu.
"Mas Arya gak takut kalau aku hanya wanita matre yang cuma memanfaatkan kekayaan kamu?"
"Hahaha..."Bukannya menjawab justru Arya tertawa dengan kencangnya.
"Mana ada wanita gak matre,semua itu realistis.Kalaupun kamu mau uangku ya itu wajar,karna kamu istriku.Aku gak keberatan kalau kamu minta uang dan hartaku."Jawaban Arya diluar perkiraan Rania.
Memang benar,seluruh keturunan Adiyasa tidak pernah pelit soal harta.Padahal mereka kaya tapi mereka tidak pernah mengukur seseorang dari tingkatan harta.
"Bagaimana kalau besok kita berkunjung ke rumah Bapak ibu di kampung."Arya mulai melepaskan pelukannya.
"Mas,beneran?"Rania memastikan ucapan Arya.
"Mau,mau banget mas.Aku kangen sama rumah,kangen sama bapak ibu,kangen sama adek-adek."Rania mengangguk kegirangan.
"Gimana kalau kita nginep di sana.Berangkat pagi,pulang lusa pagi?"Tawar Arya.
"Beneran mas?"Kali ini Rania merasa ragu.
"Iya,kenapa?gak boleh?"Tanyanya.
"Bu-bukanya gak boleh mas...maksudku mas beneran yakin mau nginep di sana?Emang mas bisa tidur?Di sana kamarnya sempit lho mas.Sudah gitu dingin."Rania tak yakin jika Arya akan betah di sana.
"Justru asyik kali,berasa liburan di gunung."
"Tapi rumah di sana bukan hotel mas...gak seperti di sini."
"Iya...gakpapa."
Rania merasa sangat senang.Terakhir bertemu keluarga di saat Rania nikah.Setelah itu Rania belum sempat pulang karna tidak berani minta ijin Arya.Beberapa bulan ini Arya begitu sibuk bekerja.Ia takut Arya tak mengijinkan Rania pulang.
Rania mencari hpnya,ingin menghubungi orangtuanya.Memberitahu bahwa besok ia akan pulang.
"Cari apa?"Tanya Arya saat melihat Rania seperti sedang mencari sesuatu.
"Hp mas."
__ADS_1
"Untuk?"
"Hubungi bapak ibu."
"Jangan,kita kasih kejutan buat mereka.Biar mereka senang."Ide Arya.
"Ta-pi kalau bapak ibu gak persiapan."
"Persiapan buat apa?Kita kan seorang anak mau jenguk orangtua.Gak perlu di siapkan apa-apa."
"Supaya bersihin kamarku."
"Besok kita bersihkan sendiri.Aku bantu."
"Hah..."Rania melongo mendengarnya.
Apakah benar seorang CEO yang terbiasa hidup mewah mau melakukan itu?
"Sekarang kita segera tidur,supaya besok tidak bangun kesiangan."Ajak Arya.
Menuntun Rania ke ranjang setelah selesai membereskan perlengkapan sholat ke tempat semula.
"Aku ganti baju dulu ya mas."
"Heemmm."
Selesai dengan rutinitas biasa Rania pun segera membaringkan tubuhnya di ranjang.
Menarik selimut dan ingin segera tidur.
Arya menarik guling yang berada di tengah mereka.Lalu menggeser tubuhnya mendekat pada Rania.
Memeluk Rania dari belakang dengan posisi sama-sama tiduran.
"Mas,"Rania kaget mendapatinya yang sudah masuk dalam pelukan Arya.
"Mulai sekarang tidak boleh ada pembatas lagi.Ok.!"
"Ta-tapi mas."Hembusan nafas Arya berada tepat di telinga Rania,sehingga membuatnya merasa risih dan gugup.
"Bukankah kita akan memulainya dari awal?Jadi biasakan seperti ini mulai sekarang."Arya menarik selimut sampai batas pundak.
Rania tak bisa berkutik setelah Arya memeluknya erat.
Benarkah ia akan memulai semuanya bersama Arya?Rania merasakan sebuah kenyamanan dalam setiap pelukan dari Arya.
Meskipun awal-awal ia merasa risih,sesak,dan serasa sulit bernafas,namun ia tak berani menolak ataupun melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Tak lama kemudian terdengar suara nafas Arya yang mulai teratur.
Menandakan bahwa sang empunya sudah mulai terlelap.
Rania masih berusaha menormalkan detak jantungnya.
__ADS_1
Pikirannya bercabang,antara deg-degan dengan sikap Arya yang setelah beberapa hari mendiamkannya,juga rasa senang,karna besok ia akan pulang ke rumah orang tuanya bersama Arya.