Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
kencan pertama


__ADS_3

Rania pulang bersama Dery.


Sedangkan Intan ijin untuk beberapa hari.


Dery mengajak Rania untuk jalan-jalan dulu sebelum balik ke tempat kost.


Mereka jalan-jalan ke pantai.


Kebetulan desa Intan tak jauh dari arah pantai.


Hanya berjarak sekitar 30 Menit dari desa Intan.


Mereka duduk di tepi pantai.


Dery duduk di samping Rania sambil terus memandanginya.


Dery merasa sangat bahagia.Entah kenapa ia bisa begitu mencintai Rania.


Gadis lugu yang ramah dan selalu tersenyum.


"Kok liatin terus kenapa sih mas?"Tanya Rania.


"Cantik."Dery tersenyum.


"Mulai deh...gombal."Rania tersipu.


"Beneran kok."Dery menggenggam tangan Rania.


Rania segera beranjak dari tempat duduk.


Lalu menarik tangan Dery yang masih saling menggenggam.


"Main air yuk mas.Mumpung ombaknya belum terlalu besar."Ajak Rania.


Dery mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah Rania.


Belum ada cinta di hati Rania untuk Dery.


Rania masih selalu menjaga jarak supaya tidak banyak kontak fisik.

__ADS_1


Namun Dery begitu baik sama Rania.


Ia selalu menjaga Rania,sopan dan tak pernah berkata kasar.


Untuk itu Rania selalu menjaga perasaan Dery.


Rania tak ingin Dery kecewa.


Mereka menikmati keindahan pantai sampai sore hari.


Bergandeng tangan sambil berjalan di pasir pantai.


Setelah itu mereka makan sebentar di tempat makan yang tak jauh dari pantai.


Mereka memilih menu ikan bakar di temani minuman kelapa muda yg masih utuh berada d buah kelapa.


"Makan dulu gih,dah laper kan.Mau aku suapin...?"Goda Dery.


Rania menggeleng malu."Gak ah.Makan sendiri aja.Kayak anak kecil aja di suapin.Buruan yuk mas,keburu malem loh."


Selesai makan mereka memutuskan untuk segera pulang.


Rania turun dari mobil lalu mendekat pada Dery lewat jendela mobil.


Rania menundukkan wajah lalu berkata pada Dery."Makasih ya mas."


Dery tersenyum jail,"Makasih aja nih...gak ada hadiahnya gitu."


Rania geleng-geleng kepala sambil mencubit bahu Dery.Dery tersenyum.


Ia tau,Rania tak seperti wanita lain yang mudah mengumbar kemesraan di depan umum.


Ia sangat menjaga diri.


Sampai sekarangpun mereka hanya sebatas gandeng tangan.Tak lebih dari itu.


"Makasih juga."Kata Dery.


"Buat...?"Rania tak tau maksud Dery.

__ADS_1


"Makasih buat hari ini.Aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu seharian sama kamu.Ku anggap ini kencan pertama kita."Dery tersenyum.


Rania tersipu malu.Lalu segera berlari kecil masuk kamar.Dery pun segera pulang.


Sesampainya di rumah Dery dikagetkan oleh


suara kakak perempuannya.


"Dari mana kamu dek,pergi seharian jam segini baru pulang."


Dery melihat jam dinding.Ternyata sudah jam sepuluh malam.


"Habis pergi melayat mbak."Jawab Dery.


Mbak Dini masih ingin bertanya tapi Dery sudah berlalu pergi ke kamarnya.


Dery tidak ingin bicara lebih banyak lagi menanggapi mbak Dini.


Ia tidak mau lagi berdebat seperti yang sudah-sudah.


Mbak Dini terlalu ingin tau semua kegiatan Dery.Dengan siapa,kemana dan ngapain aja.


Seolah-olah Dery masih anak kecil yang harus selalu di awasi.Ia tak boleh bergaul dengan sembarang orang.Ia juga tak boleh dekat dengan orang yang tak di kenal keluarga.


Katanya takut kebaikan Dery hanya akan dimanfaatkan orang yang tak bertanggung jawab.Selalu itu yang di katakan oleh mbak Dini.


Lebih baik ia segera ke kamar.Bersih-bersih lalu chatingan sama Rania.


DeryπŸ“±"Hai,dah tidur?"


Rania πŸ“±"Nih mau tidur."


Dery πŸ“±"Langsung tidur aja,gak usah baca novel dulu.dah malem,besok kerja."


Rania πŸ“±"Asiyappp...✌️"


Dery πŸ“±"Ok,good night sayang..."


Rania mematikan ponselnya sambil senyum-senyum mengingat perlakuan Dery yang begitu manis.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama ia sudah terbuai di alam mimpi.


__ADS_2